Wednesday, February 15, 2012

Manusia penyiksa hidung

Kisah ini mungkin bukan pengalaman hidup gua yang paling buruk, tapi pastinya yang paling BAU. Selamat menikmati dan gua sarankan, tutup hidung selagi membaca.

Malam tadi, setelah selesai rapat, gua dan ketiga teman memutuskan untuk mencari makan. Mengisi kembali energi yang tadi terbuang untuk memeras otak. Tepat di saat kita akan berangkat, kami bertemu dengan seorang teman (pria) yang kebetulan juga sedang kelaparan. Alhasil, kami mengajaknya. Dan ini ternyata menjadi momen pembuktian kalau kebaikan hati tidak selalu berbanding lurus dengan berkah yang baik.

Tepat ketika si teman ini masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku sebelah gua, bau tidak sedap langsung masuk menusuk ke dalam hidung. Baunya ya Tuhan, perpaduan sempurna dari asin keringat dengan bau matahari dan bau celana jeans yang lembab. Sepertinya tak ada kata dalam Bahasa Indonesia yang bisa menggambarkan betapa kejam baunya. Dalam sekejap alarm hidung gua langsung meraung-raung tanda bahaya. Namun apa daya. Tidak mungkin kan gua suruh si teman ini keluar.

Akhirnya gua mencoba satu-satunya cara, yaitu berusaha sekuat tenaga menahan napas dan hanya menariknya sedikit-sedikit bila dada sudah sesak. Tapi gua kan bukan onta yang bisa menyimpan udara di dalam punduknya. Eh tunggu, onta kan menyimpan air. Akkh loe ngerti kan maksud gua.
Namun drama bau tidak sedap ini belum sampai klimaksnya. Teman gua ini adalah seseorang yang suka sekali ngobrol dan bercanda. sedangkan gua, adalah orang yang sungkan. Jadi bila ada orang yang melucu, segaring apapun, gua pasti berusaha untuk tertawa. Seperti yang saudara-saudara sekalian pastinya sadar, kalau orang bicara secara tidak langsung ia juga mengeluarkan udara mulut. Sedangkan bila orang tertawa, dia pasti akan lebih dulu menarik udara masuk ke paru-paruya. Di sinilah puncak segala macam bau menemukan kesempurnaannya. 

Pada satu momen, teman gua ini melontarkan sebuah lelucon sambil menghadapkan wajahnya ke arah wajahku. Saudara-saudaraku, andai hanya lelucon yang terlempar dari mulutnya tidak ditambah hawa jigong, pasti gua akan tertawa terbahak-bahak. Bau mulutnya dibonceng hembusan angin AC mobil seperti tentara Belanda kembali ke Indonesia dibonceng tentara NICA, mampir ke dalam hidung gua untuk menjajah. Aromanya yang “sedap” berhasil membawa bau busuk ke level yang lebih tinggi. Seolah-olah orang ini baru saja makan bangkai seekor tikus yang baru saja makan bangkai tikus lain yang baru saja makan bangkai kecoa yang baru saja makan bangkai bakteri dari got. Rasanya tidak perduli sekuat apa gua berusaha menahan napas, baunya tetap saja tercium. Kepala gua langsung pusing dan perut gua mulas. Rasanya kalau di saat itu gua kentut, baunya bakal minder.

Secara tidak sadar gua jadi menyetir mobil sedikit ngebut. Begitu sampai di tempat tujuan, gua langsung menghirup wangi aroma malam yang baru saja dirumpahi hujan. Segarnya, amboi bukan kepalang.

Setelah menetralkan bau mengerikan tadi, gua langsung mendekati salah satu teman semobil yang duduk di belakang. Gua minta dia untuk duduk di depan menggantikan si pria itu nanti waktu pulang. Dengan kejamnya, teman gua ini hanya tertawa meledek lalu dengan teganya bilang, “untung dia gak duduk di belakang.” Lalu melengos pergi.

Akhh kejam. Itu tandanya dia menolak permintaan gua. Akibatnya sepanjang makan, syaraf penciuman gua stress membayangkan perjalanan pulang. Gua gak sanggung melewati penderitaan yang sama sekali lagi. Apalagi kita makan di restoran out-door dalam malam panas yang lembab. Langsung gua membayangkan bagaimana keringat mengalir dari sejuta pori-pori di tubuhnya bersama dengan uap tubuh. Lalu keduanya akan menyerap ke pakaiannya yang entah sudah berapa lama tidak dicuci. 

Hilang napsu makan gua.

Setelah satu jam makan, tiba saatnya pulang. Pasrah hanya satu-satunya pilihan yang gua punya. Sedangkan teman (baca: pengkhianat) yang tadi menolak permintaan gua, hanya bisa tersenyum iseng dan berlagak bego.

Anehnya! Di dalam mobil bau itu tidak tercium. Hanya tercium sisa-sisa aroma khas mobil baru. Apa jangan-jangan indra penciuman gua sangat trauma sampai jadi kebal? Apapun alasannya, gua bersyukur kalau selama perjalanan pulang gua gak harus tersiksa lagi. Dan kita semua selamat sampai di rumah masing-masing.

Entah hikmah apa yang bisa gua ambil dari teman gua sang penyiksa hidung itu, tapi yang pasti gua berterima kasih sudah mengalami kejadian yang tidak menyedapkan tadi. Karena kadang memang dari sana hidup kita jadi punya warna-warni yang unik.

Sunday, January 1, 2012

Old habit to start a New Year

It was fifth teen minutes to 2012. But the dark sky was already bombarded with non-stop fireworks that sounded like a gun war. I was sitting on my knees on wooden floor inside a Buddhist temple. The place was filled with more than 1000 people. Let alone sitting comfortably, I was hardly move my feet. Soon enough, pain was crawling in both of my lags. I was forced to use every inch left of the empty space around me to stretch and free the blood circulations. This torturing situation plus the struggle to keep my eyes open despite the long and monotone pray was definitely excruciating.

For as long as I could remember, I’ve spent the last second of every year in my life, praying in the temple. Sometimes I wonder what it would be like to spend New Year doing something else, something less painful and more fun like being in the city. I imagined myself in the ocean of people, where together we’re counting down the last 10 seconds of a year and then let ourselves amazed by how fireworks work their magic to lighten up the dark sky.

It could be nice or completely the opposite. But tell you the truth that thought only goes as far as my imagination. I don’t really wanna do it, and even if I have to, there’s should be a really damn good reason.

Because to me, what I’m doing in the beginning of a year is like creating the basic story of a novel or a short fiction. When you got it wrong, it would be wrong all the way to the end. So I pledge my New Year resolutions and hopes within a pray. I pray for a great year not just for myself, but also for the whole nation and the rest of the world.

Have a blast New Year people!

Tuesday, December 27, 2011

Hujan datang lalu...

Hujan datang, orang-orang minggir, seperti pasir disapu ombak.

Bumi menangis, orang-orang meringis kedinginan. Sebagian saling mendekap menyekap hangat. Sebagian berlarian ke jalan menangkap hujan.

Hujan runtuh, orang-orang berteduh dalam cerita di sebuah warung kecil pinggir jalan. Asap rokok berulang-ulang mengepul dari mulut si pendongeng, meliuk-liuk membentuk imajinasi setiap pendengarnya.

Alam bergemuruh, anak-anak hujan melayang bersama angin yang rusuh, larut dalam air teh yang keruh dan menempel di dahi orang-orang seperti peluh yang meleleh.

Langit mencair, dingin merayap di punggung seperti ular di dalam baju. Orang-orang menggigil tak mampu bergerak bagai batu.

Malam merintik di atap genting, seperti jutaan titik yang dihujamkan. Perlahan suara orang-orang menyenyap, tinggal angin yang bersuit-suit.

Tuesday, November 8, 2011

Sebuah catatan di penghujung senin

Senin datang dan pergi secepat Sabtu menyapa dan mengucap selamat tinggal. Betapa aneh bagaimana kita sering memperlakukan hari seperti anak tiri dan anak kandung. Padahal apapun harinya semua sama.

Mungkin karena kita terlalu sering memperkosa waktu. Terpaksa bangun pagi, bahkan kadang sebelum matahari membuka matanya dan saat bulan sedang berjuang menahan kantuk. Terpaksa mandi pagi, masak pagi, makan pagi dan berangkat pagi. Lalu menjalani hari dengan aktivitas yang HARUS dijalani.

Padahal seharusnya kita menikmati setiap lekuk tubuh waktu dengan romantis walau dipengaruhi birahi yang meledak-ledak.

Senin tak sama baiknya dengan rabu juga tak sama buruknya dengan Sabtu. Semua sama bila kita menjalani dengan hati. Bila kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita sayangi. Bila kita melakukan pekerjaan yang kita cintai.

Mari berhenti membenci Senin karena sebetulnya kita sedang membenci hidup kita sendiri. Membenci detik demi detik yang kita lalui.

Cintai Senin seperti kamu mencintai Sabtu atau Minggu. Tapi lebih penting lagi, cintailah hidup seberat apapun. Karena hidup akan tetap keras tak perduli kamu suka atau tidak. Kalau hal itu rasanya susah setengah mati, bukan berarti kamu tak mampu menjalani, tapi mungkin kamu belum berusaha cukup keras untuk mencari.

Temukan cinta untuk seninmu.

Sunday, October 23, 2011

Sesekali dalam hidup, lepaskan saja

Aku menulis seperti setan mengumbar aurat. Siapapun jadi sasaran, Tuhan sekalipun. Aku menulis seperti seorang pemain piano menekan tuts, setengah keahlian, setengah lagi murni naluri. Aku menulis bagai seorang anak kecil menggambar di sebuah lembar putih. tak perduli absurd atau indah, tak perduli warnanya cocok atau tabrakkan yang penting membuatku senang. Aku menulis seperti seorang pemabuk yang memuntahkan isi perutnya. Di mana saja, kapan saja, tak perduli aturan.

Aku belum membaca isi paragraph pertamaku. Sesuatu yang biasa aku lakukan setiap kali aku lompat ke paragraph ke dua. Terasnya harus bagus agar ada orang yang mau bertamu, begitu kata seorang jurnalis ahli. Akh persetan dengan itu. kalau tulisanku ini rumah, maka aku membangunnya sesuka hati. orang tidak suka? Itu urusan mereka. kalau mereka suka, ya aku hanya bisa bilang, selamat datang, selamat menikmati seadanya.

Aku menulis dengan hati. hati yang bebas. entah di mana aku akan tiba. Jujur aku tak sepenuhnya perduli. Aku hanya ingin menuliskan apa yang spontan lahir di dalam pikiranku. Mungkin aku dipacu oleh irama riang dari earphoneku sehingga jariku terpancing untuk melompat girang di atas keyboard.

Siapa bilang hanya belanja yang bisa impulsif. Menulis juga seharusnya bisa. tulis. Tulis. Tulis. Abaikan rasa takut jelek. takut tak ada yang mengerti. Sekali seumur hidup lakukan sesuatu sesuai hatimu. Ya! hatimu. Kesenanganmu. Tutup matamu, lupakan semua yang ada di sekelilingmu, lepaskan hatimu dan biarkan ia menari. Sesekali dalam hidup kita perlu berhenti mendengarkan apa kata orang dan menjadi diri kita sendiri untuk melakukan apa pun yang bisa membuat kita bahagia.

Sunday, October 16, 2011

Choice by choice, layer by layer

I wish I could tell the future so I could know that what I am going to do or the decision that I am going to take is the right one. But it’s impossible to know whether the bomb is going to explode or not if I haven’t even pulled the trigger yet. You could predict the possibilities, of course, but you would never foretell the future. Unless, you are the “talented”. So there is nothing else I can do but to take the road that many before me have taken, the long and winding road.

Life's shaped by the choices we have made. Resigning from our job, breaking up with lovers, loving someone who didn’t love you back (then deciding to keep on loving her), leaving your family and friends, punching someone in the face, running away from home and from school, stealing that first kiss, having that naive first sex, living by yourself, helping other people, hating someone, forgiving someone, forgiving yourself, having a dog or a cat, or a snake, or a bear. Some of the choices ended up with happy ending, but some others would take us to a dark and grimy place. But at least we stand up for ourselves, for what we believe is right.

However, there is always a choice not to chose and stay in our comfort zone for the rest of our life. Just forget about hopes and dreams and stick with reality and reality only. But then, the world (or at least your world) would be colorless, tasteless and meaningless. John F Kennedy would have never sent men to the moon, Thomas Alpha Edison would have never found bulb and for that the world would be a dark and creepy place to live.

Life is about the risks we take, the impossibilities that keep us trying again and again, harder and harder, the failures which make us stronger, because life is not like a fast food. It is like baking a kue lapis (layer cake). You have to do it layer by layer until it becomes one beautiful and delicious cake.

Tuesday, September 27, 2011

It's not about how it looks

Love comes in many different forms. Some tall, some short. Some dark, some full of colors. Some blunt, some puzzling. Some worth the extra miles, some are not. Some cheesy, some classy and some are somewhere in between. Some happily one-night-stand, some happily ever after. But no matter what kind of shape love showed upon you, it will always gives the reason to live more, if you really know how to love.