Malam berbahasa. Meski tak lantang dan tak menantang seperti
siang. Sayangnya sebagian besar orang tak peduli. Mereka tenggelam dalam gesa bersama
langkah-langkah panjang dan wajah-wajah lelah. Padahal, seandainya mereka mau
berhenti sejenak untuk mengamati dan mendengarkan derunya, gemerlap
lampu-lampunya, gang-gang sepi yang menyimpan misteri, derak langkah kucing di
genting, sepoi angin, dan bagaimana dedaunan berbisik seperti orang-orang sirik, maka mereka akan bisa
mendengar malam menembang, tentang sebuah kisah yang lahir pada saat gelap dan
berakhir dengan gelap.
Friday, July 11, 2014
Sunday, July 6, 2014
Sebuah Catatan Tentang Fanatisme
Banyak teman saya mengingatkan agar
saya tidak terlalu fanatik kepada salah satu calon presiden. Hal itu membuat
saya berpikir, apakah benar saya fanatik? Setelah saya rasakan, ternyata benar.
Saya memang fanatik. Kalau boleh meminjam ungkapan pendukung sepak bola Italy,
saya adalah Tifosi. Tapi fanatisme saya bukan ditujukan kepada salah satu calon
presiden, tapi kepada sebuah negeri yang nantinya akan dipimpin oleh presiden
tepilih.
Indonesia harus baru. Indonesia harus
maju. Itu saja yang berputar-putar di dalam kepala saya dari masa awal kampanye
dimulai sampai detik ini. Seandainya ada calon no 3 yang lebih baik dari no1
dan no 2, saya akan sepenuh hati memilihnya.
Sayangnya untuk sekarang, buat saya
hanya calon no 2 yang terbaik untuk memimpin negeri ini. Orang itu sudah punya
karya yang jelas, yang jelas-jelas berguna bagi banyak orang. Jadi saya tanpa
ragu mengatakan saya fanatik dengan no 2.
Negeri ini butuh generasi baru bila
ingin maju. Generasi baru yang bukan berasal dari yang baru di masa lalu.
Sebagai penutup saya ingin mengatakan:
Fanatisme itu perlu. Tak ada yang salah
dengan Fanatisme, yang salah adalah persepsi Anda. Jadi jangan minta orang lain untuk
tidak bersikap fanatik kalau Anda sendiri belum benar-benar paham artinya.
Sunday, April 27, 2014
Manusia dan Manusia
-->
Ada yang rasanya dingin di dalam
sebuah mall besar di daerah Senayan, Jakarta. Bukan ice cream warna-warni yang
dijual di etalase kaca, bukan juga AC yang menyembur. Melainkan sebuah mesin
direktori yang baru dan mutakhir.
Mesin direktori itu menggunakan layar
sentuh dengan tampilan peta lokasi 3D dan canggihnya lagi bisa mencetak
petunjuk arah dan patokan jelas pada secarik kertas yang isinya seperti bertanya
kepada seorang satpam (dari sini belok kiri setelah restoran A, lurus ke outlet
B, belok kanan).
Sangat ringkes dan efisen. Begitu
mudahnya sehingga ia seperti seorang manusia. Seperti manusia – justru sifatnya
yang menyerupai tapi tak sama itulah yang menyesatkan.
Bukan fisik yang tersesat,
tapi jiwa yang terletak jauh di dalam. Kemanusiaan hilang arah, kering makna. Hubungan antar
manusia menjadi tak penting, remeh. Orang jadi tak perlu lagi bertanya kepada
orang lain.
Karena mungkin dipikirnya manusia
lebih berpotensi untuk eror ketimbang mesin. Orang bisa lupa atau sok tahu
sedangkan mesin tidak memiliki ego.
Pada masa di mana orang lebih
senang berdialog dengan gadget dan lebih nyaman bersosialisasi di dunia maya,
mesin direktori super efisien ini menjadi sebuah personifikasi yang miris.
Seolah-olah manusia tidak butuh
manusia lain untuk bisa mencapai tujuan. Kita jadi lebih percaya pada hal-hal
yang mekanik daripada yang berdarah-daging. Toleransi akan kesalahan manusia
melemah. Orang seringkali diharapkan menyerupai mesin. Harus cepat dan tidak
boleh salah.
Padahal dari kesalahan kita baru
bisa be-re-vo-lu-si dan ber-e-vo-lu-si. Kalau semua hal selalu tanpa cacat,
maka tidak akan ada ruang untuk tumbuh. Kesalahan adalah luka begitu perih yang
mendorong manusia untuk menjadi lebih baik.
Namun bukan berarti kita harus
menutup diri dari kemajuan jaman. Suka atau tidak dunia akan terus maju. Diam
tertinggal. Menutup diri terasingkan. Suka atau tidak, kita harus suka.
“There
are just too many things we have to think about everyday, too many new things
we have to learn. But still, no matter how much time passes, no matter what
takes place in the interim, there are some things we can never assign to
oblivion, memories we can never rub away.” –Haruki Murakami-
Ini adalah kutipan sebuah novel Haruki
Murakami. Penulis kelahiran Jepang ini bicara tentang kenangan. Bila kenangan itu
kita andaikan sebagai manusia, maka bisa dikatakan sehebat-hebatnya teknologi,
kita tetap tidak bisa mengacuhkan keterikatan terhadap sesama. Teknologi
meminimalisir kesulitan, tapi kepedulian manusia terhadap manusia lainlah yang
mendorong terciptanya sebuah teknologi yang bisa memudahkan hidup manusia dari berbagai
kesulitan.
***
Sunday, March 30, 2014
Friday, March 21, 2014
Thursday, January 30, 2014
Menyembul di Kala Bengong di Jalan
Bila aku terlihat ragu mendengar jawabanmu yang ragu-ragu, jangan tersinggung. Lebih baik bilang tidak tahu daripada tahu padahal sebenarnya cuma pura-pura tahu.
--
Salahkah aku bila diam-diam mencintai hujan yang dihujat banyak orang?
--
Adakah manusia tetap manusia apabila di dalam bus yang penuh sesak seorang tua renta berdiri di depannya tapi ia tetap duduk dengan nyaman?
--
Aku bilang cinta.
"Taik kucing!" jawabnya.
"Rasa coklat." sambarku.
Dia terdiam bingung menatapku. "Gak lucu!"ketus ia menghajarku balik.
Aku terdiam. Dia terdiam. Canggung bergerak-gerak resah mencari jalan keluar.
--
Salahkah aku bila diam-diam mencintai hujan yang dihujat banyak orang?
--
Adakah manusia tetap manusia apabila di dalam bus yang penuh sesak seorang tua renta berdiri di depannya tapi ia tetap duduk dengan nyaman?
--
Aku bilang cinta.
"Taik kucing!" jawabnya.
"Rasa coklat." sambarku.
Dia terdiam bingung menatapku. "Gak lucu!"ketus ia menghajarku balik.
Aku terdiam. Dia terdiam. Canggung bergerak-gerak resah mencari jalan keluar.
Tuesday, October 15, 2013
Tak bisa dijelaskan
-->
Pada satu sore di bulan Oktober, aku bertemu dengan seorang
wanita yang tak bisa lepas dari mataku. Kami tidak berkenalan, tidak juga
berkomunikasi. Setidaknya, tidak secara langsung. Mata kami menyapa. Bahasa tubuh kami berbincang. Ia bukan wanita yang luar biasa cantik. Bahkan menurutku ia
sedikit aneh atau sedikit keluar dari relnya.
Dari nametag-nya aku tahu ia bernama Natasha. Ia bekerja
sebagai pelayan di sebuah kedai kopi. Tubuhnya tidak tinggi semampai, lengannya
cukup besar, buah dadanya kecil, dan ia memakai celana panjang yang kebesaran
sekaligus kependekkan sehingga sedikit mengatung di atas mata kakinya. Rambutnya
diikat buntut kuda dengan ikat rambut merah muda. Wajahnya tampak seperti orang
Jepang dengan kulit putih, mata sedikit sipit, dan bibir tipis.
Bila kamu bertanya kenapa aku tidak bisa berhenti
menatapnya, aku juga tidak tahu jawabannya. Ada sesuatu, jelas ada sesuatu yang
membuatnya begitu menarik. Hanya saja aku tidak bisa menggambarkannya. Ini murni perasaan yang tak berbentuk. Ia bisa dirasakan tapi tidak bisa dijelaskan.
Jadi begitu saja aku menikmati memandangnya dari sudut
tempat aku duduk. Tak ada keinginanku untuk mengenalnya lebih dekat atau
bertanya sampai jam berapa shift kerjanya. Seperti ini saja cukup; dua orang
asing yang saling mencuri pandang dan masing-masing menyimpan tanda tanya
tentang siapakah sebenarnya orang yang sudah memerangkap mata.
Subscribe to:
Posts (Atom)
