Kadang gua suka berpikir, apa jadinya hidup tanpa musik. Pasti penuh depresi dan kebosanan total. Gua memang pecinta musik, walau gak bisa main musik, tapi musik seperti sahabat yang gak perlu dikuasai namun selalu siap untuk membuat elo merasa lebih baik. Setiap kali putus asa, kecewa, bahagia, atau gagal segagalnya, melody is my remedy. Hanya saja, dalam cinta selalu saja ada duri dalam daging. Dan duri itu bagi gua adalah, musik metal.
Semenjak gua bekerja di kantor ini gak pernah dalam satu haripun, musik metal absent mengguncang kejiwaan gua. Rasanya gua bisa jadi gila setiap saat. Heran, apa sih enaknya musik yang begitu offensive dan brutal. Isinya cuma maki-maki kadang diiringi dengan melody yang flat. Rasanya seperti mendengarkan omelan orang tua atau teriakan orang demo. Bikin migran.
Tapi tiga hari yang lalu, gua melakukan sebuah kompromi besar. Long story short, beberapa minggu belakangan ini karena dibebani kerjaan yang berat, computer tempat lagu metal berkoar-koar jadi bisu. Langkah melegahkan itu karena memutar playlist memberatkan gerak computer. Jadi lemot lah bahasa gampangnya.
Keadaan ini merupakan kemenangan kaum minoritas (secara gua Cuma seorang) melawan kaum FundaMetalist! Semangat gua langsung membumbung ringan dan tinggi seperti asap dari segelas kopi hangat. Mood gua berbunga warna-warni karena gua bisa memutar lagu dari playlist gua. Tapi sayangnya hal itu berbanding terbalik dengan para FundaMetalist. mood hancur berantakan.
“Kehilangan mood = semangat kerja kurang = gampang ngantuk = tidak produktif = kerja jadi lebih lambat = pulang lebih malam.”
Kira-kira begitu runutan imbas dari sebuah mood yang rusak.
So, in order to save the day, gua berpikir untuk memutar lagu-lagu metal via komputer gua. Jadi dengan lagak seorang yang besar hati, gua minta file dan beberapa menit kemudian, berkumandanglah makian-makian itu.
Ketika lagu pertama sedang diputar, dalam hati gua berpikir, “ akh selama hati sedang bahagia, keinjek tokai pun bisa buat kita tertawa”. Optimis mentok atau naif pol? Di lagu ke empat gua tahu jawabannya.
Seperti ada vacuum cleaner yang penyedot kebahagiaan, di lagu keempat, tiba-tiba gua merasa depresi. sedikit demi sedikit tapi terasa penat di kepala. Rasanya pengen banting computer, injek-injek, siram bensin, bakar, just so I can have my solitude back.
Akhirnya di lagu ke enam, gua nyerah. Sumpah jantung gua rasanya mau meledak dan kepala gua rasanya sumpek. Dalam beberapa klik langsung gua kembali ke lagu-lagu yang lebih tenang dan groovy.
Gua sadar, ternyata kerelaan memutar lagi metal bukan sekedar untuk menghibur teman-teman gua, tapi lebih karena supaya gua bisa pulang lebih cepat.
Pelajaran dari kejadian ini adalah, “kadang kita memang harus berkorban untuk kebaikan orang lain, tapi, entah bagaimana, kita harus bisa senang menjalankannya. Kalau gak bisa, itu namanya, sok jadi pahlawan.”
Darn! I’m so done with metal music… and playing hero!
Friday, September 3, 2010
Saturday, August 14, 2010
mencari jalan
Seekor serangga kecil terjebak di kamarku.
Berterbangan ia ke sana ke mari. Sekali menabrak lemari, sekali menabrak pintu, sekali jatuh ke lantai, dan sekali hinggap di kakiku.
Sayapnya putih dan bentuknya pipih. Ia seperti peri kecil bandel yang begitu penasaran ada apa di luar dunianya, hingga ia nekat pergi hingga lupa diri dan tersesat.
“Akhh… serangga itu seperti kebanyakan dari kita, sedang mencari jalan untuk bisa bebas dan terbang lepas”, dalam hati aku berujar. “Habis ini akan kubukakan pintu untuknya agar ia bisa miliki kembali kebebasannya. Betapa beruntungnya serangga itu”, syukurku, “ia tersesat di kamarku”.
Friday, August 6, 2010
Kisah hujan
aku jatuh cinta pada hujan
sejak pertama kali bulir-bulir airnya memelukku
semenjak itu pori-poriku mencandu sejuknya
Merindu harum tanahnya
Siang itu terik, tapi hujan runtuh dari langit
Orang-orang panik berhamburan
Begitu juga kamu yang langsung mengernyit
Lalu lari seperti dikejar setan
Sampai di tempat teduh kamu mengaduh
Kesal melihatku malah termangu
Menengadah ke langit yang semakin gaduh
Menyambut tetes demi tetes dengan syahdu
Kamu pun mulai memanggil sambil terus mengigil
Kata-katamu berselancar di atas angin yang bertiup resah
Dari bibir mungil yang selalu membuatku salah tingkah
Aku tersenyum melihat kamu khawatir
Berusaha merekam setiap detik raut wajahmu
Karena aku tahu kamu tak akan selamanya hadir
Seperti hujan
Waktu berlalu seperti kereta yang melaju
Tapi aku seperti menanti di stasiun yang sama
Hujan turun, walau siang terik
Kata orang, hujan di kala terik berarti hujan orang mati
Aku berdiri termangu menatap langit yang semakin gaduh
Menikmati setiap tetes dengan syahdu
karena pori-poriku mencandu sejuknya
Merindu harum tanahnya
walau tak ada lagi kamu yang memanggil
sejak pertama kali bulir-bulir airnya memelukku
semenjak itu pori-poriku mencandu sejuknya
Merindu harum tanahnya
Siang itu terik, tapi hujan runtuh dari langit
Orang-orang panik berhamburan
Begitu juga kamu yang langsung mengernyit
Lalu lari seperti dikejar setan
Sampai di tempat teduh kamu mengaduh
Kesal melihatku malah termangu
Menengadah ke langit yang semakin gaduh
Menyambut tetes demi tetes dengan syahdu
Kamu pun mulai memanggil sambil terus mengigil
Kata-katamu berselancar di atas angin yang bertiup resah
Dari bibir mungil yang selalu membuatku salah tingkah
Aku tersenyum melihat kamu khawatir
Berusaha merekam setiap detik raut wajahmu
Karena aku tahu kamu tak akan selamanya hadir
Seperti hujan
Waktu berlalu seperti kereta yang melaju
Tapi aku seperti menanti di stasiun yang sama
Hujan turun, walau siang terik
Kata orang, hujan di kala terik berarti hujan orang mati
Aku berdiri termangu menatap langit yang semakin gaduh
Menikmati setiap tetes dengan syahdu
karena pori-poriku mencandu sejuknya
Merindu harum tanahnya
walau tak ada lagi kamu yang memanggil
Monday, June 28, 2010
Sunday, June 20, 2010
suara bising yang gak bikin pusing
Tiada yang lebih menyenangkan daripada menikmati hari libur dengan santai bersama keluarga, walau tidur harus terganggu.
Hari minggu dua minggu yang lalu rasanya adalah hari paling santai dalam beberapa bulan ini. Walau di kepala berbagai masalah berdesingan seperti rentetan peluru dan pecahan martir, tapi gua merasa berada di dalam ruang dengan kaca anti peluru. It gives me some sort of feeling that, somehow everything is gonna be alright. Begitulah efek sebuah hari yang begitu hangat.
Tadi pagi gongongan Leo menampar-nampar kesadaran sampai gua terpaksa sadar dari tidur, ditambah suara obrolan orang-orang rumah yang menguap dari bawah lalu menyelinap masuk ke kamar lewat sela-sela jendela dan mendengung di telinga gua. (Selalu seperti ini setiap libur.)
Walau tidur nyenyak jadi terganggu, gua gak kepikiran untuk turun ke bawah sambil marah menyuruh mereka untuk diam. Mungkin gua emang sedikit masokis, karena gua justru menikmati kebisingan itu.
Suara-suara itu seperti punya daya magis untuk menarik gua bangun dari kasur yang nyaman, walau masih super ngantuk, untuk ke bawah dan ikut sumbang suara dalam obrolan renyah minggu pagi.
Bobot pembicaraannya juga gak pernah terlalu penting, seperti membahas ketololan Leo atau hal-hal sepele lain, tapi suara-suara itu seolah mengingatkan gua kalau masih ada orang-orang yang sedang menunggu gua bangun dan akan menerima gua apa adanya walau tampang masih jelek beler dan rambut masih awut-wutan.
Apa yang masih bisa gua berikan untuk keluarga, akan gua berikan sepenuh hati. Itu termasuk jam tidur gua yang cuma bisa sedikit lebih panjang waktu libur.
Hari minggu dua minggu yang lalu rasanya adalah hari paling santai dalam beberapa bulan ini. Walau di kepala berbagai masalah berdesingan seperti rentetan peluru dan pecahan martir, tapi gua merasa berada di dalam ruang dengan kaca anti peluru. It gives me some sort of feeling that, somehow everything is gonna be alright. Begitulah efek sebuah hari yang begitu hangat.
Tadi pagi gongongan Leo menampar-nampar kesadaran sampai gua terpaksa sadar dari tidur, ditambah suara obrolan orang-orang rumah yang menguap dari bawah lalu menyelinap masuk ke kamar lewat sela-sela jendela dan mendengung di telinga gua. (Selalu seperti ini setiap libur.)
Walau tidur nyenyak jadi terganggu, gua gak kepikiran untuk turun ke bawah sambil marah menyuruh mereka untuk diam. Mungkin gua emang sedikit masokis, karena gua justru menikmati kebisingan itu.
Suara-suara itu seperti punya daya magis untuk menarik gua bangun dari kasur yang nyaman, walau masih super ngantuk, untuk ke bawah dan ikut sumbang suara dalam obrolan renyah minggu pagi.
Bobot pembicaraannya juga gak pernah terlalu penting, seperti membahas ketololan Leo atau hal-hal sepele lain, tapi suara-suara itu seolah mengingatkan gua kalau masih ada orang-orang yang sedang menunggu gua bangun dan akan menerima gua apa adanya walau tampang masih jelek beler dan rambut masih awut-wutan.
Apa yang masih bisa gua berikan untuk keluarga, akan gua berikan sepenuh hati. Itu termasuk jam tidur gua yang cuma bisa sedikit lebih panjang waktu libur.
Wednesday, June 2, 2010
Kepada malam
Monday, May 17, 2010
Bandung, buat pemula
Sore turun dengan anggun dalam gaun jingga keemasan yang dirajutnya dari benang-benang spectrum cahaya. Selendangnya yang panjang dan megah menyelimuti seluruh kota menjadikan Bandung tampak sephia. Belum pernah saya melihat sore seindah sekaligus seasing ini.
Ini adalah ketiga kalinya dalam seminggu saya dan atasan pergi ke Bandung. Tapi setiap kali, saya masih saja merasa penasaran dengan kota ini. Ada sesuatu yang asing tapi menarik dari Bandung.
Jam lima sore saya tiba di bandung. Jalanan sibuk dan padat dengan mobil-mobil dan orang-orang pulang kantor. Di sana sini terdengar orang-orang berbicara dengan logat khas Sunda yang jenaka (memberi tekanan di setiap akhir kata). Bagi saya Bandung adalah kota yang menarik. Berbeda dengan anggapan atasan saya, baginya Bandung hanyalah kota kecil yang sudah sesumpek Jakarta.
Kalau dilihat dari beberapa segi, Bandung memang mirip Jakarta. Salah satunya adalah macet. Suasana lalu lintas yang padat dan mobil-mobil tersendat yang menjadi “makanan” kita sehari-hari di Jakarta, bisa kita cicipi di beberapa tempat di Bandung. Walau tidak serumit Jakarta. Kedua adalah banyaknya anak-anak jalanan dan gelandangan yang berkeliaran di lampu merah, sampai tidur di trotoar. Ketiga, suasana beberapa tempat yang mirip dengan Jakarta.
Namun bukan berarti Bandung tidak memiliki identitas. Julukan sebagai kota seni yang disandang Bandung bukan hal yang percuma. Seni arsitektur peninggalan jaman Belanda bisa kita lihat hampir di semua sudut Bandung. Walau hanya berjarak dua jam dari Jakarta, di sekeliling bangunan-bangunan tua khas Belanda ini saya merasa berada seratus tahun jauhnya dari Jakarta.

Salah satunya di Jalan Braga. Jalan satu arah yang diapit deretan restoran dan pertokoan ini menyimpan bukti sejarah penjajahan Belanda hampir di setiap sudut bangunannya. Waktu seolah berhenti pada bangunan-bangunan itu. Seperti pada sebuah toko kue yang bernuansa art deco dengan cat putih yang kusam di sana sini. Bahkan lantainya masih keramik berwarna merah marun.
Ada juga sebuah toko buku sederhana yang jendela kayunya seperti yang bisa kita temui di museum Fatahailah (Jakarta). Atau toko lain yang bentuk arsitektur bangunannya adalah replika stasiun kota, Beos, di Jakarta. Bagian atas gedungnya menonjol melengkung dan berwarna putih.

Selain membuat saya merasa hidup di masa lalu, Jalan Braga juga membuat saya merasa berada di sebuah galeri seni besar. Deretan lukisan-lukisan karya tangan-tangan seniman jalanan Bandung tergantung di tepi jalan seperti layaknya sebuah pameran lukisan. Mulai dari sketsa wajah, sampai pemandangan para petani yang sedang memanen di sawah yang menguning. Memang belum “secanggih” karya pelukis-pelukis kebanggan Bandung, tapi setidaknya cukup memanjakan mata dan menggelitik rasa.

Hal kecil lain yang saya suka dari Jalan Braga adalah jalanannya bukan aspal, melainkan rangkaian batu.
Sayangnya, bila jam pulang kantor, Jalan Braga bisa menjadi sangat macet dengan pengendara sepeda motor yang suka naik ke atas trotoar, mengganggu para pejalan kaki. “hah… kayak Jakarta aja.” keluh saya dalam hati. Lantas apa dong yang membuat saya terpincut dengan kota Kembang ini?

Setelah saya renungkan beberapa saat, Adalah rasa asing yang membuat kota ini begitu menarik. Mungkin karena saya jarang pergi ke Bandung. I love being a stranger. I couldn’t help the excitement of “what’s next”.
Jadi lain kali bila ada orang yang mengatakan Bandung itu membosankan, coba Tanya dulu, mungkin dia pulang-pergi Jakarta-Bandung, seperti Sudirman-Thamrin. Telalu sering sampai bosan. Sedangkan bagi kita yang masih asing dengan kota Bandung, perjalanan bisa menjadi kejutan yang tak ada habis-habisnya.
Ini adalah ketiga kalinya dalam seminggu saya dan atasan pergi ke Bandung. Tapi setiap kali, saya masih saja merasa penasaran dengan kota ini. Ada sesuatu yang asing tapi menarik dari Bandung.
Jam lima sore saya tiba di bandung. Jalanan sibuk dan padat dengan mobil-mobil dan orang-orang pulang kantor. Di sana sini terdengar orang-orang berbicara dengan logat khas Sunda yang jenaka (memberi tekanan di setiap akhir kata). Bagi saya Bandung adalah kota yang menarik. Berbeda dengan anggapan atasan saya, baginya Bandung hanyalah kota kecil yang sudah sesumpek Jakarta.
Kalau dilihat dari beberapa segi, Bandung memang mirip Jakarta. Salah satunya adalah macet. Suasana lalu lintas yang padat dan mobil-mobil tersendat yang menjadi “makanan” kita sehari-hari di Jakarta, bisa kita cicipi di beberapa tempat di Bandung. Walau tidak serumit Jakarta. Kedua adalah banyaknya anak-anak jalanan dan gelandangan yang berkeliaran di lampu merah, sampai tidur di trotoar. Ketiga, suasana beberapa tempat yang mirip dengan Jakarta.
Namun bukan berarti Bandung tidak memiliki identitas. Julukan sebagai kota seni yang disandang Bandung bukan hal yang percuma. Seni arsitektur peninggalan jaman Belanda bisa kita lihat hampir di semua sudut Bandung. Walau hanya berjarak dua jam dari Jakarta, di sekeliling bangunan-bangunan tua khas Belanda ini saya merasa berada seratus tahun jauhnya dari Jakarta.

Salah satunya di Jalan Braga. Jalan satu arah yang diapit deretan restoran dan pertokoan ini menyimpan bukti sejarah penjajahan Belanda hampir di setiap sudut bangunannya. Waktu seolah berhenti pada bangunan-bangunan itu. Seperti pada sebuah toko kue yang bernuansa art deco dengan cat putih yang kusam di sana sini. Bahkan lantainya masih keramik berwarna merah marun.
Ada juga sebuah toko buku sederhana yang jendela kayunya seperti yang bisa kita temui di museum Fatahailah (Jakarta). Atau toko lain yang bentuk arsitektur bangunannya adalah replika stasiun kota, Beos, di Jakarta. Bagian atas gedungnya menonjol melengkung dan berwarna putih.

Selain membuat saya merasa hidup di masa lalu, Jalan Braga juga membuat saya merasa berada di sebuah galeri seni besar. Deretan lukisan-lukisan karya tangan-tangan seniman jalanan Bandung tergantung di tepi jalan seperti layaknya sebuah pameran lukisan. Mulai dari sketsa wajah, sampai pemandangan para petani yang sedang memanen di sawah yang menguning. Memang belum “secanggih” karya pelukis-pelukis kebanggan Bandung, tapi setidaknya cukup memanjakan mata dan menggelitik rasa.

Hal kecil lain yang saya suka dari Jalan Braga adalah jalanannya bukan aspal, melainkan rangkaian batu.
Sayangnya, bila jam pulang kantor, Jalan Braga bisa menjadi sangat macet dengan pengendara sepeda motor yang suka naik ke atas trotoar, mengganggu para pejalan kaki. “hah… kayak Jakarta aja.” keluh saya dalam hati. Lantas apa dong yang membuat saya terpincut dengan kota Kembang ini?

Setelah saya renungkan beberapa saat, Adalah rasa asing yang membuat kota ini begitu menarik. Mungkin karena saya jarang pergi ke Bandung. I love being a stranger. I couldn’t help the excitement of “what’s next”.
Jadi lain kali bila ada orang yang mengatakan Bandung itu membosankan, coba Tanya dulu, mungkin dia pulang-pergi Jakarta-Bandung, seperti Sudirman-Thamrin. Telalu sering sampai bosan. Sedangkan bagi kita yang masih asing dengan kota Bandung, perjalanan bisa menjadi kejutan yang tak ada habis-habisnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
