Tuesday, March 22, 2011

Imagination is power


There is no limit for our imagination to grow. It can be as wide as a canvas. It can be as thick as a book. It can be as short as twitter. And it can be as free as the sky. Even so, imagination is a very lazy and mousy creature. It likes to sleep and hide. In order to bring it to life, you have to work extra hard. You have to be mean to your brain. You have to push it to the edge. Challenge it to be it best. Nurture it as if it your own child. Because, once your imagination is awake, you will have the power to change the world.

Imagination is the strongest power of all. You either destroy the world with it, or help to make a better life.

Sunday, March 20, 2011

Malam, semangkuk bubur, dan “A rush blood to the head”

Malam datang dengan cepat lalu beranjak lambat. Tubuh yang kering daya ini duduk sambil mengaduk lembut seperiuk bubur ikan di hadapan. Sepasang earphone yang menggantung di kedua telingaku, sedang menggelar konser Coldplay.

He said I’m going to buy this place and burn it down

I’m going to put it six feet underground

He said I’m going to buy this place and watch it fall

A rush blood to head adalah lagu yang sedang dinyanyikan Chris dengan suara seraknya yang megah menggema diiringi melodi yang merdu. Setelah dua hari aku diterpa tekanan bertubi-tubi, malam ini terasa sangat muram dan melelahkan. Indra yang melemah karena terus dipacu membuat aku tidak bisa menikmati indahnya malam. Padahal, entah sudah sejak kapan aku dan malam bersahabat. Kami begitu dekat sampai kadang membuat pagi cemburu dan siang gigit jari.

Bubur ikan itu ditaruh di dalam sebuah periuk berwarna putih susu. Asapnya mengepul-ngepul melukis malam, lalu hilang dibawa angin. Aku mengambil sebuah sendok porselin putih dan mencelupkannya ke dalam bubur, lalu mengaduknya perlahan. Lebih banyak lagi asap panas melayang keluar dari dalam bubur, menari-nari di udara.

Stand here beside me baby in the crumbling walls

Oh I’m going to buy this place and start a fire

Stand here until I fill all your heart’s desires

Because I’m going to buy this place and see it burn

Do back the things it did to you in return

Selagi aku mendinginkan bubur, aku perhatikan malam yang sudah semakin tua. Semakin jarang mobil melintas, tapi semakin banyak orang yang mampir ke kedai bubur ini. Tiga orang sahabat, sepasang suami-istri, keluarga, dan beberapa penyendiri, seperti aku. Semangkuk bubur memang teman yang baik di malam hari.

Ketika buburku sudah hangat, aku ambil tiga sendok dari dalam periuk dan memasukkan ke dalam mangkuk putih kecil. Aku angkat lepek berisi cabe rawit potong dan kecap asin, lalu kutungkan beberapa potong. Potongan cabe hijau mendarat di atas bubur, beberapa tetes kecap asin langsung menyerap. Perlahan aku aduk buburku hingga tercampur. Dan akhirnya datanglah saat untuk suapan pertama. Ketika sampai di mulut, bubur itu terasa hangat dan asin. Seketika moodku yang kelelahan seperti dibangunkan kembali. “Akh nikmat.” Syukurku dalam hati. Semalaman aku memang belum makan apa-apa.

Ah, ah, ah

He said Oh I’m going to buy a gun and start a war

If you can tell me something worth fighting for

Oh I’m going to buy this place, that’s what I said

Blame it upon a rush of blood to the head, to the head

Bubur itu salah satu makanan yang paling bisa memanjakan lidahku. Rasa gurih khas nasi bercampur dengan gurih bumbu dan sari daging ikan, menciptakan kenikmatan yang sulit digambarkan. Tekstur lembut bubur dengan aksen potongan-potongan daging ikan yang dimasak dengan pas hingga empuk namun tidak hancur, membawa nikmat sampai ke surga.

(And) Honey

All the movements you’re starting to make

See me crumble and fall on my face

And I know the mistakes that I made

See it all disappear without a trace

And the call as they beckon you on

They said start as you mean to go on

Start as you mean to go on

Sementara aku menikmati suap demi suap, Cold Play masih memainkan nada demi nada untuk menghiburku. Perpaduan keduanya kembali mendekatkan aku dengan malam yang melelahkan ini. Hingga akhirnya kami pun kembali rujuk. Malam ini jadi indah, dengan angin yang bertiup lembut dan mobil yang sesekali melintas. Di kedai bubur ini, orang-orang terus datang dan pergi. Tapi malam tetap setia dan bubur terus menemani, sedangkan Cold Play, aku ajak mereka pulang untuk menemani perjalananku sampai ke rumah.

He said I’m going to buy this place and see it go

Stand here beside me baby watch the orange glow

Some will laugh and some just sit and cry

But you just sit down there and you wonder why

Monday, February 28, 2011

"There is a time for everything", and so they say
Could this be my time?
Twenty four floors above the ground
The sky seems so close
I feel like i could touch it with my bare hands
But, can I reach for the stars?

Thursday, January 13, 2011

Ada Cinta

Ada cinta dalam sepotong kue. Ada cinta dalam sebuah ipad. Ada cinta dalam permaianan tap dance. Ada cinta dalam segelas teh. Ada cinta di atas meja. Ada cinta pada sendok dan garpu. Ada cinta di dinding. Ada cinta dalam sebotol air mineral. Ada cinta dalam setiap kata. Ada cinta di setiap tawa. Ada cinta di setiap canda. Ada cinta di bangku kayu. Ada cinta di wajah barista. Ada cinta di celemek barista. Ada cinta di pengunjung yang tampak jenuh. Ada cinta dalam bukan lagu cinta. Ada cinta di dinginnya udara AC. Ada cinta di setiap sentuhan.

Di mana-mana ada cinta selama ada kamu dan aku.

Saturday, January 8, 2011

Cinta oh cinta

Cinta sungguh kejam

Ia tak henti-hentinya memojokkan hati dengan rindu

Rindu yang selalu bersambung

Tanpa tahu kapan akan berujung

Semoga tiada sampai berujung


Cinta memang durjana

Seperti gerhana yang dinanti rembulan

Sekalinya mampir kepelukkan

dibuatnya gelap berserakkan


Cinta sungguh tak normal

Dibuatnya aku meratapi malam

Tanpa genit bintang dan muram rembulan

Indah. Tetap indah. Karena ada bayangmu bercahaya dalam gelap

Foreword Photo Exhibition Idefest 2010

Narsis nasionalis

Sekarang masanya generasi narsis. Setiap orang rasanya ingin dilihat, dikenal, dan menjadi pusat perhatian. Hal ini terbukti dengan terus berkembangnya media-media komunikasi untuk mengekspresikan diri. Namun narsis adalah omong kosong ketika aku menjadi yang terpenting. “Lihat, aku adalah segala-galanya. Aku mau sejuta mata padaku. Aku mau sejuta kagum merekah di diriku”.


Di tengah suasana Bangsa yang tampak berjalan sendiri-sendiri, 100 peserta foto dari seluruh penjuru Indonesia yang terbagi menjadi dua kategori, remaja dan dewasa, mencoba menyatukan hati melalui karya yang bertema Narsis Nasionalis. Narsis yang bukan bangga kepada diri sendiri, tapi bangga kepada sebuah negeri tempat mereka dilahirkan. Negeri yang besar dengan keberagamannya.

Sunday, January 2, 2011

Happy New Year 2011!

We often forget that New Year is not just about the 1st day of a year; it's about the whole 365 days. Hold tight your New Year resolutions, the journey has just begun.