Monday, November 19, 2007

Ketika Si Pungguk Memiliki Bulan

Apa yang kau coret di punggung kertas itu?

Adakah aku mengganggu

Dengan tatapan tak rela lepas

Menatap seorang bidadari bersosok dirimu

melukis biru langit di kanvas jiwa

yang kotor oleh dosa juga dusta


Ataukah mungkin

kau torehkan kisah

Tentang seorang pungguk

yang berhasil miliki bulannya


Setelah sekian lama kisahnya

diceritakan di beratus generasi

akhirnya si pungguk memutuskan

cukup sudah dunia dipenuhi cerita tragis

sekarang saatnya

untuk mengubah cerita hidupnya

lelah dia terus bermimpi

pikirnya di suatu malam

yang lembab oleh hujan


Maka didakinya gunung tertinggi

yang pernah ada di muka bumi

berhari-hari perjuangan

lalui tebing terjal

juga salju tebal

udara dingin tipis terus menusuk

seakan berusaha merobek kulitnya

agar bisa merasuk ke dalam

untuk sedikit kehangatan


Malam sepekat tinta

dingin semakin ganas mencabik

ketika akhirnya

dia tiba di puncak tertinggi dari segala puncak

berdiri sejajar di hadapnya

keindahan yang mampu terangi semesta malam

Tapi setelah dia ada begitu dekat

kejujuran hatinya

yang terpendam beribu tahun

yang selalu dia latih ucap berkali-kali

di setiap detik dalam hidupnya

di atas muka danau,

bersama pantulan bayang rembulan

yang dia anggap senyata aslinya,

menjadi beku seketika

sekeras balok es sebesar pungguknya

yang tak muat keluar dari mulutnya


Dan dia hanya terdiam

memandang

menikmati

merasakan

gemuruh rindu

yang tertahan

dalam dadanya


Begitu banyak yang ingin

dikatakan namun,

tetap saja beku

hingga akhirnya

setetes kejujuran

meluncur pelan

dari jendela hatinya

melewati pipinya

dan tiba di ujung bibirnya

lalu, stop

hanya itu

hanya setetes itu yang mampu dikatakannya

dari berjuta-juta rasa

yang selama ini menggantung

mengganggu tidurnya

hidupnya

tapi sedikit itu telah mengatakan semuanya


Lalu dia membuka lebar tangannya

seperti ingin memeluk sesuatu

membetuk siluet yang melengkung oleh pungguk

bersatu dengan hangatnya cahaya

dalam sebuah pendar besar

yang selama ini hanya bisa dimilikinya

lewat pantulan air di muka danau

di bawah sana

ketika dia masih

menjadi seorang pemimpi

yang kisahnya diceritakan

turun temurun

untuk mengatakan "tidak mungkin"

kepada mereka sesama kaum pemimpi

No comments: