Friday, September 16, 2016

Pulang Ke Rumah

Setelah pergi lebih dari 9 bulan akhirnya saya pulang. Pulang ke rumah elektronik di negeri maya yang luas tak berujung, tempat aku bisa menjadi aku. Tidak semua rumah bisa membuatmu jujur tentang dirimu kepada, ya yang paling utama dirimu sendiri. Hanya di sini saja aku sungguh-sungguh bebas.

Rumah ini sudah begitu lama kutinggalkan, sampai butuh proses pemulihan akun untuk bisa membuka pintunya. Hidup yang menghisap waktu dengan rakus membuat aku hanya punya sedikit untuk diriku sendiri. Dan ketika aku ingin menikmati waktu me-time yang hanya sedikit itu, biasanya kantuk datang bahkan ketika aku baru selesai membaca halaman kedua novel enam ratusan halaman yang sudah 4 bulan tidak juga selesai aku baca. Padahal ceritanya tidak jelek, walau kadang terasa setengah-setengah.

Kadang aku berpikir, apa sih arti semua ini? Bangun pagi, siap-siap, berangkat ke kantor, lembur, pulang dengan tenaga yang sudah sekarat, beres-beres, merangkak naik kasur, tidur. Lalu besoknya siklus ini berulang lagi. Dan begitu juga besoknya, besoknya lagi, dan besoknya besoknya lagi. Sampai akhirnya weekend tiba dan menghembuskan angin segar. Tapi namanya juga angin. Sifatnya hanya numpang lewat. Sejuk sesaat lalu hilang. Hidup kok rasanya begini amat. Seperti menonton film yang sama berkali-kali.

Aku sebenarnya benci dengan pikiranku yang satu ini. Gak tahu terima kasih! Begitu aku suka memaki diri sendiri setiap kali pikiran ini timbul. Malu rasanya mengeluh seperti anak remaja yang terlalu dimanja orang tuanya, yang seluruh pikirannya dipengaruhi ego dan ketakutan. Tapi pikiran ini mencuat tanpa bisa dikendalikan. Sometimes I think that it has mind of its own.

Bila sudah begini, hanya satu obatnya. Pulang. Ke sini. Ke rumah elektronik di mana aku hanya tinggal sendiri, membuat peraturan semau-maunya aku, mengisi dan mengganti prabot rumah dengan kata-kata berbagai bentuk dan rasa. Hanya dengan begini lah semua kembali jadi baik. Hanya dengan begini lah aku bisa kembali menghadapi hidup yang monoton. Hanya dengan begini lah aku bisa terus menulis.

Kalau ada nasihat yang menganjurkan kalau kita harus bisa bersyukur akan semua hal yang kita miliki, senang atau susah, maka aku berterimakasih atas perasaan resah ini karenanya aku bisa kembali menemukan jalan ke rumah ini.

Saturday, February 27, 2016

Kehidupan yang tak terbatas


Sore tampak sendu dengan langit abu-abu saat aku mengembalikan dia ke alam. Dia yang tak akan pernah aku ketahui warna matanya, yang tak akan pernah aku dengar celotehnya, yang tak akan pernah membuatku khawatir dengan tingkah remajanya.
Hari itu, setelah melewati malam yang melelahkan, akhirnya papa dan mama bisa melihatmu. Kamu yang baru berumur 4 bulan tampak seperti sedang tertidur nyenyak dalam selaput bening yang memelukmu seperti doa yang tak terlihat tapi melindungi. Bentuk bibirmu milik mama. Tapi orang-orang bilang wajahmu mirip papa.
Entah kenapa papa harus merasakan senangnya pertama kali menjadi bapak dengan begitu menyakitkan. Tapi jawaban tak selalu bisa mengobati, jadi papa berhenti mencari dan mengalihkan energi untuk menerima kenyataan.
Chaka Issai Siswanto = kehidupan yang tak terbatas. Begitu kami menamaimu, karena kematian bukan sebuah akhir tapi sebuah jalan menuju ke kehidupan yang baru. Lahirlah kembali dengan tubuh yang sehat di dalam keluarga yang akan menyayangimu seperti kami menyayangimu.
Pergilah nak dengan tenang. Meski papa dan mama sudah merelakanmu, tapi kamu akan tetap jadi yang pertama buat kita. Kamu akan tetap jadi kakak buat adik-adikmu nanti. Kamu akan tetap jadi cucu kesayangan naynay dan yeye.
Setiap hari di dalam doa tak lupa kami titipkan peluk dan cium untukmu.
Selamat jalan Dedek Chaka.

-papa & mama-

Thursday, September 18, 2014

sepi

-->
Ada sesuatu yang menarik dari sepi. Ada suara-suara kecil yang biasanya selalu kalah oleh kebisingan. Suara-suara yang awalnya kita pikir tak pernah ada, dalam sepi terdengar lantang, mengungkapkan rahasia-rahasia tentang siapa diri kita sebenarnya. Mungkin itu kenapa sebagian orang takut sepi. Bukan sekedar takut kesepian. Mereka tidak suka diingatkan tentang dirinya sendiri. Lantas mereka pergi mencari kebisingan-kebisingan di luar sana untuk memendam sesuatu yang sudah lebih dulu terbisukan.
Ada sesuatu yang menarik dari sepi. Sesuatu yang sulit dimengerti, tapi begitu mudah dirasakan seandainya kita berani mendenga.

Sunday, September 14, 2014

Rio

-->
Namanya Rio. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Hanya tiga huruf itu saja. Sekilas tangkap nama itu terasa jenaka, seperti film kartun soal burung biru. Padahal, kenyataannya, ada cerita segelap tinta. Si pemilik nama itu adalah seseorang dengan mental terbelakang. Perangainya sulit ditebak. Kadang iseng. Kadang Marah. Kadang Diam saja. Bicaranya sedikit gagap dan semakin parah bila ia gugup. Suara tawanya serak, lantang, dan tersentak-sentak. Setiap mulutnya terbuka jaring-jaring liur muncul di sudut bibirnya. Sebagian orang suka mempermainkannya seolah-olah orang dengan masalah mental tak punya perasaan. Dan aku membenci mereka yang begitu.
Awalnya aku juga seperti orang kebanyakan. Jengah melihat tingkah Rio. Pernah aku memarahinya. Ia memang punya kebiasaan meminjam SMS untuk menghubungi Ibunya. Tapi selain itu, di saat kita lengah, ia suka membaca isi SMS di inbox. Suatu kali aku menangkap basah saat ia sedang tersenyum-senyum membaca isi SMS aku dengan seseorang yang istimewa.
Naik pitam dalam sekejap. Aku memarahinya dan melemparnya dengan sumpah untuk tidak akan lagi membiarkan handphoneku disentuh oleh Rio. Ia minta maaf berulang kali. Tapi sambil senyum-senyum geli karena mungkin masih terbayang isi SMS yang romantis najis.
Ia juga genit. Sering kali ia mendekati perempuan untuk berkenalan lalu minta nomor telepon. Sudah pasti gayung tak bersambut. Yang diminta kadang menjawab dengan senyum pahit. Namun Rio bukanlah Rio bila langsung menyerah. Ia terus mencari jalan tanpa sadar ia sudah menabrak tembok.
Awalnya ia punya beberapa teman. Sebagian memang tulus berusaha menerimanya apa adanya, tapi sebagian lagi hanya senang punya bahan untuk dipermainkan. Namun yang tulus lambat laun menyerah dan mulai menghindar. Sedangkan yang tidak tulus, memang tak pernah ada untuknya.
Aku mulai sering melihat Rio sendirian. Sembahyang sendirian. Makan sendirian. Beli minuman di warung, sendirian, Bahkan saat ia sedang ikut pertemuan yang ramai oleh umat, ia tetap sendirian. Semakin lama tubuhnya semakin kurus. Keriaan Rio yang dulu menjadi ciri khasnya telah hilang. Wajahnya seperti seorang pesakitan. Tirus, kantung matanya hitam, dan kulitnya pucat. Ia juga jadi lebih sering merokok dan bengong.
Hingga dua minggu yang lalu aku mendapat kabar kalau Rio sudah tiada. TBC menggerogoti tubuhnya dari dalam sampai menjadi kurus dan lelah hingga nyawanya tak lagi betah tinggal di sana dan akhirnya minggat.
It’s heartbreaking to know that he has gone.
Aku tak bisa datang pada saat malam kembang. Tapi dari cerita teman yang ada di sana, kakaknya meminta maaf kalau selama hidupnya, Rio sering mengganggu. Ia sebetulnya seorang anak yang pintar, meski terlihat sebaliknya.
Setelah ini mungkin orang akan begitu saja lupa kalau di dunia ini pernah ada seorang manusia bernama Rio yang dengan kita berbagi udara berpolusi yang sama, terik matahari yang sama, kemacetan Jakarta yang sama, dan harapan yang sama untuk menjadi orang yang lebih baik. Perannya mungkin tak terlalu penting dalam kehidupan kali ini. Tapi aku percaya, di kehidupan selanjutnya, ia pasti akan menjadi manusia yang hebat.
Selamat Jalan Kawan

Wednesday, July 23, 2014

Sesekali lepaskan saja!


Lepasinn .lepasin semua. Biarkan jemari menggila di atas keyboard. Bahkan ga sambil melihat layar laptop. Semua menjadi sesuka hati aja. Salah bebenar belakangan aja. Persetan dengan semua yang ada di dunia ini. persetan dengan semua orang yang negatif. Persetan dengan diriku yang juga seperti mereka. Lepaskan semua. Biarpun nanti itulisan ini cuma jadi sampah. Tapi kadang kita harus melepoaskan. Jangan lagi memenjarakan perasaan. Baiarkan sesekali ia meliar./ lepas kendali. Tanpa tali kekang. Seperti anjing yang di bawa jalan pertam kali. tak ada aturan. Pergi ke mana insting membawanya. Pergi. Pergi dari semua norma. Pergi dari hal hal yang kamu takutkan. Pergi dari anggapan orang. Pergi dari dunia yang palsu ini. hidup adalah persepsi. Persepsi yang membuat kita dibui. Takut dianggap jelek,. Takut dibilang salah. takut sendiri. gak punya teman. Tapi teman buat apa b? yang penting sahabat. Orang yang bisa menerima dirimu meski saat kamu sedang lepas, atau kelepasan. Lebih baik punya satu sahabat daripada 1000 teman palsu.

Thursday, July 17, 2014

Pagi

-->
AC berderu lemah dan monoton. Udara dingin menyayat kulit tak berselimut. Tas hitam di lantai kamar ditangkap ekor mata seperti kepala tak berbadan. Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita menyanyikan sebuah lagu mandarin dari radio kecil milik Papa. Nadanya mendayu-dayu. Suara penyanyinya merintih. Aku tak mengerti apa artinya, tapi aku bisa merasakan kesedihannya. Musik sember dari speaker “ember” milik tukang roti keliling mencemari pagi. Di antaranya, keponakanku menjerit menangis mencari perhatian. Pompa air berderu kasar seperti seorang tua sedang berusaha mengeluarkan dahak dari dalam tenggorokannya.
Suara-suara memang selalu memperebutkan pagi di tempat ini. Kadang terlalu. Namun aku tahu akan merindukan pagi yang bising ini ketika nanti tinggal sendiri. Namun aku akan punya pagi yang lain. Pagi yang baru. Pagi yang aku nantikan sejak setahun yang lalu. Pagi yang tidak diperebutkan. Pagi yang hanya menjadi milikku seorang.

Friday, July 11, 2014

Malam Berbahasa

Malam berbahasa. Meski tak lantang dan tak menantang seperti siang. Sayangnya sebagian besar orang tak peduli. Mereka tenggelam dalam gesa bersama langkah-langkah panjang dan wajah-wajah lelah. Padahal, seandainya mereka mau berhenti sejenak untuk mengamati dan mendengarkan derunya, gemerlap lampu-lampunya, gang-gang sepi yang menyimpan misteri, derak langkah kucing di genting, sepoi angin, dan bagaimana dedaunan berbisik seperti orang-orang sirik, maka mereka akan bisa mendengar malam menembang, tentang sebuah kisah yang lahir pada saat gelap dan berakhir dengan gelap.

Sunday, July 6, 2014

Sebuah Catatan Tentang Fanatisme


Banyak teman saya mengingatkan agar saya tidak terlalu fanatik kepada salah satu calon presiden. Hal itu membuat saya berpikir, apakah benar saya fanatik? Setelah saya rasakan, ternyata benar. Saya memang fanatik. Kalau boleh meminjam ungkapan pendukung sepak bola Italy, saya adalah Tifosi. Tapi fanatisme saya bukan ditujukan kepada salah satu calon presiden, tapi kepada sebuah negeri yang nantinya akan dipimpin oleh presiden tepilih.

Indonesia harus baru. Indonesia harus maju. Itu saja yang berputar-putar di dalam kepala saya dari masa awal kampanye dimulai sampai detik ini. Seandainya ada calon no 3 yang lebih baik dari no1 dan no 2, saya akan sepenuh hati memilihnya.

Sayangnya untuk sekarang, buat saya hanya calon no 2 yang terbaik untuk memimpin negeri ini. Orang itu sudah punya karya yang jelas, yang jelas-jelas berguna bagi banyak orang. Jadi saya tanpa ragu mengatakan saya fanatik dengan no 2.

Negeri ini butuh generasi baru bila ingin maju. Generasi baru yang bukan berasal dari yang baru di masa lalu.

Sebagai penutup saya ingin mengatakan:

Fanatisme itu perlu. Tak ada yang salah dengan Fanatisme, yang salah adalah persepsi Anda. Jadi jangan minta orang lain untuk tidak bersikap fanatik kalau Anda sendiri belum benar-benar paham artinya.

Sunday, April 27, 2014

Manusia dan Manusia

-->
Ada yang rasanya dingin di dalam sebuah mall besar di daerah Senayan, Jakarta. Bukan ice cream warna-warni yang dijual di etalase kaca, bukan juga AC yang menyembur. Melainkan sebuah mesin direktori yang baru dan mutakhir.
Mesin direktori itu menggunakan layar sentuh dengan tampilan peta lokasi 3D dan canggihnya lagi bisa mencetak petunjuk arah dan patokan jelas pada secarik kertas yang isinya seperti bertanya kepada seorang satpam (dari sini belok kiri setelah restoran A, lurus ke outlet B, belok kanan).
Sangat ringkes dan efisen. Begitu mudahnya sehingga ia seperti seorang manusia. Seperti manusia – justru sifatnya yang menyerupai tapi tak sama itulah yang menyesatkan.
Bukan fisik yang tersesat, tapi jiwa yang terletak jauh di dalam. Kemanusiaan hilang arah, kering makna. Hubungan antar manusia menjadi tak penting, remeh. Orang jadi tak perlu lagi bertanya kepada orang lain.
Karena mungkin dipikirnya manusia lebih berpotensi untuk eror ketimbang mesin. Orang bisa lupa atau sok tahu sedangkan mesin tidak memiliki ego.
Pada masa di mana orang lebih senang berdialog dengan gadget dan lebih nyaman bersosialisasi di dunia maya, mesin direktori super efisien ini menjadi sebuah personifikasi yang miris.
Seolah-olah manusia tidak butuh manusia lain untuk bisa mencapai tujuan. Kita jadi lebih percaya pada hal-hal yang mekanik daripada yang berdarah-daging. Toleransi akan kesalahan manusia melemah. Orang seringkali diharapkan menyerupai mesin. Harus cepat dan tidak boleh salah.
Padahal dari kesalahan kita baru bisa be-re-vo-lu-si dan ber-e-vo-lu-si. Kalau semua hal selalu tanpa cacat, maka tidak akan ada ruang untuk tumbuh. Kesalahan adalah luka begitu perih yang mendorong manusia untuk menjadi lebih baik.
Namun bukan berarti kita harus menutup diri dari kemajuan jaman. Suka atau tidak dunia akan terus maju. Diam tertinggal. Menutup diri terasingkan. Suka atau tidak, kita harus suka.
“There are just too many things we have to think about everyday, too many new things we have to learn. But still, no matter how much time passes, no matter what takes place in the interim, there are some things we can never assign to oblivion, memories we can never rub away.” –Haruki Murakami-
Ini adalah kutipan sebuah novel Haruki Murakami. Penulis kelahiran Jepang ini bicara tentang kenangan. Bila kenangan itu kita andaikan sebagai manusia, maka bisa dikatakan sehebat-hebatnya teknologi, kita tetap tidak bisa mengacuhkan keterikatan terhadap sesama. Teknologi meminimalisir kesulitan, tapi kepedulian manusia terhadap manusia lainlah yang mendorong terciptanya sebuah teknologi yang bisa memudahkan hidup manusia dari berbagai kesulitan.
***

Friday, March 21, 2014

I was going to drink by myself but instantly drop that idea because alone, I might open my laptop and start to work again.


Am I sick or just lonely?

Thursday, January 30, 2014

Menyembul di Kala Bengong di Jalan

Bila aku terlihat ragu mendengar jawabanmu yang ragu-ragu, jangan tersinggung. Lebih baik bilang tidak tahu daripada tahu padahal sebenarnya cuma pura-pura tahu.

--

Salahkah aku bila diam-diam mencintai hujan yang dihujat banyak orang?

--

Adakah manusia tetap manusia apabila di dalam bus yang penuh sesak seorang tua renta berdiri di depannya tapi ia tetap duduk dengan nyaman?

--

Aku bilang cinta.

"Taik kucing!" jawabnya.

"Rasa coklat." sambarku.

Dia terdiam bingung menatapku. "Gak lucu!"ketus ia menghajarku balik.

Aku terdiam. Dia terdiam. Canggung bergerak-gerak resah mencari jalan keluar.

Tuesday, October 15, 2013

Tak bisa dijelaskan

-->
Pada satu sore di bulan Oktober, aku bertemu dengan seorang wanita yang tak bisa lepas dari mataku. Kami tidak berkenalan, tidak juga berkomunikasi. Setidaknya, tidak secara langsung. Mata kami menyapa. Bahasa tubuh kami berbincang. Ia bukan wanita yang luar biasa cantik. Bahkan menurutku ia sedikit aneh atau sedikit keluar dari relnya.
Dari nametag-nya aku tahu ia bernama Natasha. Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi. Tubuhnya tidak tinggi semampai, lengannya cukup besar, buah dadanya kecil, dan ia memakai celana panjang yang kebesaran sekaligus kependekkan sehingga sedikit mengatung di atas mata kakinya. Rambutnya diikat buntut kuda dengan ikat rambut merah muda. Wajahnya tampak seperti orang Jepang dengan kulit putih, mata sedikit sipit, dan bibir tipis.
Bila kamu bertanya kenapa aku tidak bisa berhenti menatapnya, aku juga tidak tahu jawabannya. Ada sesuatu, jelas ada sesuatu yang membuatnya begitu menarik. Hanya saja aku tidak bisa menggambarkannya. Ini murni perasaan yang tak berbentuk. Ia bisa dirasakan tapi tidak bisa dijelaskan.
Jadi begitu saja aku menikmati memandangnya dari sudut tempat aku duduk. Tak ada keinginanku untuk mengenalnya lebih dekat atau bertanya sampai jam berapa shift kerjanya. Seperti ini saja cukup; dua orang asing yang saling mencuri pandang dan masing-masing menyimpan tanda tanya tentang siapakah sebenarnya orang yang sudah memerangkap mata.

Monday, October 14, 2013

Seperti Anak-anak

-->
Seorang anak perempuan, bertubuh gembil berpipi bakpau, menangis tanpa suara. Wajahnya yang lucu tiba-tiba penyok; bibir melengkung ke atas, kerut-kerut bermunculan di wajahnya, lubang hidung terangkat, mata terpejam, air mata meluncur turun ke pipinya. Mamanya mencubit lengan gembilnya karena ia tidak bisa diam. Lalu entah apa yang dikatakan mamanya, tapi dalam sekejap ia berhenti menangis. Aku berpaling sebentar ke layar laptopku. Beberapa detik kemudian, aku sudah bisa mendengarnya tertawa. Semua kembali baik-baik saja. Semudah itu. Sesederhana itu.
Andaikan kita bisa semudah itu melupakan masalah, seperti anak-anak.

Thursday, September 12, 2013

Seperti

 
Ada tatap yang menguapkan jarak di antara kita
Seketika aku…
Seperti mendekapmu
Seperti mencium wangi tubuhmu
Seperti menyentuh kesat kulitmu
Seperti mampu mencuri bibirmu
Seperti dua kakimu melingkar di pinggangku

Seperti dua tanganmu memeluk leherku
Seperti merasa hangat napasmu di wajahku
Seperti degup gugup jantung kita melebur
Seperti menjadi satu denganmu
Seperti semua orang mati kecuali kita
Seperti dunia berhenti berputar
Seperti ingin terus seperti itu
Seperti untuk selamanya

Sunday, July 28, 2013

Langit Oranye

-->
Langit sore bersemburat oranye
Seakan matahari telah leleh ke latarnya
Ada seuntai awan melengkungkan senyum
Sepasang burung terbang membentuk kaca mata
Membingkai dua sorot cahaya begitu hangat
Yang anehnya membawaku melayat ke sebuah harapan yang kini dingin dan pucat

biru

-->
"Aku tak mengerti," katanya tiba-tiba memecah sepi, "kenapa biru itu sendu? Kenapa sajak-sajak sering menghubungkannya dengan sesuatu yang risau? Padahal bagiku, biru berarti kebebasan."
Aku merasa bodoh karena tak bisa menjawab. Dan dia berhenti bertanya. Kami membatu, menyatu dengan tanah dan rerumputan di taman rumah sakit ini, sambil memerhatikan orang-orang sibuk berlalu lalang; dokter, suster, dan pasien di kursi roda bersama pembesuknya (keduanya tampak lelah).
Aku menatapnya. Wajah yang dulu pernah kukenal begitu riang, kini redup sinarnya digerogoti sel-sel ganas yang tumbuh lepas kendali di rahimnya. 
Lalu, seperti ada yang memanggil dari langit, dia menengadah dan bibir tipisnya perlahan melengkungkan sebuah senyum yang lemah. Langit biru tampak megah dan magis seperti syair indah yang tak berujung. Kami terhipnotis. Padanya, sepasang burung sedang asyik berkejaran. Begitu lekas, begitu bebas.
Kami pun melayang bersama mimpi masing-masing. Dalam diam. 

Wednesday, May 29, 2013

Film sederhana yang berhati besar

(Tulisan ini bukan review, tapi ulasan perasaan.)
“Nama gue Adi, dan gue punya mimpi.” –Reza Rahardian as Adi-
Pernahkah kamu, selesai menonton sebuah film, hatimu terasa besar dan semua masalah menjadi kecil? Karena begitulah perasaanku setelah menonton Finding Srimulat.
Jujur, film ini memang tidak sempurna. Tapi dengan lantang aku berani bilang kalau Finding Srimulat punya hati yang tak kalah besar dengan film-film besar Indonesia lainnya. And I had a really good laugh watching it!
Alasannya adalah; film ini sangat manusiawi karena mengingatkan kita pada dorongan terbesar manusia untuk terus hidup yaitu, mimpi dan untuk apa mimpi itu ada.
Cerita bermula dari seorang Adi yang baru saja kehilangan pekerjaannya. Padahal sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Justru pada saat putus asa itu, Adi memilih bukan untuk menyerah atau mencari jalan pintas, ia memilih untuk mengejar mimpinya untuk membawa Srimulat kembali naik panggung.
Film memang bukan realita, tapi realita bisa belajar banyak dari film. Karena inspirasi terbesar sebuah cerita adalah hidup itu sendiri. Dan Finding Srimulat mengajarkanku tentang harapan, tentang mimpi, tentang tidak menyerah, tentang sebesar apa mimpi kita? Tentang pengaruh sebuah mimpi bagi hidup banyak orang ketimbang hanya bagi sang pemimpinya.
Kesederhanaan film ini mungkin salah satu kekuatannya karena mewakili orang-orang biasa yang punya mimpi dan sedang berusaha untuk mewujudkannya. Film ini bukan menjual mimpi, tapi film ini justru manifestasi dari sebuah mimpi.
Kenyataan ironis yang bisa dimaklumi adalah, ketika aku menonton, hanya ada lima orang di dalam satu ruangan teater yang besar itu. Tapi tawa kami berlima berhasil meramaikan kesepian ruangan itu. Begitu juga ketika aku mem-Path kalau aku sedang menonton Finding Srimulat. Banyak sekali orang yang kaget atau bahkan menertawakan. Aku tidak kesal, karena aku mengerti betapa skeptis orang-orang terhadap film Indonesia. Tapi hanya ini yang ingin aku sampaikan kepada mereka, “Ada banyak hal indah dalam hidup yang akan terlewat ketika kita menilai keseluruhan dari sebagian.”
Rasanya sampai sini saja dulu ungkapan perasaan saya. Semoga akan ada sequel Finding Srimulat. :D
Maju terus Film Indonesia!

Wednesday, May 1, 2013

Sendiri pertama kali


Sendiri di sini bukan soal urusan hati, tapi perjalanan. Karena besok, untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, aku akan pergi berlibur sendirian.

Berpergian seorang diri adalah sesuatu yang selalu membuatku penasaran. Dan beberapa jam lagi, rasa penasaran itu akan terjawab. Tapi sekarang perasaanku amburadul; senang, takut, ragu, gak sabar.
Senang karena akhirnya aku punya keberanian untuk menjalankan rencana ini. Kalau selama ini gua hanya bisa berkhayal bagaimana rasanya seorang diri berada di tempat yang asing, sebentar lagi gua akan benar-benar tahu apa rasanya.

Takut. Kesepian mungkin salah satu yang paling mengganggu. Tidak ada teman untuk berbagi lelucon, berbagi obrolan, berbagi nyasar, berbagi pegal, berbagi cerita. Dan ketika malam tiba, tak ada orang yang akan menemaniku melewati malam.

Ragu. Apakah aku bisa betah selama enam hari berada jauh dari teman-teman dan keluarga? Apakah aku bisa berhasil menulis cerita yang menjadi alasan utamaku untuk menyepi? Apakah menjadi berpetualang sendiri akan menjadi seseru apa yang aku bayangkan? Apakah aku akan beli tiket pulang lebih cepat? Apakah aku pergi terlalu lama?

Gak sabar. Berada di tempat paling tenang dan menyenangkan di Pulau Dewata dengan beberapa ide cerita yang siap untuk diterjemahkan dalam kata-kata. Kesempatan mewujudkan ide bisnis yang sudah lama gua impikan. Bertemu dengan orang-orang baru. Melakukan aktivitas-aktivitas baru. Menjelajahi Ubud hingga kepelosoknya, naik sepeda. Menjauh dari segala hiruk pikuk kota dan pekerjaan.

Keempat perasaan ini jadi gado-gado di dalam dada. Resah seperti langit mendung yang baru mau turun hujan. Apa yang akan terjadi besok tak akan ada yang tahu. Yang pasti, aku perlu melakukan ini, agar aku tahu rasanya. Agar nanti ketika tua, aku tak akan bilang ke anak kalau sebetulnya papa ingin tahu rasanya berpergian sendiri. Biar tahu apa yang hidup akan berikan ketika aku lebih mengikuti kata hati daripada logika.

Semua sudah siap, aku tak lagi bisa mundur. Jadi apapun yang terjadi, terjadilah. Aku akan membawa keempat perasaan ini bersama ke Ubud. Perasaan yang mana yang nantinya akan menjadi dominan, kita lihat saja. Pokoknya, kali ini aku tidak hanya omong doing, tapi aku berani melakukan.