Friday, March 21, 2014

I was going to drink by myself but instantly drop that idea because alone, I might open my laptop and start to work again.


Am I sick or just lonely?

Thursday, January 30, 2014

Menyembul di Kala Bengong di Jalan

Bila aku terlihat ragu mendengar jawabanmu yang ragu-ragu, jangan tersinggung. Lebih baik bilang tidak tahu daripada tahu padahal sebenarnya cuma pura-pura tahu.

--

Salahkah aku bila diam-diam mencintai hujan yang dihujat banyak orang?

--

Adakah manusia tetap manusia apabila di dalam bus yang penuh sesak seorang tua renta berdiri di depannya tapi ia tetap duduk dengan nyaman?

--

Aku bilang cinta.

"Taik kucing!" jawabnya.

"Rasa coklat." sambarku.

Dia terdiam bingung menatapku. "Gak lucu!"ketus ia menghajarku balik.

Aku terdiam. Dia terdiam. Canggung bergerak-gerak resah mencari jalan keluar.

Tuesday, October 15, 2013

Tak bisa dijelaskan

-->
Pada satu sore di bulan Oktober, aku bertemu dengan seorang wanita yang tak bisa lepas dari mataku. Kami tidak berkenalan, tidak juga berkomunikasi. Setidaknya, tidak secara langsung. Mata kami menyapa. Bahasa tubuh kami berbincang. Ia bukan wanita yang luar biasa cantik. Bahkan menurutku ia sedikit aneh atau sedikit keluar dari relnya.
Dari nametag-nya aku tahu ia bernama Natasha. Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi. Tubuhnya tidak tinggi semampai, lengannya cukup besar, buah dadanya kecil, dan ia memakai celana panjang yang kebesaran sekaligus kependekkan sehingga sedikit mengatung di atas mata kakinya. Rambutnya diikat buntut kuda dengan ikat rambut merah muda. Wajahnya tampak seperti orang Jepang dengan kulit putih, mata sedikit sipit, dan bibir tipis.
Bila kamu bertanya kenapa aku tidak bisa berhenti menatapnya, aku juga tidak tahu jawabannya. Ada sesuatu, jelas ada sesuatu yang membuatnya begitu menarik. Hanya saja aku tidak bisa menggambarkannya. Ini murni perasaan yang tak berbentuk. Ia bisa dirasakan tapi tidak bisa dijelaskan.
Jadi begitu saja aku menikmati memandangnya dari sudut tempat aku duduk. Tak ada keinginanku untuk mengenalnya lebih dekat atau bertanya sampai jam berapa shift kerjanya. Seperti ini saja cukup; dua orang asing yang saling mencuri pandang dan masing-masing menyimpan tanda tanya tentang siapakah sebenarnya orang yang sudah memerangkap mata.

Monday, October 14, 2013

Seperti Anak-anak

-->
Seorang anak perempuan, bertubuh gembil berpipi bakpau, menangis tanpa suara. Wajahnya yang lucu tiba-tiba penyok; bibir melengkung ke atas, kerut-kerut bermunculan di wajahnya, lubang hidung terangkat, mata terpejam, air mata meluncur turun ke pipinya. Mamanya mencubit lengan gembilnya karena ia tidak bisa diam. Lalu entah apa yang dikatakan mamanya, tapi dalam sekejap ia berhenti menangis. Aku berpaling sebentar ke layar laptopku. Beberapa detik kemudian, aku sudah bisa mendengarnya tertawa. Semua kembali baik-baik saja. Semudah itu. Sesederhana itu.
Andaikan kita bisa semudah itu melupakan masalah, seperti anak-anak.

Thursday, September 12, 2013

Seperti

 
Ada tatap yang menguapkan jarak di antara kita
Seketika aku…
Seperti mendekapmu
Seperti mencium wangi tubuhmu
Seperti menyentuh kesat kulitmu
Seperti mampu mencuri bibirmu
Seperti dua kakimu melingkar di pinggangku

Seperti dua tanganmu memeluk leherku
Seperti merasa hangat napasmu di wajahku
Seperti degup gugup jantung kita melebur
Seperti menjadi satu denganmu
Seperti semua orang mati kecuali kita
Seperti dunia berhenti berputar
Seperti ingin terus seperti itu
Seperti untuk selamanya

Sunday, July 28, 2013

Langit Oranye

-->
Langit sore bersemburat oranye
Seakan matahari telah leleh ke latarnya
Ada seuntai awan melengkungkan senyum
Sepasang burung terbang membentuk kaca mata
Membingkai dua sorot cahaya begitu hangat
Yang anehnya membawaku melayat ke sebuah harapan yang kini dingin dan pucat

biru

-->
"Aku tak mengerti," katanya tiba-tiba memecah sepi, "kenapa biru itu sendu? Kenapa sajak-sajak sering menghubungkannya dengan sesuatu yang risau? Padahal bagiku, biru berarti kebebasan."
Aku merasa bodoh karena tak bisa menjawab. Dan dia berhenti bertanya. Kami membatu, menyatu dengan tanah dan rerumputan di taman rumah sakit ini, sambil memerhatikan orang-orang sibuk berlalu lalang; dokter, suster, dan pasien di kursi roda bersama pembesuknya (keduanya tampak lelah).
Aku menatapnya. Wajah yang dulu pernah kukenal begitu riang, kini redup sinarnya digerogoti sel-sel ganas yang tumbuh lepas kendali di rahimnya. 
Lalu, seperti ada yang memanggil dari langit, dia menengadah dan bibir tipisnya perlahan melengkungkan sebuah senyum yang lemah. Langit biru tampak megah dan magis seperti syair indah yang tak berujung. Kami terhipnotis. Padanya, sepasang burung sedang asyik berkejaran. Begitu lekas, begitu bebas.
Kami pun melayang bersama mimpi masing-masing. Dalam diam.