Wednesday, November 14, 2012

Masokis


Pada suatu ketika seorang teman yang juga bos (Sekarang mantan bos), pernah menasehati, “Siksa otak loe Win, sampai kering.” Tapi selaraskan dengan hati karena otak yang disiksa tidak dengan cinta akan melawan untuk merdeka, dan di saat itu lah kamu akan menjadi gila. ya! Menyiksa bisa dengan cinta, seperti seorang bapak yang membiarkan anaknya jatuh agar ia tahu bagaimana bisa bangkit.
Aku menjadi sedikit masokis karenanya, nasihat mantan bosku itu. Sakit kepala yang biasa kita rasakan setelah seharian berpikir, memberikan rasa puas yang meretas batas antara muak dan bangga. Kedua rasa itu mencair lalu larut menjadi sebuah zat serupa candu. Candu untuk terus melangkah, untuk terus memacu diri, untuk terus percaya walau sepertinya tak mungkin, untuk terus hidup walau kehidupan menjejalkan berbagai alasan untuk berhenti hidup.

Friday, November 9, 2012

Dengarkan lah

-->
Dengarkan lah
Setan memaki
Semua kata yang berduri
Telan semua dengan serakah

Dengarkan lah
Iblis berbisik
Semua kata yang syirik
Simpan semua walau gerah

Dengarkan lah
Semua syair neraka
Setiap bait gila
Lantunkan meski dalam nada yang lemah

Dengarkan lah
Kita tak pernah tahu
Tak akan pernah tahu
Tersirat di sana
Kata-kata penyembuh jiwa
Yang tak kau dapatkan dari menyembah terang

Karena sejatinya
Terang yang paling terang
Adalah terang yang keluar dari gelap
Gelap yang paling gelap
Adalah gelap yang bersembunyi di dalam terang.

Dengarkan lah

Tuesday, October 30, 2012

Hanya Lelah

Tadi malam tanpa maksud, aku berkunjung ke sebuah toko buku di sebuah mall kecil di kuningan. Di salah satu raknya aku menemukan sebuah novel yang sudah lama aku inginkan. lalu aku teringat tak punya uang cash. Spontan bayangan harus mencari mesin ATM yang entah ada di sudut mana dan setelah itu harus kembali ke toko buku ini membuatku meletakkan kembali buku itu di rak, berbalik dan melangkah pergi. Buku itu tinggal satu-satunya, tapi aku terlalu lelah.

Aku pulang naik bus “derita” berwarna abu-abu dari halte di tengah jalan Kuningan dan Setia Budi. Ini pertama kalinya aku pulang ke rumah dari halte itu. Untuk itu aku bertanya arah ke petugas. Ramah aku bertanya, dijawab dengan acuh. Mungkin ia buta. Aku di depannya, tapi ia menjawab sambil menengok ke sebelah kanannya. Dadaku panas, amarah terusik seperti ular yang terinjak, kata-kata setajam silet sudah berdesakkan minta keluar dari dalam tenggorokkan. Tapi itu yang biasanya akan terjadi. Malam ini aku terlalu lelah untuk tersinggung. Setidaknya oleh hal seremeh itu.

Bus “derita” penuh sesak. Aku berdiri memandang ke jalanan dari balik jendela bus. Sebuah mobil melintas. Di dalamnya seorang cowok sedang serius menyetir sedangkan cewek di sampingnya sedang autis dengan HP-nya. Sekilas aku berpikir enaknya kalau punya mobil sendiri gak harus berhempitan seperti kambing kurban yang sedang diangkut. Lalu tiba-tiba laju si mobil tersendat. Jalan macet di depannya. Dari dalam bus “derita” aku melewati antrian mobil yang mengular sampai ke ujung. Niat untuk beli mobil langsung kandas, aku terlalu lelah untuk punya jadi tua di jalan.

Ada berbagai jenis manusia di dalam bus “derita”. Tapi seorang cowok yang sedang berdiri di bagian belakang mengusik pemandanganku. Kepalanya botak… hm.. egh… aku menengok untuk melihat pakaiannya, ia pakai jaket kulit warna hitam. Egh… warna resletingnya putih bukan ya? Sekali lagi aku nengok. Bukan putih tapi silver. Dia sedang menjinjing tas. Tapi tas apa ya? Aku melihat lagi ke arahnya. Shit! Tote bag. Aku sampai menengok ke arah tasnya beberapa kali antara tak percaya dan jijik. Aku masih belum bisa menerima melihat cowok yang memakai tas itu. Ia seperti sedang membawakan tas pacarnya. Sekali lagi aku melihat ke arahnya, dan dia sepertinya sadar kalau aku sedang mengawasinya. Sial, nanti dia kira aku naksir lagi. Namun sekali lagi, aku terlalu lelah untuk peduli.

Orang-orang masuk dan keluar bus, semuanya tampak lelah dan muak, entah pada apa. Di depanku seorang cewek langsung tertidur begitu ia mendapat tempat duduk, di sebelahku seorang pria tertidur pulas, mulut mangap dan kepala mendongak seperti sedang menanti sesuatu jatuh dari atas. Kesibukkan menghisap nyawa dari diri kita masing-masing dan menjadikan kita zombie. Aku juga lelah seperti kebanyakan orang di bus “derita” ini, tapi aku tidak tertidur. Aku lelah, tapi bukan lelah seperti mereka.

Dari halte busway aku naik ojek. Seharusnya aku bisa jalan sedikit untuk naik angkot, tapi niatku layu dan tenagaku kering kerontang seperti jemuran yang lupa diangkat. Jadi aku tak peduli, ojek pertama di depanku langsung aku sambar.

Sesampainya di rumah, aku membayar ongkos Rp 7000,- rupiah. Tarif standar yang sebelumnya sudah aku dan supir ojek sepakati bersama. Well, setidaknya begitu kesimpulanku. Dia cuma diam waktu aku tawar. Diam itu emas, tapi diam juga bisa berarti setuju. Ketika sampai di depan rumahku dan aku menyodorkan ongkos, si supir ojek lagi-lagi diam. Lalu dua detik kemudian ia menyambar uang di tanganku dengan gerakan lambat, seolah-olah gesturnya berkata, “pelit amat sih”. Tingkah si tukang ojek seperti merangkum semua kekesalanku selama perjalanan pulang. Aku ingin meledak, tapi lelah menelan emosi seperti monster gemuk yang lambat. Lelah yang asing sekaligus akrab. Aku pun mengalah dan melangkah lunglai masuk ke dalam rumah.

Lelah ini tak punya nama. Bukan lelah fisik atau lelah jiwa, dan juga bukan lelah bekerja atau lelah bertengkar. Lelah ini tak berdefinisi, ia murni hanya rasa.

Sunday, October 28, 2012

Penuh Manusia Tapi Tanpa Kemanusiaan


Kemana perginya kemanusiaan di kota ini? Kota yang menjadi bagian sebuah bangsa besar, yang konon sangat dikenal dengan keramahan dan ketulusan hatinya, dengan semangat membantu orang lain dan dengan senyum yang hangat. Kalau dulu memang pernah seindah itu, sekarang negara ini sudah bukan seperti itu. Negara ini sudah berevolusi menjadi monster pemarah yang berdarah dingin. Kota ini buktinya.

Suasana jalan yang carut marut dan kurangnya peradaban dalam sistem transportasi maupun kebersihan membuat Jakarta menjadi lebih seperti tempat sampah besar daripada kota megapolitan.

Pembangunan memang terjadi di beberapa tempat, tapi sebagian besar adalah pembangunan yang bersifat konsumtif seperti mall. Entah sudah ada berapa banyak pusat belanja kecil dan besar di kota ini. Bagaimana dengan pembangunan sarana lain? Jalur hijau terpangkas sedikit demi sedikit untuk kepentingan perusahaan atau bahkan untuk membangun transportasi umum yang gagal, Transjakarta.

Jalur pejalan kaki yang hanya sedikit dijajah oleh penjaja makanan atau warung-warung rokok, bahkan kadang untuk tempat parkir. Transportasi umum seperti kereta dan bus sudah seperti kendaraan untuk mengangkut kita ke neraka. Belum lagi masalah polusi dan sampah yang setiap tahunnya memberikan sumbang sih besar pada jumlah jenis penyakit dan angka kematian.

Terletak dekat dengan garis khatulistiwa membuat Jakarta sebagai salah satu kota dengan iklim tropis yang ekstrim. Pada musim kemarau, hawa panas dan udara lembab membangkitkan milyaran pasukan nyamuk berbirahi tinggi (karena nyamuk mengisap darah bukan untuk makan tapi beranak). Hal ini salah satunya disebabkan oleh kotornya kali dan got di Jakarta.

Udara panas juga mempengaruhi suhu hati manusia-manusia Jakarta. Aku sering berpikir, kalau sebetulnya, kota ini diisi dengan orang-orang yang marah. Tidak seharipun pernah kita luput untuk mengeluh, menghujat, atau memaki keadaan di kota terkutuk ini. Belum lagi angka tawuran warga dan pelajar yang terus bertambah.

Di kota ini tak aneh bila kita mendengar seseorang dibunuh karena ia menyerempet motor, padahal yang diserempet tidak jatuh apalagi terluka sama sekali.

Hidup di kota ini kita tidak bisa lepas dari rasa stress. Bahkan saat kita masih di dalam rumah, suara sepeda motor yang lewat dengan bunyi knalpot seperti teriakan setan, sudah berhasil menggores kesabaran kita. Lalu saat kita keluar rumah, suasana lalu lintas dan polusi kembali melukai kesabaran kita.

Semua itu ditamah ulah para wakil rakyat yang selalu membelah macet dengan menyingkarkan rakyatnya menggunakan bunyi sirene dan otoritas para orang-orang yang disebut pembela rakyat.

Setelah kalah sikut dengan para tirani, sesama rakyat biasapun juga saling sikut-sikutan. Orang yang berusaha melakukan hal benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Bila kita berhenti tertib di belakang garis putih sebuah lampu lalu lintas, orang di belakang akan memaki lewat klakson kendaraan bila tidak dengan mulut mereka. Itu kenapa di kota ini, orang yang berusaha untuk menjadi benar adalah alien.

Kalau keadaannya seperti ini, apa pantas kota ini disebut sebagai kota manusia? Rasanya lebih pantas ia menyandang sebutan kandang binatang.

Sebagian orang berusaha untuk menjadi benar, tapi jumlahnya terlalu sedikit. Dan mereka hanya rakyat biasa yang sering terjepit di antara mereka yang ada di atas dan mereka yang ada di bawah.

Sampai kapan kah kotaku ini bisa menjadi beradab? Ada begitu banyak manusia di kota ini, di republik ini, tapi hanya ada begitu sedikit kemanusiaan.

Wednesday, October 3, 2012

sedikit sok tahu, mungkin


Aku mungkin tidak tahu apa-apa soal perkawinan. Menikah saja belum, tapi ijinkan aku mengeluarkan sedikit resah yang menggumpal di dada.

Semua berawal dari hari minggu sore di sebuah café kopi bernuansa hijau dan coklat. Seperti biasanya, setiap hari libur tempat itu selalu sesak pengunjung yang duduk untuk menikmati kopi sambil bekerja atau bergosip dengan teman.

Setelah menunggu hampir 15 menit, aku berhasil mendapat tempat di sudut ruangan. Di sisi kanan seberangku duduk begitu dekat, seolah-olah kita saling kenal, seorang wanita berambut panjang dan berkaca mata yang aku tafsir umurnya belum empat puluh tahun. Ia tersenyum dan mempersilahkan  dengan ramah ketika aku bertanya apakah bangku itu kosong.

Entah karena kita duduk terlalu dekat atau si wanita memang ramah, atau mungkin keduanya, ia memulai pembicaraan. Aku tidak terlalu ingat awal obrolan kita, tapi aku ingat ia bertanya apakah aku sudah menikah. Belum sempat aku menjawab, ia lantas menanyakan umurku. Begitu mendengar jawabanku, ia tampak sedikit terkejut. Padahal aku belum setua reaksinya. “Tapi sudah punya pacar kan?” logat Surabaya terdengar kental setiap kali ia bicara. Sudah, jawabku. Lalu hening mengambang, seolah-olah dia sedang meresapi jawabanku.

“Kelamaan. Kelamaan. Kelamaan.” Ia mengulang-ngulang kata itu seperti bicara dengan mahkluk imajiner di depannya karena ia tidak menatapku tapi memandang lurus. Ia memalingkan kepalanya ke arahku dan mengatakan kalau ia menikah di umur 20 tahun.

Aku tersenyum mendengar jawabannya, tapi ada resah yang menyesakkan rongga dadaku. Dua puluh tahun? Apa yang sudah kita tahu tentang hidup dan mungkin jati diri sendiri saja belum sepenuhnya ditemukan.

Tak lama kemudian seorang pria, yang aku duga suami si wanita, datang dan bergabung dengan kami. Begitu si pria mendaratkan pantatnya di bangku kayu warna coklat muda, si wanita langsung melempar informasi singkat padat dan menohok kepadanya. “Ini loh, udah punya pacar tapi belum menikah”, ia menunjukku dengan tatapannya dan memojokkan aku dengan nada bicaranya. Lalu ia menyebut umurku seolah-olah aku sudah berumur 50 tahun.

Reaksi si pria juga tidak kalah “lebay”. Ia terperanjat hingga tubuhnya mundur seperti ada yang mendorong dadanya. Lalu kata-kata pertama yang meluncur dari mulutnya sama dengan istrinya, “Kelamaan, kelamaan.” Ia menggeleng-geleng lalu mengambil gelas kopi di depannya, dan setelah meneguk isinya ia mengulang sekali lagi, “Kelamaan”. "Saya menikah umur 20". Lagi-lagi aku tersenyum pahit, sesak yang sama kembali terasa di dada.

Si pria memang suami si wanita. Mereka berdua menikah pada umur 20 tahun. Sekarang anak pertama mereka sudah kuliah, dan yang satu lagi baru akan masuk SMP.

“Pacarku masih mau sekolah ke US.” Jawabku ringan. Si wanita terkejut sambil mengulangi kata-kataku seolah tak percaya apa yang ia dengar. Sambil memincingkan mata dan bicara suara setengah berbisik seperti akan menyampaikan sebuah konspirasi besar, si wanita bilang kalau menurut pendapatnya aku jangan mengijinkan pacarku untuk pergi ke US. Saat aku tanya alasannya jawabannya yang tersurat adalah Amerika itu negara bebas. Sedangkan jawaban yang tersirat di dalam ekspresi dan nada bicaranya adalah bagaimana bila pacarmu suka dengan orang lain bagaimana?

Lidahku terasa getir. Bukan aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu dan bukannya aku tidak pernah takut kalau sampai hal itu benar-benar terjadi. Tapi siapa aku hingga punya hak untuk membendung impian orang lain atas dasar ketakutanku. Meski ia pacarku sendiri. Mimpi adalah energi hidup paling murni dan dahysat. Membunuh mimpi seseorang sama dengan mencabut nyawanya.

Kalau memang kita berjodoh untuk bersama sampai tua, maka tak ada jarak atau makhluk apapun yang mampu menghalangi. Bila tidak berjodoh, gara-gara seekor kecoa saja hubungan bisa bubar jalan. Jadi tak ada alasan buatku untuk terlalu khawatir.

Hidup itu adalah perjalanan menuju sebuah tujuan. Kalau tujuanmu adalah menikah, mungkin penting bagi kamu untuk menikah secepatnya. Lagipula siapa juga yang tak mau impiannya bisa cepat terwujud. Tapi kalau kau punya rencana lain untuk hidupmu, sebuah impian untuk menjadi seorang penulis misalnya, atau seorang penari, atau seorang pebisnis, maka usia berapapun kamu nanti menikah, muda atau tua, bukan suatu masalah besar. Yang terpenting adalah menemukan seseorang yang bisa mengerti dan mendukung impianmu.

Percayalah, orang yang punya banyak karya adalah orang paling seksi dan menarik yang akan pernah kamu jumpai. Dan aku tidak percaya orang-orang seperti itu akan mati kesepian, kecuali memang ia yang memilih seperti itu.

Sunday, July 1, 2012

Bye-bye


Tak ada keterpaksaan yang lebih menyakitkan daripada terpaksa meninggalkan sesuatu yang masih kita cintai. Namun kadang kenyataan berkehendak, dan kita sebagai aktornya hanya bisa nurut. Begitulah perasaanku meninggalkan kantor yang sudah setahun lebih aku huni.

Aku masih ingat pertama kali aku interview di kantor ini. terlambat satu setengah jam karena hujan dan macet parah. Lalu salah naik lift dan sampai ke karaoke plus-plus (satu lift dengan pelayannya pula). Lalu bertemu dengan dua orang bos di sebuah ruang meeting yang remang.

Banyak yang bilang, anak agency multinational, sombong. Apalagi sama orang yang cuma berpengalaman di agency local. Tapi kedua orang yang meng-interview gua, benar-benar memutarbalikkan gossip itu. Mereka begitu ramah dan santai, hingga nantinya ketika aku resmi bekerja untuk mereka, hati yang baik itu tidak berubah.

Kantor ini tidak terisi dengan cubicles yang tertutup, tapi hanya sekat yang terbuka. Bahkan satu-satunya orang yang punya ruangan sendiri hanyalah bos tertinggi kreatif (executive creative director). Yang lain berbagi ruangan yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi sapaan hangat yang sama.

Hampir semua orang suka tertawa dan berbagi tawa. Bahkan beberapa orang saling membantu walau kita berbeda tim. Celetukan di ujung ruangan, bisa menular ke ujung yang lain. Hingga akhirnya seluruh ruangan yang besar itu tertawa bersama, walau yang tertular tidak tahu kehebohan apa yang terjadi di sana.

Begitu juga dengan makanan. Satu orang bawa makanan, semua orang dari seluruh penjuru ruangan datang mengerubuti. Persis semut merubungi gula. Dan tak pernah ada yang marah makanannya diambil oleh orang dari tim lain.

Berbagi senyum, tawa, kekecewaan, kemarahan, makanan, keseruan, ide, dan passion. Berbagi. Itu lah satu kebiasaan yang membedakan kantor ini dengan kantor multinational yang lain. Kadang aku merasa kalau kami bukanlah rekan kerja, tapi sebuah keluarga besar.

Agency global rasa local. Begitu saja hatiku tertambat di tempat ini.

Aku tak ingin pergi. Begitu jujurku di depan ketiga petinggi yang memegang nasibku di perusahaan itu. Walau tawaran datang dengan iming-iming yang menyilaukan mata. Berikan aku di bawah apa yang ditawarkan perusahaan itu. Pintaku dengan yakin. Mereka akan memikirkannya terlebih dahulu. Okay. Aku menjawab penuh harap.

Satu minggu. Dua minggu. Sampai minggu ketiga hampir tuntas, tidak juga ada kabar. Statusku gantung, seperti habis nembak cewek, tapi gak ditolak, gak diterima juga. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah kelain hati. Aku tanda tangan kontrak dengan perusahaan baru.

Kepergianku kali ini terasa jauh lebih berat daripada yang sudah-sudah. Butuh waktu yang panjang, usaha yang tidak mudah, dan keberuntungan yang besar sampai aku bisa bekerja di perusahaan ini.

Tidak tanggung-tanggung, lima tahun melanglang buana di agency rakyat. Babak belur dengan system yang berantakkan. Akhirnya aku berhasil naik kasta ke agency para dewa. Kumpulan orang-orang berotak kreatif sangar, diatur dengan system yang tertata rapi.

Semua anak kreatif iklan pasti bermimpi untuk bekerja di salah satu advertising agency multinational. Selain baik buat belajar, juga baik buat kantong, gengsi, dan tentunya CV. Namun sekarang, begitu mimpi jutaan umat kreatif di Indonesia menjadi milikku, aku lepaskan begitu saja. Hati pernah memaki bego, dan masih sampai sekarang, walau hanya berbisik.

Orang bilang waktu melesat cepat ketika kita bahagia. Dua puluh empat lantai di atas permukaan tanah, di dalam ruangan besar ini, setahun tiga bulan terasa sekilat. Dan sekarang aku sudah berpijak kembali ke tanah, di sebuah tempat baru, siap berkarya. apa yang sudah tidak hanya akan menjadi seepisode cerita hidup tapi juga inspirasi. Siapa tahu hidup memberi kejutan dan kita bisa bersama lagi.

Bye and I'll never forget.

Friday, June 15, 2012

Tentang anak kecil, seekor anjing dan sedikit buaya

 
Kadang orang suka lupa kalau anjing bukan manusia dan anak kecil bukan orang dewasa
Saya punya seekor anjing terrier berbulu emas. Sekilas lihat ia seperti golden retriever namun dengan skala tubuh yang jauh lebih kecil. Tingginya setengah betis orang dewasa. Anjing ini, yang kami beri nama Leo, seperti anjing-anjing lain pada umumnya, suka poop dan pipis sembarangan. Dan percayalah, kami sudah mengajarinya beratus kali mulai dengan memukul pantatnya, membentaknya seperti kompeni membentak tahanannya, sampai menasihatinya baik-baik dengan mata menatap mata seolah-olah bicara dengan manusia. Namun tetap saja, sesekali ia tetap mengencingi kaki meja kayu, tembok belakang rumah, atau lemari kaca.

Kekeraskepalaannya itu tidak berhenti hanya di situ. Setiap ada orang yang hendak masuk ke dalam kamar tidur, Leo, dengan jurus ninjanya, sering sekali menyelinap ke dalam demi mencari udara sejuk AC. Walau tak jarang kita sendiri yang mengijinkannya ikut masuk ke kamar. Hingga pada suatu malam, ketika sedang asyik tidur selonjoran di kolong kamar kakakku, ia diusir keluar dengan paksa. Naluri spontan seekor binatang ketika diserang adalah bertahan. Tapi karena ia tidak berani menggigit, ia hanya bisa menyalak galak. Alhasil keponakanku terbangun lantas menangis sejadi-jadinya karena kaget.

Penjahatnya sudah jelas adalah Leo. Kakakku langsung membentak dan memukul pantatnya. Sebagai seorang ayah yang baik, walau ayah dari seekor anjing, aku langsung keluar kamar dan berusaha melindungi Leo. Seperti seorang ibu yang berusaha kelihatan bertanggung jawab, ia membela anaknya. Tak lama suaminya datang dan ikut-ikutan ingin menyalahkan Leo. Spontan aku membalas serangan mereka dengan pertanyaan retoris yang menampar-nampar, “Siapa yang kasih Leo masuk ke kamar? Kenapa juga ngusirnya pakai ditendang-tendang, kenapa gak di gendong? Lupa ya kalau Leo itu cuma seekor anjing yang gak mungkin dikasih tahu langsung nurut gitu aja. Kosa kata bahasa manusianya cuma sebatas: makan, jalan-jalan, minum, ada siapa tuh, sini, yuk, sit down, shake hand, dan namanya sendiri, Leo.” Lucu, kita yang manusia yang dianugrahi akal dan pikiran mengharapkan anjing untuk mengerti kita, bukan sebaliknya.

Apa bedanya dengan orang-orang yang membunuh seekor buaya yang telah memakan seorang anak desa. Kenapa yang salah si buaya? Bukan kah itu murni hanya insting alam? Apakah seekor buaya bisa berpikir, oh itu anak manusia bukan kambing, jadi jangan dimakan. Kenapa bukan orang tuanya, yang lalai mengurus si anak yang dibelah perutnya? Manusia memang suka menghindar dari kesalahan menggunakan jari telunjuknya. Lebih mudah daripada mengaku salah.

Jadi kalau anjing kita menggonggongi seseorang sampai orang itu ketakutan, siapa yang salah? Kalau anjing Anda sesekali pipis sembarangan, siapa yang salah? Kalau lain kali anjing Anda tidur di dalam kamar dan menolak untuk keluar, siapa yang salah?

Ada orang yang punya kebiasaan menggesek-gesekkan kakinya ke kasur sebelum tidur, ada juga yang kebiasaannya kalau lagi mikir gak bisa berhenti bergerak, tapi ada juga yang kebiasaanya menyalahkan orang lain. Begitu terbiasanya seseorang menudingkan jarinya ke orang lain, lama kelamaan menjadi reflek. Logika dilumpuhkan insting memegang kendali. Siapa yang lebih binatang, anjing atau kita?

Tapi bisa saja ada orang yang menyalahkan si anak. Dia pasti bandel dan susah dibilangin. Sudah sepuluh kali dikasih tahu tidak boleh main ke dekat sungai, tapi terus saja ia kembali ke sana. Untuk Anda yang berpikir seperti itu, saya cuma akan bilang, NAMANYA JUGA ANAK-ANAK! Mereka bukan orang dewasa yang sudah bisa berpikir jauh. Di dunia mereka yang ada hanyalah rasa penasaran dan bermain.

Kita harus menjadi seperti kaset rusak, mengulangi refain yang sama, jangankan sepuluh kali, tapi mungkin bisa ratusan kali. Capek? Semua orang juga harus mengalami proses itu. Anak bukan mie instant yang tinggal cemplung, dua menit kemudian matang. Anak itu seperti sebuah novel. Ditulis dengan hati dan logika. Lalu dibaca lagi, ditulis lagi. Dengarkan pendapat orang, ambil yang benar, lalu tulis lagi. Sampai akhirnya terjahitlah sebuah cerita yang bisa menginspirasikan orang banyak. Mengurus anak memang gak semudah dan senikmat proses pembuatannya. But I believe, if we raise children with compassion, dedication and love, then it’s gonna be one magical journey.