Wednesday, February 11, 2015
Thursday, September 18, 2014
sepi
-->
Ada sesuatu yang menarik dari sepi. Ada suara-suara kecil
yang biasanya selalu kalah oleh kebisingan. Suara-suara yang awalnya kita pikir
tak pernah ada, dalam sepi terdengar lantang, mengungkapkan rahasia-rahasia
tentang siapa diri kita sebenarnya. Mungkin itu kenapa sebagian orang takut
sepi. Bukan sekedar takut kesepian. Mereka tidak suka diingatkan tentang
dirinya sendiri. Lantas mereka pergi mencari kebisingan-kebisingan di luar sana
untuk memendam sesuatu yang sudah lebih dulu terbisukan.
Ada sesuatu yang menarik dari sepi. Sesuatu yang sulit
dimengerti, tapi begitu mudah dirasakan seandainya kita berani mendenga.
Sunday, September 14, 2014
Rio
-->
Namanya Rio. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Hanya tiga
huruf itu saja. Sekilas tangkap nama itu terasa jenaka, seperti film kartun
soal burung biru. Padahal, kenyataannya, ada cerita segelap tinta. Si pemilik
nama itu adalah seseorang dengan mental terbelakang. Perangainya sulit ditebak.
Kadang iseng. Kadang Marah. Kadang Diam saja. Bicaranya sedikit gagap dan
semakin parah bila ia gugup. Suara tawanya serak, lantang, dan
tersentak-sentak. Setiap mulutnya terbuka jaring-jaring liur muncul di sudut
bibirnya. Sebagian orang suka mempermainkannya seolah-olah orang dengan masalah
mental tak punya perasaan. Dan aku membenci mereka yang begitu.
Awalnya aku juga seperti orang kebanyakan. Jengah melihat
tingkah Rio. Pernah aku memarahinya. Ia memang punya kebiasaan meminjam SMS
untuk menghubungi Ibunya. Tapi selain itu, di saat kita lengah, ia suka membaca
isi SMS di inbox. Suatu kali aku menangkap basah saat ia sedang tersenyum-senyum
membaca isi SMS aku dengan seseorang yang istimewa.
Naik pitam dalam sekejap. Aku memarahinya dan melemparnya
dengan sumpah untuk tidak akan lagi membiarkan handphoneku disentuh oleh Rio.
Ia minta maaf berulang kali. Tapi sambil senyum-senyum geli karena mungkin masih
terbayang isi SMS yang romantis najis.
Ia juga genit. Sering kali ia mendekati perempuan untuk
berkenalan lalu minta nomor telepon. Sudah pasti gayung tak bersambut. Yang
diminta kadang menjawab dengan senyum pahit. Namun Rio bukanlah Rio bila
langsung menyerah. Ia terus mencari jalan tanpa sadar ia sudah menabrak tembok.
Awalnya ia punya beberapa teman. Sebagian memang tulus
berusaha menerimanya apa adanya, tapi sebagian lagi hanya senang punya bahan
untuk dipermainkan. Namun yang tulus lambat laun menyerah dan mulai menghindar.
Sedangkan yang tidak tulus, memang tak pernah ada untuknya.
Aku mulai sering melihat Rio sendirian. Sembahyang
sendirian. Makan sendirian. Beli minuman di warung, sendirian, Bahkan saat ia
sedang ikut pertemuan yang ramai oleh umat, ia tetap sendirian. Semakin lama
tubuhnya semakin kurus. Keriaan Rio yang dulu menjadi ciri khasnya telah
hilang. Wajahnya seperti seorang pesakitan. Tirus, kantung matanya hitam, dan
kulitnya pucat. Ia juga jadi lebih sering merokok dan bengong.
Hingga dua minggu yang lalu aku mendapat kabar kalau Rio
sudah tiada. TBC menggerogoti tubuhnya dari dalam sampai menjadi kurus dan
lelah hingga nyawanya tak lagi betah tinggal di sana dan akhirnya minggat.
It’s heartbreaking to
know that he has gone.
Aku tak bisa datang pada saat malam kembang. Tapi dari
cerita teman yang ada di sana, kakaknya meminta maaf kalau selama hidupnya, Rio
sering mengganggu. Ia sebetulnya seorang anak yang pintar, meski terlihat
sebaliknya.
Setelah ini mungkin orang akan begitu saja lupa kalau di
dunia ini pernah ada seorang manusia bernama Rio yang dengan kita berbagi udara
berpolusi yang sama, terik matahari yang sama, kemacetan Jakarta yang sama, dan
harapan yang sama untuk menjadi orang yang lebih baik. Perannya mungkin tak
terlalu penting dalam kehidupan kali ini. Tapi aku percaya, di kehidupan selanjutnya,
ia pasti akan menjadi manusia yang hebat.
Selamat Jalan Kawan
Wednesday, July 23, 2014
Sesekali lepaskan saja!
Lepasinn .lepasin semua. Biarkan jemari menggila di atas
keyboard. Bahkan ga sambil melihat layar laptop. Semua menjadi sesuka hati aja.
Salah bebenar belakangan aja. Persetan dengan semua yang ada di dunia ini.
persetan dengan semua orang yang negatif. Persetan dengan diriku yang juga
seperti mereka. Lepaskan semua. Biarpun nanti itulisan ini cuma jadi sampah. Tapi
kadang kita harus melepoaskan. Jangan lagi memenjarakan perasaan. Baiarkan
sesekali ia meliar./ lepas kendali. Tanpa tali kekang. Seperti anjing yang di
bawa jalan pertam kali. tak ada aturan. Pergi ke mana insting membawanya. Pergi.
Pergi dari semua norma. Pergi dari hal hal yang kamu takutkan. Pergi dari
anggapan orang. Pergi dari dunia yang palsu ini. hidup adalah persepsi. Persepsi
yang membuat kita dibui. Takut dianggap jelek,. Takut dibilang salah. takut
sendiri. gak punya teman. Tapi teman buat apa b? yang penting sahabat. Orang yang
bisa menerima dirimu meski saat kamu sedang lepas, atau kelepasan. Lebih baik
punya satu sahabat daripada 1000 teman palsu.
Thursday, July 17, 2014
Pagi
-->
AC berderu lemah dan monoton. Udara dingin menyayat kulit
tak berselimut. Tas hitam di lantai kamar ditangkap ekor mata seperti kepala
tak berbadan. Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita menyanyikan sebuah
lagu mandarin dari radio kecil milik Papa. Nadanya mendayu-dayu. Suara
penyanyinya merintih. Aku tak mengerti apa artinya, tapi aku bisa merasakan
kesedihannya. Musik sember dari speaker “ember” milik tukang roti keliling
mencemari pagi. Di antaranya, keponakanku menjerit menangis mencari perhatian.
Pompa air berderu kasar seperti seorang tua sedang berusaha mengeluarkan dahak
dari dalam tenggorokannya.
Suara-suara memang selalu memperebutkan pagi di tempat ini.
Kadang terlalu. Namun aku tahu akan merindukan pagi yang bising ini ketika
nanti tinggal sendiri. Namun aku akan punya pagi yang lain. Pagi yang baru.
Pagi yang aku nantikan sejak setahun yang lalu. Pagi yang tidak diperebutkan.
Pagi yang hanya menjadi milikku seorang.
Friday, July 11, 2014
Malam Berbahasa
Malam berbahasa. Meski tak lantang dan tak menantang seperti
siang. Sayangnya sebagian besar orang tak peduli. Mereka tenggelam dalam gesa bersama
langkah-langkah panjang dan wajah-wajah lelah. Padahal, seandainya mereka mau
berhenti sejenak untuk mengamati dan mendengarkan derunya, gemerlap
lampu-lampunya, gang-gang sepi yang menyimpan misteri, derak langkah kucing di
genting, sepoi angin, dan bagaimana dedaunan berbisik seperti orang-orang sirik, maka mereka akan bisa
mendengar malam menembang, tentang sebuah kisah yang lahir pada saat gelap dan
berakhir dengan gelap.
Sunday, July 6, 2014
Sebuah Catatan Tentang Fanatisme
Banyak teman saya mengingatkan agar
saya tidak terlalu fanatik kepada salah satu calon presiden. Hal itu membuat
saya berpikir, apakah benar saya fanatik? Setelah saya rasakan, ternyata benar.
Saya memang fanatik. Kalau boleh meminjam ungkapan pendukung sepak bola Italy,
saya adalah Tifosi. Tapi fanatisme saya bukan ditujukan kepada salah satu calon
presiden, tapi kepada sebuah negeri yang nantinya akan dipimpin oleh presiden
tepilih.
Indonesia harus baru. Indonesia harus
maju. Itu saja yang berputar-putar di dalam kepala saya dari masa awal kampanye
dimulai sampai detik ini. Seandainya ada calon no 3 yang lebih baik dari no1
dan no 2, saya akan sepenuh hati memilihnya.
Sayangnya untuk sekarang, buat saya
hanya calon no 2 yang terbaik untuk memimpin negeri ini. Orang itu sudah punya
karya yang jelas, yang jelas-jelas berguna bagi banyak orang. Jadi saya tanpa
ragu mengatakan saya fanatik dengan no 2.
Negeri ini butuh generasi baru bila
ingin maju. Generasi baru yang bukan berasal dari yang baru di masa lalu.
Sebagai penutup saya ingin mengatakan:
Fanatisme itu perlu. Tak ada yang salah
dengan Fanatisme, yang salah adalah persepsi Anda. Jadi jangan minta orang lain untuk
tidak bersikap fanatik kalau Anda sendiri belum benar-benar paham artinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)