There are times when life feels so wrong.
Everything could have been better.
I realized it. But all is too late.
I can only regret it.
Shouldn’t say what I’ve said
Shouldn’t do what I’ve done
Shouldn’t deny what I’ve given
Shouldn’t fear what I’ve feared
Now, it’s unfixable
Sometimes I try to run away
Running as fast as my feet could swing
Then I would close my eyes
Hopping that I would get to a better reality
With you still in it
When then I open my eyes
Things are just the same
As tasteless and as meaningless
As the day when you out of my life
Shouldn’t say what I’ve said
Shouldn’t do what I’ve done
Shouldn’t deny what I’ve given
Shouldn’t fear what I’ve feared
Now, it’s unfixable
Monday, July 4, 2011
Monday, June 20, 2011
grumpy go unlucky
Dua jam lagi hari sabtu akan berakhir, namun jalanan masih disesaki kendaraan seakan-akan malam masih muda. Aku mengendarai mobil dengan santai di daerah pasaraya manggarai yang macet karena arah ke saharjo ditutup. Sepertinya ada kawinan warga.
Jalanan di depan Pasaraya yang seharusnya muat tiga mobil menjadi hanya dua jalur karena “dimakan” angkutan umum yang nangkring sembarangan. Ketika aku sedang maju perlahan di sebelah sebuah kopaja, tiba-tiba dari sebelah kiri, sebuah motor muncul. Sadar kalau tidak muat, motor itu pun berhenti mendadak. Sedangkan aku sudah terlanjur menginjak gas. Alhasil, spion mobilku menabrak spion motor itu. Dan itu adalah awal perjumpaan pertamaku dengan si orang gila.
Brak! Brak! Brak! Dia menggebrak pinggul mobil seperti sedang menampar pipiku. Otomatis aku berhenti, dan si orang gila menghampiri jendela mobil. Matanya melotot seperti mau copot, garis-garis wajahnya tertarik tegang seolah-olah mukanya akan pecah. Suaranya menggelegar penuh kemarahan. Emosiku yang awalnya terpancing tiba-tiba diprotes logika, “eh cuy! Ngeladenin orang gila Cuma bikin loe ikut gila!”. Akhirnya aku mengalah dan memilih untuk jalan terus meninggalkan si orang gila ngamuk pada asap knalpotku.
Di sepanjang jalan aku tak habis pikir, kenapa di Negara ini, orang yang salah bisa lebih galak daripada orang yang benar? Setelah mengota-atik otak, aku tidak juga bisa mendapatkan jawaban yang tepat. Aku pun menyerah. tapi sebuah pertanyaan lain lahir, “kenapa gua?” dari 1 juta lebih orang jakarta, kenapa gua, yang ramah dan penyayang binatang ini harus menabrak spion orang gila? Tidak sampai 3 detik pertanyaan absurd ini berhasil menemukan jawabannya.
Pernahkan Anda mendengar happy-go-lucky? Tipe orang yang dipercaya selalu beruntung ini, memiliki energi positif sebesar gunung . Jarang membenci, optimis, dan selalu bahagia. Bukan berarti mereka bebas masalah, tapi entah bagaimana caranya, mereka selalu bisa menjalaninya dengan hati seringan awan dan keyakinan kalau pasti ada jalan keluar. Orang-orang jenis ini adalah makhluk langka, dan menurut saya, mereka wajib dilindungi dan dilestarikan oleh dunia, karena bisa membuat hidup lebih damai.
Berbeda 180°, saya adalah anti-klimaks mereka. Katalis. Saya adalah tipe “grumpy-go-unlucky”. Entah dari kapan, tapi seperti ada energi negatif yang menghisap energi positif di dalam diri, seperti sel darah putih yang rakus melahap sel-sel darah merah. Kadang saya bisa menjadi sangat pemurung dan yang paling parah, “makan dalam” atau suka memendam perasaan.
Hubungan sisi gelap ini dengan kejadian dengan “si orang gila” adalah seperti ini; pernah gak kamu merasa apapun yang kamu lakukan, kok salah semua. Sudah itu, datang pula berbagai jenis kejadian atau orang menyebalkan hingga membuat diri semakin bĂȘte. Semesta punya caranya sendiri untuk mengolok manusia, atau mungkin menyadarkan. Hanya kadang yang dijitak kepalanya tidak selalu langsung mengerti. Kadang kita perlu ditampar.
Seperti hari itu, sore sebelum keluar rumah, mood saya hancur berantakkan tanpa alasan yang jelas. Rasanya semua tidak sedap dipandang dan didengar. Sampai-sampai sisi sarkasku pun bangkit dan menyerang orang-orang yang bicara denganku. Perasaan bĂȘte pun bersarang dan beranak pinak di dalam hati. Rasa ini terus saya bawa sampai di saat saya bertemu dengan “si orang gila”.
--
Besoknya, hari minggu, aku menceritakan peristiwa kemarin malam kepada kedua orang tuaku. Ayah yang selalu memendam khawatir ketika aku mengendarai mobil sendirian, tampak terkejut seketika. Namun ia langsung mengendalikan diri dan berkata kalau lain kali aku harus lebih berhati-hati karena di jalan ada bermacam jenis orang. Ia bercerita tentang sebuah berita dikoran tentang seorang pengendara mobil yang ditembak oleh pengendara motor hanya karena sebuah masalah sepele. Untung pelurunya meleset sehingga tidak ada nyawa yang melayang.
Ayahku adalah tipe orang tua yang suka memberikan nasihat-nasihat ajaib. Seperti jangan pakai telepon rumah terlalu lama, nanti kena radiasi. Tapi siang itu, saat aku emosi akibat mobil disalib bus kota, nasihat pamungkasnya sungguh mengejutkan. ia bilang, kita harus mengerti supir angkutan umum. Setiap hari dipanggang matahari dan diserbu polusi membuat hidup berkali-kali lebih berat. Baru pertama kali dalam hidupku ada orang yang melihat supir-supir beringasan itu dari sisi yang lebih humanis. Padahal, kalau ada daftar manusia-manusia paling menyebalkan di dunia, aku yakin mereka setidaknya menempati urutan ke lima.
Saat itu aku sadar kalau, menjadi grumpy-go-unlucky bisa diobati dengan memiliki hati yang lebih besar. Mungkin kemarin malam si orang gila sedang mengalami hari yang buruk, atau memang kerasnya hidup memaksa orang menjadi keras dan tak perduli. Aku tidak membenarkan tingkah si orang gila. But I believe that we have to choose our battle.
Berusaha mengerti orang lain dan lebih peka pada gejala-gejala semesta yang mungkin sedang berusaha menyadarkanku. Sehingga aku tidak melulu melihat semua hal dengan negatif. hal itu bisa dimulai dengan berhenti menyebut si orang gila, mungkin lebih baik si penyayang motor (karena mungkin sebetulnya dia marah karena ia sangat sayang motornya. Hey! who knows?)
Jalanan di depan Pasaraya yang seharusnya muat tiga mobil menjadi hanya dua jalur karena “dimakan” angkutan umum yang nangkring sembarangan. Ketika aku sedang maju perlahan di sebelah sebuah kopaja, tiba-tiba dari sebelah kiri, sebuah motor muncul. Sadar kalau tidak muat, motor itu pun berhenti mendadak. Sedangkan aku sudah terlanjur menginjak gas. Alhasil, spion mobilku menabrak spion motor itu. Dan itu adalah awal perjumpaan pertamaku dengan si orang gila.
Brak! Brak! Brak! Dia menggebrak pinggul mobil seperti sedang menampar pipiku. Otomatis aku berhenti, dan si orang gila menghampiri jendela mobil. Matanya melotot seperti mau copot, garis-garis wajahnya tertarik tegang seolah-olah mukanya akan pecah. Suaranya menggelegar penuh kemarahan. Emosiku yang awalnya terpancing tiba-tiba diprotes logika, “eh cuy! Ngeladenin orang gila Cuma bikin loe ikut gila!”. Akhirnya aku mengalah dan memilih untuk jalan terus meninggalkan si orang gila ngamuk pada asap knalpotku.
Di sepanjang jalan aku tak habis pikir, kenapa di Negara ini, orang yang salah bisa lebih galak daripada orang yang benar? Setelah mengota-atik otak, aku tidak juga bisa mendapatkan jawaban yang tepat. Aku pun menyerah. tapi sebuah pertanyaan lain lahir, “kenapa gua?” dari 1 juta lebih orang jakarta, kenapa gua, yang ramah dan penyayang binatang ini harus menabrak spion orang gila? Tidak sampai 3 detik pertanyaan absurd ini berhasil menemukan jawabannya.
Pernahkan Anda mendengar happy-go-lucky? Tipe orang yang dipercaya selalu beruntung ini, memiliki energi positif sebesar gunung . Jarang membenci, optimis, dan selalu bahagia. Bukan berarti mereka bebas masalah, tapi entah bagaimana caranya, mereka selalu bisa menjalaninya dengan hati seringan awan dan keyakinan kalau pasti ada jalan keluar. Orang-orang jenis ini adalah makhluk langka, dan menurut saya, mereka wajib dilindungi dan dilestarikan oleh dunia, karena bisa membuat hidup lebih damai.
Berbeda 180°, saya adalah anti-klimaks mereka. Katalis. Saya adalah tipe “grumpy-go-unlucky”. Entah dari kapan, tapi seperti ada energi negatif yang menghisap energi positif di dalam diri, seperti sel darah putih yang rakus melahap sel-sel darah merah. Kadang saya bisa menjadi sangat pemurung dan yang paling parah, “makan dalam” atau suka memendam perasaan.
Hubungan sisi gelap ini dengan kejadian dengan “si orang gila” adalah seperti ini; pernah gak kamu merasa apapun yang kamu lakukan, kok salah semua. Sudah itu, datang pula berbagai jenis kejadian atau orang menyebalkan hingga membuat diri semakin bĂȘte. Semesta punya caranya sendiri untuk mengolok manusia, atau mungkin menyadarkan. Hanya kadang yang dijitak kepalanya tidak selalu langsung mengerti. Kadang kita perlu ditampar.
Seperti hari itu, sore sebelum keluar rumah, mood saya hancur berantakkan tanpa alasan yang jelas. Rasanya semua tidak sedap dipandang dan didengar. Sampai-sampai sisi sarkasku pun bangkit dan menyerang orang-orang yang bicara denganku. Perasaan bĂȘte pun bersarang dan beranak pinak di dalam hati. Rasa ini terus saya bawa sampai di saat saya bertemu dengan “si orang gila”.
--
Besoknya, hari minggu, aku menceritakan peristiwa kemarin malam kepada kedua orang tuaku. Ayah yang selalu memendam khawatir ketika aku mengendarai mobil sendirian, tampak terkejut seketika. Namun ia langsung mengendalikan diri dan berkata kalau lain kali aku harus lebih berhati-hati karena di jalan ada bermacam jenis orang. Ia bercerita tentang sebuah berita dikoran tentang seorang pengendara mobil yang ditembak oleh pengendara motor hanya karena sebuah masalah sepele. Untung pelurunya meleset sehingga tidak ada nyawa yang melayang.
Ayahku adalah tipe orang tua yang suka memberikan nasihat-nasihat ajaib. Seperti jangan pakai telepon rumah terlalu lama, nanti kena radiasi. Tapi siang itu, saat aku emosi akibat mobil disalib bus kota, nasihat pamungkasnya sungguh mengejutkan. ia bilang, kita harus mengerti supir angkutan umum. Setiap hari dipanggang matahari dan diserbu polusi membuat hidup berkali-kali lebih berat. Baru pertama kali dalam hidupku ada orang yang melihat supir-supir beringasan itu dari sisi yang lebih humanis. Padahal, kalau ada daftar manusia-manusia paling menyebalkan di dunia, aku yakin mereka setidaknya menempati urutan ke lima.
Saat itu aku sadar kalau, menjadi grumpy-go-unlucky bisa diobati dengan memiliki hati yang lebih besar. Mungkin kemarin malam si orang gila sedang mengalami hari yang buruk, atau memang kerasnya hidup memaksa orang menjadi keras dan tak perduli. Aku tidak membenarkan tingkah si orang gila. But I believe that we have to choose our battle.
Berusaha mengerti orang lain dan lebih peka pada gejala-gejala semesta yang mungkin sedang berusaha menyadarkanku. Sehingga aku tidak melulu melihat semua hal dengan negatif. hal itu bisa dimulai dengan berhenti menyebut si orang gila, mungkin lebih baik si penyayang motor (karena mungkin sebetulnya dia marah karena ia sangat sayang motornya. Hey! who knows?)
Sunday, June 19, 2011
Pagi di hari sabtu
Pagi di hari sabtu membebaskan hati. Seperti jalan yang biasanya padat sekarang lenggang. Seperti menghela legah setelah beberapa saat menahan napas di dalam air. Seperti hujan yang tiba-tiba datang di siang yang terik.
Aku bisa merasakan semua di sekitarku bergerak lebih lambat dari biasanya. Iphone-ku pun tak langsung aktif begitu aku tekan tombolnya. Ia berpendar tanpa gambar untuk beberapa saat, seperti sedang menggeliat malas sebelum membuka mata. Aku pun masih bersembunyi di balik selimut, sambil menikmati Juliette Greco mengalunkan Sur Les Quais Du Vieux Paris. Imajinasiku pun dibawa melayang ke tanah airnya: “Juliette Greco just took me to Paris to see the tower then we spent the rest of the morning sitting and drinking wine while the warm breezed of summer’s wind played with our hair.”
Pagi di hari sabtu berarti 24 jam kesenangan baru saja dimulai. Susun rencana bersama teman, keluarga atau pacar. Lahirkan tawa dan rangkai cerita yang bisa kamu simpan di kantung kenangan. Sehingga bila nanti sabtu telah pergi dan hari kembali terasa galau, rogoh kantung kenanganmu, ambil sekeping cerita di hari sabtu nan indah, sematkan di hati untuk menghidupkan semangatmu.
Pagi di hari sabtu, sekali dalam seminggu, di mana matahari bersinar lebih hangat, irama hidup bergerak lebih lambat, dan semua terasa lebih bersemangat.
Aku bisa merasakan semua di sekitarku bergerak lebih lambat dari biasanya. Iphone-ku pun tak langsung aktif begitu aku tekan tombolnya. Ia berpendar tanpa gambar untuk beberapa saat, seperti sedang menggeliat malas sebelum membuka mata. Aku pun masih bersembunyi di balik selimut, sambil menikmati Juliette Greco mengalunkan Sur Les Quais Du Vieux Paris. Imajinasiku pun dibawa melayang ke tanah airnya: “Juliette Greco just took me to Paris to see the tower then we spent the rest of the morning sitting and drinking wine while the warm breezed of summer’s wind played with our hair.”
Pagi di hari sabtu berarti 24 jam kesenangan baru saja dimulai. Susun rencana bersama teman, keluarga atau pacar. Lahirkan tawa dan rangkai cerita yang bisa kamu simpan di kantung kenangan. Sehingga bila nanti sabtu telah pergi dan hari kembali terasa galau, rogoh kantung kenanganmu, ambil sekeping cerita di hari sabtu nan indah, sematkan di hati untuk menghidupkan semangatmu.
Pagi di hari sabtu, sekali dalam seminggu, di mana matahari bersinar lebih hangat, irama hidup bergerak lebih lambat, dan semua terasa lebih bersemangat.
Monday, May 9, 2011
real life behind a fake name
Yeyet namanya. semua orang yang pernah menjadi pelanggannya tahu, kalau itu bukan nama aslinya. Namun tak ada satupun dari mereka yang tahu siapa sebenarnya perempuan yang bekerja sebagai terapis di salah satu panti pijat di Jakarta ini.
Kulitnya legam, hidungnya besar dan pesek, sekilas lihat, yeyet tampak seperti orang papua. Padahal sebetulnya dia lahir di ciamis, sebuah kota kecil di Jawa Barat. Usianya baru mencapai 23 tahun, tapi ia sudah merantau semenjak lulus SMA. Alasan klise tak ada biaya, memaksa dia untuk menghempaskan impian menjadi sarjana dan memilih bekerja di sebuah pabrik di daerah tanggerang. Dua tahun lamanya dia melakoni pekerjaan sebagai buruh lalu mengadu nasibnya sebagai seorang SPG di sebuah department store di Jakarta. Sebelum akhirnya, ia melabuhkan karirnya sebagai tukang pijat profesional.
Sudah lebih dua tahun usianya menjalani profesi yang tugasnya menekan-nekan badan orang dan meluruskan urat-urat yang berkhianat pada posisinya. Ketika aku bertanya, apa ada orang yang pernah minta servis “plus-plus”? Yeyet lantas menjawab dengan senyum masam, “ya namanya orang macem-macem mas.” Tapi yang membuatku angkat topi adalah, ia selalu bisa menolak permintaan pelanggan “nakal”. Resepnya sederhana, menolak dengan sopan dan sungguh hati. kalimat pamungkasnya adalah, “mungkin terapis yang lain bisa,” lalu sambil mengatupkan tangan membentuk sikap anjali, ia melanjutkan, “tapi kalau saya, mohon maaf, gak bisa pak”.
Yeyet sudah bersuami dan memiliki satu putri berusia 2 tahun. Suaminya bekerja sebagai security di salah satu mall besar di Jakarta. Kerasnya kenyataan hidup membuat yeyet melakoni pekerjaan di panti pijat. lucunya, sang suami tak tahu persis seperti apa resiko pekerjaan yeyet. “Kalau suami tahu gimana mbak?” tanyaku spontan. “ya…” jawabnya menggantung sambil tersenyum pahit.
Yeyet bekerja keras, 10 jam sehari, menghilangkan pegal orang lain dengan membuat diri sendiri pegal bukan main, ditambah menghadapi godaan dan permintaan ajaib pria-pria hidung belang, semua dia lakukan untuk membantu menghidupi keluarganya. terutama untuk si kecil.
Lalu, apakah aku lantas kasihan pada yeyet? Jujur aku terenyuh sekaligus bangga. Tapi tidak kasihan. Yeyet terlalu hebat untuk dikasihani. Ia adalah gambaran perempuan Indonesia yang meski sering dianggap makhluk lemah tak berdaya, tapi justru memiliki kekuatan dan kebesaran hati yang begitu besar. Yeyet punya pilihan untuk menggendong anaknya ke sebuah lampu merah, lalu menadahkan tangan, mengobral kemalangan demi uang receh, atau ia bisa menerima tawaran pria-pria nakal untuk beberapa lembar uang ekstra. Namun ia mengambil jalan lain.
Yeyet nama panggilannya, mungkin tak ada satupun orang yang akan pernah tahu nama aslinya, tapi setidaknya dari tulisan ini akan ada banyak orang yang tahu siapa wanita ini sebenarnya, dan betapa seseorang tidak pantas dinilai hanya dari apa pekerjaannya, tapi bagaimana cara dia melakukannya.
Kulitnya legam, hidungnya besar dan pesek, sekilas lihat, yeyet tampak seperti orang papua. Padahal sebetulnya dia lahir di ciamis, sebuah kota kecil di Jawa Barat. Usianya baru mencapai 23 tahun, tapi ia sudah merantau semenjak lulus SMA. Alasan klise tak ada biaya, memaksa dia untuk menghempaskan impian menjadi sarjana dan memilih bekerja di sebuah pabrik di daerah tanggerang. Dua tahun lamanya dia melakoni pekerjaan sebagai buruh lalu mengadu nasibnya sebagai seorang SPG di sebuah department store di Jakarta. Sebelum akhirnya, ia melabuhkan karirnya sebagai tukang pijat profesional.
Sudah lebih dua tahun usianya menjalani profesi yang tugasnya menekan-nekan badan orang dan meluruskan urat-urat yang berkhianat pada posisinya. Ketika aku bertanya, apa ada orang yang pernah minta servis “plus-plus”? Yeyet lantas menjawab dengan senyum masam, “ya namanya orang macem-macem mas.” Tapi yang membuatku angkat topi adalah, ia selalu bisa menolak permintaan pelanggan “nakal”. Resepnya sederhana, menolak dengan sopan dan sungguh hati. kalimat pamungkasnya adalah, “mungkin terapis yang lain bisa,” lalu sambil mengatupkan tangan membentuk sikap anjali, ia melanjutkan, “tapi kalau saya, mohon maaf, gak bisa pak”.
Yeyet sudah bersuami dan memiliki satu putri berusia 2 tahun. Suaminya bekerja sebagai security di salah satu mall besar di Jakarta. Kerasnya kenyataan hidup membuat yeyet melakoni pekerjaan di panti pijat. lucunya, sang suami tak tahu persis seperti apa resiko pekerjaan yeyet. “Kalau suami tahu gimana mbak?” tanyaku spontan. “ya…” jawabnya menggantung sambil tersenyum pahit.
Yeyet bekerja keras, 10 jam sehari, menghilangkan pegal orang lain dengan membuat diri sendiri pegal bukan main, ditambah menghadapi godaan dan permintaan ajaib pria-pria hidung belang, semua dia lakukan untuk membantu menghidupi keluarganya. terutama untuk si kecil.
Lalu, apakah aku lantas kasihan pada yeyet? Jujur aku terenyuh sekaligus bangga. Tapi tidak kasihan. Yeyet terlalu hebat untuk dikasihani. Ia adalah gambaran perempuan Indonesia yang meski sering dianggap makhluk lemah tak berdaya, tapi justru memiliki kekuatan dan kebesaran hati yang begitu besar. Yeyet punya pilihan untuk menggendong anaknya ke sebuah lampu merah, lalu menadahkan tangan, mengobral kemalangan demi uang receh, atau ia bisa menerima tawaran pria-pria nakal untuk beberapa lembar uang ekstra. Namun ia mengambil jalan lain.
Yeyet nama panggilannya, mungkin tak ada satupun orang yang akan pernah tahu nama aslinya, tapi setidaknya dari tulisan ini akan ada banyak orang yang tahu siapa wanita ini sebenarnya, dan betapa seseorang tidak pantas dinilai hanya dari apa pekerjaannya, tapi bagaimana cara dia melakukannya.
Monday, April 25, 2011
Take a leap of faith. Make friend with the impossible. It is not your enemy. It's blessing in disguise. If you are willing to believe it and then you fight hard enough, in time, it will show you the path to the possible. It may be a long and winding road, where you hardly see the end, but if you keep on walking and walking and walking, despite all heartache and hardness you confront, you’ll get there. And if there are so many of you who believe, then, the world might also get there.
Friday, April 22, 2011
Diary DracScene Fiximix
Setelah tiga minggu mati suri, akhirnya senin, 18 april 2011, jam 7 malam, kelas DRAC Scene bisa berjalan lagi. Walau ditantang hujan besar yang tiba-tiba tumpah, arry yang datang dari tanggerang dan Edwin yang kabur dari kantornya di Thamrin, berhasil sampai dengan selamat ke Magma Entertainment.
Setelah lama tidak datang ke Magma, malam itu kami seperti membayar rindu yang sudah menunggak dan berbunga. Pagar biru besar, logo merah Magma E, pintu kaca, ruangan bernuansa kayu yang nyaman, banner film Elang, Pak Kosim, dan Ibu Diah, mengingatkan kami pada masa-masa masih rutin kelas tiga kali seminggu.
Ketika kami masuk ke dalam, Mas Charles (yang sepertinya habis cukur rambut) sedang berada di kantornya, serius menatapi komputer, seolah-olah ada kekasihnya di sana. Setelah disambut senyum hangat ala Mas Chae, Arry dan Edwin langsung sigap mengambil tempat duduk. Agenda kami malam itu adalah membahas treatment film tugas akhir kelas DRAC Scene.
Namun topik awal pembicaraan kami diambil alih oleh sebuah peristiwa mengenaskan, atau lebih tepatnya bencana yang terjadi malam sebelumnya, yaitu drama pertandingan arsenal vs Liverpool yang berakhir seri 1-1. Edwin sang arsenal man pun langsung mengoceh, curcol lebih tepatnya, tentang bagaimana mimpi Arsenal menjadi juara, hancur berantakkan ketika Eboue menjatuhkan Lucas.
Setelah itu kita membahas sedikit tentang project akhir kelas Drac Scene, sebelum pergi mencari makan malam. Karena kebetulan cacing di perut kami sudah mulai melakuan tindakan vandalism terhadap lambung.
Diskusi tentang Drac Scene berlanjut di restoran soto betawi di TIM (Taman Ismail Marzuki). Mas Charles sedikit membocorkan tentang project berikutnya yang sangat menginspirasikan. Mendengar bocorannya saja, Edwin dan Arry langsung ternganga-nganga. Setelah itu topik pembicaraan berubah menjadi soal bisnis dan pendidikan. Bersama mas Charles, kita memang tidak melulu bicara tentang film, tapi juga berbagai hal lain untuk memperkaya wawasan, hal yang penting untuk menjadi seorang penulis yang baik.
Kembali ke Magma, kami langsung membahas lebih intens tentang project akhir DRAC Scene. Salah satu dari kami melempar sebuah ide yang bisa memperkuat karakter salah satu tokoh utama di cerita kami. Namun akan ada beberapa hal lain di dalam alur cerita yang terpaksa berubah untuk menyesuaikan karakter. Namun, tampaknya cerita akan menjadi lebih kuat.
Pertemuan berakhir sekitar pukul 21:00 dengan melihat foto-foto perjalanan Pul-Kamp Mas Charles dan ayahnya beberapa bulan lalu.
Kelas akan berlanjut hari jumat, 22 april 2011, untuk membahas treatment tugas akhir Drac Scene.
See you on Friday guys ☺
Setelah lama tidak datang ke Magma, malam itu kami seperti membayar rindu yang sudah menunggak dan berbunga. Pagar biru besar, logo merah Magma E, pintu kaca, ruangan bernuansa kayu yang nyaman, banner film Elang, Pak Kosim, dan Ibu Diah, mengingatkan kami pada masa-masa masih rutin kelas tiga kali seminggu.
Ketika kami masuk ke dalam, Mas Charles (yang sepertinya habis cukur rambut) sedang berada di kantornya, serius menatapi komputer, seolah-olah ada kekasihnya di sana. Setelah disambut senyum hangat ala Mas Chae, Arry dan Edwin langsung sigap mengambil tempat duduk. Agenda kami malam itu adalah membahas treatment film tugas akhir kelas DRAC Scene.
Namun topik awal pembicaraan kami diambil alih oleh sebuah peristiwa mengenaskan, atau lebih tepatnya bencana yang terjadi malam sebelumnya, yaitu drama pertandingan arsenal vs Liverpool yang berakhir seri 1-1. Edwin sang arsenal man pun langsung mengoceh, curcol lebih tepatnya, tentang bagaimana mimpi Arsenal menjadi juara, hancur berantakkan ketika Eboue menjatuhkan Lucas.
Setelah itu kita membahas sedikit tentang project akhir kelas Drac Scene, sebelum pergi mencari makan malam. Karena kebetulan cacing di perut kami sudah mulai melakuan tindakan vandalism terhadap lambung.
Diskusi tentang Drac Scene berlanjut di restoran soto betawi di TIM (Taman Ismail Marzuki). Mas Charles sedikit membocorkan tentang project berikutnya yang sangat menginspirasikan. Mendengar bocorannya saja, Edwin dan Arry langsung ternganga-nganga. Setelah itu topik pembicaraan berubah menjadi soal bisnis dan pendidikan. Bersama mas Charles, kita memang tidak melulu bicara tentang film, tapi juga berbagai hal lain untuk memperkaya wawasan, hal yang penting untuk menjadi seorang penulis yang baik.
Kembali ke Magma, kami langsung membahas lebih intens tentang project akhir DRAC Scene. Salah satu dari kami melempar sebuah ide yang bisa memperkuat karakter salah satu tokoh utama di cerita kami. Namun akan ada beberapa hal lain di dalam alur cerita yang terpaksa berubah untuk menyesuaikan karakter. Namun, tampaknya cerita akan menjadi lebih kuat.
Pertemuan berakhir sekitar pukul 21:00 dengan melihat foto-foto perjalanan Pul-Kamp Mas Charles dan ayahnya beberapa bulan lalu.
Kelas akan berlanjut hari jumat, 22 april 2011, untuk membahas treatment tugas akhir Drac Scene.
See you on Friday guys ☺
Tuesday, March 22, 2011
Imagination is power

There is no limit for our imagination to grow. It can be as wide as a canvas. It can be as thick as a book. It can be as short as twitter. And it can be as free as the sky. Even so, imagination is a very lazy and mousy creature. It likes to sleep and hide. In order to bring it to life, you have to work extra hard. You have to be mean to your brain. You have to push it to the edge. Challenge it to be it best. Nurture it as if it your own child. Because, once your imagination is awake, you will have the power to change the world.
Imagination is the strongest power of all. You either destroy the world with it, or help to make a better life.
Subscribe to:
Posts (Atom)