Thursday, January 31, 2013

absolutely boring


Life is boring. Everything is boring. The faces are boring, even the prettiest. The water dispenser looks boring. The birds are chirping in a monotone and lazy tone, boring! My FB status is boring. The music is boring. This computer looks boring. The work is boring. My coffee tastes boring. Even the trees moving in a slow and boring movement.  The world is just a big, hot and humid boringness. Nothing less, nothing more. And I grew weary of it.

I don’t feel like socializing. I just wanna be with myself, and myself alone. Cocooned myself with this boringness of mine. Hibernate. Healing. Whatever you call it.

I couldn’t care more about what is happening around me. I have blocked myself with a concrete of selfishness without doors or windows for people to enter or to peek.

To hell with the world! Today I have given up myself to boringness. And not much that I can do to get everything back into the right place.

All I can do is waiting. Waiting in absolute boringness. And nothing is more painful than that.

Tuesday, January 22, 2013

Bosan Oh Bosan

-->
Dunia membosankan. Setiap hari begitu-begitu saja. Kenapa matahari harus selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat? Kenapa tidak acak saja, jadi setiap hari kita harus menebak dari mana datangnya matahari. Kenapa juga sehabis terang terbit lah gelap? Kenapa tidak sehabis terang terbit lah lebih terang lalu baru gelap.

Bosan akut. Semua wajah tampak membosankan, bahkan yang paling cantik sekalipun. Aktivitas hari ini adalah pengulangan dari yang kemarin. Begitu saja setiap hari.

Bosan itu rasa yang aneh, lebih mengganggu daripada patah hati.

Wednesday, December 26, 2012

Tersesat di Bali


Saat malam turun, musik-musik keras mulai berdentuman di sepanjang jalan Legian. Bersamaan dengan itu, jiwa-jiwa yang tersesat mulai bermunculan; perempuan dan pria dengan tatapan yang kosong dan bahasa tubuh yang tidak lagi mengisyaratkan gairah hidup. Mereka seperti hantu gentayangan.

Seorang wanita berdiri di depan sebuah café remang yang berisik oleh musik diskotik. Rambutnya panjang, kulitnya legam. Dandanan tebal berusaha keras menutupi area di wajahnya yang sudah dimakan waktu. Aku taksir umurnya sudah hampir lima puluh, kalau tidak enam puluh. Ia mengenakan atasan blazer hitam ketat dan rok mini hitam. Ketika lewat di depannya tanpa sengaja aku menatap matanya, tapi tak ada siapa-siapa di sana. Hanya lorong kosong yang tak berujung. Mata yang tak bernyawa.

Ia berjoget tanpa gairah, mengikuti dentuman musik. Terlihat ia sedang menunggu seseorang untuk berkunjung ke cafe atau seseorang untuk membawanya pergi. Yang mana saja, mungkin ia tak lagi peduli.

Seorang pria tua Eropa berjalan sempoyongan. Bau alkohol meruak dari nafasnya ketika aku lewat di sampingnya. Ia jelas sedang mabuk, tapi ada yang lain pada ekspresinya. Sesuatu yang sedih pada lengkung bibirnya dan putus asa pada pijar redup matanya. Ia seperti tersesat.

Seorang wanita yang aku kira adalah istrinya berjalan beberapa langkah di belakangnya. Ekspresinya keras hingga membuat wajahnya tampak seperti patung batu yang dipahat. Mungkin ia marah atau malu pada tingkah suaminya. Seperti suaminya, ia juga tersesat, walau tidak mabuk.

Seorang wanita lagi. Yang ini jauh lebih muda dari wanita yang pertama. Mungkin tak jauh di atas dua puluh tahun. Parasnya manis, rambutnya tergerai panjang di belakang pundaknya. Ia duduk menghadap jalan di dalam sebuah bar. Kakinya yang nyaris telanjang disilangkan dengan anggun. Wajahnya beku tanpa ekspresi. Matanya menatap ke depan, tapi ia tidak melihat. Tampaknya pikirannya sedang berkelana jauh entah ke mana. Ia seperti tidak ingin berada di bar itu malam ini. Ia seperti tahanan.

Tepat di depan sebuah bar terdapat panggung kecil, sekitar 4x4m. Di atasnya seorang pria dengan penampilan serba putih dan metalik seperti robot dalam film The Wizard of Oz, menari-nari dengan berantakkan yang membuatnya seperti orang yang sedang tenggelam atau sedang menghalau lalat dari wajahnya.

Pria serba putih dan metalik itu tidak benar-benar bisa menari. Semua orang yang lewat tahu, dia sendiri juga tahu. Tapi tetap saja dilakoninya pekerjaan itu. Mungkin karena mudah dan bayarannya lumayan. Mungkin ia punya keluarga yang butuh makan dan adik-adik yang perlu sekolah. Atau mungkin ia hanya, malas.

Ternyata di balik hingar bingar kehidupan di Bali, ada sisi lain yang mengingatkan, kalau dalam hidup ini kita semua adalah pengembara. Sebagian kecil langsung sampai tujuan, Sebagian besar tersesat. Sebagian yang tersesat berjuang hingga berdarah-darah untuk menemukan satu jalan menuju “rumah”. Sebagian lagi memilih menunggu suatu saat nasib akan berubah, hingga akhirnya ketika mereka sadar hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya, mereka sudah terlanjur tersesat terlalu jauh.

Wednesday, December 12, 2012

Nature Almighty



Mendaki Gunung Papandayan menorehkan pengalaman menakjubkan sekaligus mengerikan. Hamparan luas gunung batu yang seolah tanpa ujung dikelilingi tebing-tebing raksasa dan sungai kecil serta asap belerang berwarna putih yang tak henti-hentinya mengepul ke langit lewat celah bekas keluarnya lahar, memberikan firasat kalau ada pada Gunung itu sesuatu yang hidup dan berkuasa, Alam.

Aku pergi dengan enam orang sahabat, empat pria dan tiga wanita (dua ibu hamil). Kami sekumpulan manusia kota mencoba mencari petualangan baru yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota. Papandayan menjadi petualangan pertama.

Photo by Irwan Khill
Terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Gunung Papandayan merupakan satu dari sekian banyak gunung merapi yang masih aktif.

Kami sampai di kaki Gunung Papandayan pukul 11 siang. Pertama kali turun dari mobil sepoi sejuk dan ramah angin gunung langsung menyapa kami. Sebelum mulai mendaki kami melepas lelah 6 jam perjalanan dari Jakarta dengan menikmati makanan di warung-warung di sudut lapangan parkir. Setelah enam bungkus indomie, dua piring nasi goreng, tiga bungkus kacang, dan beberapa potong pisang, akhirnya pendakianpun dimulai.

Awalnya Jalur pendakian cukup lebar untuk jalan satu mobil. Namun lama semakin jauh kita melangkah jalan di depan semakin menyempit dan menanjak.
Konturnya berbatu dan berkerikil. Pemakaian sendal jepit karet sangat tidak dianjurkan. 

Photo by Benz Wijaya
 Mendaki gunung Papandayan membuatku merasa seperti sedang menapaki punggung sebuah makhluk raksasa yang sedang tertidur. Deretan tebing di sekelilingnya membuatku merasa ada yang sedang mengawasi. Langkah demi langkah aku ambil dengan hati-hati, karena bebatuan dan kerikil bisa membuatku tersandung atau terpleset. Di samping tempatku menapak, jurang mengaga sedalam tak kurang dari 100 meter.

Selama pendakian yang terdengar hanya suara bising alam. Siulan angin yang berhembus, gemericik sungai yang mengalir, gemeretak batu yang terinjak. Sebuah simfoni alam yang megah dan ajaib.

Udara dingin bertiup sejuk membuai tubuh dan jiwa lelah yang aku bawa dari kota yang tak pernah tidur. Tarik napas yang dalam, biarkan udara segar mengalir ke dalam paru-parumu.

Sampai pertengahan jalan, kaki yang terbiasa berjalan di dataran beraspal atau terbiasa menginjak kopling dan gas, mulai terasa kagok. Namun kemegahan Gunung Papandayan dan misteri yang menunggu di puncaknya membuatku memaksa kedua kaki ini untuk terus melangkah, tapi perduli selelah apapun.

Photo by Benz Wijaya
Ada sesuatu di puncak setiap gunung yang dengan misterius memikat hati, tak terkecuali Gunung Papandayan.

Setelah satu setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai setengah perjalanan menuju puncak. Mengingat ada dua ibu hamil, kami memutuskan tidak naik lebih jauh lagi. Jadi kami hanya sampai sejauh, mungkin… pinggang gunung.


Namun jangan kamu remehkan walau hanya sejauh itu. Coba lempar pandangan ke sekeliling, maka kamu akan menemukan kebesaran alam. Jauh di sisi kanan tempatku berdiri, terdapat hamparan kawah tempat asap putih belerang mengepul ke atas seolah mencipta awan. Angin menerpa wajah degan lembut dan sejuk, aku merasa jiwaku terlepas dan ikut terbang bersamanya. Mataku dimanjakan oleh pemandangan kawah, tebing-tebing besar, dan langit biru berawan yang indah.

Tak tahu lagi harus berbuat apa dan berkata apa, aku terduduk dalam diam di atas sebuah batu sambil menikmati semua itu. Berbagai perasaan berpusar resah di dalam dada, tapi ada dua perasaan yang mendominasi, Takut dan Kagum.

Photo by Irwan Khill
Aku takut karena sadar aku hanya sebagian kecil dari alam yang begitu besar.  Dari ceruk-ceruk gunung yang mengeluarkan asap putih dan tebing-tebing yang besar, alam terlihat penuh dengan gairah hidup. Alam bisa terus hidup tanpa kita, tapi kita tidak bisa hidup tanpa alam. Semua kesombongan dan kebanggaan yang selama ini membesar di diriku, jadi setitik debu lalu tertiup angin. Kepalaku merunduk, hatiku tunduk.

Aku kagum, sebagai seorang anak kota yang biasanya hanya menjelajah hutan beton, kalau ternyata Tanah Ibu Pertiwi ini begitu cantik dan megah. Liburan tak melulu harus pergi keluar negeri. Di sini, di negeri kelahiran kita, di rumah kita sendiri, masih ada tempat yang bisa membuat kita terperangah.

Bagiku, perjalanan ini lebih dari sebuah wisata tapi juga meditasi untuk menambal apa yang terkoyak di dalam


Suatu hari nanti aku akan kembali ke gunung ini dan mendaki sampai ke puncaknya untuk melihat hamparan bunga edelweiss, juga sejuknya embun pagi sambil menanti matahari terbit dari puncak Gunung Papandayan.


Wednesday, November 14, 2012

Masokis


Pada suatu ketika seorang teman yang juga bos (Sekarang mantan bos), pernah menasehati, “Siksa otak loe Win, sampai kering.” Tapi selaraskan dengan hati karena otak yang disiksa tidak dengan cinta akan melawan untuk merdeka, dan di saat itu lah kamu akan menjadi gila. ya! Menyiksa bisa dengan cinta, seperti seorang bapak yang membiarkan anaknya jatuh agar ia tahu bagaimana bisa bangkit.
Aku menjadi sedikit masokis karenanya, nasihat mantan bosku itu. Sakit kepala yang biasa kita rasakan setelah seharian berpikir, memberikan rasa puas yang meretas batas antara muak dan bangga. Kedua rasa itu mencair lalu larut menjadi sebuah zat serupa candu. Candu untuk terus melangkah, untuk terus memacu diri, untuk terus percaya walau sepertinya tak mungkin, untuk terus hidup walau kehidupan menjejalkan berbagai alasan untuk berhenti hidup.

Friday, November 9, 2012

Dengarkan lah

-->
Dengarkan lah
Setan memaki
Semua kata yang berduri
Telan semua dengan serakah

Dengarkan lah
Iblis berbisik
Semua kata yang syirik
Simpan semua walau gerah

Dengarkan lah
Semua syair neraka
Setiap bait gila
Lantunkan meski dalam nada yang lemah

Dengarkan lah
Kita tak pernah tahu
Tak akan pernah tahu
Tersirat di sana
Kata-kata penyembuh jiwa
Yang tak kau dapatkan dari menyembah terang

Karena sejatinya
Terang yang paling terang
Adalah terang yang keluar dari gelap
Gelap yang paling gelap
Adalah gelap yang bersembunyi di dalam terang.

Dengarkan lah

Tuesday, October 30, 2012

Hanya Lelah

Tadi malam tanpa maksud, aku berkunjung ke sebuah toko buku di sebuah mall kecil di kuningan. Di salah satu raknya aku menemukan sebuah novel yang sudah lama aku inginkan. lalu aku teringat tak punya uang cash. Spontan bayangan harus mencari mesin ATM yang entah ada di sudut mana dan setelah itu harus kembali ke toko buku ini membuatku meletakkan kembali buku itu di rak, berbalik dan melangkah pergi. Buku itu tinggal satu-satunya, tapi aku terlalu lelah.

Aku pulang naik bus “derita” berwarna abu-abu dari halte di tengah jalan Kuningan dan Setia Budi. Ini pertama kalinya aku pulang ke rumah dari halte itu. Untuk itu aku bertanya arah ke petugas. Ramah aku bertanya, dijawab dengan acuh. Mungkin ia buta. Aku di depannya, tapi ia menjawab sambil menengok ke sebelah kanannya. Dadaku panas, amarah terusik seperti ular yang terinjak, kata-kata setajam silet sudah berdesakkan minta keluar dari dalam tenggorokkan. Tapi itu yang biasanya akan terjadi. Malam ini aku terlalu lelah untuk tersinggung. Setidaknya oleh hal seremeh itu.

Bus “derita” penuh sesak. Aku berdiri memandang ke jalanan dari balik jendela bus. Sebuah mobil melintas. Di dalamnya seorang cowok sedang serius menyetir sedangkan cewek di sampingnya sedang autis dengan HP-nya. Sekilas aku berpikir enaknya kalau punya mobil sendiri gak harus berhempitan seperti kambing kurban yang sedang diangkut. Lalu tiba-tiba laju si mobil tersendat. Jalan macet di depannya. Dari dalam bus “derita” aku melewati antrian mobil yang mengular sampai ke ujung. Niat untuk beli mobil langsung kandas, aku terlalu lelah untuk punya jadi tua di jalan.

Ada berbagai jenis manusia di dalam bus “derita”. Tapi seorang cowok yang sedang berdiri di bagian belakang mengusik pemandanganku. Kepalanya botak… hm.. egh… aku menengok untuk melihat pakaiannya, ia pakai jaket kulit warna hitam. Egh… warna resletingnya putih bukan ya? Sekali lagi aku nengok. Bukan putih tapi silver. Dia sedang menjinjing tas. Tapi tas apa ya? Aku melihat lagi ke arahnya. Shit! Tote bag. Aku sampai menengok ke arah tasnya beberapa kali antara tak percaya dan jijik. Aku masih belum bisa menerima melihat cowok yang memakai tas itu. Ia seperti sedang membawakan tas pacarnya. Sekali lagi aku melihat ke arahnya, dan dia sepertinya sadar kalau aku sedang mengawasinya. Sial, nanti dia kira aku naksir lagi. Namun sekali lagi, aku terlalu lelah untuk peduli.

Orang-orang masuk dan keluar bus, semuanya tampak lelah dan muak, entah pada apa. Di depanku seorang cewek langsung tertidur begitu ia mendapat tempat duduk, di sebelahku seorang pria tertidur pulas, mulut mangap dan kepala mendongak seperti sedang menanti sesuatu jatuh dari atas. Kesibukkan menghisap nyawa dari diri kita masing-masing dan menjadikan kita zombie. Aku juga lelah seperti kebanyakan orang di bus “derita” ini, tapi aku tidak tertidur. Aku lelah, tapi bukan lelah seperti mereka.

Dari halte busway aku naik ojek. Seharusnya aku bisa jalan sedikit untuk naik angkot, tapi niatku layu dan tenagaku kering kerontang seperti jemuran yang lupa diangkat. Jadi aku tak peduli, ojek pertama di depanku langsung aku sambar.

Sesampainya di rumah, aku membayar ongkos Rp 7000,- rupiah. Tarif standar yang sebelumnya sudah aku dan supir ojek sepakati bersama. Well, setidaknya begitu kesimpulanku. Dia cuma diam waktu aku tawar. Diam itu emas, tapi diam juga bisa berarti setuju. Ketika sampai di depan rumahku dan aku menyodorkan ongkos, si supir ojek lagi-lagi diam. Lalu dua detik kemudian ia menyambar uang di tanganku dengan gerakan lambat, seolah-olah gesturnya berkata, “pelit amat sih”. Tingkah si tukang ojek seperti merangkum semua kekesalanku selama perjalanan pulang. Aku ingin meledak, tapi lelah menelan emosi seperti monster gemuk yang lambat. Lelah yang asing sekaligus akrab. Aku pun mengalah dan melangkah lunglai masuk ke dalam rumah.

Lelah ini tak punya nama. Bukan lelah fisik atau lelah jiwa, dan juga bukan lelah bekerja atau lelah bertengkar. Lelah ini tak berdefinisi, ia murni hanya rasa.