Tuesday, June 5, 2012

Live the question


I wonder where life will lead me if I stop searching for the answer and start living the question. Listen to my heart and take the hardest decision based on it. Take every chance the life has offered. Happiness they say, is a sum of a million failures and tireless efforts to pull yourself together.

"Don’t search for the answers, which could not be given to you now, because you would not be able to live them. And the point is to live everything. Live the questions now. Perhaps then, someday far in the future, you will gradually, without even noticing it, live your way into the answer."
- Rainer Maria Rilke-

Thursday, May 17, 2012

mengisi lembar putih


Lembar putih ini aku buka dan tutup beberapa kali. Aku menatapnya dan berusaha berpikir, menulis beberapa kata, lalu menghapusnya, menulis satu kata lalu menghapusnya lagi. Terus begitu sampai akhirnya lembaran itu tetap kosong, seperti isi kepalaku. 

Aku harus pergi, entah ke tempat di mana tak ada seorang pun aku kenal. Pergi sendiri untuk mencari diriku sendiri. Agar aku bisa mengisi lembar putih di kepalaku.

Thinking how not to think too much


I think too much. I think that’s how I became a sensitive person. I think if I stop thinking too much, somehow my life would be easier, lighter. But where should I start, I wonder.

Should I begin with not thinking too much when I’m going to make a decision. But how could I know that I will take the right path? Or I’m not supposed to know it before I gone through it. You can always predict what will happen, can’t you? Of course it’s not going to be 100% right. Hello, I think that’s why it called prediction. Am I doing it again? Thinking too much. Urgghh!!! What should I do?

Should I stop questioning my ability, my heart, and myself? Yeah, I think that is a good start. Remembering what Gandhi once said, that if you want to change the world, starts from yourself. But, how in the world should I stop doubting myself?

Should I stop thinking about what other people think about me? Should I be oblivious about other people feeling? Should I build my own nest and live there, away from everyone.

Think! C’mon think how can I be a happier person. I’m a dark person and I tend to push away all the people around me. People who actually, care and nice to me.

Think!!! Think!! Think! Think? I think that’s the problem. Stop thinking and take action. Go out there, get my hand dirty and my T-shirt full of sweats. Yap! That’s it. That’s the freakin answer, I think.

Saturday, May 5, 2012

Habis "ngobrol”, jangan malas keringatan


Berdoalah. Maka kamu akan bisa melihat petunjukNya. Karena semua itu sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Petunjuk buruk dan petunjuk baik. Tinggal jodoh mana yang akan datang kepadamu.

Doa adalah cara kita “ngobrol” denganNya. Seperti ketika mencurahkan perasaan kepada seorang sahabat, atau guru, atau seorang majikan yang baik. Sehingga ia tahu petunjuk mana yang harus ia siapkan untukmu. Bila kau diam saja, bukan berarti Dia tidak tahu, tapi Dia akan berpikir kalau kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri.

Dia punya seluruh manusia di bumi ini dan entah makhluk apalagi di seluruh alam semesta, yang harus ia pikirkan. Kalau kamu sendiri saja tidak perduli dengan dirimu, buat apa Dia perduli. Jadi berdoalah.

Hanya saja, jangan kamu selalu berdoa untuk dirimu sendiri. Tak ada orang yang suka mendengarkan seseorang yang terus menerus bicara tentang dirinya sendiri. Begitu juga Dia. Berikan ruang, bukan sepetak, tapi seluas lapangan sepak bola untuk mendoakan orang lain. Barulah ambil sepetak di tepi lapangan untuk dirimu sendiri.

Berdoalah dan sertai dengan berusaha. Kalau hanya mengatupkan tangan dan memohon, lalu duduk nonton TV atau nongkrong-nongkong manis, sambil berharap keajaiban datang sendiri seperti seekor anak kucing nyasar, sama saja dengan mimpi siang bolong, omong kosong, gigi ompong, otak melompong. Lebih baik main odong-odong.

Berdoa dan berusaha tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Mereka seperti sepasang kaki. Limpung bilang salah satunya tidak digunakan.

Berdoalah, karena hal itu akan membuatmu lebih peka akan petunjukNya. Lalu singsingkan lengan bajumu, angkat pantatmu, berjuanglah untuk mimpimu dan mimpi orang banyak.

Selamat “ngobrol” dan jangan malas keringatan.

Wednesday, May 2, 2012

Memilih


Hidup terbentuk dari jutaan partikel DNA yang benama pilihan. Seperti ketika malam itu kita memilih bercinta tanpa kondom. Dan saat kita memillih, ketika si kecil masih di dalam janinmu, untuk mempertemukannya dengan dunia, bukan dengan akhirat. Ketika kita memilih untuk lari dari rumah dan tinggal di kos-kosan kecil di pinggir rel kereta api tanpa AC dan banyak nyamuk. Lalu berhenti kuliah. Tidak menyerah dan kembali ke rumah orang tua. Dan ketika pada suatu malam yang gerah, saat si kecil akhirnya tertidur setelah menangis hampir sepanjang malam, dan aku juga kalap terlelap, kamu meletakkan sebuah surat di atas bantalmu, di sebelah kepalaku, lalu diam-diam pergi. Dan ketika kamu memilih untuk tidak menjelaskan lebih selain pesan pendek di sobekkan kertas putih polos,

“Maafkan aku. Tolong jaga anak kita.”

Love
Sofie

Tapi aku tak marah. Karena lagi-lagi, hidup itu pilihan dan aku menghargai pilihanmu. Walau aku merasa kamu egois, tapi setiap orang punya alasan. Mungkin kau pergi karena takut tidak bisa menjadi ibu yang baik. Jadi kamu melakukan ini demi si kecil. Kalau begitu pilihanmu bisa jadi benar, walau aku merasa lari bukan lah jawaban.

Ataukah kamu pergi karena aku tidak cukup untukmu. Maafkan aku, tapi aku sudah berusaha. Hanya saja hidup belum mengijinkanku untuk memberimu lebih daripada separuh nafasku. Kita tak bisa hidup hanya dengan cinta, begitu bentakmu pada salah satu dari ribuan pertengkaran kita. Dan kini kamu pergi. Begitu saja. Seperti angin yang berlalu. Kamu benar, karena kamu tidak tahu kalau Taj Mahal dibangun dengan cinta.

Apakah kamu berpikir bisa begitu saja terhapus dari hidup kami? Si kecil semakin sering menangis rindu pada tetek ibunya. Aku masih suka terbangun dengan dada sesak di tengah malam ketika melihat ranjang tempatmu biasa terlelap kini kosong. Kadang aku terjaga sampai pagi sambil berharap kalau kamu hanya pergi ke WC atau ambil minum dan akan segera kembali tidur di sebelahku. Kamu boleh pergi ke ujung dunia, tapi kamu akan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kami.

Pada suatu sore, saat senja pertama di musim hujan. Di bawah langit yang sedang bergemuruh dan di antara angin yang sedang berhembus sejuk, aku menatap mata coklatmu pertama kalinya. Detik itu aku memilih untuk mencintaimu, selamanya. Sepuluh tahun berlalu, aku masih memegang erat pilihan itu tanpa sedikit pun niat untuk melepasnya.

Andai suatu hari nanti kamu bisa membaca catatan pendek ini, aku ingin kamu tahu kalau si kecil punya mata coklat seindah milikmu. Pada dirinya lah aku menemukan kembali kamu.

Aku bisa benci atau marah padamu. Tapi tidak. Aku memilih untuk mengingatmu sebagai seorang wanita yang aku kagumi. Aku memilih untuk tidak menceritakan hal-hal buruk tentang kamu ketika nanti si kecil sudah cukup besar untuk bertanya tentang ibunya. Aku memilih untuk terus berdoa agar kamu bisa menemukan kebahagiaan yang tidak bisa kamu temukan bersamaku. Aku memilih untuk tidak menyimpan dendam walau banyak orang mencap aku bodoh. Tapi aku bukan kebanyakan orang.

Seorang penulis Inggris pernah menulis, “Obat sakit cinta adalah lebih mencintai”. Aku memilih untuk percaya padanya. Aku memilih untuk lebih mencintaimu, dimanapun kamu berada, apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, dengan siapa kamu melewati malammu. Aku merasa bebas ketika aku memilih untuk tidak membencimu.

Saturday, April 21, 2012

Doa


Setelah sekian lama tak menunjukkan batang hidung, malam ini aku datang ke hadapanmu membawa sejuta masalah. Tapi bagaimanapun aku tetap berharap Engkau mau mendengar doaku.

Aku mengerti kalau Engkau pasti sibuk mengurusi begitu banyak doa orang. Bahkan mungkin dengan masalah-masalah yang jauh lebih berat dari yang sedang aku hadapi. Jadi aku tak akan menyita terlalu banyak waktumu dengan berbusa-busa menjabarkan masalahku satu persatu malam ini (Aku yakin Engkau pun juga sudah tahu). Walau orang bilang kalau Tuhan tak pernah tidur.

Jalan di depanku bercabang, kemana aku harus melangkah? Tak perlu Engkau jawab sekarang, urus dulu orang-orang lain dengan masalah yang lebih berat. Namun nanti di sela-sela itu, bila  ada sedikit waktu luang, ketika Engkau sedang istirahat, mungkin semacam makan siang atau saat sedang merenggangkan tubuh, tolong luangkan sedikit waktuMu untukku. Umatmu yang bandel ini.

Aku tak butuh keajaiban. Aku hanya butuh mengambil keputusan yang tepat. Aku tak butuh jawaban pasti, aku hanya butuh pertanda. Kalau keinginanku ini terlalu berat, kabulkan satu permintaanku ini.

Berikan aku keberanian. Berikan lebih banyak besi untuk nyaliku. Sehingga seandainya aku mengambil keputusan yang salah, masih ada kekuatan di diri untuk tidak menyerah. Untuk bangkit dan mencoba lagi. Untuk yakin kalau suatu hari nanti, di dalam kehidupan ini, aku pasti bisa sampai. Untuk yakin kalau Engkau akan selalu ada untukku, untuk tidak menentukan nasibku, tapi untuk membuatku berani menuliskan nasibku sendiri.

Begitu saja. Semoga doa dari murid yang bandel ini tidak membuatMu sakit kepala seperti aku. Karena kepada siapa lagi Engkau akan mengadu.

Selamat malam, selamat membuat keajaiban di hidup manusia. Oh ya satu lagi, berikan juga keberanian untuk orang-orang yang sedang menghadapi pilihan-pilihan dalam hidup mereka.

Friday, February 17, 2012

Pesawat lepas landas, dan ceritapun dimulai

Mesin pesawat berderu kencang mendorong pesawat untuk berlari secepat kilat di lintasan terbang. Tak lama kemudian hidung pesawat mulai terangkat. Tubuhku terdorong ke belakang, lekat ke sandaran kursi. Pesawat bergetar seakan sedang bersusah payah untuk melawan kekuatan grafitasi. Lalu perlahan, dari balik jendela pesawat, semua yang di darat menjadi miniatur dan jutaan kunang-kunang.

Penerbangan menuju Surabaya ini memakan waktu satu jam lima belas menit. Itu sama saja dengan tujuh puluh lima menit berada 30.000 kaki di atas permukaan tanah. Berbagai potongan imajinasi tentang pesawat yang jatuh atau sayap yang patah atau turbin yang terbakar langsung muncul di kepalaku. Panik merangkak lewat kerongkongan. Aku berdoa.

Pramugari memperagakan prosedur keselamatan bila terjadi kecelakaan. Saat ia sedang memperagakan bagaimana mengenakan baju pelampung, aku malah membayangkan ia mengajarkan bagaimana kita melucuti pakaiannya. Apakah aku normal? Aku berdoa. Bukan untuk bertobat, tapi agar imajinasiku bisa terwujud suatu hari nanti. :p

Aku duduk di kursi tengah, diapit seorang wanita berjilbab yang ramah dan seorang bapak yang tampak seperti pegawai pemerintahan. Bapak di sebelahku ini adalah tipe orang yang suka menertawakan kesusahan orang lain. Buktinya, tadi sebelum pesawat lepas landas, ia menertawakan seorang pria yang kesusahan memasukkan tasnya ke kabin atas. Dia menengok ke arahku dengan maksud mengajakku ikut tertawa, tapi dengan tambengnya aku mengacuhkannya sambil memasang muka ketus. Akhirnya ia diam sendiri menikmati leluconnya yang aku bikin pahit.

Aku membuka buku kumpulan cerpen Anthony doerr dan membaca cerita tentang seorang anak kecil yang harus pindah ke Lithuania setelah kedua orang tuanya meninggal karena kanker. Kisah itu membawaku puluhan ribu kilometer ke negara bekas jajahan Uni Soviet dan German itu. mengikuti kisah demi kisah.

Aku kembali dari imajinasiku dan duduk di pesawat lagi ketika pramugari menyodorkan kotak snack berwarna merah darah. Isinya tak lebih dari sebuah roti dan kue murahan serta segelas air mineral. Aku lahap roti yang hambar rasanya itu tak sampai habis. Aku singkirkan sisanya lalu segera kembali ke buku. Beberapa detik kemudian aku kembali berada di Lithuania.

Pesawat terguncang. Kami sedang melewati gumpalan awan. Panik menggelayut di dalam dada. Aku teringat maskapai yang pernah jatuh lalu hilang di tengah laut. Aku membayangkan pesawat ini jatuh, mungkin rasanya seperti naik roller coaster ketika sedang meluncur turun, hanya saja yang ini tidak akan pernah naik lagi. Aku menahan napas. Mencoba mengusir pikiran buruk dari kepalaku. Aku berdoa.

Aku mengecek sabuk pengaman yang melingkar di pinggangku dan aku lihat kepala sabuknya yang tampak kusam dan baret-baret, seolah-olah diambil dari reruntuhan pesawat yang pernah jatuh. Aku berdoa lagi.
 
Dasar lebay. Hanya awan kecil dan sedikit guncangan saja. Sekarang pesawat sudah normal kembali. Aku perhatikan kedua orang di sebelahku sedang tertidur pulas (tidak seperti aku yang panik).
Entah berapa jauh lagi sampai Bandar udara Juanda. Aku mengintip keluar jendela, gelap total. Aku bahkan tidak tahu apakah pesawat ini benar-benar sedang bergerak atau tidak. Aku membayangkan kalau sebenarnya kami sedang berada di sebuah simulator pesawat terbang. Sebenarnya kami berada di sebuah ruangan dengan dinding kaca yang di baliknya, sekelompok ilmuwan sedang berdiri dan melihat kami untuk meneliti reaksi orang di dalam pesawat.

Pesawat kembali berguncang. Aku kembali panic. Walau tidak separah tadi.

Aku berusaha mendengarkan suara di dalam pesawat. Dua orang wanita sedang ngobrol dengan seru beberapa bangku di belakangku. Selebihnya tak ada. mungkin semua orang tidur. Atau mungkin juga punya ketakutan yang sama denganku sampai mereka tak sanggup bicara.

Dingin menusuk di dalam pesawat. Tak ada selimut untuk penumpang. Aku menggigil seraya dingin merayapi bagian tubuhku yang telanjang. Hidung bobrok ini sudah mampat semenjak pertama terkena dingin. Aku hanya bisa bernapas sedikit-sedikit. Penciuman lumpuh hampir 80 persen. Tiba-tiba, aku mencium bau durian. Walau hidung mampat, semua orang juga bisa mengenali bau menusuk itu. Siapa sih yang makan durian di pesawat. Aku mengumpat dalam hati. Tak lama bau durian itu pergi. Tenang kembali.

Dalam tenang pesawat bergumam lembut. Pramugari bolak-balik seperti model di catwalk. Kenapa sih pramugari tampangnya judes. Kadang tidak cantik tapi ketus iya.

Ketika sedang berpikir tak jelas arah, bau durian yang tadi kembali tercium. Aku mengendus-ngendus seperti anjing sambil celingak-celinguk mencari sumber bau itu. Entah ada apa dengan gerakkan itu yang membuat penciumanku sedikit lebih baik, karena di momen itu aku sadar kalau itu bukan bau durian melainkan bau KENTUT! Seseorang sedang sakit perut dan belum boker untuk waktu yang lama. seseorang yang mungkin baru saja makan durian dan BANGKAI TIKUS. Sialnya aku terlanjur menghirup baunya dalam-dalam. Sekarang aku menahan napas. Tapi terlambat karena aku bisa merasakan bau itu sedang meracuni di paru-paruku.

Cewek berjilbab di sebelahku terlalu baik dan beriman untuk punya bau kentut sebusuk itu. kalau gitu kemungkinan terakhir adalah bapak di sebelahku. Keparat! Aku menahan napas dan berdoa. Semoga bapak di sebelahku ini kena wasir.

Pesawat mengurangi kecepatannya. Aku tahu dari deru mesin yang melemah. Jutaan kunang-kunang kota sudah bisa kembali terlihat dari balik jendela kecil di dinding pesawat. Surabaya tinggal selangkah lagi.

Kapten pesawat mengumumkan kalau kita akan segera mendarat di Bandar udara Juanda dengan bahasa Indonesia lalu bahasa inggris yang canggung. Tak lama pesawat turun. Semua rumah dan pohon yang tadinya tampak kecil sekarang kembali ke ukurannya semula. Tekanan di dalam kabin bertambah. Urat leherku tertarik. Sakit minta ampun seperti mau putus. Aku berdoa. Pesawat mendekati landasan. Roda belakang menyentuh landasan, diikuti roda depan. Pendaratan yang sempurna! Hatiku pun mendarat ke tempat yang empuk. Legah bukan main. 

Pesawat merapat, penumpang cepat berdiri. Lelah terlalu lama di pesawat. Aku mengambil tas dari kabin atas lalu melangkah keluar dari pesawat. Aku selamat tiba di Surabaya. Aku berdoa. Bersyukur. Sekarang, mari kita nikmati Surabaya.
"Another departure, another adventure awaits."