Setelah pergi lebih dari 9 bulan akhirnya saya pulang. Pulang ke rumah elektronik di negeri maya yang luas tak berujung, tempat aku bisa menjadi aku. Tidak semua rumah bisa membuatmu jujur tentang dirimu kepada, ya yang paling utama dirimu sendiri. Hanya di sini saja aku sungguh-sungguh bebas.
Rumah ini sudah begitu lama kutinggalkan, sampai butuh proses pemulihan akun untuk bisa membuka pintunya. Hidup yang menghisap waktu dengan rakus membuat aku hanya punya sedikit untuk diriku sendiri. Dan ketika aku ingin menikmati waktu me-time yang hanya sedikit itu, biasanya kantuk datang bahkan ketika aku baru selesai membaca halaman kedua novel enam ratusan halaman yang sudah 4 bulan tidak juga selesai aku baca. Padahal ceritanya tidak jelek, walau kadang terasa setengah-setengah.
Kadang aku berpikir, apa sih arti semua ini? Bangun pagi, siap-siap, berangkat ke kantor, lembur, pulang dengan tenaga yang sudah sekarat, beres-beres, merangkak naik kasur, tidur. Lalu besoknya siklus ini berulang lagi. Dan begitu juga besoknya, besoknya lagi, dan besoknya besoknya lagi. Sampai akhirnya weekend tiba dan menghembuskan angin segar. Tapi namanya juga angin. Sifatnya hanya numpang lewat. Sejuk sesaat lalu hilang. Hidup kok rasanya begini amat. Seperti menonton film yang sama berkali-kali.
Aku sebenarnya benci dengan pikiranku yang satu ini. Gak tahu terima kasih! Begitu aku suka memaki diri sendiri setiap kali pikiran ini timbul. Malu rasanya mengeluh seperti anak remaja yang terlalu dimanja orang tuanya, yang seluruh pikirannya dipengaruhi ego dan ketakutan. Tapi pikiran ini mencuat tanpa bisa dikendalikan. Sometimes I think that it has mind of its own.
Bila sudah begini, hanya satu obatnya. Pulang. Ke sini. Ke rumah elektronik di mana aku hanya tinggal sendiri, membuat peraturan semau-maunya aku, mengisi dan mengganti prabot rumah dengan kata-kata berbagai bentuk dan rasa. Hanya dengan begini lah semua kembali jadi baik. Hanya dengan begini lah aku bisa kembali menghadapi hidup yang monoton. Hanya dengan begini lah aku bisa terus menulis.
Kalau ada nasihat yang menganjurkan kalau kita harus bisa bersyukur akan semua hal yang kita miliki, senang atau susah, maka aku berterimakasih atas perasaan resah ini karenanya aku bisa kembali menemukan jalan ke rumah ini.
Friday, September 16, 2016
Saturday, February 27, 2016
Kehidupan yang tak terbatas
Sore tampak sendu dengan langit abu-abu saat aku
mengembalikan dia ke alam. Dia yang tak akan pernah aku ketahui warna matanya,
yang tak akan pernah aku dengar celotehnya, yang tak akan pernah membuatku
khawatir dengan tingkah remajanya.
Hari itu, setelah melewati malam yang melelahkan, akhirnya papa
dan mama bisa melihatmu. Kamu yang baru berumur 4 bulan tampak seperti sedang tertidur nyenyak dalam
selaput bening yang memelukmu seperti doa yang tak terlihat tapi melindungi.
Bentuk bibirmu milik mama. Tapi orang-orang bilang wajahmu mirip papa.
Entah kenapa papa harus merasakan senangnya pertama kali
menjadi bapak dengan begitu menyakitkan. Tapi jawaban tak selalu bisa
mengobati, jadi papa berhenti mencari dan mengalihkan energi untuk menerima kenyataan.
Chaka Issai Siswanto = kehidupan yang tak terbatas. Begitu kami
menamaimu, karena kematian bukan sebuah akhir tapi sebuah jalan menuju ke
kehidupan yang baru. Lahirlah kembali dengan tubuh yang sehat di dalam keluarga
yang akan menyayangimu seperti kami menyayangimu.
Pergilah nak dengan tenang. Meski papa dan mama sudah
merelakanmu, tapi kamu akan tetap jadi yang pertama buat kita. Kamu akan tetap
jadi kakak buat adik-adikmu nanti. Kamu akan tetap jadi cucu kesayangan naynay
dan yeye.
Setiap hari di dalam doa tak lupa kami titipkan peluk dan
cium untukmu.
Selamat jalan Dedek Chaka.
-papa & mama-
Wednesday, February 11, 2015
Thursday, September 18, 2014
sepi
-->
Ada sesuatu yang menarik dari sepi. Ada suara-suara kecil
yang biasanya selalu kalah oleh kebisingan. Suara-suara yang awalnya kita pikir
tak pernah ada, dalam sepi terdengar lantang, mengungkapkan rahasia-rahasia
tentang siapa diri kita sebenarnya. Mungkin itu kenapa sebagian orang takut
sepi. Bukan sekedar takut kesepian. Mereka tidak suka diingatkan tentang
dirinya sendiri. Lantas mereka pergi mencari kebisingan-kebisingan di luar sana
untuk memendam sesuatu yang sudah lebih dulu terbisukan.
Ada sesuatu yang menarik dari sepi. Sesuatu yang sulit
dimengerti, tapi begitu mudah dirasakan seandainya kita berani mendenga.
Sunday, September 14, 2014
Rio
-->
Namanya Rio. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Hanya tiga
huruf itu saja. Sekilas tangkap nama itu terasa jenaka, seperti film kartun
soal burung biru. Padahal, kenyataannya, ada cerita segelap tinta. Si pemilik
nama itu adalah seseorang dengan mental terbelakang. Perangainya sulit ditebak.
Kadang iseng. Kadang Marah. Kadang Diam saja. Bicaranya sedikit gagap dan
semakin parah bila ia gugup. Suara tawanya serak, lantang, dan
tersentak-sentak. Setiap mulutnya terbuka jaring-jaring liur muncul di sudut
bibirnya. Sebagian orang suka mempermainkannya seolah-olah orang dengan masalah
mental tak punya perasaan. Dan aku membenci mereka yang begitu.
Awalnya aku juga seperti orang kebanyakan. Jengah melihat
tingkah Rio. Pernah aku memarahinya. Ia memang punya kebiasaan meminjam SMS
untuk menghubungi Ibunya. Tapi selain itu, di saat kita lengah, ia suka membaca
isi SMS di inbox. Suatu kali aku menangkap basah saat ia sedang tersenyum-senyum
membaca isi SMS aku dengan seseorang yang istimewa.
Naik pitam dalam sekejap. Aku memarahinya dan melemparnya
dengan sumpah untuk tidak akan lagi membiarkan handphoneku disentuh oleh Rio.
Ia minta maaf berulang kali. Tapi sambil senyum-senyum geli karena mungkin masih
terbayang isi SMS yang romantis najis.
Ia juga genit. Sering kali ia mendekati perempuan untuk
berkenalan lalu minta nomor telepon. Sudah pasti gayung tak bersambut. Yang
diminta kadang menjawab dengan senyum pahit. Namun Rio bukanlah Rio bila
langsung menyerah. Ia terus mencari jalan tanpa sadar ia sudah menabrak tembok.
Awalnya ia punya beberapa teman. Sebagian memang tulus
berusaha menerimanya apa adanya, tapi sebagian lagi hanya senang punya bahan
untuk dipermainkan. Namun yang tulus lambat laun menyerah dan mulai menghindar.
Sedangkan yang tidak tulus, memang tak pernah ada untuknya.
Aku mulai sering melihat Rio sendirian. Sembahyang
sendirian. Makan sendirian. Beli minuman di warung, sendirian, Bahkan saat ia
sedang ikut pertemuan yang ramai oleh umat, ia tetap sendirian. Semakin lama
tubuhnya semakin kurus. Keriaan Rio yang dulu menjadi ciri khasnya telah
hilang. Wajahnya seperti seorang pesakitan. Tirus, kantung matanya hitam, dan
kulitnya pucat. Ia juga jadi lebih sering merokok dan bengong.
Hingga dua minggu yang lalu aku mendapat kabar kalau Rio
sudah tiada. TBC menggerogoti tubuhnya dari dalam sampai menjadi kurus dan
lelah hingga nyawanya tak lagi betah tinggal di sana dan akhirnya minggat.
It’s heartbreaking to
know that he has gone.
Aku tak bisa datang pada saat malam kembang. Tapi dari
cerita teman yang ada di sana, kakaknya meminta maaf kalau selama hidupnya, Rio
sering mengganggu. Ia sebetulnya seorang anak yang pintar, meski terlihat
sebaliknya.
Setelah ini mungkin orang akan begitu saja lupa kalau di
dunia ini pernah ada seorang manusia bernama Rio yang dengan kita berbagi udara
berpolusi yang sama, terik matahari yang sama, kemacetan Jakarta yang sama, dan
harapan yang sama untuk menjadi orang yang lebih baik. Perannya mungkin tak
terlalu penting dalam kehidupan kali ini. Tapi aku percaya, di kehidupan selanjutnya,
ia pasti akan menjadi manusia yang hebat.
Selamat Jalan Kawan
Wednesday, July 23, 2014
Sesekali lepaskan saja!
Lepasinn .lepasin semua. Biarkan jemari menggila di atas
keyboard. Bahkan ga sambil melihat layar laptop. Semua menjadi sesuka hati aja.
Salah bebenar belakangan aja. Persetan dengan semua yang ada di dunia ini.
persetan dengan semua orang yang negatif. Persetan dengan diriku yang juga
seperti mereka. Lepaskan semua. Biarpun nanti itulisan ini cuma jadi sampah. Tapi
kadang kita harus melepoaskan. Jangan lagi memenjarakan perasaan. Baiarkan
sesekali ia meliar./ lepas kendali. Tanpa tali kekang. Seperti anjing yang di
bawa jalan pertam kali. tak ada aturan. Pergi ke mana insting membawanya. Pergi.
Pergi dari semua norma. Pergi dari hal hal yang kamu takutkan. Pergi dari
anggapan orang. Pergi dari dunia yang palsu ini. hidup adalah persepsi. Persepsi
yang membuat kita dibui. Takut dianggap jelek,. Takut dibilang salah. takut
sendiri. gak punya teman. Tapi teman buat apa b? yang penting sahabat. Orang yang
bisa menerima dirimu meski saat kamu sedang lepas, atau kelepasan. Lebih baik
punya satu sahabat daripada 1000 teman palsu.
Thursday, July 17, 2014
Pagi
-->
AC berderu lemah dan monoton. Udara dingin menyayat kulit
tak berselimut. Tas hitam di lantai kamar ditangkap ekor mata seperti kepala
tak berbadan. Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita menyanyikan sebuah
lagu mandarin dari radio kecil milik Papa. Nadanya mendayu-dayu. Suara
penyanyinya merintih. Aku tak mengerti apa artinya, tapi aku bisa merasakan
kesedihannya. Musik sember dari speaker “ember” milik tukang roti keliling
mencemari pagi. Di antaranya, keponakanku menjerit menangis mencari perhatian.
Pompa air berderu kasar seperti seorang tua sedang berusaha mengeluarkan dahak
dari dalam tenggorokannya.
Suara-suara memang selalu memperebutkan pagi di tempat ini.
Kadang terlalu. Namun aku tahu akan merindukan pagi yang bising ini ketika
nanti tinggal sendiri. Namun aku akan punya pagi yang lain. Pagi yang baru.
Pagi yang aku nantikan sejak setahun yang lalu. Pagi yang tidak diperebutkan.
Pagi yang hanya menjadi milikku seorang.
Friday, July 11, 2014
Malam Berbahasa
Malam berbahasa. Meski tak lantang dan tak menantang seperti
siang. Sayangnya sebagian besar orang tak peduli. Mereka tenggelam dalam gesa bersama
langkah-langkah panjang dan wajah-wajah lelah. Padahal, seandainya mereka mau
berhenti sejenak untuk mengamati dan mendengarkan derunya, gemerlap
lampu-lampunya, gang-gang sepi yang menyimpan misteri, derak langkah kucing di
genting, sepoi angin, dan bagaimana dedaunan berbisik seperti orang-orang sirik, maka mereka akan bisa
mendengar malam menembang, tentang sebuah kisah yang lahir pada saat gelap dan
berakhir dengan gelap.
Sunday, July 6, 2014
Sebuah Catatan Tentang Fanatisme
Banyak teman saya mengingatkan agar
saya tidak terlalu fanatik kepada salah satu calon presiden. Hal itu membuat
saya berpikir, apakah benar saya fanatik? Setelah saya rasakan, ternyata benar.
Saya memang fanatik. Kalau boleh meminjam ungkapan pendukung sepak bola Italy,
saya adalah Tifosi. Tapi fanatisme saya bukan ditujukan kepada salah satu calon
presiden, tapi kepada sebuah negeri yang nantinya akan dipimpin oleh presiden
tepilih.
Indonesia harus baru. Indonesia harus
maju. Itu saja yang berputar-putar di dalam kepala saya dari masa awal kampanye
dimulai sampai detik ini. Seandainya ada calon no 3 yang lebih baik dari no1
dan no 2, saya akan sepenuh hati memilihnya.
Sayangnya untuk sekarang, buat saya
hanya calon no 2 yang terbaik untuk memimpin negeri ini. Orang itu sudah punya
karya yang jelas, yang jelas-jelas berguna bagi banyak orang. Jadi saya tanpa
ragu mengatakan saya fanatik dengan no 2.
Negeri ini butuh generasi baru bila
ingin maju. Generasi baru yang bukan berasal dari yang baru di masa lalu.
Sebagai penutup saya ingin mengatakan:
Fanatisme itu perlu. Tak ada yang salah
dengan Fanatisme, yang salah adalah persepsi Anda. Jadi jangan minta orang lain untuk
tidak bersikap fanatik kalau Anda sendiri belum benar-benar paham artinya.
Sunday, April 27, 2014
Manusia dan Manusia
-->
Ada yang rasanya dingin di dalam
sebuah mall besar di daerah Senayan, Jakarta. Bukan ice cream warna-warni yang
dijual di etalase kaca, bukan juga AC yang menyembur. Melainkan sebuah mesin
direktori yang baru dan mutakhir.
Mesin direktori itu menggunakan layar
sentuh dengan tampilan peta lokasi 3D dan canggihnya lagi bisa mencetak
petunjuk arah dan patokan jelas pada secarik kertas yang isinya seperti bertanya
kepada seorang satpam (dari sini belok kiri setelah restoran A, lurus ke outlet
B, belok kanan).
Sangat ringkes dan efisen. Begitu
mudahnya sehingga ia seperti seorang manusia. Seperti manusia – justru sifatnya
yang menyerupai tapi tak sama itulah yang menyesatkan.
Bukan fisik yang tersesat,
tapi jiwa yang terletak jauh di dalam. Kemanusiaan hilang arah, kering makna. Hubungan antar
manusia menjadi tak penting, remeh. Orang jadi tak perlu lagi bertanya kepada
orang lain.
Karena mungkin dipikirnya manusia
lebih berpotensi untuk eror ketimbang mesin. Orang bisa lupa atau sok tahu
sedangkan mesin tidak memiliki ego.
Pada masa di mana orang lebih
senang berdialog dengan gadget dan lebih nyaman bersosialisasi di dunia maya,
mesin direktori super efisien ini menjadi sebuah personifikasi yang miris.
Seolah-olah manusia tidak butuh
manusia lain untuk bisa mencapai tujuan. Kita jadi lebih percaya pada hal-hal
yang mekanik daripada yang berdarah-daging. Toleransi akan kesalahan manusia
melemah. Orang seringkali diharapkan menyerupai mesin. Harus cepat dan tidak
boleh salah.
Padahal dari kesalahan kita baru
bisa be-re-vo-lu-si dan ber-e-vo-lu-si. Kalau semua hal selalu tanpa cacat,
maka tidak akan ada ruang untuk tumbuh. Kesalahan adalah luka begitu perih yang
mendorong manusia untuk menjadi lebih baik.
Namun bukan berarti kita harus
menutup diri dari kemajuan jaman. Suka atau tidak dunia akan terus maju. Diam
tertinggal. Menutup diri terasingkan. Suka atau tidak, kita harus suka.
“There
are just too many things we have to think about everyday, too many new things
we have to learn. But still, no matter how much time passes, no matter what
takes place in the interim, there are some things we can never assign to
oblivion, memories we can never rub away.” –Haruki Murakami-
Ini adalah kutipan sebuah novel Haruki
Murakami. Penulis kelahiran Jepang ini bicara tentang kenangan. Bila kenangan itu
kita andaikan sebagai manusia, maka bisa dikatakan sehebat-hebatnya teknologi,
kita tetap tidak bisa mengacuhkan keterikatan terhadap sesama. Teknologi
meminimalisir kesulitan, tapi kepedulian manusia terhadap manusia lainlah yang
mendorong terciptanya sebuah teknologi yang bisa memudahkan hidup manusia dari berbagai
kesulitan.
***
Sunday, March 30, 2014
Friday, March 21, 2014
Thursday, January 30, 2014
Menyembul di Kala Bengong di Jalan
Bila aku terlihat ragu mendengar jawabanmu yang ragu-ragu, jangan tersinggung. Lebih baik bilang tidak tahu daripada tahu padahal sebenarnya cuma pura-pura tahu.
--
Salahkah aku bila diam-diam mencintai hujan yang dihujat banyak orang?
--
Adakah manusia tetap manusia apabila di dalam bus yang penuh sesak seorang tua renta berdiri di depannya tapi ia tetap duduk dengan nyaman?
--
Aku bilang cinta.
"Taik kucing!" jawabnya.
"Rasa coklat." sambarku.
Dia terdiam bingung menatapku. "Gak lucu!"ketus ia menghajarku balik.
Aku terdiam. Dia terdiam. Canggung bergerak-gerak resah mencari jalan keluar.
--
Salahkah aku bila diam-diam mencintai hujan yang dihujat banyak orang?
--
Adakah manusia tetap manusia apabila di dalam bus yang penuh sesak seorang tua renta berdiri di depannya tapi ia tetap duduk dengan nyaman?
--
Aku bilang cinta.
"Taik kucing!" jawabnya.
"Rasa coklat." sambarku.
Dia terdiam bingung menatapku. "Gak lucu!"ketus ia menghajarku balik.
Aku terdiam. Dia terdiam. Canggung bergerak-gerak resah mencari jalan keluar.
Tuesday, October 15, 2013
Tak bisa dijelaskan
-->
Pada satu sore di bulan Oktober, aku bertemu dengan seorang
wanita yang tak bisa lepas dari mataku. Kami tidak berkenalan, tidak juga
berkomunikasi. Setidaknya, tidak secara langsung. Mata kami menyapa. Bahasa tubuh kami berbincang. Ia bukan wanita yang luar biasa cantik. Bahkan menurutku ia
sedikit aneh atau sedikit keluar dari relnya.
Dari nametag-nya aku tahu ia bernama Natasha. Ia bekerja
sebagai pelayan di sebuah kedai kopi. Tubuhnya tidak tinggi semampai, lengannya
cukup besar, buah dadanya kecil, dan ia memakai celana panjang yang kebesaran
sekaligus kependekkan sehingga sedikit mengatung di atas mata kakinya. Rambutnya
diikat buntut kuda dengan ikat rambut merah muda. Wajahnya tampak seperti orang
Jepang dengan kulit putih, mata sedikit sipit, dan bibir tipis.
Bila kamu bertanya kenapa aku tidak bisa berhenti
menatapnya, aku juga tidak tahu jawabannya. Ada sesuatu, jelas ada sesuatu yang
membuatnya begitu menarik. Hanya saja aku tidak bisa menggambarkannya. Ini murni perasaan yang tak berbentuk. Ia bisa dirasakan tapi tidak bisa dijelaskan.
Jadi begitu saja aku menikmati memandangnya dari sudut
tempat aku duduk. Tak ada keinginanku untuk mengenalnya lebih dekat atau
bertanya sampai jam berapa shift kerjanya. Seperti ini saja cukup; dua orang
asing yang saling mencuri pandang dan masing-masing menyimpan tanda tanya
tentang siapakah sebenarnya orang yang sudah memerangkap mata.
Monday, October 14, 2013
Seperti Anak-anak
-->
Seorang anak perempuan, bertubuh gembil berpipi bakpau,
menangis tanpa suara. Wajahnya yang lucu tiba-tiba penyok; bibir melengkung ke
atas, kerut-kerut bermunculan di wajahnya, lubang hidung terangkat, mata
terpejam, air mata meluncur turun ke pipinya. Mamanya mencubit lengan gembilnya
karena ia tidak bisa diam. Lalu entah apa yang dikatakan mamanya, tapi dalam
sekejap ia berhenti menangis. Aku berpaling sebentar ke layar laptopku.
Beberapa detik kemudian, aku sudah bisa mendengarnya tertawa.
Semua kembali baik-baik saja. Semudah itu. Sesederhana itu.
Andaikan kita bisa semudah itu melupakan masalah, seperti
anak-anak.
Thursday, September 12, 2013
Seperti
Ada tatap yang menguapkan jarak di antara kita
Seketika aku…
Seperti mendekapmu
Seperti mencium wangi tubuhmu
Seperti menyentuh kesat kulitmu
Seperti mampu mencuri bibirmu
Seperti dua kakimu melingkar di pinggangku
Seperti dua tanganmu memeluk leherku
Seperti dua tanganmu memeluk leherku
Seperti merasa hangat napasmu di wajahku
Seperti degup gugup jantung kita melebur
Seperti menjadi satu denganmu
Seperti semua orang mati kecuali kita
Seperti dunia berhenti berputar
Seperti ingin terus seperti itu
Seperti untuk selamanya
Sunday, July 28, 2013
Langit Oranye
-->
Langit sore bersemburat oranye
Seakan matahari telah leleh ke latarnya
Ada seuntai awan melengkungkan senyum
Sepasang burung terbang membentuk kaca mata
Membingkai dua sorot cahaya begitu hangat
Yang anehnya membawaku melayat ke sebuah harapan yang kini
dingin dan pucat
biru
-->
"Aku
tak mengerti," katanya tiba-tiba memecah sepi, "kenapa biru itu sendu?
Kenapa sajak-sajak sering menghubungkannya dengan sesuatu yang risau? Padahal
bagiku, biru berarti kebebasan."
Aku merasa
bodoh karena tak bisa menjawab. Dan dia berhenti bertanya. Kami membatu,
menyatu dengan tanah dan rerumputan di taman rumah sakit ini, sambil memerhatikan
orang-orang sibuk berlalu lalang; dokter, suster, dan pasien di kursi roda
bersama pembesuknya (keduanya tampak lelah).
Aku
menatapnya. Wajah yang dulu pernah kukenal begitu riang, kini redup sinarnya
digerogoti sel-sel ganas yang tumbuh lepas kendali di rahimnya.
Lalu,
seperti ada yang memanggil dari langit, dia menengadah dan bibir tipisnya perlahan
melengkungkan sebuah senyum yang lemah. Langit biru tampak megah
dan magis seperti syair indah yang tak berujung. Kami terhipnotis. Padanya, sepasang burung sedang
asyik berkejaran. Begitu lekas, begitu bebas.
Kami pun
melayang bersama mimpi masing-masing. Dalam diam.
Wednesday, May 29, 2013
Film sederhana yang berhati besar
(Tulisan ini bukan review,
tapi ulasan perasaan.)
“Nama gue Adi, dan gue
punya mimpi.” –Reza Rahardian as Adi-
Pernahkah kamu, selesai menonton sebuah film, hatimu terasa
besar dan semua masalah menjadi kecil? Karena begitulah perasaanku setelah
menonton Finding Srimulat.
Jujur, film ini memang tidak sempurna. Tapi dengan lantang
aku berani bilang kalau Finding Srimulat punya hati yang tak kalah besar dengan
film-film besar Indonesia lainnya. And I had a really good laugh watching it!
Alasannya adalah; film ini sangat manusiawi karena
mengingatkan kita pada dorongan terbesar manusia untuk terus hidup yaitu, mimpi
dan untuk apa mimpi itu ada.
Cerita bermula dari seorang Adi yang baru saja kehilangan
pekerjaannya. Padahal sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Justru pada saat
putus asa itu, Adi memilih bukan untuk menyerah atau mencari jalan pintas, ia memilih
untuk mengejar mimpinya untuk membawa Srimulat kembali naik panggung.
Film memang bukan realita, tapi realita bisa belajar banyak
dari film. Karena inspirasi terbesar sebuah cerita adalah hidup itu sendiri. Dan
Finding Srimulat mengajarkanku tentang harapan, tentang mimpi, tentang tidak
menyerah, tentang sebesar apa mimpi kita? Tentang pengaruh sebuah mimpi bagi
hidup banyak orang ketimbang hanya bagi sang pemimpinya.
Kesederhanaan film ini mungkin salah satu kekuatannya karena
mewakili orang-orang biasa yang punya mimpi dan sedang berusaha untuk
mewujudkannya. Film ini bukan menjual mimpi, tapi film ini justru manifestasi
dari sebuah mimpi.
Kenyataan ironis yang bisa dimaklumi adalah, ketika aku
menonton, hanya ada lima orang di dalam satu ruangan teater yang besar itu.
Tapi tawa kami berlima berhasil meramaikan kesepian ruangan itu. Begitu juga
ketika aku mem-Path kalau aku sedang menonton Finding Srimulat. Banyak sekali
orang yang kaget atau bahkan menertawakan. Aku tidak kesal, karena aku mengerti
betapa skeptis orang-orang terhadap film Indonesia. Tapi hanya ini yang ingin aku
sampaikan kepada mereka, “Ada banyak hal indah dalam hidup yang akan terlewat
ketika kita menilai keseluruhan dari sebagian.”
Rasanya sampai sini saja dulu ungkapan perasaan saya. Semoga
akan ada sequel Finding Srimulat. :D
Maju terus Film Indonesia!
Wednesday, May 1, 2013
Sendiri pertama kali
Sendiri di sini bukan soal urusan hati, tapi perjalanan.
Karena besok, untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, aku akan pergi berlibur
sendirian.
Berpergian seorang diri adalah sesuatu yang selalu membuatku
penasaran. Dan beberapa jam lagi, rasa penasaran itu akan terjawab. Tapi
sekarang perasaanku amburadul; senang, takut, ragu, gak sabar.
Senang karena akhirnya aku punya keberanian untuk
menjalankan rencana ini. Kalau selama ini gua hanya bisa berkhayal bagaimana
rasanya seorang diri berada di tempat yang asing, sebentar lagi gua akan
benar-benar tahu apa rasanya.
Takut. Kesepian mungkin salah satu yang paling mengganggu.
Tidak ada teman untuk berbagi lelucon, berbagi obrolan, berbagi nyasar, berbagi
pegal, berbagi cerita. Dan ketika malam tiba, tak ada orang yang akan
menemaniku melewati malam.
Ragu. Apakah aku bisa betah selama enam hari berada jauh
dari teman-teman dan keluarga? Apakah aku bisa berhasil menulis cerita yang
menjadi alasan utamaku untuk menyepi? Apakah menjadi berpetualang sendiri akan
menjadi seseru apa yang aku bayangkan? Apakah aku akan beli tiket pulang lebih
cepat? Apakah aku pergi terlalu lama?
Gak sabar. Berada di tempat paling tenang dan menyenangkan
di Pulau Dewata dengan beberapa ide cerita yang siap untuk diterjemahkan dalam
kata-kata. Kesempatan mewujudkan ide bisnis yang sudah lama gua impikan.
Bertemu dengan orang-orang baru. Melakukan aktivitas-aktivitas baru.
Menjelajahi Ubud hingga kepelosoknya, naik sepeda. Menjauh dari segala hiruk
pikuk kota dan pekerjaan.
Keempat perasaan ini jadi gado-gado di dalam dada. Resah
seperti langit mendung yang baru mau turun hujan. Apa yang akan terjadi besok
tak akan ada yang tahu. Yang pasti, aku perlu melakukan ini, agar aku tahu
rasanya. Agar nanti ketika tua, aku tak akan bilang ke anak kalau sebetulnya
papa ingin tahu rasanya berpergian sendiri. Biar tahu apa yang hidup akan
berikan ketika aku lebih mengikuti kata hati daripada logika.
Semua sudah siap, aku tak lagi bisa mundur. Jadi apapun yang
terjadi, terjadilah. Aku akan membawa keempat perasaan ini bersama ke Ubud. Perasaan
yang mana yang nantinya akan menjadi dominan, kita lihat saja. Pokoknya, kali
ini aku tidak hanya omong doing, tapi aku berani melakukan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

