Tuesday, December 29, 2009

Bagi sebagian orang, pesta ini tidak harus berakhir lebih cepat

Di mana-mana di jalan padang, terdengar bising suara orang-orang tertawa, ada juga yang teriak-teriak, dan ada juga yang berbisik. Sebagian menganggap itu semua sebuah keberisikan yang menjengkelkan, tapi bagiku suara-suara itu adalah gelegak ekspresi jiwa muda. Jiwa-jiwa pemberontak yang haus akan petualangan dan misteri hidup. Jiwa-jiwa seperti jiwaku, walau sudah tak selantang itu.

Masih ingat rasanya menjadi anak-anak seumuran mereka, yang rata-rata adalah anak SMP, SMA, dan mahasiswa. Persahabatan yang lebih penting dari apapun di dunia ini. Ke mana-mana selalu bersama, tertawa lepas dan buas tanpa peduli ada orang lain di sekitar kami atau tidak. Ceroboh, tidak peka, dan tak sabar. Tidak ada gunung mimpi yang tak bisa ditaklukkan. Berani menjawab semua tantangan tanpa sedikit pun keraguan karena kita berbagai keyakinan yang sama, bersama kita bintang.

Dan bintang-bintang itu pun bermunculan dalam sebuah event akbar akhir tahun, pesta kreasi anak muda, Idefest. Lebih dari 400 anak muda dari seluruh tanah air berkumpul untuk adu mental dan keahllian. Berbagai tahapan yang tak mudah adanya, mereka arungi. Mulai dari latihan di daerah masing-masing, sampai babak penyisihan dan final di Jakarta.

Seperti layaknya sebuah kompetisi, ada yang menang dan ada yang kalah. Bagi mereka yang menang, pesta ini masih akan terus berlanjut. Sepanjang kensyu tahun baru nanti, mereka akan berjalan dengan dada busung yang dipenuhi kupu-kupu kebanggaan.
Sedangkan bagi yang kalah, langit-langit ruang besar seakan runtuh ketika nama mereka tidak disebutkan menjadi pemenang atau finalis. Bulir-bulir air mata pun tak tertahankan dan langsung terjun bebas. Pesta ini berakhir lebih cepat bagi mereka.

Suara-suara bising yang penuh semangat tadi langsung pecah menjadi dua, satu sisi terdengar bisikan-bisikan syahdu penuh nasehat dan motivasi dilatari suara sesenggukan. Di sisi lain ucapan selamat dan tawa legah kemenangan berkumandang. Suasana pun menjadi sangat kontras.

Tapi bukankah memang keduanya adalah bagian dari pesta besar kreasi anak muda ini. Kalah adalah bagian alami yang tidak bisa dipecahkan dari menang. Bagai baik dan buruk, tinggi dan pendek. Seperti teori Karl Marx tentang Tuhan yang menciptakan manusia, karena tanpa manusia Ia juga tak akan ada. Kemenangan tak akan ada tanpa ada kekalahan.

Pesta ini bukan saja merayakan kemenangan, tapi juga menjunjung kekalahan. Untuk itu pesta ini tak harus berakhir bagi sebagian orang yang kalah. Justru baru saja dimulai.

Hanya juara sejati yang berani merajah keduanya pada mental. Karena siapa yang bisa merayakan kekalahan akan memeluk kemenangan.

Gugup

Dadaku panas seperti ada yang menekankan plakat besi membara diatasnya. Kepalaku pening, dan aku bisa merasakan ginjal kiriku berkedut-kedut, tanda aku sedang dililit gugup. Pasalnya aku harus minta ijin cuti kantor besok, karena aku harus ke mega mendung. Padahal belum juga setahun aku bekerja, dan beratnya lagi, baru sekitar dua minggu yang lalu aku cuti selama, kurang lebih, dua minggu.

Besok pagi-pagi aku harus berangkat untuk acara tahun baru di komplek kuil megamendung. ”Jam 8 pagi ya!” Berkali-kali sudah ibu menegaskan. Oh, apa sih salahku, sampai di penghujung tahun ini, masih saja diberi cobaan.

Masalahnya bukan sekedar meminta ijin, tapi rasa sungkan kepada orang-orang satu kantor yang juga sudah sangat ingin libur, tak kalah akut dariku. Walau ini bukan sekedar masalah kebelet libur, tapi lebih urusan spiritual. Sayangnya, mana ada yang mau ambil pusing. Yang mereka mau tahu hanya aku yang paling baru masuk ke kantor ini, minta libur melulu Lupa diri siapa.

Besok aku harus berangkat. Besok aku harus berangkat. Berulang kali aku menyakinkan diri, tapi tetap saja dadaku serasa ditekan plakat besi membara, kepala pening, dan ginjal berkedutan gugup. Apalagi ketika aku bayangkan wajah-wajah orang di kantor ini, wajah bosku yang pengertian bukan main, seolah dadanya seluas samudra paling luas dan paling dalam.

Sejujurnya, aku sudah malas menginjakkan kaki di kantor ini, menghadapi orang-orang tertentu. Aku ingin awal baru. Harapan baru di tahun yang baru. Mungkinkah terwujud, dengan tinggal dua hari lagi tahun 2010 menggeliat keluar dari kepompongnya?

Doa. Jangan sekalipun kau remehkan kekuatan doa. Bukan hanya ketika tak ada lagi hal lain yang bisa kita lakukan barulah kita berdoa. Justru sementara kita sedang terseok-seok, kepala di bawah-kaki di atas, doa akan memancarkan cahanya yang paling terang untuk menunjukan jalan di depan kita.

Tapi sebelumnya aku harus percaya. Itu PR paling besar untuk seorang pembangkang seperti aku. Dan tampaknya, soal pertamanya harus segera aku kerjakan dan selesaikan. Aku harus percaya, bagaimana pun, aku bisa dan pasti dapat ijin.

Drama Alam

Hujan turun malu-malu serupa jarum-jarum halus. Tapi bumi tetap saja basah, jalanan tetap saja macet, udara tetap saja sejuk, dan aku tetap saja menikmati suguhan drama alam ini. Pohon kaukasia kehujanan, tapi tidak sedikipun ia bergeming. Dedaunannya seakan berkeringat, dipenuhi bulir-bulir air. Suara burung berkicau sesekali, di antara derak halus hujan pada genting. Sebuah melodi, dalam sebuah pertunjukkan bukan pengiring sifatnya, tapi bagian dari keseluruhan. Sore ini alam memainkan pertunjukannya dengan sempurna. Lambat menghanyutkan, tapi pasti.

Malam pasti datang. Tak mungkin ia bilang, ”nanti liat deh”. Pagi, siang, dan sore juga seperti itu, mereka tidak mengenal kemungkinan. Mereka akan selalu datang silih berganti, sesuai jadwal masing-masing, selama bumi masih berputar. Pagi, siang, sore, dan malam, mereka adalah drama alam yang tak bisa diajak kompromi, saklek sekaligus paling mempesona. Itulah mereka.

Aku sendiri juga punya drama. Dramaku adalah mimpi-mimpiku. Ribuan, bahkan mungkin jutaan kali aku sudah melakoninya di panggung imajinasi di gedung seni mahakarya Tuhan paling tinggi, otak. Hingga kini aku baru sadar kalau dramaku, tidak akan membawaku ke mana-mana.

Aku berdiri, memandang sore yang mulai beranjak sambil sesekali menangkap hujan dengan tanganku. Sekelibat aku ingin melompat ke tengah jalan dan bermain bersama hujan. Merasakan anak-anaknya jatuh di kepala, membasahi sekujur tubuhku dan mengundang dingin untuk bertamu di tubuhku. Tapi aku diam saja, hanya melepas imajinasiku melakukan apa yang sebetulnya aku inginkan. Ya. Begitulah aku. Tak lebih dari sekedar seorang pemimpi.

Aku ingin belajar dari pagi, siang, sore dan malam tentang kepastian. Aku tak takut bila harus menyalahi prinsip hidup kalau tak ada yang pasti. Karena bukan kepastian akibat yang aku harapkan, tapi kepastian sebab. Karena setiap akhir lahir dari sebuah sebab.

Waktuku tak banyak, kecuali aku bisa membujuk pagi, siang, sore dan malam untuk sedikit menunda. Tuh kan! Sudah kubilang aku ini seorang pemimpi. Bukan seorang pewujud.

Mimpi itu milik mereka yang berani. Begitu bunyi sepotong kalimat dalam cerita pujaanku.

Belajarlah dari pagi, siang, sore, dan malam. Belajarlah dari drama alam. Kepastian dari dalam hati yang tak tergoyahkan sekuat apa pun badai mengamuk. Lebih kokoh dari karang, lebih keras dari baja mana pun.

Thursday, November 19, 2009

selimut kabut



Mungkin aku hanya panik, karena ketika di hadapan selembar kertas kosong, tiba-tiba otakku jadi ikut kosong. Seperti ada kabut tebal yang menyelimuti pikiranku. Aku jadi tidak lagi mengenal diriku sendiri. Siapa aku tanpa kata-kataku. Siapa aku?

Sunday, November 15, 2009

Don’t let society defines who you are. Just let it be a mirror for you to define yourself.

It’s your life. It’s your call.

Wednesday, November 11, 2009

There’s a strong connection, between not believing yourself and not being able to do the task

Sunday, November 8, 2009

this is it


“Life is hard. We need to find meaning, something to believe in. and this is it.”


Sepenggal kalimat itu adalah testimonial dari salah satu penari latar MJ untuk konsernya yang tak akan pernah terwujud. Seminggu sebelum konser yang terakhir dalam karirnya, The King of Pop harus meninggalkan keluarga dan fansnya untuk selamanya. Tapi ia pergi tidak hanya meninggalkan duka, tapi juga cerita tentang kesungguhan yang menjadi harapan.


Siang kemarin, gua dan Faye nonton “This it”. Walau sebetulnya film ini pilihan kedua kami (setelah “9”) tapi setelah selesai nonton, film itu langsung meninggalkan kesan nomor satu di hati gua. Sepanjang film, gua gak bisa tahan untuk gak goyang dan gak ikutan nyanyi. Rasanya tubuh dan mulut gua bereaksi otomatis begitu musik dan suara MJ masuk ke telinga. Sepertinya tubuh gua menterjemahkan setiap nada, lirik dan gerak sebagai bujukan untuk ikut menari. Like a magician hypnotizing his audience, MJ every move is a complete magic.


Hal lain yang berhasil menyentuh gua adalah totalitas sang Raja Pop. Umurnya yang sudah mencapai 50 tahun, dan rehat yang cukup lama semenjak penampilannya yang terakhir, tidak menghalangi pria yang terkenal dengan gaya moonwalk-nya ini, untuk berlatih mati-matian menjelang konsernya. Setiap detil gerak dan musiknya dia perhatikan. Dia bernyanyi dan menari sepenuh hati, seakan latihan bukan latihan melainkan penampilan yang sesungguhnya. “Push the boundaries. It’s Michael is all about”, kira-kira begitu seingat gua, kalimat yang terlontar dari mulut wardrobe director-nya (kalau gak salah jabatannya).


Banyak banget quotes dan adegan menarik di film ini. Rasanya dengan menonton “This is it”, gua seperti berada di tengah-tengah suasana latihannya. Seakan-akan gua berada di London, duduk di bangku samping di hall tempat konser rencananya akan diadakan dan menyaksikan semua. Merasakan semua.


Tragis bila kita mengingat bagaimana sebelum meninggal, MJ sering didera gossip-gosip miring. Bahkan tak jarang ia menjadi bahan lelucon di berbagai acara. Mungkin gossip-gosip itu ada benarnya, mungkin juga tidak. Tapi satu hal yang pasti, ada banyak orang yang lebih buruk dari dia di dunia ini, tapi hanya ada sedikit orang seistimewa dia. Dan ia adalah sang legenda, yang melalui karya-karyanya, akan terus hidup di hati para penggemarnya.


Film ini juga membangkitkan sebuah perenunan tentang betapa singkatnya waktu untuk dihabiskan dengan takut menjadi diri sendiri dan terlalu mendengarkan apa yang orang lain ngomong soal kita. Betapa sering kita menunda apa yang kita mau, hingga akhirnya semua tinggal menjadi ”gua-sebetulnya-bisa-gak-ya?”, yang akan mendengung selamanya di kepala. Jangan takut menjadi sesuatu yang kita yakini, ”That’s why we have practice”, begitu MJ selalu bilang ketika dia atau rekan kerjanya melakukan kesalahan. Hidup sebagai kita hanya sekali. Kalau gak saat ini kapan lagi. This is it!

Wednesday, November 4, 2009

my bad unconsious wish wilted my "daun muda"

Its funny how losing one thing you don’t really fancy, can turn your world upside-down.

The 10 finalists of Daun Muda award have been announced. Guess what. My bad unconscious wish for not entering to the final round has come true (one of my friends told me). To my surprise, I feel something cracked inside. Is it my hope or my pride? I’m not sure. Maybe both. “I don’t really want it anyway.” I keep conveying myself over and over. However, as I skim through the name list, somewhere inside me, foolishly hoping to find my name and my partner’s name among the finalists.


And when I couldn’t find it, I felt even more despair.


Somehow I feel like a big bad loser. I feel like it was entirely my fault. I’m the one who wasn’t doing it right. I belittle the competition. I have disappointed my partner. I feel like a murderer for killing his hope. I’m sure everything would turn out totally different if he, my partner, had not picked me as a teammate. I’m sorry.


People say losing is a common thing. Somewhere along the road, you will have to meet with it face to face. Like it or not. But still I can’t bare the guilt of losing. Losing makes me feel like an outsider.


I will get myself back on the run. I know I will. But first thing first, I'll have to make sure to where my passion belongs. So i can hush my bad unconscious wish away.


Once in awhile we make a mistake that we won't laugh at it.

Tuesday, November 3, 2009

mencoba gak takut, malah tambah takut

Dulu sekali, seorang teman pernah bilang sama gua, "Jangan takut sama takut, karena ia ada kita jadi lebih hati-hati". Tanpa sadar, kata-kata itu masuk ke dalam diri gua, bahkan masuk terlalu dalam hingga membentuk karakter gua menjadi "terlalu hati-hati". So, that's made me more as a keeper than a doer.

Segala macam perasaan gua kayak marah, ingin, dan gak ingin, jadi sering terpendam. Parahnya gua selalu berhasil menyakinkan diri kalau memendam perasaan bukan hal yang salah, bahkan gua merasa bukan memendam, tapi cuma sekedar lebih berhati-hati.

Imbasnya, gua jadi susah jujur, dan kacaunya lagi, gua sudah sampai ke tahap dimana gua gak tahu kalau gua lagi membohongi diri sendiri.

Setelah sekian lama gua mempraktekkan kebiasaan ini, sadar-gak sadar, gua merasa susah untuk bisa happy. Bersama dengan berlalunya waktu, kebiasaan memendam perasaan memupuki sisi gelap di diri gua, dan menjadikannya besar dan mantap. Tanpa sadar, hampir seluruh hidup gua nyaris diambil alih oleh sisi gelap ini (kenapa gua berasa lagi nulis fiktif untuk cerita super hero?).

Tapi hidup itu memang tukang jitak nomor satu.

Dalam beberapa bulan belakangan, lewat serangkain kejadian yang sukses membuat gua jungkir balik, hidup menjitak kepala gua, keras. TAK! Gua dihadapi dengan kantor baru yang isinya orang-orang penuh ambisi dan passion yang menggebu-gebu. Gua suka terkesima bagaima cepatnya mereka menentukan sesuatu, dan bukan dengan asal-asalan. Tapi penuh perhitungan. Mereka gak punya waktu untuk bersikap terlalu berhati-hati. Cukup hati-hati saja.

Suatu hari di kantor itu, tiba-tiba terngiang lagi nasihat teman gua. Maybe I was being too literal. Mungkin gua terlalu bulat menelan kata-kata temen gua itu. Mungkin maksudnya, ketika kita dihadapi dengan sebuah pilihan baru, pasti takut menjadi salah satu perasaan yang muncul duluan. Tapi yang seharusnya lebih kita dengarkan adalah perasaan mau atau gak mau. Karena bila kita benar-benar menginginkan sesuatu, pasti akan ada jalan untuk bisa sampai ke sana.

Kadang rasa takut itu bisa menjadi indikator keinginan kita. Kalau takutnya lebih besar dari maunya, mungkin sebenarnya, kita gak benar-benar mau.

Satu hal lain yang gua sadari adalah, semakin gua mencoba untuk gak takut sama rasa takut, gua malah jadi semakin takut.

Jadi jalan yang terbaik buat gua adalah mencoba untuk lebih rasional dan jujur sama diri sendiri, mau atau gak mau. Dan menjadikan takut hanya sebagai sentilan di kala gua lagi malas.

tentang kegigihan, fokus, nyeri dan memar habis main basket

Hidup itu seperti olah raga. Sebut saja basket. olah raga yang baru aja gua lakonin tadi malam. Kadang kita menang, kadang kita kalah. Tapi bukan hasilnya yang mau gua bagi lewat tulisan ini, melainkan kegigihan, fokus, nyeri dan memarnya.


Udah cukup lama gua absen dari dunia perbasketan (gaya looh!). Tapi tadi malam, dengan perut buncit dan otot-otot yang sudah agak kendur, gua main basket, seolah-olah gua main basket setiap hari. Gas pooool! Lari sana lari sini, lompat sana lompat sini. Seandainya punya tangan mungkin paru-paru gua udah nampar gua bolak balik karena mengeksploitasi gak tahu batas. Tapi entah kenapa, tetep aja tuh gua paksain walau kadang gua harus berhenti untuk mengejar nafas. Mungkin karena gua tahu, menyerah berarti kalah. Jadi gua akan paksain sampai sedikit lewat garis batas kemampuan gua. Lagian buat apa kita punya batas kalau gak untuk dilanggar :D. Dari momen ini gua belajar soal kegigihan.


Akibatnya, muncul masalah ke dua, yaitu… fokus melayang. Kepala terasa berat, sedikit muter, karena asupan oksigen di kepala kurang. Alhasil, lemparan gua gak masuk-masuk, lihat temen kayak lawan, lawan kayak temen (salah oper deh). Karena ke-eror-an gua, lawan jadi dapat kesempatan untuk nambah skor dan teman-teman satu tim gua hanya bisa menunduk kecewa, mau negur gua gak enak, tapi kayaknya ketololan gua bakal membuahkan kekalahan. Lihat muka-muka kecewa itu, perasaan bersalah tumbuh subur di dada gua (Shit. Makin sesak nih!), dan gua langsung bertekad, kalau gua harus bisa lebih konsentrasi, demi teman-teman satu tim (sedaaaap!). Langsung aja gua bentak otak gua untuk berkerja lebih keras walau dengan honor oksigen seadanya. Untung otak gua cukup pengertian, jadi gua bisa mengurangi erorisme gua. Dari momen ini gua belajar, mikirin orang bisa membantu kita untuk lebih fokus.


Nah! Pas gua lagi istirahat, dengan tubuh yang udah payah dan basah oleh keringat, gua duduk terkulai seperti daun layu. Terus gua minum air sebanyak banyaknya dengan rakus, seolah-olah gua bisa minum sampai mengeringkan sebuah sungai. Setelah beberapa saat, capek pelan-pelan pergi, dan datanglah… nyeri otot atau keram. Waktu gua mau berdiri, otot paha kanan gua kayak dicubit. Ngiluuuu… terus punggung kaki kanan gua ikutan sakit ditambah jari-jari kaki yang ketusuk kuku kaki yang lupa digunting. Damn! Lengkap sudah nyeri di badan gua. Habis gelap datang lah badai. Tiba-tiba sebuah pencerahan muncul, sakit ini pasti karena seluruh otot kendur di badan gua lagi belajar untuk menjadi kencang. Kalau otot gua sukses jadi kencang, gua juga kan yang kelihatan macho (ahahahahueek…). Dari momen ini gua belajar, kalau gak sakit, ya gak belajar.


Ketiga poin di atas menyisakan beberapa oleh-oleh untuk di bawa pulang dan dinikmati di rumah. Memar. Sumpah, badan gua serasa habis diinjak-injak 100 orang. Yang buat gua menderita, memarnya seolah-olah ada di dalam kulit. Eh, ada satu yang di luar. Di punggung tangan kanan ada memar merah seperti tanda lahir sebesar kacang kedelai. Anehnya, gua mulai menikmati memar itu dan menganggapnya seperti pengingat; kalau tadi, gua gak nyerah dan berjuang sampe habis. Dari momen ini gua belajar, kalau kadang kita butuh sesuatu untuk mengingatkan, sudah sampai sejauh mana kita berusaha.


Selesai sudah pengalaman yang gua dapat dari setelah sekian lama gak main basket. Seperti udah gua bilang di atas, hidup itu seperti olah raga. tepatnya, seperti udah lama gak olah raga terus dipaksa abis-abisan. No pain no gain.


Tapi bagaimana pun olah raga itu bikin addict. Seperti hidup.

Thursday, October 22, 2009

akibat kweyobarsd rusdak

ok sdwelamat malam blogku twerxcinta!

Pasdti lo sdwemua bingung kwenapa gua nulisd axcak kasdul gini. apakah gua sdwengaja? apakah gua xcuma xcari pwerhatian? sdalah kawean!

tulisdan anxcur ini karwena kweyboarsd gua rusdak (rusak ;p).

sdan ini xcurhatan gua! aakhhhhhhh!

sdasdar (dasar) kweyboarsd sdok (Sok) sdwetia kawean! kalau gua pwenxcwet (pencet. doooooh!) huruf "E" sdia akan ajak si huruf "W". kyk gini nih: "WE". klo gua pwenxcwet (pencet. double doooooooh!!) "C" sdia akan ajak huruf "X". kyk gini: "XCXCXCXCXCXC!"

monywet kamprwet!! (weah! klo maki2 jd ke sensor sendiri nih. sdomprwet! asdu! ngwepwet!--> ups..)

sdan sdwekarang kwepala gua pusding, basdan mweriang, tapi gak bsd pulang krn bloosdy rain!

ANJRIT! TAI! BABI! upsd gua lupa huruf2 yg ini gak rusdak.. hwe..

Sunday, October 18, 2009

blink

Suddenly I feel like to write something
Some words blooming from the heart
In the middle of the night so old
And silent so bold

Vague yet too stunning to be ignored
Like an ode of heaven that's chiming inside my head
So beautiful and intoxicating it sweeps me off the ground
High and higher to an avidya-land

Until suddenly it stops sounding
Completely, without traces
Like smoke in the wind
As if somebody just turn off the light

Haven’t got the chance to pour that felling into words

Yet time has expired
Not even a time machine could help
What left is lousy sleepless nights
Full of remorse and the dreams of yesterday

Monday, October 5, 2009

tak pernah sepenuhnya..

Malam ini dingin, tidak seperti malam-malam biasanya. Pekerjaan tak lagi ada yang mengantri. Di depan layar komputer aku terpaku, pada sebuah website berita yang aku baca tanpa benar-benar aku perhatikan. Pikiranku berkelana. Jauh. Jauh dari sini. Ke sebuah tempat yang belum lagi aku pasti adanya. Tapi yang aku tahu pasti, dalam jujur suara hati yang terdalam; aku bukan milik tempat ini.


Aku berjalan keluar, ingin mendengar suaranya yang dibawa nada frekuensi tinggi ke telingaku, tapi hanya suara nada sambung membosankan yang kudapat. Ia sudah tidur mungkin, pikirku menghibur diri yang terlanjur kecewa. Lalu aku putuskan untuk jalan mengitari taman yang dikelilingi rumah-rumah mewah yang dingin. Seperti malam ini. ya sesepi malam ini.


Aku tak tahu kenapa aku melakukan ini, melangkah mengitari taman, di atas jalanan yang basah oleh hujan, sendirian, kedinginan, dalam gelap. Rumah-rumah besar yang kulewati seakan mengawasiku dengan mata yang menatap angkuh dari balik bayang-bayang malam. Sebuah raga yang bergerak dengan jiwa yang berada entah dimana. Aku biarkan hatiku membawa langkahku kemana ia ingin.


Sering aku merasa seperti ini. Tapi tak pernah sekalipun aku memiliki seutuhnya.


Aku merasa bebas, tapi tidak terbang lepas.

what a romantic couple...


a rainy day and the sway of a jazzy melody

Wednesday, September 30, 2009

How great our dreams is...

...solely depends by fears we have conquer, by one thing that we believe in, by hurts we have cured, by choices we’ll never regret, by failures we're refuse to give in, by heart that have broken so many times, by mistakes we have forgiven, by determination beyond our perception, by hearts we have touched.

Like Reagan once said to his fellow Americans, that “We are too great to limit ourselves to small dreams.”

Useless

Berjuta rasa muncul dengan alasannya sendiri-sendiri
Bergesekan kuat bagai baja dengan baja
Semua sama keras, semua sama bimbang
Melontarkan percikan bunga-bunga api
Ringan ke udara, berputar bagai dandelion
Hingga dinginnya malam menjadikannya abu
Yang dibawa angin jadi debu

Tuesday, September 22, 2009

time flies. do sumthin about it!

Time will grow old on you
Faster than you think
All of your dream
Will turn into the things you wish you should have done
Just like that. In the blink of an eye
Unless you do something about it

Thursday, September 17, 2009

Keberagaman adalah sikap

Malam kemarin ketika masih sedang mencari makna pluralisme untuk tulisan ini, tanpa disangka saya menemukan jawabannya di sebuah toko baju distro yang disesaki beratus anak-anak muda berpenampilan serupa.

Karena suasana begitu sesak, saya yang sudah setengah "giting" oleh bau keringat terpaksa beristirahat di salah satu sudut dan mau tidak mau jadi memperhatikan orang-orang di sekitar. Seorang cowok berambut ala anak band lewat di depan saya diikuti beberapa temannya yang potongan rambut dan gaya berpakaianya mirip. Sayang saya tidak bisa mendengarkan mereka bicara, karena saya yakin cara bicaranya pun pasti setipe.

Salah satu contoh lainnya adalah ketika group band Peter Pan naik daun, hampir semua band baru yang muncul memiliki warna musik yang sama. Sering saya terkecoh mendengar sebuah lagu mirip lagu Peter Pan yang ternyata bukan. Gawatnya lagi, tiba-tiba banyak orang terlihat seperti Ariel-Peter Pan (gaya rambut adalah ciri yang paling mencolok).

Tiba-tiba saya merasa hidup ini begitu miskin. membosankan. Semua orang menjadi serupa.

Bahkan saya pun kadang terjebak di lubang yang sama dan susah untuk keluar dan menunjukan siapa saya sebenarnya.

Karena itu saya mengerti, susah menjadi berbeda tanpa merasa terasing. Seperti alien nyasar. Seakan semua mata memandang aneh. Tapi bagi saya setiap orang harus punya “statement” tentang siapa dirinya.

Tapi apa statement kita?

Bagi saya sederhana saja. Kita adalah bangsa yang plural. Bangsa yang di dalam sebuah toko baju distro saja terdapat berbagai jenis suku, etnis dan latar belakang yang berbeda-beda. Kita harus berani menunjukan perbedaan kita dan menghargai perbedaan orang lain.

Orang jawa jangan hanya bisa berkumpul dengan orang jawa. Orang keturunan Chinese jangan hanya percaya sesamanya, orang batak dengan orang batak, orang ambon dengan orang ambon, dan seterusnya.

intinya, pluralisme bukan sekedar suku, warna kulit, bahasa, budaya tapi juga sikap hidup.

Setiap orang memiliki keunikannya masing-masing yang harusnya saling mengisi dan melengkapi.

Keberagaman tak hanya nyata pada apa yang bisa kita lihat. Justru keberagaman yang sesungguhnya terletak di suatu tempat yang tak bisa kita pegang tapi bisa kita sentuh.

Tuesday, September 8, 2009

Hidup adalah cerita

Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk menahan rasa sakit akan kegagalan. Karena setiap sakit adalah cermin dan setiap kegagalan adalah pelajaran. Dan sudah sewajarnya cermin digunakan sebagai refleksi diri dan setiap pelajaran membuat kita lebih paham, kalau mungkin saja, kita hanya baru sampai menuliskan prolog cerita hidup kita. Masih banyak lembar kosong yang menanti untuk diisi.

Tak ada yang pernah bilang hidup ini mudah, yang ada hidup ini indah.

Gagal itu indah.
Berhasil itu indah.
Salah itu indah.
Benar itu indah.
Malu itu indah.
Berani itu indah.
Marah itu indah.
Cinta itu indah.
Sakit hati itu indah.
Yakin itu indah.
Kecewa itu indah.

Hidup tidak berakhir pada sebuah kegagalan juga tidak pada satu keberhasilan. Hidup itu cerita kawan. Cerita yang engkau rangkai sendiri prolog, inti dan akhirnya.

Friday, September 4, 2009

the dark side

I have tried not to feel bad about myself
It’s been two days test of believing
Yet today I don’t feel less dark than before
And now I lost my grip, drifted back to the abyss

Wednesday, September 2, 2009

a blissful attraction



Keberuntungan hanya datang kepada mereka yang berhati lapang ditumbuhi kebun bunga warna-warni dan sepoi angin yang meniupkan hangat sinar matahari.

Nyokap gua selalu bilang, orang yang banyak rejeki adalah orang yang selalu bahagia. Aneh ya. Ada juga orang yang bahagia adalah orang yang banyak rejeki. Tapi setelah dipikir-pikir kata-kata nyokap gua benar juga.

Penjaga toko yang sedang bahagia akan menarik lebih banyak pelanggan daripada penjaga toko yang lagi BT.

Kita lebih produktif bekerja bila kita sedang bahagia.

Orang yang lebih sering merasa bahagia akan lebih menyenangkan diajak berteman daripada mereka yang selalu murung.

Muka yang sedang bahagia akan lebih enak dilihat daripada muka yang suntuk dan mengutuk.

Karena kalau kita sedang bahagia, ada daya magnet yang menguap keluar dari tubuh kita. Menarik semua-semua yang menyenangkan ke arah kita.

Daya magnet itu bisa juga gua sebut sebagai a blissful attraction.

-Seseorang yang sedang belajar untuk bisa lebih sering bahagia.-

Monday, August 24, 2009

Makan sekaligus "melarikan diri"



Siapa sangka, di belakang salah satu hotel termewah di daerah kuningan - Jakarta, tepatnya di bilangan setiabudi tengah no 11, di antara rumah-rumah sederhana, terdapat sebuah rumah makan unik cita rasa Indonesia yang akan membuat lidah Anda jingkrak-jingkrak.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah makan ini, cari saja patung mbah (panggilan nenek bagi orang Jawa) yang sedang berdiri satu kaki atau berjingkrak sambil tersenyum iseng. Lalu di atas beranda terdapat plang besar yang bertuliskan “Mbah Jingkrak”. Rasanya sulit untuk tidak tersenyum geli ketika kita pertama kali melihat tampilan luar rumah makan ini.

Begitu masuk pintu yang bernuansa putih, kita langsung disambut dengan seperangkat gamelan dan beberapa aksen batik dan wayang. Nuansa Jawa Tengah yang ramah dan tenang langsung mengena di hati. Melangkah masuk ke dalam restoran ini rasanya seperti pulang ke rumah.

Masuk lebih dalam lagi, kita akan melihat display makanan yang berjajar, tapi hati-hati lepas kendali, karena semuanya terlihat nikmat. Saya sendiri nyaris kalap. Untung saja perhatian saya tercuri ketika melihat deretan minuman selamat datang dalam gelas-gelas kecil menarik yang bisa diambil, gratis. Ada wedang jahe, beras kencur, dan berbagai macam minuman tradisonal lain.

Nama-nama menu makanan dan minuman yang tersedia cukup "iseng" seperti Ayam goreng rambut setan (sambalnya yahuuud), es kolor hijau (slasi, kelapa, lime) dan lainnya. Rasanya pun tak kalah unik dan enak. Bagi Anda pecinta makanan pedas, di sini lah surganya. Tak salah bila rumah makan ini dinamakan “Mbah Jingkrak”, karena siapa makan di sini, pasti akan jingkrak-jingkrak kepedasan.

Masuk lebih dalam lagi ke dalam rumah makan ini, merupakan petualangan tersendiri. Mulai dari kamar - kamar yang dijadikan ruang makan dengan tata ruang rumah jawa jadul (Jaman Dulu) sampai ruang belakang rumah yang disulap menjadi ruang makan dengan meja-meja kayu panjang. Sampai di sini pun, nuansa Jawa Tengah masih kental terasa.

Dengan menyeberangi kolam renang melalui jembatan kayu merah seperti jembatan dalam lukisan-lukisan cina jaman dulu, kita akan sampai ke perkarangan dalam rumah bernuansa asri lengkap dengan pohon dan deru air terjun dari samping kolam renang. Seperti berada di alam bebas, sejuk dan menenangkan. Di tengah ketenangan alam ini, kita juga bisa menyantap makanan. Baik di pelataran atau di sebuah gazebo di samping kolam renang. Sangat cocok untuk pergi bersama orang-orang terdekat.

Petualangan tak berhenti sampai di sana, di samping belakang rumah ini kita bisa melihat tulisan “Roller Skate” pada dindingnya. Bila kita dekati, ternyata tulisan itu disusun dari roda-roda roller skate berwarna-warni yang tergantung pada paku. (selidik punya selidik ternyata anak pemilik rumah makan ini adalah seorang atlet). Di sebelahnya terdapat perpustakaan yang berisi berbagai jenis buku-buku bernuansa islami, politik dan pengembangan diri.

Harga makanan dan minumannya cukup bersahabat. Untuk sepotong ayam sekitar 13.000 rupiah dan minuman seperti kolor ijo hanya 10.000 rupiah.

Makan di Mbah Jingkrak tidak hanya memberikan pengalaman kuliner yang unik, tapi kesempatan untuk melarikan diri dari kesibukan hidup sehari-hari.

Monday, August 10, 2009

Swine flu attack!

Pernah gak kamu melihat suatu bencana di TV atau membacanya di koran, lalu dalam benakmu kamu berpikir, gak mungkin lah kamu bisa tertimpa bencana seperti itu. Kalau pernah kamu berpikir macam itu, hati-hati, because you’ll never know.

Belakangan ini bencana virus penyakit yang paling trendy dan happening adalah swine flu, atau flu haram, begitu gua dan teman-teman kantor menyebutnya. Dan gak peduli seberapa sering gua mendengar berita dan celotehan orang tentang wabah ini, Cuma ada satu keyakinan atau mungkin keacuhan gua, yaitu… dari 200 juta lebih orang di Indonesia, gak mungkin lah gua begitu sial hingga tertular. Keyakinan ini didukung pengalaman ketika booming-nya wabah flu burung, toh gua tetap makan ayam nasi uduk di pinggir jalan, hasilnya, gak ada tuh flu burung yang menclok di tubuh gua. Jadi kenapa gua harus khwatir bakal ketularan flu haram?

Hingga akhirnya, kira-kira seminggu yang lalu tiba-tiba gua sakit. Gejalanya mirip flu biasa. Bedanya, rasa ngilu mulai dari ujung jidat sampai ujung jempol kaki. Ditambah, gua harus melewati malam-malam menyakitkan karena mengigil. Tapi dengan tidak sedikit pun curiga swine flu, gua merasa ini pasti karena kelelahan. Mengingat, selama tiga bulan terakhir ini, hampir 2 bulan gua lembur setiap hari. Saking yakinnya gua, atau mungkin cuek, gua gak mau ke dokter. Gak perlu. Cukup tidur cukup dan minum obat biru (bukan obat yg itu ya), besok gua pasti balik sehat dan siap untuk, meminjam slogan bos gua, Rock n roll! Lagi. Tapi setelah tiga hari gak sembuh-sembuh, akhirnya gua nyerah juga dan terpaksa menggelandang diri sendiri ke rumah sakit.

Pas ketemu pak dokter, yang mirip bintang film Taiwan, dan menurut nyokap gua ganteng (hihihihi), beliau (ceileh) meminta gua periksa darah dengan kata-kata pamungkas yang gak nyaman di telinga gua. kalau badannya panas gini, bisa demam berdarah atau swine flu?” Apa!? Gak salah tuh dok? gak ada pilihan yang lebih sadis? Langsung aja gua takut kena demam berdarah. Sedangkan swine flu? Hm… gak terlalu kepikiran sih.

Di ruang cek darah, gua duduk di sebuah bangku kulit yang empuk dan nyaman, walau gua sama sekali gak bisa menikmati karena sibuk membayangkan jarum yang akan menembus nadi gua dan menyedot darah yang sedang mengalir deras di dalamnya. Langsung begitu jarum silver dingin itu menembus nadi gua, darah merah tua segar (yang sedang terkontaminasi virus sih :p) mengalir keluar lewat selang kecil berliku-liku seperti main halilintar di dufan dan langsung menyembur keluar ke dalam sebuah tabung kaca kecil seukuran jari telunjuk orang dewasa. Seperti mengisi air dari dispenser. Habis itu, dengan sopan, si suster bilang akan mengambil sempel ingus gua dengan mencolokan sebuah cotton butt raksasa ke dalam hidung gua yang seksi ini. ouuuuch! Damn it! So hate hospital!

Habis itu nunggu satu jam untuk tahu hasilnya. Begitu dapat langsung buru-buru gua ke dokter, bukan karena kebelet banget pengen tahu hasilnya, tapi karena mau buru-buru pulang tidur karena kepala gua berat banget rasanya dan AC di Rumah sakit itu dingin banget sampe buat gua mengigil gila. Kayak ada di dalam kulkas rasanya. “Rumah sakit kan untuk menyembuhkan orang sakit, bukan untuk menyiksa. Kecilin kek AC nya!” tentu makian ini hanya lantang gua teriakan di dalam hati. Ketika akhirnya ketemu lagi sama si dokter titisan bintang film Taiwan ini, dia, dengan wajah dingin sedingin AC di Rumah sakit ini bilang…

Dokter mirip bintang film Taiwan: (bertanya begitu gua mendaratkan pantat montok ini ke bangku) temen kamu ada yang baru datang dari Singapore?

Gua: hah? Gak ada dok?

Dokter mirip bintang film Taiwan: kamu baru dari Singapore?

Gua: kagak juga tuh dok. Rencananya sih mau dok, tapi nanti kalau ada uang dan waktunya.

Dokter mirip bintang film Taiwan: kamu positif flu.

Gua: (bingung) flu? Flu apa dok? (mulai panik gak jelas)

Dokter mirip bintang film Taiwan: (masih dengan muka dinginnya) sewine flu.

Gua: (cengo campur syok) apa? Sewine flu? (mulai panik yang jelas)

Dokter mirip bintang film Taiwan: Iya… nih (sambil menunjuk ke lembaran hasil tes darah) kamu positif.

Gua: AKHHHHHHHHHHHH! ANJRIIIIIIIIT! MAMPUSSS LAH GUAAAAA! DOKTER! SELAMAT KAN AKU! ANO HASEO! (Whatever that means).

Hasilnya, gua harus istirahat seminggu. Gak boleh ngantor, padahal lagi banyak kerjaan. Hadoooh! Dan setiap hari gua harus menegak 6 macam obat rupa-rupa warna dan bentuknya setiap pagi, siang dan malam. Akhhhh! Mampus deh gua. Apakah ini karma, karena gua gak terlalu doyan makan babi! TIDAAAAAAK!

Morals of the story:
1. Never say never!
2. Always prepare for the worst
3. Never look at the process when your blood taken

Sekian dan terima kasih. Salam flu haram. Ngooook!

Tuesday, July 21, 2009

Balada mencoba

Kalau kita sudah tekad dan nekad mau mencoba
Berarti harus siap dicoba
Kalau tiba-tiba, “cilukba!”, kegagalan muncul
Nyali yang setengah mati berhasil dibujuk datang
Jangan dibiarkan langsung beres-beres terus cabut

Tinggal lah beberapa malam lagi
Tunggu sebentar, sampai badai berlalu
Kalau memang sampai tiga kali bulan tersenyum
Badai yang mendera tak juga mereda
Berbenah lah pelan-pelan sambil berucap syukur
“Terima kasih atas kesempatan untuk mencoba”

Mungkin memang bukan di sana tempatmu
Bukan di sana hatimu
Tapi setidaknya kita sudah mencoba
Setidaknya satu teka-teki terjawab

Gagal itu luka iris yang ditetesi jeruk
Sakitnya berkali-kali
Tapi bangkit dari kegagalan itu es jeruk yang diteguk di saat haus
Segarnya berjuta-juta

Coba lagi, jangan takut mulai dari awal
Hari masih muda, kekhawatiran yang membuatnya tua
Nasib manusia seperti batu besar yang keras
Akan selamanya jadi tak berarti
Atau jadi berarti selamanya tergantung sekuat apa kita memahatnya

Thursday, July 16, 2009

MIKIR!

Mikir! Peres tuh otak sampe kering ring ring ring. Terus istirahat deh, biarin otak lo seger. Habis itu, peres lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi! Sampe kering, kering, kering lagi! Di dunia ini, gak ada tuh yang namanya orang goblok, yang ada juga orang males. Males mikir. Kalau gitu, males juga lah hidup memberikan kenyamanan ke mereka yang males. “Peduli amat, males gua mikirinnya.” Cibir si hidup enak sambil buru-buru melengos pergi.

Mikir... Kadang mikirinnya aja udah males. Tapi males mikir berarti elo males hidup enak.

Mikir… yaaaaa gak usah terlalu banyak dipikirin deh. Just think! Period. Mikir aje. titik.

You tell your brain what you want it to do, not the other way around.

Fidgety

Sitting alone in this room, I feel like a stranger in my own house. Emptiness feels bitter than ever. Suddenly doubt comes crawling quietly-slowly onto my back, holding, while wickedly putting her lips to my ear and whisper spells to break my defenses.

I woke up and instantly run toward the door. Wanting to feed sunshine-warm to my soul, but outside, all I can found was just darkness. The night has just begun. With bare foot I started walking on to the pavements, passing dark and smelly alleys, toward the crowds; to wherever my heart leads me to.

I saw people I thought I knew become just another faces in the crowd. The things I thought I have, turning into dust in my palm. The road ahead is dark and rocky, I thought I saw light at the end of it, but turns out it's just a vicious flash of the eyes of doubt that lurking behind shadows of the people.

Who am I?

Who are you?

Can we just stop pretending?

Is nowhere, a start? Because I started to questioning, is this the way I want my life to be? Should I change direction and risk everything I have for an unsure reality.

I’m not that strong. I’m not that brave.

Can you just untie your heart and listen to what my heart is dying for?

The night is old and I lost my bold.

Sunday, May 17, 2009

Bingung, gamang, gak jelas. (eghh... masa sih?)

Dua minggu belakangan ini aku merasakan terlalu banyak
Sampai-sampai sekarang aku tak lagi bisa merasakan apa-apa
Tapi tidak juga mati rasa, Aku seperti mengambang
di antara kepastian dan ketidakpastian

Tapi apa benar seberat itu?

Atau...

Ini hanyalah ketakutan yang dikarang oleh diri sendiri
Mental cemen yang kurang disemen dengan keberanian
Kena guncangan sedikit langsung patah arang
Dasar Drama King!
Setiap ada keraguan, prasangka dan drama langsung mengambil peran

Hm.. yang mana ya?

Pilihan atau suratan?

Duuuh.. yang satu aja belum terjawab, muncul pertanyaan lain.

Hm... tapi pertanyaan kedua ini gua bisa jawab... Pilihan. Karena hidup adalah soal pilihan.

Monday, May 4, 2009

Hari kedua kantor baru...

Tengah hari baru lewat setengah. The Nunung CS sedang bersenandung dari dalam speaker hitam di mejaku. Percobaan dan usaha untuk menembus perisai semu bernama "Skpetis sama orang baru" mungkin akan lebih mudah dengan irama yang bisa bergoyang di hati. Beberapa orang terlihat membesitkan sedikit senyum terhibur, walau lebih karena The Nunung CS. Gua cukup senang. Mungkin ini awal.

Malam ini bakal lembur. Brainstorm dengan cara yang belum pernah gua alamin sebelumnya. Malam ini adalah saatnya, bisa jadi awal dan akhir dalam satu paket. tapi, kata seorang teman, gua harus adil sama diri gua sendiri. Jadi, dalam hati, gua beranikan menyakinkan diri, kalau masih ada kemungkinan paket lain, yaitu awal dan harapan.

Gua harus siap. kali ini gak boleh kalah sama diri sendiri.

Today is the day, but somehow if you fail, then tomorrow still always could be the day, or the day after tomorrow, or the day after the day after tomorrow.

Friday, April 24, 2009

Jujur itu susah banget!

Seberapa sering sih kita berani jujur sama diri sendiri?

Kalau gua, jarang. Karena pura-pura itu lebih gampang daripada harus mengakui kalau kita gak pantes.

Apalagi orang lain lebih mudah menilai seperti apa kita, ketimbang siapa kita. Jadinya kita lebih sering mengambil pilihan untuk menyenangkan orang lain, padahal kita tahu kita gak sanggup.

tapi apa lo gak capek dengan semua drama yang lo lakonin hanya demi harga diri lo sendiri. Tahu gak sih, harga diri kita tuh gak cukup berharga untuk bisa membuat kita happy.

Emang kenapa kalau kita ditinggalin sama orang-orang karena memilih jalan kita sendiri? Emang kenapa kalau kita jadi keliatan aneh karena gak mengikuti arus?

Apa salahnya mendengarkan kata hati yang mungkin gak selalu benar. Dan apa salahnya mengambil jalan yang salah? Kalau dengan salah kita bisa belajar jadi benar.

Perasaan kesepian dan kecil yang membuat seakan-akan gak ada jalan lain selain menjalani pilihan yang bukan pilihan kita. Kita jadi sering takut gak bisa membahagiakan orang lain. Tapi apa lo yakin keputusan lo akan berakibat sebaliknya?

Kalau ternyata gak, kita mau salahin siapa? Orang-orang yang ingin kita bahagiakan? atau menyalahkan diri sendiri dan menyesal seumur hidup?

Penyesalan itu cuma hadir ketika kita mengambil sebuah keputusan, baik itu benar atau salah, gak dari hati kita yang paling dalam. Gak jujur. Kalau kita sudah jujur dari awal, pasti sesalah apapun hasilnya nanti, kita akan punya tenaga dan keberanian untuk bangkit dan memperbaiki semuanya.

Dan jangan pernah memilih semata-mata untuk membahagiakan orang lain. Gua percaya nasib kita adalah milik kita sendiri. Jadi mau bahagia atau gak, kita juga yang bisa menentukan. Kalau orang-orang yang takut lo kecewain itu benar-benar sayang sama elo, mereka pasti bisa mengerti apapun keputusan yang elo ambil.

tapi kalau gak, yaaa simpel aja sih, berarti mereka bukan orang-orang yang pantes mendapatkan pengorbanan elo. Karena mereka gak benar-benar sayang sama elo.

Thats' it. end of story.

If life is complicated, just uncomplicated it. That's simple in theory. But at real life, it's always our choice to make it, easy or hard.

Friday, April 3, 2009

Pada sebuah hujan

Hujan berlompatan riang di atap-atap mobil
Sambil berdendang lirik rintik romantis
Langit pun meredup, tiada gelap, tiada terik
Sejuk bagai senyum ramah seorang wanita tua
Yang senang mengamati cucu-cucunya sedang riang bermain

Monday, March 16, 2009

melangkah

Mau jalan ke utara atau ke barat ya?
Tapi yang di selatan juga terlihat menyenangkan
Atau ke timur di awal mentari berseri

Ikut kemana angin bertiup
Begitu nasihat sebuah tembang lawas
Yang membuatku jadi setengah waras
Karena ternyata angin bertiup tak kenal batas

Bah!

Tuesday, March 10, 2009

About no ordinary girl


This is not an ordinary story
About a girl madly extraordinary
So sit back and listen
Hold to your cola and let me start with a hola!

HOLA!

She likes dancing and singing
Everywhere, anytime
At publics, in her room, even while she’s sleeping
Out loud, out of this world
Don’t care what people might say
She’s just happy for the way she is
Something some people are too afraid to show it

She’s living in her own world
She’s living her dream
Her world is a Disney land
Where laugh is the universal language
Where happiness can be measure by hysterical scream
Yeah… Excitement is the air she breathe

She’s as free as wind
Twisting, blowing, doing everything
As her heart tells her to do
She sweep me off the ground
Remind me that is OK to be different

Normal is such a boring word
Tik tok tik tok…
Tik tok tik tok…
It’s just a constant refrain

Step up to the challenge and be insanely lively
Du ba du ba do ba be ba luuuuuul
Sya la la lo lu le la bluuuu bleeeee
Feel the beat, insanity is so unpredictable

Yes, she’s different
She’s not your ordinary girl
Not because of her lunatic grin
Or her crazy dance
Simply because she is happy for most of the time

She doesn't care too fat or too skinny
She never envy what others girls fancy
She doesn't spend time to talk about others mischief
She never care what boys thought of her

She may not be the prettiest girl
But her smile sure has the happiest twirl
Ooo it will give you the trill
By the skill everyone longing to fill

Normal is such a boring word
Tik tok tik tok…
Tik tok tik tok…
It’s just a constant refrain

Step up to the challenge and be insanely lively
Du ba du ba do ba bruuuuu
Sya la la lo le lu la bluuuu bleeeee
Feel the beat, insanity is so unpredictable

She’s not talking alone
She’s talking to her hearts
She’s not laughing at nothing
She’s laughing at her imaginations

What your mind can’t understand
Your heart interpret it clearer
What your eyes can’t see
Your heart sees it better

That's what I learned from her
The no ordinary girl

Tuesday, March 3, 2009

Who we really are?

It may be the biggest, most important question in our life. It’s the riddle each of us longing to solve. The answer is so essential it divine the future and strengthen our existence in today’s world where everyone looks almost the same. Some people might find it easy to discover, but for some others, like me, we can stuck in everlasting confusion. And no others have the answer but oneself.

It’s easier for us to claim others qualities than to seek for our own. We tend to become what people want us to be, instead of something we are happy to be. Because it’s the shortcut, the “Ponari Water” to reach too, what it seems, the best of us. And we think we might be able to make everybody happy, where as it is impossible.

How one can make everybody happy if one is not.

You may take my writing as bullshit. A desperate man searching for a life sensation through a cheap publication. If you do think this note that way, you should stop wasting your time reading this piece of crap. But for you who willing to listen; this is my true story, my unfinished journey to find who I really am. The scary thing about this whole episode of self-discovery is, I don’t know when and how will I end the story. But maybe this writing is the start.

I’m not someone you used to think I am.

I’m the boy who sits alone in the corner, shy; feel inferior, not brave enough to speak out his mind. The geek, the loner, not good in making friends because I’m worry too much to make mistakes, instead I made even a lot more. I always try to be the best; I forget no one is perfect. I guess that’s how sometimes people get the bad vibe from me.

Honestly, sometimes it hurts so much, when loneliness visit me. I try to hush it away by pretending everything is okay. But I can’t. I'm too weary to fool myself. Yesterday afternoon, when I was sitting alone, a line of questions sprang suddenly; “what would I become in the next 10 years? Would I be myself? Would I be happy for what I have become? Since then, these questions kept echoing over and over inside my head. Like a broken cassette. Like the sound of thousand bats flying out of darkest cave.

Please don’t spare me your pity, for I already have enough from myself. I didn't write to beg, I did it to tell you the unspoken side of me. The dark side. The one that I keep running away from. Above all I did it because...

I really want to be your friend.

People say friend got nothing to hide from each other. A friend always tells his friend the truth. And this is my truth; I can’t find my way alone. I need friends to share my dreams. I need friends to slap me on the head if I do it wrongly. I need friends whom I can tell about my fears and doubt. I need friends that will stay with me no matter what happen.

So then maybe I’ll find the answer, Who am I? And maybe... you'll find yours as well.

---Lovers and friends are alike, they come and go. The only difference is friends take you wherever they go (they keep you in their heart, just as if you wonder. ;p).---

PS: I deliberately wrote in English, because I never really have the courage to do it and to listen to critics. But now I’m not scare (okay. Maybe a little bit. OKAY! OKAY! I'm scare. I'm so scare. okay. Fiuuuuh... :p). People say making mistakes is the best also the bitterest way to find ourselves. …

Thursday, February 26, 2009

Where do I go from here?

Sitting here thinking about tomorrow
In the place where future is dull
To where my heart should follow
I could not perceive

I try to listens the subtlest voice inside
Direction out of sight
But all I can hear is just the sound of emptiness
Simply nothing, slowly impaled

I’ve tried, I crushed my bones
Tears my heart out
Somehow, nothing seems to come my way
Should I stop and pretend everything’s okay
Or I should wait for another ray of hope

Ooh Hope!
How I hate that word
The dope of life
Making me unwilling to stop
From trying and trying and trying
And what do I get from that?
Nothing but pain and a rude awakening
That every failure becomes the moment of probability
For I might forever be
Just another stranger in the crowd

Where do I go from here?
What should I do to stay alive?
There are thousand paths ahead
But one path I’ll never take
I’ll never run away

Wednesday, February 18, 2009

Ramalan bijak yang menjitak

Malam tadi, di sebuah kafe Buddha di Jakarta, aku melihat sebuah fish bowl yang tiga minggu lalu masih terisi penuh oleh ramalan bijak dalam gulungan kecil warna-warni yang disematkan di dalam potongan sedotan. Tapi sekarang isinya tinggal seperempat. Apakah begitu banyak orang bingung dan kehilangan arah, lalu berharap tulisan bijak di dalam gulungan-gulungan kertas kecil mirip permen warna-warni itu bisa memberikan jawaban?

Aku mengambil satu lagi tadi malam dan memilih yang biru. Karena biru adalah warna hatiku. Namun gulungan itu tak kubuka sampai beberapa menit lalu, sebelum aku memulai tulisan ini. Kubuka perlahan gulungannya, dari kiri ke kanan, sedikit-sedikit kata-kata di dalamnya mulai muncul, dan berkata;

“Cinta kasih yang sejati adalah menjaga kondisi batin sebaik-baiknya.”

Hanya satu yang kupercaya dalam hidup, yaitu keyakinanku. Tidak pernah ramalan bintang, kartu tarot, apalagi sebuah gulungan kertas kecil berisi kata-kata bijak dari sebuah Fish bowl.

Tapi aku percaya, keyakinanku selalu berusaha berbicara kepadaku melalui semua yang ada di sekitarku, termasuk gulungan kertas biru itu.

Karena beberapa hari belakangan ini aku memang sedang menyiksa batin dengan takut yang pekat. Mungkin aku harus berhenti menyiksa diri. Belajar menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya,

sebelum aku jadi sinting.

Aku tidak pernah bermaksud mencari jawaban dengan gampang. Namun lewat segulung kertas kecil berwarna biru, dengan kalimat yang terkesan omong kosong bila dibaca orang seperti aku, pertanyaan yang selama ini aku cari terjawab. Atau sebenarnya aku memang sudah mengetahui jawaban dari keresahanku, hanya saja butuh sebuah gulungan kertas biru berisi kata-kata bijak - nyaris omong kosong, untuk mengingatkan.

Because once in the while people do get lost.

Friday, February 13, 2009

Serendipity

Apa betul hidup hanya terbentuk dari satu ketidaksengajaan ke ketidaksengajaan lainnya? kalau begitu buat apa kita mati-matian berusaha? buat apa juga pusing-pusing kita merencanakan hidup, kalau ke mana kita mau menuju sampainya ke sana nasib membawa kita?

They said life is like a river, just go with the flow.

Tapi gimana kalau arus membawa kita ke telaga penuh limbah? Apakah kita tetap akan menunggu ketidaksengajaan menyelamatkan kita?

Ketidaksengajaan adalah nasib. Nasib adalah cocoknya sedangkan hidup adalah hidung kerbau. begitulah kira-kira menurut gua.

Andai hidup bisa begitu mudah, mengandalkan hanya nasib sebagai lintang arah hidup. kalau suatu saat kita tersesat atau jatuh ke jurang lantas siapa yang salah? ya nasib dooonk... kan ia yang menuntun jalan. Kalau kita miskin siapa yang salah? ya nasib lah, kan ia yang melahirkan kita dalam kemelaratan. Kalau kita gagal, siapa lagi yang salah? Nasib gila! kenapa juga ia tidak mau membuat kita lebih pandai?

Seakan-akan kalau nasib sudah bicara maka tak ada yang boleh menyanggah, semua harus menerima dengan gagah. Padahal kita bisa berubah tapi lebih memilih menyerah, pasrah.

Bagi gua, mereka yang tinggal di pinggir jalan, punya pilihan. Mereka yang kesepian tanpa teman, punya pilihan. Mereka yang lelah dengan kegagalan, juga punya pilihan.

tapi sayangnya sebagian orang, memilih untuk tidak memilih atau memilih menunggu ketidaksengajaan datang menghampiri dengan senyumnya yang paling hangat dan genggamannya yang paling bersahabat untuk menjelaskan apa tujuan hidup kita.

Padahal ketidaksengajaan hanya hadir ketika kita tidak mengharapkannya. Ketika hidup tahu kalau kita sudah berusaha setengah mati, tapi tak jua menemukan langit cerah.

Ketidaksengajaan juga tak selalu membuka jalan lurus ke depan seperti yang kita harapkan, kadang ia sedikit berbelok, menyibak jalan lain sebelum mengantarkan kita sampai ke depan. Namun itu juga tak selalu tepat di depan, kadang denpan geser kanan dikit, kadang depan miring utara, kadang depan selatan. Tapi ia juga bisa membawa kita ke jalan berputar dan meninggalkan kita terus melingkar-lingkar di dalam sana.

Ketidaksengajaan berada di sekeliling kita? Tapi bukan ia yang akan menemukan kita, tapi kita yang harus mencarinya. Bagaimana? Pertama, dan yang tersulit adalah percaya nasib bukanlah baja, tapi batu besar dan sangat keras yang bisa dipahat menjadi berbagai bentuk sesuai keinginan hati kita.

Thursday, February 12, 2009

Chocolate


I saw you yesterday
It felt like three years ago
When the first time I fell in love with you
Suddenly butterflies burst inside
Suddenly I forgot how to breathe

When you smile
The world stops
Watching dimples on your cheek
As they sip all the happiness in the world
To made your lips curled in the sweetest way

Sometimes bitterness comes
When you worry too much
Honestly baby you hurt me badly
Love is like Life
It’s a mystery
So stop guessing
Just do our things
And let faith do the dancing

Your love is euphoria
When life gets tough
And things get rough
Still I found the strength to stand
The reason to smiles

You’re sweet
Fairly bitter
But baby you made me very happy
Because you’re my chocolate
My lifetime passion

All of this time you wonder
Why do I like chocolate so much?
The answer is easy
Because it reminds me of you
Yeah. It reminds me of you

You’re sweet
Fairly bitter
But baby you made me very happy
Because you’re my chocolate
My lifetime passion

Happy Fayelentine ya doetz
13th of February

ehm... ehm... Yes. I remember. ;p

Hihihihi

Monday, February 9, 2009

minus rasa menghargai

Kalau orang hebat berhasil melakukan sesuatu orang-orang akan bilang, "Ya pantes. Namanya juga orang hebat."

Tapi bila orang hebat itu gagal, orang-orang akan bilang, "Gitu aja kok gak becus. Katanya hebat. katanya ahli."

---

Seandainya wajah orang tuanya standard, tapi anaknya cakep, orang-orang akan bilang, "anak pungut tuh."

tapi seandainya anaknya juga standard orang-orang akan bilang, "pantes. kautanam jengkol, kaudapat jengkol.

---

Bila sehari dapat penghasilan 30.000, kita akan bilang, "buat makan aja pas-pasan."

tapi kalau besok dapat 100.000 kita akan bilang, "naik sih naik, tapi tetep aja harga kebutuhan lebih mahal".

---

Kalau pergi kencan naik bus atau bajaj, cewek pasti akan bilang, "Beli motor donk say, kakiku pegel kebanyakan jalan".

tapi begitu sudah beli motor, cewek akan bilang, "ganti mobil donk honey, aku kepanasan nih".

dan kalau akhirnya mobil terbeli juga, cewek akan bilang, "Mobilnya ganti yang bagusan donk cinta, malu kan kalau ke kondangan".

---

* List mungkin akan bertambah tergantung bagaimana gua menghargai semua yang minus rasa menghargai (termasuk diri sendiri :p).

Turun ring


Aku mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Mundur dari gelanggang
Turun ring
Tanpa melemparkan handuk putih
Dengan kepala tertunduk syahdu
Karena ini bukan soal kalah menang
Bukan sekedar siapa paling senang
ini soal semua senang, semua menang

Para penonton yang berjejal
Mempertaruhkan uang mereka
Boleh gigit jari
Kecewa setengah mati
Karena aku lelah jadi tontonan
Muak dibandingkan
Gerah menjadi ayam jantan
Yang diadu demi sebuah kehormatan

Tapi mengalah itu susah
Walau bukan berarti kalah

Biakan aku sendiri
Temukan mozaik diri
Yang tercecer
Tak berani kupungut
Di sepanjang lajur hidupku
Dulu dan akan

Bagi diriku sendiri
Si penakut dan si jiwa sempit
Aku mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Berubah aku teguh
Menyerah Aku runtuh

Untuk kalian
Para spektator dan promotor
Aku mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Aku mundur pantang maju
Aku mundur tiga langkah untuk melompat seribu langkah

Aku ingin jati diri sendiri
Yang tak lahir dari ilusi hati
Juga bisikan sana sini

Kan kumasuki gelanggang baru
Kunaiki ring-ring lain di luar sana
Dan kan kupijakan kaki dengan bangga
Untuk kuhadapi setiap tantangan tanpa ragu
Untuk kurayakan setiap kemenangan dengan haru
Untuk kuresapi setiap kekalahan tanpa malu

Dan semua perjuanganku untuk kubagi
Selalu seperti itu
Karena masturbasi adalah tuak yang diteguk sendirian
Sepi, sepi sendiri
Tertawa, tertawa sendiri
Nikmat, nikmat sendiri
Mabuk, mabuk sendiri

Kini,
Aku bersama diamku
Nya dengan cerianya
karena aku percaya
Berbeda itu kaya
Berbeda itu gairah
Berbeda itu BERani BErbuat Dari hAti

Jadi ijinkan aku
Restui aku
Mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Turun ring

Sunday, February 1, 2009

Kekuatan wanita yang mengharukan


Membaca buku ini akan membuat kita terenyuh, betapa perbedaan antara benar dan salah sangatlah tipis. Dan terkadang kita, sebagai manusia menjadi terlalu naif untuk bisa membedakannya. Walau pun setting lokasi dalam buku ini berada di suatu negara dunia ketiga, yang kehidupannya jauh dari bayangan kita dan selalu dipandang sebelah mata, tapi konflik dan fenomena yang terjadi terasa begitu mesra dengan sejarah patriarki umat manusia di mana pun.

Setting dalam buku ini terjadi sekitar tiga decade lalu di Afganistan, sebuah negara yang lebih kita kenal dengan bom bunuh diri, teroris, dan Taliban ketimbang keindahan sastranya. Cerita dibuka dengan kehidupan dua orang perempuan yang berbeda masa tapi disatukan dalam kemiskinan dan kegetiran hidup. Mariam yang baru berusia lima belas tahun hidup bersama ibunya yang menderita epilepsy yang biasa dipanggil nana (panggilan ibu dalam bahasa afganistan). Setiap hari Mariam harus melewati waktunya dengan berbagai cercaan dan pelecehan dari nana. Harami (sebutan untuk anak haram) begitu Nana biasa memaki Mariam yang terlalu kecil untuk mengerti arti kata itu, tapi cukup peka untuk merasakan kebencian di baliknya. Dalam satu bagian khaled Hosseini menggambarkan ketakutan Mariam yang begitu dalam ketika secara tidak sengaja, ia memecahkan cangkir porselin kesayangan nana. Selain memiliki seorang ibu, Mariyam juga memiliki Jalil, ayahnya yang begitu mempesona dan tinggal jauh di kota. Berbeda dengan Nana, jalil merupakan orang yang hangat dan sangat menyayangi Mariyam.

Cerita akan menjadi semakin menarik ketika Mariam memutuskan kabur dari rumah untuk mengunjungi Jalil, karena tak lama kemudian Nana meninggal akibat bunuh diri. Semenjak itu berbagai kejadian mulai menimpa Mariyam, salah satunya ketika Jalil memutuskan untuk menikahkan Mariam dengan seorang saudagar sepatu dari Kabul yang umurnya jauh lebih tua, Rasheed.

Dari sana, dengan jelas dan emosional, Khaled Hosseini menggambarkan bagaimana wanita pada masa itu, hanya dihargai akan kemampuaanya melahirkan keturunan. Dan ketika si Mariyam tidak bisa memenuhi kebutuhan itu, maka ia menjadi tak lebih dari sekedar budak. Berbagai penyiksaan fisik dan mental dialami Mariam dari suaminya.

Ketika pembaca sudah tenggelam dalam kisah kemalangan Mariam, tiba-tiba khaled Hosseini berpindah alur dan menceritakan tetangga Mariam, Lyla. Tidak seperti Mariam, kehidupan Lyla berbanding terbalik. Lyla hidup di keluarga yang hangat dan lebih bebas bersama kedua orang tuanya. Ayahnya selalu mengutamakan pendidikan terbaik bagi lyla, walaupun ia adalah seorang perempuan. Meski begitu, Lyla juga mempunyai kisah gelapnya sendiri. yaitu ibunya. Semenjak kepergian kedua kakak laki-lakinya untuk bertempur, ibunya menjadi dingin dan sendiri. hal ini semakin menguatkan lemahnya posisi perempuan dibandingkan laki-laki.

Namun pembaca tidak kehilangan kisah tentang Mariam, hanya saja kita melihatnya dari mata Lyla. Lyla sering melihat rasheed, suami Mariam berjalan berdampingan dengan Mariam yang memakai burqa. Sekilas Hosseini berusaha menujukkan kepada pembaca, betapa di balik setiap burqa tersembunyi cerita yang tak bisa diungkapkan.

Selain memiliki keluarga yang lengkap dan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang tinggi, Lyla juga memiliki kisah cinta yang indah. Bersama tariq, seorang remaja laki-laki berkaki pincang yang pintar dan pemberani, Lyla melalui hari-harinya dengan indah. Tariq sering mengajak Lyla ke bioskop dan pergi melihat patung Buddha terbesar di afganistan.

Kehadiran Lyla tampaknya membuat kita agak sedikit bingung, apa hubungannya antara Mariam dengan Lyla. Tapi bila kita terus membaca dari satu halaman ke halaman berikutnya, kita akan diajak melihat sisi lain dari kehidupan wanita di afganistan pada masa itu. Bahwa ada juga golongan oang yang tidak melihat wanita hanya sebagai objek. Hal ini juga menggambarkan kemajemukan masyarakat afganistan.

Khaled Hosseini memang merupakan seorang penulis yang pandai mengaduk-aduk perasaan pembacanya, hal ini ditunjukkan ketika ia menuliskan bagaimana kehidupan keluarga Lyla yang begitu sempurna di masa itu, menjadi hancur berantakan. Hal itu terjadi ketika sebuah roket meluncur nyasar menghantam rumah mereka. Dalam hitungan detik, kejadian itu merengut semua yang ia miliki, merubuhkan rumahnya, membunuh kedua orang tuanya, dan menghancurkan harapannya.

Kepedihan Lyla diperdalam ketika ia kehilangan jejak Tariq yang sebelumnya sudah terlebih dahulu pergi. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dan juga Tariq, Lyla yang merasa sendirian jatuh dalam pelukan rasheed, suami Mariam. Melalui kejadian demi kejadian, akhirnya Lyla menjadi istri kedua Rasheed.

Kebencian menjadi pertemanan

Kemalangan yang terjadi pada Lyla tidak serta merta menghilang ketika ia menikahi Rasheed. Rasa cemburu yang mengontrol Mariam membuat cerita menjadi semakin tegang. Seperti wajarnya istri kedua, di mata Mariam Lyla harusnya melayani dia dan posisinya berada setingkat lebih rendah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Lyla mendapatkan perhatian yang dulu pernah dimiliki Mariam dan ia diperintah Rasheed untuk selalu siap melayani Lyla. Hal ini karena Lyla bisa memberikan keturunan bagi Rasheed. Padahal bayi yang dikandung Lyla bukanlah milik rasheed melainkan milik Tariq.

Kesirikan demi kesirikan ditunjukkan Mariam kepada Lyla melalui berbagai cara. Hingga akhirnya kelahiran anak Lyla lah yang berhasil melunturkan kebencian Mariam kepada Lyla. Mereka pun perlahan mulai berteman dan saling melindungi satu sama lain.

Pelajaran sejarah

Membaca novel ini juga seperti membaca sejarah. Pada beberapa bagian Hosseini menceritakan bagaimana arogannya kehidupan orang-orang barat di afganistan. Lalu juga diceritakan pergantian kekuasaan dari jajahan uni soviet yang diambil alih oleh pejuang mujahidin setelah delapan tahun pertempuran yang melelahkan. Setelah masa-masa transisi itu, Hosseini juga menceritakan bagaimana perang saudara terjadi di afganistan. Perang yang membawa penderitaan kepada rakyat biasa, semua demi ambisi semata. Kemenangan Taliban yang menghembuskan angin kebebasan justru malah membuat rakyat menderita. Berbagai peraturan dan jam malam justru memenjarakan kebebasan itu sendiri.

Kekuatan wanita yang mengharukan

Layaknya seorang feminist sejati, dalam buku ini Hosseini juga menggambarkan dengan jelas bagaimana kekuatan sesungguhnya wanita. Hal ini semakin terasa kuat karena ia muncul di tengah-tengah masyarakat yang percaya kalau kedudukan wanita itu berada di bawah pria. Wanita hanya sebagai alat untuk reproduksi dan mengurus keluarga. Terlihat ketika rezim Taliban datang dan melarang kaum wanita untuk menempuh pendidikan dan harus tidak boleh keluar rumah tanpa suaminya. Selain itu bagaimana rasheed mempelakukan Mariam dan Lyla,, dengan memaki dan memukuli mereka merupakan perwakilan dari apa yang terjadi.

Kekuatan wanita yang mengharukan hadir ketika dengan hebatnya Lyla dan Mariam berjuang membebaskan diri dari cengkaraman Rasheed. Berbagai siksaan fisik dan teror jiwa mereka hadapi berdua untuk pergi dari Kabul menuju ke tempat yang lebih baik, lebih damai. Walau di tengah perjuangan itu, salah satu dari mereka harus berjuang sendiri sampai ke tempat tujuan. Namun bukannya memang seperti itulah kehidupan, untuk bisa sampai ke tujuan, dan bisa menikmati kebahagiaan, harus ada pengorbanan yang tidak sedikit. Di sini lah salah satu letak kepiawaiaan Hosseini dalam bercerita, ia bercerita sesuai dengan realitas yang sangat terasa hingga bisa membuat pembaca lupa kalau mereka sedang membaca sebuah karya fiksi.

Akhir novel ini memang terasa seperti yang biasa kita tonton di film-film Hollywood, yaitu Happy Ending. Tapi pada akhir juga ada sebuah kejutan yang mungkin bisa membuat para pembaca menjadi dilemma. Yaitu setelah perjuangan yang mengorbankan begitu banyak, kenapa Lyla harus kembali ke tempat di mana semua memori hitam hidupnya ditorehkan. Namun, setelah membaca dari awal sampai akhir, dan meresapinya dengan baik, kita akan mengerti keputusan yang diambil Lyla merupakan keputusan yang riskan, namun sekaligus suatu kebenaran yang lahir dari rasa cintanya kepada tanah airnya.

***

Inspirasi yang didapatkan:

1. Rasa cinta tanah air yang begitu besar hingga meniadakan aku. Di akhir cerita, Lyla yang telah berhasil hidup damai dan bahagia, memilih untuk kembali ke kabul. Padahal di saat itu, keadaan di sana masih tak menentu. Tapi rasa kecintaan dan impian yang besar untuk membangun negeri, membuat Lyla memutuskan untuk kembali.

2. Kita tak bisa memiliki semua yang kita inginkan dalam hidup. Terkadang ada hal-hal yang memang tidak bisa menjadi milik kita walau pun sudah berjuang sampai berdarah dan berair mata setengah mati.

3. Tentang harapan. Perjuangan yang dijalani Lyla dan Mariam menginspirasikan harapan selalu ada selama kita tidak berhenti berharap dan berjuang.

4. Lebih menghargai wanita. Wanita bukan sekedar alat reproduksi dan pelayan keluarga. Bila mereka diberikan kesempatan dan kepercayaan, maka tak ada yang tak mungkin bisa mereka lakukan.

Tuesday, January 27, 2009

Kenyatan itu apa sih?

Kenyataan itu pembunuh berdarah dingin
Ia bisa merobek-robek isi dadamu
tanpa harus membelahmu
lalu meninggalkanmu sekarat
di antara mau mati dan tidak mau mati
agar kita merasakan perih sedikit-sedikit
sebelum selamanya tidak merasa lagi

Kenyataan itu hujan badai
yang anginnya memporakporandakan impianmu
yang memadamkan kobaran semangat
yang gelegar gunturnya menyiutkan nyali
yang airnya menghanyutkan keyakinan

Kenyataan itu kadang maling, kadang rampok
ia bisa datang tanpa suara, tanpa peringatan
membobol beranda hatimu
tahu-tahu semua amblas
tinggal harapan kosong
yang terus berharap semua cuma mimpi
Namun ia juga bisa menyeruak muncul
terang-terangan di hadapan mu
membuat seluruh tubuhmu kelu
membuat jantungmu berdetak ngilu
lalu di antara ketidakberdayaanmu
ia akan mulai merampok
semua yang kamu punya

Sooo...

Pertanyaannya, kenyataan itu apaaaaaan sih sebenarnya?

Bikin pusing aja deeeh... :p

Sunday, January 18, 2009

Lullaby of a bad day

It was a sunny day
Until she came to me with the truth
Sharp and short like a stiletto
Suddenly the sun is dead

It was the cool breeze at my face
When I walked out of the door
The mood for optimism raised, a beautiful day at it best
I put my first step and laid it on a feces
Someone forgot to teaches the dog some manners
Suddenly frustration at my face

A little bit faith
A candle in the dark
That's all I need
To keep me awake
To take me away
From lullaby of a bad day

Because life's never been so easy
You have to find the rainbow
Hidden after a raging storm and thunder

It was felt like Sunday everyday
Every time I remembered, the way you say your name
Yesterday. The first time we met
Just then, I saw you with a guy
Holding hands, kissing lips
Suddenly Sunday is Monday

It was a beautiful life
My job is everyone dream job
I traveled to the most exotic places on earth
But one day I got bit by a deathly snake
Suddenly life is sucks

A little bit faith
A candle in the dark
That’s all I need
To keep me awake
To take me away
From lullaby of a bad day

Because life's never been so easy
You have to find the rainbow
Hidden after a raging storm and thunder

Pain on the surface
You have to face it
You have to fight it
You have to dare it
So you know
Sometimes hurt kills
Sometimes hurt heals

Pain under the skin
You have to feel it
You have to hear it
So you know
Sometimes heart trues
Sometimes heart lies