Thursday, June 7, 2012

Saatnya kebiasaan punya alasan

Betapa miris bagaimana manusia sering menyia-nyiakan kemampuan otak mereka dengan melakukan sesuatu atas nama kebiasaan.

Pada suatu siang di kantor, seorang teman datang ke meja saya untuk meminta tisu. Saya sama sekali tidak masalah, bahkan ketika ia tidak meminta ijin. Masalahnya adalah bagaimana ia mencabut tiga lembar tisu tanpa dengan enteng hanya untuk melap mulutnya sehabis makan. Gerah melihatnya, langsung saja saya “tembak”, “eh boros banget sih pake tisu. Berapa pohon tuh yang udah loe bunuh cuma buat ngelap mulut loe.” Apakah ia merasa bersalah? Mungkin sedikit. Tapi saat itu ia hanya senyum-senyum sambil bilang kalau itu, kebiasaan.

Jadi hanya dengan alasan kebiasaan, lantas semua jadi bisa dibenarkan? Semua jadi bisa dimaafkan? Padahal menurut data yang saya dapatkan dari Om Google, satu kantong tisu berisi 20 lembar, membunuh satu batang pohon. Bayangkan berarti kalau dia makan tiga kali sehari, plus dua kali jajan, itu sama dengan 15 lembar tisu atau hampir satu pohon. Coba dikalikan 30 hari atau 365 hari. Rasanya dia sudah menjadi si pembantai pohon.

Pohon itu hidup, walau ia tidak bersuara dan tidak bergerak dengan signifikan. Dan setiap makhluk yang hidup bisa merasakan sakit dan sedih.

Kadang kita suka pilu melihat foto atau video tentang orang yang menebang pohon tanpa perasaan. Seolah kita bisa merasakan sakitnya setiap hantaman kampak atau potongan gergaji mesin. Tapi dengan memakai tisu tanpa berpikir terlebih dahulu, apa bedanya kita dengan para pembalak liar itu kecuali lokasi, mereka di hutan, kita di kota.

Padahal yang kita butuhkan hanya sedikit lebih banyak menggunakan otak. Berpikir dulu sebelum melakukan kebiasaan boros menggunakan tisu. Bayangkan juga populasi pohon di hutan yang semakin jarang, lalu bayangkan apa imbasnya kepada dunia, kepada kita. Bayangkan asap knalpot bajaj atau bus umum, atau asap pabrik, lalu tarik napas dalam-dalam.

Di jalan kita sering sekali menemukan contoh lain dari kebiasaan yang salah. Yaitu kebiasaan memberikan uang ke pengemis. Bila dilihat sekilas, memang rasanya kebiasaan itu merupakan hal yang mulia. Namun apakah kita pernah berpikir, dengan membiasakan memberi uang ke pengemis justru akan membuat mereka malas. Buat apa capek bekerja bila hanya dengan mengadahkan tangan sudah bisa dapat uang. Karena itu jumlah pengemis semakin meroket.

Kebiasaan menyalahkan orang lain juga salah satu yang paling gawat. Menyalahkan orang yang korupsi, padahal kita juga tidak pernah melakukan apa-apa untuk memperbaiki negeri ini atau menyalahkan wanita yang memakai rok pendek atas ketidakmampuan diri sendiri mengontrol birahi.

Satu contoh lagi adalah kebiasaan kita mendidik anak.

Saya memang belum menikah dan punya anak, tapi setiap hari saya menyaksikan bagaimana anak kakak saya dibesarkan oleh neneknya, ibu saya dan juga orang tuanya, kakak dan kakak ipar saya.

Bagaiaman cara kita membesarkan anak kita secara tidak langsung dipengaruhi dengan bagaimana dulu kita dibesarkan orang tua kita. Masalahnya adalah jaman terus berubah untuk itu banyak cara dan pemikiran yang dulu rasanya benar, sekarang menjadi salah sama sekali.

Kebiasaan menakut-nakuti anak agar ia tidak macet makan, atau kebiasaan memukul dan menyalahkan lantai ketika si kecil terjatuh, atau kebiasaan membandingkan si kecil dengan orang lain. Semua ini adalah kebiasaan yang patut kita telaah lagi validitasnya di jaman sekarang.

Kebiasaan menjadi sesuatu yang, invisible bagi diri kita sendiri. Biasanya kita tidak sadar kalau kita melakukan hal yang salah. Di saat seperti ini lah kita butuh orang lain. Butuh teman yang berani mengatakan kalau kebiasaan kita salah. Jadi jangan tersinggung bila ada yang mengkritik, tapi jangan juga kita telan bulat-bulat. Gunakan otak yang maha canggih di dalam kepala kita untuk mencerna masukkan itu.

Melakukan sesuatu atas nama kebiasaan sama dengan malas mikir. Kalau bisa disamakan, “kebiasaan” mungkin bisa disebut insting. Jadi bila kita terus menuruti kebiasaan, apa bedanya kita dengan seekor kera yang punya kebiasaan buang kulit pisang sembarang setelah menandaskan isinya.

Lain kali, kalau kita ingin melakukan suatu “kebiasaan”, berhenti sejenak, pikir dulu alasannya, benar atau tidak, masih valid di jaman sekarang atau sudah usang. Setelah sadar benar dengan alasannya, baru jalani kebiasaan itu.

“Akh kebanyakan mikir loe!” mungkin orang akan komentar seperti itu, tapi melihat bagaimana sekarang kita hidup dengan rasa peduli yang semakin menipis, rasanya justru kita sudah jarang sekali serius berpikir.

Tuesday, June 5, 2012

Live the question


I wonder where life will lead me if I stop searching for the answer and start living the question. Listen to my heart and take the hardest decision based on it. Take every chance the life has offered. Happiness they say, is a sum of a million failures and tireless efforts to pull yourself together.

"Don’t search for the answers, which could not be given to you now, because you would not be able to live them. And the point is to live everything. Live the questions now. Perhaps then, someday far in the future, you will gradually, without even noticing it, live your way into the answer."
- Rainer Maria Rilke-

Thursday, May 17, 2012

mengisi lembar putih


Lembar putih ini aku buka dan tutup beberapa kali. Aku menatapnya dan berusaha berpikir, menulis beberapa kata, lalu menghapusnya, menulis satu kata lalu menghapusnya lagi. Terus begitu sampai akhirnya lembaran itu tetap kosong, seperti isi kepalaku. 

Aku harus pergi, entah ke tempat di mana tak ada seorang pun aku kenal. Pergi sendiri untuk mencari diriku sendiri. Agar aku bisa mengisi lembar putih di kepalaku.

Thinking how not to think too much


I think too much. I think that’s how I became a sensitive person. I think if I stop thinking too much, somehow my life would be easier, lighter. But where should I start, I wonder.

Should I begin with not thinking too much when I’m going to make a decision. But how could I know that I will take the right path? Or I’m not supposed to know it before I gone through it. You can always predict what will happen, can’t you? Of course it’s not going to be 100% right. Hello, I think that’s why it called prediction. Am I doing it again? Thinking too much. Urgghh!!! What should I do?

Should I stop questioning my ability, my heart, and myself? Yeah, I think that is a good start. Remembering what Gandhi once said, that if you want to change the world, starts from yourself. But, how in the world should I stop doubting myself?

Should I stop thinking about what other people think about me? Should I be oblivious about other people feeling? Should I build my own nest and live there, away from everyone.

Think! C’mon think how can I be a happier person. I’m a dark person and I tend to push away all the people around me. People who actually, care and nice to me.

Think!!! Think!! Think! Think? I think that’s the problem. Stop thinking and take action. Go out there, get my hand dirty and my T-shirt full of sweats. Yap! That’s it. That’s the freakin answer, I think.

Saturday, May 5, 2012

Habis "ngobrol”, jangan malas keringatan


Berdoalah. Maka kamu akan bisa melihat petunjukNya. Karena semua itu sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Petunjuk buruk dan petunjuk baik. Tinggal jodoh mana yang akan datang kepadamu.

Doa adalah cara kita “ngobrol” denganNya. Seperti ketika mencurahkan perasaan kepada seorang sahabat, atau guru, atau seorang majikan yang baik. Sehingga ia tahu petunjuk mana yang harus ia siapkan untukmu. Bila kau diam saja, bukan berarti Dia tidak tahu, tapi Dia akan berpikir kalau kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri.

Dia punya seluruh manusia di bumi ini dan entah makhluk apalagi di seluruh alam semesta, yang harus ia pikirkan. Kalau kamu sendiri saja tidak perduli dengan dirimu, buat apa Dia perduli. Jadi berdoalah.

Hanya saja, jangan kamu selalu berdoa untuk dirimu sendiri. Tak ada orang yang suka mendengarkan seseorang yang terus menerus bicara tentang dirinya sendiri. Begitu juga Dia. Berikan ruang, bukan sepetak, tapi seluas lapangan sepak bola untuk mendoakan orang lain. Barulah ambil sepetak di tepi lapangan untuk dirimu sendiri.

Berdoalah dan sertai dengan berusaha. Kalau hanya mengatupkan tangan dan memohon, lalu duduk nonton TV atau nongkrong-nongkong manis, sambil berharap keajaiban datang sendiri seperti seekor anak kucing nyasar, sama saja dengan mimpi siang bolong, omong kosong, gigi ompong, otak melompong. Lebih baik main odong-odong.

Berdoa dan berusaha tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Mereka seperti sepasang kaki. Limpung bilang salah satunya tidak digunakan.

Berdoalah, karena hal itu akan membuatmu lebih peka akan petunjukNya. Lalu singsingkan lengan bajumu, angkat pantatmu, berjuanglah untuk mimpimu dan mimpi orang banyak.

Selamat “ngobrol” dan jangan malas keringatan.

Wednesday, May 2, 2012

Memilih


Hidup terbentuk dari jutaan partikel DNA yang benama pilihan. Seperti ketika malam itu kita memilih bercinta tanpa kondom. Dan saat kita memillih, ketika si kecil masih di dalam janinmu, untuk mempertemukannya dengan dunia, bukan dengan akhirat. Ketika kita memilih untuk lari dari rumah dan tinggal di kos-kosan kecil di pinggir rel kereta api tanpa AC dan banyak nyamuk. Lalu berhenti kuliah. Tidak menyerah dan kembali ke rumah orang tua. Dan ketika pada suatu malam yang gerah, saat si kecil akhirnya tertidur setelah menangis hampir sepanjang malam, dan aku juga kalap terlelap, kamu meletakkan sebuah surat di atas bantalmu, di sebelah kepalaku, lalu diam-diam pergi. Dan ketika kamu memilih untuk tidak menjelaskan lebih selain pesan pendek di sobekkan kertas putih polos,

“Maafkan aku. Tolong jaga anak kita.”

Love
Sofie

Tapi aku tak marah. Karena lagi-lagi, hidup itu pilihan dan aku menghargai pilihanmu. Walau aku merasa kamu egois, tapi setiap orang punya alasan. Mungkin kau pergi karena takut tidak bisa menjadi ibu yang baik. Jadi kamu melakukan ini demi si kecil. Kalau begitu pilihanmu bisa jadi benar, walau aku merasa lari bukan lah jawaban.

Ataukah kamu pergi karena aku tidak cukup untukmu. Maafkan aku, tapi aku sudah berusaha. Hanya saja hidup belum mengijinkanku untuk memberimu lebih daripada separuh nafasku. Kita tak bisa hidup hanya dengan cinta, begitu bentakmu pada salah satu dari ribuan pertengkaran kita. Dan kini kamu pergi. Begitu saja. Seperti angin yang berlalu. Kamu benar, karena kamu tidak tahu kalau Taj Mahal dibangun dengan cinta.

Apakah kamu berpikir bisa begitu saja terhapus dari hidup kami? Si kecil semakin sering menangis rindu pada tetek ibunya. Aku masih suka terbangun dengan dada sesak di tengah malam ketika melihat ranjang tempatmu biasa terlelap kini kosong. Kadang aku terjaga sampai pagi sambil berharap kalau kamu hanya pergi ke WC atau ambil minum dan akan segera kembali tidur di sebelahku. Kamu boleh pergi ke ujung dunia, tapi kamu akan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kami.

Pada suatu sore, saat senja pertama di musim hujan. Di bawah langit yang sedang bergemuruh dan di antara angin yang sedang berhembus sejuk, aku menatap mata coklatmu pertama kalinya. Detik itu aku memilih untuk mencintaimu, selamanya. Sepuluh tahun berlalu, aku masih memegang erat pilihan itu tanpa sedikit pun niat untuk melepasnya.

Andai suatu hari nanti kamu bisa membaca catatan pendek ini, aku ingin kamu tahu kalau si kecil punya mata coklat seindah milikmu. Pada dirinya lah aku menemukan kembali kamu.

Aku bisa benci atau marah padamu. Tapi tidak. Aku memilih untuk mengingatmu sebagai seorang wanita yang aku kagumi. Aku memilih untuk tidak menceritakan hal-hal buruk tentang kamu ketika nanti si kecil sudah cukup besar untuk bertanya tentang ibunya. Aku memilih untuk terus berdoa agar kamu bisa menemukan kebahagiaan yang tidak bisa kamu temukan bersamaku. Aku memilih untuk tidak menyimpan dendam walau banyak orang mencap aku bodoh. Tapi aku bukan kebanyakan orang.

Seorang penulis Inggris pernah menulis, “Obat sakit cinta adalah lebih mencintai”. Aku memilih untuk percaya padanya. Aku memilih untuk lebih mencintaimu, dimanapun kamu berada, apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, dengan siapa kamu melewati malammu. Aku merasa bebas ketika aku memilih untuk tidak membencimu.

Saturday, April 21, 2012

Doa


Setelah sekian lama tak menunjukkan batang hidung, malam ini aku datang ke hadapanmu membawa sejuta masalah. Tapi bagaimanapun aku tetap berharap Engkau mau mendengar doaku.

Aku mengerti kalau Engkau pasti sibuk mengurusi begitu banyak doa orang. Bahkan mungkin dengan masalah-masalah yang jauh lebih berat dari yang sedang aku hadapi. Jadi aku tak akan menyita terlalu banyak waktumu dengan berbusa-busa menjabarkan masalahku satu persatu malam ini (Aku yakin Engkau pun juga sudah tahu). Walau orang bilang kalau Tuhan tak pernah tidur.

Jalan di depanku bercabang, kemana aku harus melangkah? Tak perlu Engkau jawab sekarang, urus dulu orang-orang lain dengan masalah yang lebih berat. Namun nanti di sela-sela itu, bila  ada sedikit waktu luang, ketika Engkau sedang istirahat, mungkin semacam makan siang atau saat sedang merenggangkan tubuh, tolong luangkan sedikit waktuMu untukku. Umatmu yang bandel ini.

Aku tak butuh keajaiban. Aku hanya butuh mengambil keputusan yang tepat. Aku tak butuh jawaban pasti, aku hanya butuh pertanda. Kalau keinginanku ini terlalu berat, kabulkan satu permintaanku ini.

Berikan aku keberanian. Berikan lebih banyak besi untuk nyaliku. Sehingga seandainya aku mengambil keputusan yang salah, masih ada kekuatan di diri untuk tidak menyerah. Untuk bangkit dan mencoba lagi. Untuk yakin kalau suatu hari nanti, di dalam kehidupan ini, aku pasti bisa sampai. Untuk yakin kalau Engkau akan selalu ada untukku, untuk tidak menentukan nasibku, tapi untuk membuatku berani menuliskan nasibku sendiri.

Begitu saja. Semoga doa dari murid yang bandel ini tidak membuatMu sakit kepala seperti aku. Karena kepada siapa lagi Engkau akan mengadu.

Selamat malam, selamat membuat keajaiban di hidup manusia. Oh ya satu lagi, berikan juga keberanian untuk orang-orang yang sedang menghadapi pilihan-pilihan dalam hidup mereka.