Wednesday, May 2, 2012
Memilih
Saturday, April 21, 2012
Doa
Friday, February 17, 2012
Pesawat lepas landas, dan ceritapun dimulai
Wednesday, February 15, 2012
Manusia penyiksa hidung
Sunday, January 1, 2012
Old habit to start a New Year
It was fifth teen minutes to 2012. But the dark sky was already bombarded with non-stop fireworks that sounded like a gun war. I was sitting on my knees on wooden floor inside a Buddhist temple. The place was filled with more than 1000 people. Let alone sitting comfortably, I was hardly move my feet. Soon enough, pain was crawling in both of my lags. I was forced to use every inch left of the empty space around me to stretch and free the blood circulations. This torturing situation plus the struggle to keep my eyes open despite the long and monotone pray was definitely excruciating.
For as long as I could remember, I’ve spent the last second of every year in my life, praying in the temple. Sometimes I wonder what it would be like to spend New Year doing something else, something less painful and more fun like being in the city. I imagined myself in the ocean of people, where together we’re counting down the last 10 seconds of a year and then let ourselves amazed by how fireworks work their magic to lighten up the dark sky.
It could be nice or completely the opposite. But tell you the truth that thought only goes as far as my imagination. I don’t really wanna do it, and even if I have to, there’s should be a really damn good reason.
Because to me, what I’m doing in the beginning of a year is like creating the basic story of a novel or a short fiction. When you got it wrong, it would be wrong all the way to the end. So I pledge my New Year resolutions and hopes within a pray. I pray for a great year not just for myself, but also for the whole nation and the rest of the world.
Have a blast New Year people!
Tuesday, December 27, 2011
Hujan datang lalu...
Hujan datang, orang-orang minggir, seperti pasir disapu ombak.
Bumi menangis, orang-orang meringis kedinginan. Sebagian saling mendekap menyekap hangat. Sebagian berlarian ke jalan menangkap hujan.
Hujan runtuh, orang-orang berteduh dalam cerita di sebuah warung kecil pinggir jalan. Asap rokok berulang-ulang mengepul dari mulut si pendongeng, meliuk-liuk membentuk imajinasi setiap pendengarnya.
Alam bergemuruh, anak-anak hujan melayang bersama angin yang rusuh, larut dalam air teh yang keruh dan menempel di dahi orang-orang seperti peluh yang meleleh.
Langit mencair, dingin merayap di punggung seperti ular di dalam baju. Orang-orang menggigil tak mampu bergerak bagai batu.
Malam merintik di atap genting, seperti jutaan titik yang dihujamkan. Perlahan suara orang-orang menyenyap, tinggal angin yang bersuit-suit.
Tuesday, November 8, 2011
Sebuah catatan di penghujung senin
Senin datang dan pergi secepat Sabtu menyapa dan mengucap selamat tinggal. Betapa aneh bagaimana kita sering memperlakukan hari seperti anak tiri dan anak kandung. Padahal apapun harinya semua sama.
Mungkin karena kita terlalu sering memperkosa waktu. Terpaksa bangun pagi, bahkan kadang sebelum matahari membuka matanya dan saat bulan sedang berjuang menahan kantuk. Terpaksa mandi pagi, masak pagi, makan pagi dan berangkat pagi. Lalu menjalani hari dengan aktivitas yang HARUS dijalani.
Padahal seharusnya kita menikmati setiap lekuk tubuh waktu dengan romantis walau dipengaruhi birahi yang meledak-ledak.
Senin tak sama baiknya dengan rabu juga tak sama buruknya dengan Sabtu. Semua sama bila kita menjalani dengan hati. Bila kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita sayangi. Bila kita melakukan pekerjaan yang kita cintai.
Mari berhenti membenci Senin karena sebetulnya kita sedang membenci hidup kita sendiri. Membenci detik demi detik yang kita lalui.
Cintai Senin seperti kamu mencintai Sabtu atau Minggu. Tapi lebih penting lagi, cintailah hidup seberat apapun. Karena hidup akan tetap keras tak perduli kamu suka atau tidak. Kalau hal itu rasanya susah setengah mati, bukan berarti kamu tak mampu menjalani, tapi mungkin kamu belum berusaha cukup keras untuk mencari.
Temukan cinta untuk seninmu.