Wednesday, May 2, 2012

Memilih


Hidup terbentuk dari jutaan partikel DNA yang benama pilihan. Seperti ketika malam itu kita memilih bercinta tanpa kondom. Dan saat kita memillih, ketika si kecil masih di dalam janinmu, untuk mempertemukannya dengan dunia, bukan dengan akhirat. Ketika kita memilih untuk lari dari rumah dan tinggal di kos-kosan kecil di pinggir rel kereta api tanpa AC dan banyak nyamuk. Lalu berhenti kuliah. Tidak menyerah dan kembali ke rumah orang tua. Dan ketika pada suatu malam yang gerah, saat si kecil akhirnya tertidur setelah menangis hampir sepanjang malam, dan aku juga kalap terlelap, kamu meletakkan sebuah surat di atas bantalmu, di sebelah kepalaku, lalu diam-diam pergi. Dan ketika kamu memilih untuk tidak menjelaskan lebih selain pesan pendek di sobekkan kertas putih polos,

“Maafkan aku. Tolong jaga anak kita.”

Love
Sofie

Tapi aku tak marah. Karena lagi-lagi, hidup itu pilihan dan aku menghargai pilihanmu. Walau aku merasa kamu egois, tapi setiap orang punya alasan. Mungkin kau pergi karena takut tidak bisa menjadi ibu yang baik. Jadi kamu melakukan ini demi si kecil. Kalau begitu pilihanmu bisa jadi benar, walau aku merasa lari bukan lah jawaban.

Ataukah kamu pergi karena aku tidak cukup untukmu. Maafkan aku, tapi aku sudah berusaha. Hanya saja hidup belum mengijinkanku untuk memberimu lebih daripada separuh nafasku. Kita tak bisa hidup hanya dengan cinta, begitu bentakmu pada salah satu dari ribuan pertengkaran kita. Dan kini kamu pergi. Begitu saja. Seperti angin yang berlalu. Kamu benar, karena kamu tidak tahu kalau Taj Mahal dibangun dengan cinta.

Apakah kamu berpikir bisa begitu saja terhapus dari hidup kami? Si kecil semakin sering menangis rindu pada tetek ibunya. Aku masih suka terbangun dengan dada sesak di tengah malam ketika melihat ranjang tempatmu biasa terlelap kini kosong. Kadang aku terjaga sampai pagi sambil berharap kalau kamu hanya pergi ke WC atau ambil minum dan akan segera kembali tidur di sebelahku. Kamu boleh pergi ke ujung dunia, tapi kamu akan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kami.

Pada suatu sore, saat senja pertama di musim hujan. Di bawah langit yang sedang bergemuruh dan di antara angin yang sedang berhembus sejuk, aku menatap mata coklatmu pertama kalinya. Detik itu aku memilih untuk mencintaimu, selamanya. Sepuluh tahun berlalu, aku masih memegang erat pilihan itu tanpa sedikit pun niat untuk melepasnya.

Andai suatu hari nanti kamu bisa membaca catatan pendek ini, aku ingin kamu tahu kalau si kecil punya mata coklat seindah milikmu. Pada dirinya lah aku menemukan kembali kamu.

Aku bisa benci atau marah padamu. Tapi tidak. Aku memilih untuk mengingatmu sebagai seorang wanita yang aku kagumi. Aku memilih untuk tidak menceritakan hal-hal buruk tentang kamu ketika nanti si kecil sudah cukup besar untuk bertanya tentang ibunya. Aku memilih untuk terus berdoa agar kamu bisa menemukan kebahagiaan yang tidak bisa kamu temukan bersamaku. Aku memilih untuk tidak menyimpan dendam walau banyak orang mencap aku bodoh. Tapi aku bukan kebanyakan orang.

Seorang penulis Inggris pernah menulis, “Obat sakit cinta adalah lebih mencintai”. Aku memilih untuk percaya padanya. Aku memilih untuk lebih mencintaimu, dimanapun kamu berada, apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, dengan siapa kamu melewati malammu. Aku merasa bebas ketika aku memilih untuk tidak membencimu.

No comments: