Sunday, January 1, 2012

Old habit to start a New Year

It was fifth teen minutes to 2012. But the dark sky was already bombarded with non-stop fireworks that sounded like a gun war. I was sitting on my knees on wooden floor inside a Buddhist temple. The place was filled with more than 1000 people. Let alone sitting comfortably, I was hardly move my feet. Soon enough, pain was crawling in both of my lags. I was forced to use every inch left of the empty space around me to stretch and free the blood circulations. This torturing situation plus the struggle to keep my eyes open despite the long and monotone pray was definitely excruciating.

For as long as I could remember, I’ve spent the last second of every year in my life, praying in the temple. Sometimes I wonder what it would be like to spend New Year doing something else, something less painful and more fun like being in the city. I imagined myself in the ocean of people, where together we’re counting down the last 10 seconds of a year and then let ourselves amazed by how fireworks work their magic to lighten up the dark sky.

It could be nice or completely the opposite. But tell you the truth that thought only goes as far as my imagination. I don’t really wanna do it, and even if I have to, there’s should be a really damn good reason.

Because to me, what I’m doing in the beginning of a year is like creating the basic story of a novel or a short fiction. When you got it wrong, it would be wrong all the way to the end. So I pledge my New Year resolutions and hopes within a pray. I pray for a great year not just for myself, but also for the whole nation and the rest of the world.

Have a blast New Year people!

Tuesday, December 27, 2011

Hujan datang lalu...

Hujan datang, orang-orang minggir, seperti pasir disapu ombak.

Bumi menangis, orang-orang meringis kedinginan. Sebagian saling mendekap menyekap hangat. Sebagian berlarian ke jalan menangkap hujan.

Hujan runtuh, orang-orang berteduh dalam cerita di sebuah warung kecil pinggir jalan. Asap rokok berulang-ulang mengepul dari mulut si pendongeng, meliuk-liuk membentuk imajinasi setiap pendengarnya.

Alam bergemuruh, anak-anak hujan melayang bersama angin yang rusuh, larut dalam air teh yang keruh dan menempel di dahi orang-orang seperti peluh yang meleleh.

Langit mencair, dingin merayap di punggung seperti ular di dalam baju. Orang-orang menggigil tak mampu bergerak bagai batu.

Malam merintik di atap genting, seperti jutaan titik yang dihujamkan. Perlahan suara orang-orang menyenyap, tinggal angin yang bersuit-suit.

Tuesday, November 8, 2011

Sebuah catatan di penghujung senin

Senin datang dan pergi secepat Sabtu menyapa dan mengucap selamat tinggal. Betapa aneh bagaimana kita sering memperlakukan hari seperti anak tiri dan anak kandung. Padahal apapun harinya semua sama.

Mungkin karena kita terlalu sering memperkosa waktu. Terpaksa bangun pagi, bahkan kadang sebelum matahari membuka matanya dan saat bulan sedang berjuang menahan kantuk. Terpaksa mandi pagi, masak pagi, makan pagi dan berangkat pagi. Lalu menjalani hari dengan aktivitas yang HARUS dijalani.

Padahal seharusnya kita menikmati setiap lekuk tubuh waktu dengan romantis walau dipengaruhi birahi yang meledak-ledak.

Senin tak sama baiknya dengan rabu juga tak sama buruknya dengan Sabtu. Semua sama bila kita menjalani dengan hati. Bila kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita sayangi. Bila kita melakukan pekerjaan yang kita cintai.

Mari berhenti membenci Senin karena sebetulnya kita sedang membenci hidup kita sendiri. Membenci detik demi detik yang kita lalui.

Cintai Senin seperti kamu mencintai Sabtu atau Minggu. Tapi lebih penting lagi, cintailah hidup seberat apapun. Karena hidup akan tetap keras tak perduli kamu suka atau tidak. Kalau hal itu rasanya susah setengah mati, bukan berarti kamu tak mampu menjalani, tapi mungkin kamu belum berusaha cukup keras untuk mencari.

Temukan cinta untuk seninmu.

Sunday, October 23, 2011

Sesekali dalam hidup, lepaskan saja

Aku menulis seperti setan mengumbar aurat. Siapapun jadi sasaran, Tuhan sekalipun. Aku menulis seperti seorang pemain piano menekan tuts, setengah keahlian, setengah lagi murni naluri. Aku menulis bagai seorang anak kecil menggambar di sebuah lembar putih. tak perduli absurd atau indah, tak perduli warnanya cocok atau tabrakkan yang penting membuatku senang. Aku menulis seperti seorang pemabuk yang memuntahkan isi perutnya. Di mana saja, kapan saja, tak perduli aturan.

Aku belum membaca isi paragraph pertamaku. Sesuatu yang biasa aku lakukan setiap kali aku lompat ke paragraph ke dua. Terasnya harus bagus agar ada orang yang mau bertamu, begitu kata seorang jurnalis ahli. Akh persetan dengan itu. kalau tulisanku ini rumah, maka aku membangunnya sesuka hati. orang tidak suka? Itu urusan mereka. kalau mereka suka, ya aku hanya bisa bilang, selamat datang, selamat menikmati seadanya.

Aku menulis dengan hati. hati yang bebas. entah di mana aku akan tiba. Jujur aku tak sepenuhnya perduli. Aku hanya ingin menuliskan apa yang spontan lahir di dalam pikiranku. Mungkin aku dipacu oleh irama riang dari earphoneku sehingga jariku terpancing untuk melompat girang di atas keyboard.

Siapa bilang hanya belanja yang bisa impulsif. Menulis juga seharusnya bisa. tulis. Tulis. Tulis. Abaikan rasa takut jelek. takut tak ada yang mengerti. Sekali seumur hidup lakukan sesuatu sesuai hatimu. Ya! hatimu. Kesenanganmu. Tutup matamu, lupakan semua yang ada di sekelilingmu, lepaskan hatimu dan biarkan ia menari. Sesekali dalam hidup kita perlu berhenti mendengarkan apa kata orang dan menjadi diri kita sendiri untuk melakukan apa pun yang bisa membuat kita bahagia.

Sunday, October 16, 2011

Choice by choice, layer by layer

I wish I could tell the future so I could know that what I am going to do or the decision that I am going to take is the right one. But it’s impossible to know whether the bomb is going to explode or not if I haven’t even pulled the trigger yet. You could predict the possibilities, of course, but you would never foretell the future. Unless, you are the “talented”. So there is nothing else I can do but to take the road that many before me have taken, the long and winding road.

Life's shaped by the choices we have made. Resigning from our job, breaking up with lovers, loving someone who didn’t love you back (then deciding to keep on loving her), leaving your family and friends, punching someone in the face, running away from home and from school, stealing that first kiss, having that naive first sex, living by yourself, helping other people, hating someone, forgiving someone, forgiving yourself, having a dog or a cat, or a snake, or a bear. Some of the choices ended up with happy ending, but some others would take us to a dark and grimy place. But at least we stand up for ourselves, for what we believe is right.

However, there is always a choice not to chose and stay in our comfort zone for the rest of our life. Just forget about hopes and dreams and stick with reality and reality only. But then, the world (or at least your world) would be colorless, tasteless and meaningless. John F Kennedy would have never sent men to the moon, Thomas Alpha Edison would have never found bulb and for that the world would be a dark and creepy place to live.

Life is about the risks we take, the impossibilities that keep us trying again and again, harder and harder, the failures which make us stronger, because life is not like a fast food. It is like baking a kue lapis (layer cake). You have to do it layer by layer until it becomes one beautiful and delicious cake.

Tuesday, September 27, 2011

It's not about how it looks

Love comes in many different forms. Some tall, some short. Some dark, some full of colors. Some blunt, some puzzling. Some worth the extra miles, some are not. Some cheesy, some classy and some are somewhere in between. Some happily one-night-stand, some happily ever after. But no matter what kind of shape love showed upon you, it will always gives the reason to live more, if you really know how to love.

Monday, August 29, 2011

If life is determined by door-prize

Tepat jam 12 siang, lebih dari 100 orang berkumpul di sebuah ruangan bernuansa putih beraksen hijau. Mereka tampak resah walau disembunyikan dalam canda dan tawa. Di depan mereka sebuah meja panjang bertaplak putih digelar, di atasnya ada sebuah mangkuk kaca besar yang berisi kertas-kertas bernomor yang akan menentukan nasib mereka.

Will they get out of the room as a winner or a loser?

Hari itu adalah ulang tahun kantor yang ke 76, dan setelah perayaan sederhana yang meriah, selanjutnya adalah acara yang ditunggu-tunggu, DOOR PRIZE. Berbagai hadiah seperti blackberry, mixer, sampai Ipad 2, siap dibawa pulang mereka yang beruntung. Bagi yang kurang beruntung, voucher belanja 50 ribu adalah kompensasinya.

Semua orang menunggu namanya dipanggil dengan cemas. Semua orang tampak berharap-tapi-tidak-berharap, seakan-akan dengan begitu bisa mengelabui nasib. Seolah-olah dengan menjadi pesimis, mereka tidak akan kecewa bila nanti tidak beruntung.

Semua orang pasrah di tangan sang juru panggil. Seorang wanita bertubuh gembil dan berwajah ramah itu menjadi kaki tangan Tuhan, sedangkan Tuhannya adalah mangkuk kaca berisi kertas. Kita hanya bisa menunggu tanpa tahu kapan. Menunggu tanpa pasti dapat. Tapi toh tetap kita jalani.

Setiap ada nama orang yang dipanggil, resah langsung menyesaki seluruh ruangan. Orang pertama mendapatkan… Voucher. Orang kedua, ketiga sampai orang ke dua puluh juga voucher. Lalu orang pertama yang beruntung di hari itu mendapatkan sebuah Blackberry. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah, tapi di balik euphoria itu, sebenarnya semua orang memendam iri. Tak lama kemudian dua orang beruntung muncul lagi. masing-masing mendapat kamera dan blackberry. Namun kebanyakan orang kembali dari meja putih seperti prajurit yang kalah, dengan selembar voucher Rp 50 ribu di tangan dan segumpal dongkol di dada yang di samarkan dalam senyum, tapi masam.

Perlahan ruangan mulai kosong dan nama saya belum juga dipanggil. Menyadari hal ini dalam hati saya bersorak gembira. Semakin banyak yang tidak beruntung, semakin besar kesempatan saya mendapatkan hadiah utama. Sekejap saya membayangkan orang-orang menatap iri melihat saya menenteng ipad 2. Namun setiap melihat orang-orang yang hanya mendapat voucher, saya mengingatkan diri untuk jangan jadi terlalu berharap.

Dua perasaan itu terbit tenggelam secepat mata berkedip. Alhasil saya jadi merasa lelah. Menunggui ketidakpastian memang menghisap tenaga. Apalagi saya sadar tidak bisa melakukan apapun untuk memastikan saya dapat atau tidak sebelum saya merogoh ke dalam mangkuk kaca.

Menunggu seperti ini beda dengan menunggu bus di halte, atau menunggu malam datang. Rasanya seperti menunggu telepon dari pacar setelah bertengkar hebat atau menunggu seseorang yang sedang dioperasi. Tak ada kepastian dan tak ada ketidakpastian. Mengambang di tengah. Menggantung di ujung.

Bayangkan bila hidup kita ditentukan oleh door-prize. Mau laptop baru, tunggu kita beruntung atau tidak. Mau pacar baru juga menunggu. Mau pindah kerja, hidup yang beda, pakai baju yang mana, pergi kemana, pokoknya semua tergantung kita beruntung atau tidak.

Untungnya hidup bukan ditentukan oleh door-prize, tapi oleh seberapa keras kita mau berusaha, seberapa kuat kita untuk tidak mengeluh, dan seberapa berani kita menghadapi kegagalan. Lebih baik saya diberi cangkul dan menyangkul sawah di tengah siang bolong dan membuat tanah gersang jadi subur daripada menunggu tanah itu jadi gembur sendiri dan tahu-tahu ada orang yang iseng melempar bibit di atasnya.

Sometimes life needs luck, but most of the time it’s us that have to scratch our knees and hurt our back to get what we want.

Pada akhirnya saya mendapatkan giliran merogoh kertas di dalam mangkuk kaca lalu saya juga mendapatkan giliran untuk berjalan kembali dengan senyum riang yang menyembunyikan kecewa sambil memegang sebuah voucher.

Mungkin bukan dengan keberuntungan saya akan mendapatkan ipad 2, tapi dengan cara yang lebih susah tapi setidaknya saya berusaha daripada hanya menunggu.