Monday, August 29, 2011

If life is determined by door-prize

Tepat jam 12 siang, lebih dari 100 orang berkumpul di sebuah ruangan bernuansa putih beraksen hijau. Mereka tampak resah walau disembunyikan dalam canda dan tawa. Di depan mereka sebuah meja panjang bertaplak putih digelar, di atasnya ada sebuah mangkuk kaca besar yang berisi kertas-kertas bernomor yang akan menentukan nasib mereka.

Will they get out of the room as a winner or a loser?

Hari itu adalah ulang tahun kantor yang ke 76, dan setelah perayaan sederhana yang meriah, selanjutnya adalah acara yang ditunggu-tunggu, DOOR PRIZE. Berbagai hadiah seperti blackberry, mixer, sampai Ipad 2, siap dibawa pulang mereka yang beruntung. Bagi yang kurang beruntung, voucher belanja 50 ribu adalah kompensasinya.

Semua orang menunggu namanya dipanggil dengan cemas. Semua orang tampak berharap-tapi-tidak-berharap, seakan-akan dengan begitu bisa mengelabui nasib. Seolah-olah dengan menjadi pesimis, mereka tidak akan kecewa bila nanti tidak beruntung.

Semua orang pasrah di tangan sang juru panggil. Seorang wanita bertubuh gembil dan berwajah ramah itu menjadi kaki tangan Tuhan, sedangkan Tuhannya adalah mangkuk kaca berisi kertas. Kita hanya bisa menunggu tanpa tahu kapan. Menunggu tanpa pasti dapat. Tapi toh tetap kita jalani.

Setiap ada nama orang yang dipanggil, resah langsung menyesaki seluruh ruangan. Orang pertama mendapatkan… Voucher. Orang kedua, ketiga sampai orang ke dua puluh juga voucher. Lalu orang pertama yang beruntung di hari itu mendapatkan sebuah Blackberry. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah, tapi di balik euphoria itu, sebenarnya semua orang memendam iri. Tak lama kemudian dua orang beruntung muncul lagi. masing-masing mendapat kamera dan blackberry. Namun kebanyakan orang kembali dari meja putih seperti prajurit yang kalah, dengan selembar voucher Rp 50 ribu di tangan dan segumpal dongkol di dada yang di samarkan dalam senyum, tapi masam.

Perlahan ruangan mulai kosong dan nama saya belum juga dipanggil. Menyadari hal ini dalam hati saya bersorak gembira. Semakin banyak yang tidak beruntung, semakin besar kesempatan saya mendapatkan hadiah utama. Sekejap saya membayangkan orang-orang menatap iri melihat saya menenteng ipad 2. Namun setiap melihat orang-orang yang hanya mendapat voucher, saya mengingatkan diri untuk jangan jadi terlalu berharap.

Dua perasaan itu terbit tenggelam secepat mata berkedip. Alhasil saya jadi merasa lelah. Menunggui ketidakpastian memang menghisap tenaga. Apalagi saya sadar tidak bisa melakukan apapun untuk memastikan saya dapat atau tidak sebelum saya merogoh ke dalam mangkuk kaca.

Menunggu seperti ini beda dengan menunggu bus di halte, atau menunggu malam datang. Rasanya seperti menunggu telepon dari pacar setelah bertengkar hebat atau menunggu seseorang yang sedang dioperasi. Tak ada kepastian dan tak ada ketidakpastian. Mengambang di tengah. Menggantung di ujung.

Bayangkan bila hidup kita ditentukan oleh door-prize. Mau laptop baru, tunggu kita beruntung atau tidak. Mau pacar baru juga menunggu. Mau pindah kerja, hidup yang beda, pakai baju yang mana, pergi kemana, pokoknya semua tergantung kita beruntung atau tidak.

Untungnya hidup bukan ditentukan oleh door-prize, tapi oleh seberapa keras kita mau berusaha, seberapa kuat kita untuk tidak mengeluh, dan seberapa berani kita menghadapi kegagalan. Lebih baik saya diberi cangkul dan menyangkul sawah di tengah siang bolong dan membuat tanah gersang jadi subur daripada menunggu tanah itu jadi gembur sendiri dan tahu-tahu ada orang yang iseng melempar bibit di atasnya.

Sometimes life needs luck, but most of the time it’s us that have to scratch our knees and hurt our back to get what we want.

Pada akhirnya saya mendapatkan giliran merogoh kertas di dalam mangkuk kaca lalu saya juga mendapatkan giliran untuk berjalan kembali dengan senyum riang yang menyembunyikan kecewa sambil memegang sebuah voucher.

Mungkin bukan dengan keberuntungan saya akan mendapatkan ipad 2, tapi dengan cara yang lebih susah tapi setidaknya saya berusaha daripada hanya menunggu.

Sunday, August 7, 2011

More faith for the dream

My whole life I’ve been asking myself, “am I good enough?” and most of the time the answer is “no”. Although sometimes my works and the people around me tell otherwise, I still can’t bring myself to believe in my own capacity. Am I being too hard to myself? Or I’m simply having a serious self-confident issue.

Take this blog as an example. This might not be the best or the most inspiring blog that you’ll and have been reading so far, but at least it’s still got decent values. It doesn’t tries to sell any product. It isn’t a sex blog or one which promoting vandalism. In fact some people found it quite inspiring. However, it’s hard for me to simply putting the blog’s address on my facebook. I’m afraid many people will read it and dislike it. Maybe they will find many grammatical errors in my English-post, such as this one, and make fun about it.

When had this crisis started and what were the causes? What was wrong with my childhood that has formed my personality as a timid and mousy guy? I’m not sure I have the answers. But one answer that I surely have that if I let myself to keep on feeling what I’m feeling. Doing what I’m doing. Thinking what I’m thinking, I’ll be the guy who live in my own worst nightmare, every day, every night, every time; the guy who got dreams but not dreams-come-true. I will grow old and bitter and live the rest of my life full of regrets.

Of course I realized this notion since years ago and I’ve been fighting it ever since. Did I win the battle? I will say, not yet. It’s really hard to change the habit that has been rooting for many years. It’s like trying to cure cancer which has undermined your body bit by bit and going to eats you alive from the inside at any moment. It’s so relieving that I’m still not losing hopes.

I guess it’s true what people say that we are bound to repeat our parents’ mistakes. One day, 4 years ago when my dad was 69 years-old, out of nowhere, he just bought himself a baby piano. Then he said to me that he’s always wanted to play piano but never had the chance. I was surprised. Why in the world, from all of the years he got, had he waited so long just to learn to play piano? You can tell different version of reasons that maybe he had no time, or no money, or others things, but frankly speaking, what lack from him was just courage. I know this perfectly well, and not just because he is my father, but because I see myself in him.

I think, we as a human, has a kind of mental sickness to always imagine about our perfect-future but never really done anything meaningful to embody it. Just like creating a movie but only to be played in our own theater-of-mind.

But now everything is different. Or at least I try to make the differences by stop wondering and start doing. Start running. Start trying. The hell with mistakes and mocking talks that might be happen behind my back, because you’ll never fly if you never fall. It’s time to give my dream its wings; more faith.

I don’t want to start chasing my dreams at 69 years-old. I don’t want to regret. I want to live my life to the fullest. I want to go the extra miles. And I have to do it now.

So, here I go!