Once in awhile we make a mistake that we won't laugh at it.
Tuesday, November 3, 2009
mencoba gak takut, malah tambah takut
Segala macam perasaan gua kayak marah, ingin, dan gak ingin, jadi sering terpendam. Parahnya gua selalu berhasil menyakinkan diri kalau memendam perasaan bukan hal yang salah, bahkan gua merasa bukan memendam, tapi cuma sekedar lebih berhati-hati.
Imbasnya, gua jadi susah jujur, dan kacaunya lagi, gua sudah sampai ke tahap dimana gua gak tahu kalau gua lagi membohongi diri sendiri.
Setelah sekian lama gua mempraktekkan kebiasaan ini, sadar-gak sadar, gua merasa susah untuk bisa happy. Bersama dengan berlalunya waktu, kebiasaan memendam perasaan memupuki sisi gelap di diri gua, dan menjadikannya besar dan mantap. Tanpa sadar, hampir seluruh hidup gua nyaris diambil alih oleh sisi gelap ini (kenapa gua berasa lagi nulis fiktif untuk cerita super hero?).
Tapi hidup itu memang tukang jitak nomor satu.
Dalam beberapa bulan belakangan, lewat serangkain kejadian yang sukses membuat gua jungkir balik, hidup menjitak kepala gua, keras. TAK! Gua dihadapi dengan kantor baru yang isinya orang-orang penuh ambisi dan passion yang menggebu-gebu. Gua suka terkesima bagaima cepatnya mereka menentukan sesuatu, dan bukan dengan asal-asalan. Tapi penuh perhitungan. Mereka gak punya waktu untuk bersikap terlalu berhati-hati. Cukup hati-hati saja.
Suatu hari di kantor itu, tiba-tiba terngiang lagi nasihat teman gua. Maybe I was being too literal. Mungkin gua terlalu bulat menelan kata-kata temen gua itu. Mungkin maksudnya, ketika kita dihadapi dengan sebuah pilihan baru, pasti takut menjadi salah satu perasaan yang muncul duluan. Tapi yang seharusnya lebih kita dengarkan adalah perasaan mau atau gak mau. Karena bila kita benar-benar menginginkan sesuatu, pasti akan ada jalan untuk bisa sampai ke sana.
Kadang rasa takut itu bisa menjadi indikator keinginan kita. Kalau takutnya lebih besar dari maunya, mungkin sebenarnya, kita gak benar-benar mau.
Satu hal lain yang gua sadari adalah, semakin gua mencoba untuk gak takut sama rasa takut, gua malah jadi semakin takut.
Jadi jalan yang terbaik buat gua adalah mencoba untuk lebih rasional dan jujur sama diri sendiri, mau atau gak mau. Dan menjadikan takut hanya sebagai sentilan di kala gua lagi malas.
tentang kegigihan, fokus, nyeri dan memar habis main basket
Hidup itu seperti olah raga. Sebut saja basket. olah raga yang baru aja gua lakonin tadi malam. Kadang kita menang, kadang kita kalah. Tapi bukan hasilnya yang mau gua bagi lewat tulisan ini, melainkan kegigihan, fokus, nyeri dan memarnya.
Udah cukup lama gua absen dari dunia perbasketan (
Akibatnya, muncul masalah ke dua, yaitu… fokus melayang. Kepala terasa berat, sedikit muter, karena asupan oksigen di kepala kurang. Alhasil, lemparan gua gak masuk-masuk, lihat temen kayak lawan, lawan kayak temen (salah oper deh). Karena ke-eror-an gua, lawan jadi dapat kesempatan untuk nambah skor dan teman-teman satu tim gua hanya bisa menunduk kecewa, mau negur gua gak enak, tapi kayaknya ketololan gua bakal membuahkan kekalahan. Lihat muka-muka kecewa itu, perasaan bersalah tumbuh subur di dada gua (Shit. Makin sesak nih!), dan gua langsung bertekad, kalau gua harus bisa lebih konsentrasi, demi teman-teman satu tim (sedaaaap!). Langsung aja gua bentak otak gua untuk berkerja lebih keras walau dengan honor oksigen seadanya. Untung otak gua cukup pengertian, jadi gua bisa mengurangi erorisme gua. Dari momen ini gua belajar, mikirin orang bisa membantu kita untuk lebih fokus.
Nah! Pas gua lagi istirahat, dengan tubuh yang udah payah dan basah oleh keringat, gua duduk terkulai seperti daun layu. Terus gua minum air sebanyak banyaknya dengan rakus, seolah-olah gua bisa minum sampai mengeringkan sebuah sungai. Setelah beberapa saat, capek pelan-pelan pergi, dan datanglah… nyeri otot atau keram. Waktu gua mau berdiri, otot paha kanan gua kayak dicubit. Ngiluuuu… terus punggung kaki kanan gua ikutan sakit ditambah jari-jari kaki yang ketusuk kuku kaki yang lupa digunting. Damn! Lengkap sudah nyeri di badan gua. Habis gelap datang lah badai. Tiba-tiba sebuah pencerahan muncul, sakit ini pasti karena seluruh otot kendur di badan gua lagi belajar untuk menjadi kencang. Kalau otot gua sukses jadi kencang, gua juga
Ketiga poin di atas menyisakan beberapa oleh-oleh untuk di bawa pulang dan dinikmati di rumah. Memar. Sumpah, badan gua serasa habis diinjak-injak 100 orang. Yang buat gua menderita, memarnya seolah-olah ada di dalam kulit. Eh, ada satu yang di luar. Di punggung tangan kanan ada memar merah seperti tanda lahir sebesar kacang kedelai. Anehnya, gua mulai menikmati memar itu dan menganggapnya seperti pengingat; kalau tadi, gua gak nyerah dan berjuang sampe habis. Dari momen ini gua belajar, kalau kadang kita butuh sesuatu untuk mengingatkan, sudah sampai sejauh mana kita berusaha.
Selesai sudah pengalaman yang gua dapat dari setelah sekian lama gak main basket. Seperti udah gua bilang di atas, hidup itu seperti olah raga. tepatnya, seperti udah lama gak olah raga terus dipaksa abis-abisan. No pain no gain.
Tapi bagaimana pun olah raga itu bikin addict. Seperti hidup.
Thursday, October 22, 2009
akibat kweyobarsd rusdak
Pasdti lo sdwemua bingung kwenapa gua nulisd axcak kasdul gini. apakah gua sdwengaja? apakah gua xcuma xcari pwerhatian? sdalah kawean!
tulisdan anxcur ini karwena kweyboarsd gua rusdak (rusak ;p).
sdan ini xcurhatan gua! aakhhhhhhh!
sdasdar (dasar) kweyboarsd sdok (Sok) sdwetia kawean! kalau gua pwenxcwet (pencet. doooooh!) huruf "E" sdia akan ajak si huruf "W". kyk gini nih: "WE". klo gua pwenxcwet (pencet. double doooooooh!!) "C" sdia akan ajak huruf "X". kyk gini: "XCXCXCXCXCXC!"
monywet kamprwet!! (weah! klo maki2 jd ke sensor sendiri nih. sdomprwet! asdu! ngwepwet!--> ups..)
sdan sdwekarang kwepala gua pusding, basdan mweriang, tapi gak bsd pulang krn bloosdy rain!
ANJRIT! TAI! BABI! upsd gua lupa huruf2 yg ini gak rusdak.. hwe..
Sunday, October 18, 2009
blink
Some words blooming from the heart
In the middle of the night so old
And silent so bold
Vague yet too stunning to be ignored
Like an ode of heaven that's chiming inside my head
So beautiful and intoxicating it sweeps me off the ground
High and higher to an avidya-land
Until suddenly it stops sounding
Completely, without traces
Like smoke in the wind
As if somebody just turn off the light
Haven’t got the chance to pour that felling into words
Yet time has expired
Not even a time machine could help
What left is lousy sleepless nights
Full of remorse and the dreams of yesterday
Monday, October 5, 2009
tak pernah sepenuhnya..
Malam ini dingin, tidak seperti malam-malam biasanya. Pekerjaan tak lagi ada yang mengantri. Di depan layar komputer aku terpaku, pada sebuah website berita yang aku baca tanpa benar-benar aku perhatikan. Pikiranku berkelana. Jauh. Jauh dari sini. Ke sebuah tempat yang belum lagi aku pasti adanya. Tapi yang aku tahu pasti, dalam jujur suara hati yang terdalam; aku bukan milik tempat ini.
Aku berjalan keluar, ingin mendengar suaranya yang dibawa nada frekuensi tinggi ke telingaku, tapi hanya suara nada sambung membosankan yang kudapat. Ia sudah tidur mungkin, pikirku menghibur diri yang terlanjur kecewa. Lalu aku putuskan untuk jalan mengitari taman yang dikelilingi rumah-rumah mewah yang dingin. Seperti malam ini. ya sesepi malam ini.
Aku tak tahu kenapa aku melakukan ini, melangkah mengitari taman, di atas jalanan yang basah oleh hujan, sendirian, kedinginan, dalam gelap. Rumah-rumah besar yang kulewati seakan mengawasiku dengan mata yang menatap angkuh dari balik bayang-bayang malam. Sebuah raga yang bergerak dengan jiwa yang berada entah dimana. Aku biarkan hatiku membawa langkahku kemana ia ingin.
Sering aku merasa seperti ini. Tapi tak pernah sekalipun aku memiliki seutuhnya.
Aku merasa bebas, tapi tidak terbang lepas.