Sunday, March 16, 2008

Gadis Kecil Itu

Malam kemarin, dari atas motor, bersama sisa tenaga yang nyaris terkuras, sebuah keceriaan yang sederhana, menyentuhku.

Dia, gadis kecil itu, yang berambut keriting pendek, mengenakan kaos lengan panjang warna putih yang dekil oleh ampas-ampas kehidupan, melompat, menari, dan tertawa sendiri. Di sekitarnya bising kendaraan dan bau asap mengelilinginya. Wajah-wajah jemu dan lelah di balik helm dan di dalam mobil menjadi sangat kontras dengan keceriaan dari wajah gadis kecil itu.

Mungkin dia belum makam malam itu, atau hari itu. Mungkin juga, ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Dia terlihat sendiri tak punya kawan. Tapi dia tampak tidak kesepian, dia bahagia. Dia melompat seperti penari balet, bernyanyi kecil, memutar tubuh mungilnya, menginjak sebatang kayu, menyeringai lebar memperlihatkan sederetan gigi yang tidak rata dan gusi yang merah, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas, dan melirik wajah-wajah jemu yang sedang memerhatikannya.

Dia, gadis kecil itu adalah seorang penari balet handal dia atas sebuah panggung besar dengan ratusan lampu sorot dan beribu penonton yang sedang menahan nafas dan decak kagum, menunggu aksi lompatan penutup. Begitulah kira-kira imajinasiku, dan mungkin juga imajinasinya, gadis kecil itu.

Setelah memastikan kalau kakinya menapak sempurna di atas sepotong kayu dan semua mata dari wajah-wajah jemu memerhatikannya, dia melompat setinggi-tingginya, walau tidak benar-benar tinggi. Sangat pendek malah. Tapi tetap saja, setelah dia kembali menginjak trotoar yang terbuat dari susunan kotak-kotak pavin block, dia membusungkan dadanya, kembali megnacungkan tangan tinggi-tinggi, dan Seringai ceria itu, kembali menghiasi wajah munguilnya. Dia berhasil melompat dengan indah.

Dan, orang-orang pun berdiri dari duduknya, meluapkan kekaguman mereka dalam tepukan tangan yang meriah dan gelengan-gelengan tak percaya. Begitulah lagi, kira-kira imajinasiku dan munkin juga imajinasinya, gadis kecil itu.

Lalu, tak lama kemudian, lampu merah berganti hijau. Wajah-wajah jemu yang sedari tadi memerhatikan si gadis kecil, kembali menatap ke depan dan memacu kendaraanya. begitu juga aku. Meninggalkan si gadi kecil berdua bersama keceriaanya.

Ketika motorku baru melaju pelan, aku sempatkan melirik si gadis kecil itu untuk terakhir kalinya. Seringai ceria yang sama, gusi merah, dan gigi tak rata yang sama, masih melekat di wajah mungilnya. Tiba-tiba sebuah pertanyaan pun hadir, "kapan terakhir kita bisa punya hati seringan si gadis kecil itu (walau hidup terus merong-rong)? kapan terakhir kita loncat-loncatan atau melakukan apapun yang membuat kita bahagia, tanpa peduli orang menganggap kita aneh? kapan terakhir kita bisa bahagia dengan diri kita sendiri apa adanya?"

hm... kapan ya?

No comments: