Sunday, January 2, 2011

Untuk Kalian

Ketika aku mengutarakan jujur bukan berarti aku tidak menyayangi kalian. Kalian akan selamanya tinggal di satu sudut istimewa di hatiku, apapun yang terjadi. Jujur memang bagai obat yang pahit sedangkan bohong manis bagai lollipop, namun ketika kalian sakit, sahabat akan memberikan yang terburuk bila itu adalah yang terbaik. Sayangnya hal itu tidak mudah dicerna. Masih ingat betapa kita kesal dengan orang tua yang memaksa menelan berbagai obat-obatan dengan rasa yang menyiksa indra pengecap padahal mereka hanya ingin kita cepat sembuh. Orang tua terbaik adalah mereka yang bisa berteman dengan anak-anaknya, begitu juga sahabat yang baik juga harus bisa menjadi orang tua yang keras, tegas, sekaligus jujur.

Kalian marah, saya mengerti. Jujur memang tidak pernah mudah dikunyah, ia lebih mudah langsung di telan. Tapi bagaimana kita bisa belajar bila tidak pernah merasakan pahitnya gagal dan salah. Tusuklah aku, tuangkan kejujuran pahit, bila suatu hari nanti melakukan hal yang salah. Lakukan apa yang aku lakukan pada kalian. Aku akan sangat berterimakasih.

Wednesday, December 1, 2010

Manusia tidak pernah sendiri, ia hanya...

Manusia tidak pernah sendiri. Begitulah pemikiran yang aku simpulkan selama berada di kafe ini. Memang, banyak pengunjung kafe ini yang duduk sendiri dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tapi apa itu berarti mereka sendiri? Siapa tahu mereka punya sesuatu untuk menemani.


Seorang perempuan bertubuh gempal berkemeja merah muda dan bercelana panjang yang duduk di sudut kafe ini, adalah salah satu contohnya. Ia memang duduk sendiri, tapi sedari tadi tangannya sibuk menekan BB atau memotong kue avocado chocolate-nya, dan sesekali mengaduk kopi di gelasnya. Walau ia tampak sedang sendiri, sebenarnya ia punya tiga teman. BB, kue, dan kopinya.


Seorang lain lagi, pria asing yang duduk tak jauh dariku, sedang duduk sendiri. tak ada kopi atau kue di mejanya. Pria bule ini tampak sedang menunggu seseorang. Gerak geriknya resah, sebentar-sebentar ia mengangkat kepalanya, melihat sekeliling, matanya mencari-cari seseorang yang dikenalnya. Lalu ia tertunduk mengecek BB-nya. tak lama kemudian kembali celingak-celinguk. Pria ini tampaknya sedang menanti seseorang yang tak juga datang, atau mungkin tak akan pernah datang. Tapi dia tidak sendiri, ia punya rasa rindu atau rasa kesal karena yang ditunggu tidak juga datang. Apapun itu, setidaknya ia punya sesuatu untuk menemani.


Satu lagi adalah seorang cewek, seorang pembantu rumah tangga yang dititipkan sang majikan di kafe ini hanya dengan segelas kopi untuk membunuh waktu. Ia tampak sungguh bosan. Sedari tadi hanya bengong memperhatikan orang datang dan pergi dari kafe ini. memperhatikan para barista bercanda dan tertawa, sambil berkhayal, mungkin enak menjadi seperti mereka. lebih enak daripada jadi pembantu rumah tangga yang ditinggal sendiri oleh majikannya. Melihat cowok-cowok pengunjung kafe yang ganteng dan rapi, mungkin ia juga berkhayal bagaimana jadinya kalau salah satu dari mereka menjadi suaminya. Akan ia bawa pulang ke kampung untuk membuat iri semua gadis kampung atau yang tidak lagi gadis. Bisa juga untuk mengantarkan ayahnya pergi ke sawah dengan mobil mewah mereka, sehingga ayah tidak kepanasan lagi atau capek jalan jauh.


Lalu berkelibatan perempuan-perempuan pengunjung kafe itu, yang semua cantik,wangi dan tampak pintar. Maka beralih lah imajinasi pembantu rumah tangga itu kepada mereka. Ia bayangkan menjadi wanita dengan seragam kantor yang membuatnya tampak penting. Mungkin ia juga akan punya pembantu yang diajaknya ke mall dan ditinggal sendiri di sebuah kafe metropolitan. Begitu juga wanita dengan jeans dan tattoo di punggung yang membuatnya begitu modern, seorang wanita dengan rok mini dan backless t-shirt yang terlihat begitu seksi dan mempesona. Semua wanita-wanita itu ia perankan dengan imajinasinya. Pembantu rumah tangga ini tidak sendiri, ia punya imajinasi untuk menemani.


Ketiga orang itu tidak sendiri. Imajinasi mereka menemani, gadget mereka selalu setia, rasa rindu juga ikut mengisi kosong. Hanya itu yang mereka punya sebagai teman. Manusia memang tidak pernah sendiri, ia hanya kesepian.

Thursday, November 11, 2010

Matahari di Bunga Rampai

Restoran itu dulunya rumah Belanda. Jejak penjajahan yang tak mempan digerogot waktu. Bunga Rampai namanya. dari depan fisiknya begitu kokoh. Empat tiang penopang atap beranda berdiri pongah seperti kolonialisme itu sendiri. Gentingnya coklat terbuat dari tanah liat. Sedangkan dindingnya seputih warna susu. Di dalam restoran ini, cerita tentang seorang wanita, yang bila masih hidup, sudah setua rumah ini, sedang dibahas oleh wanita-wanita modern jaman sekarang. Tentu bersama penulisnya, Remy Sylado.

“Namaku Matahari”, adalah novel yang menjadi sorotan pada Eve Book Club bulan ini. Berkisah tentang agen ganda perempuan bernama Matahari yang menyamar menjadi penari telanjang sekaligus pelacur profesional. Buku ini bukan seperti cerita agen rahasia biasa. Ada pesan di balik cerita ini, tentang perlawanan terhadap kemunafikan, tentang kekuatan perempuan terhadap penindasan, dan lebih dalam lagi tentang kebangsaan yang tidak lebih penting daripada kemanusiaan.

Hari Kamis sore, 11 november 2010, tepat jam empat, para pembaca setia Eve Magazine sekaligus “kutu buku” eve book club memenuhi ruangan tengah restoran Bunga Rampai. Di depan mereka duduk Remy Sylado dengan dandanan khasnya yang nyentrik. Potongan rambut ala James Brown, hanya saja berwarna putih, kemeja elvis warna putih, celana cut bray putih dan sepatu kulit putih. Ia memakai dua jam tangan putih, masing-masing di setiap tangan dan empat cincin batu putih sebesar jempol. Semua yang menempel pada tubuhnya, serba putih.

Sesi dibuka dengan pembahasan tentang asal mula novel ini dibuat. Menurut Remy Sylado penelitian dasar untuk buku ini hanya makan waktu tiga bulan. Ia pergi ke berbagai daerah dan Negara di dunia, seperti, Madrid dan Roma. Ia mengunjungi tempat di mana Matahari pernah singgah. Seperti sebuah hotel di turki yang sampai sekarang masih mempromosikan Matahari pernah tinggal di sana sebagai salah satu daya tarik.

Melalui tokoh Matahari, Remy Sylado ingin bicara tentang pemikiran modern, bahwa wanita dan pria adalah setara. Salah satu celetukannya yang mengundang tawa adalah, “kalau dalam rumah tangga wanita adalah mitra pria, kenapa wanita harus ada di belakang ketika seharusnya sejajar berdampingan.”

Selain itu, Matahari juga bicara pentingnya melihat seseorang tidak hanya dari apa profesi atau dari kebangsaannya, tapi lebih karena ia manusia yang patut dihargai. Itu terlihat dari kata-katanya pada novel,

Aku pelacur tulen
Tapi aku penari sejati
Dan aku Belanda berdarah Indonesia

Pada sesi tanya jawab, tak disangka, sambutan dari peserta yang kebanyakan ibu rumah tangga, benar-benar kritis. Mulai dari yang merasa terwakili oleh pemikiran modern Matahari. Sampai yang terinspirasi oleh keberanian Matahari yang melawan penindasan lelaki.

Bahkan ada seorang peserta yang merasa bangga kepada Matahari, bahwa di jaman yang dulu sangat patriarki, ada seorang wanita yang begitu berani melawan arus. Di jaman semodern sekarang pun, tidak banyak wanita yang berani melakukan hal itu.

Tidak hanya berbagi soal novelnya, Remy Sylado juga menceritakan masa kecil yang ikut membentuk dirinya menjadi seperti sekarang. Remy kecil sudah begitu dekat dengan buku ketika sebagian besar masa kecilnya dihabiskan dengan membaca beribu buku di perpustakaan seminari dekat tempat tinggalnya. Melalui bimbingan sang Romo pun ia belajar bahasa Yunani dan Ibrani.

Para wanita-wanita eve book club ini begitu terpukau mendengar Remy Sylado bicara, terlihat dari air muka mereka yang bercahaya.

Satu fakta menarik tentang Remy Sylado adalah namanya ini bukan nama asli. Nama samaran ini diambilnya dari nada do, re, mi, si, la, do salah satu lagu milik band legendaris asal Inggris, The beatles.

Saya merasa beruntung bisa hadir sore itu di antara ibu-ibu eve book club, mendengarkan Remy Sylado berbagi tentang novelnya dan sedikit tentang kehidupannya. Eve book club kali ini berlangsung ringan tapi tetap berisi.

Salut untuk Eve Magazine yang menyelenggarakan event ini rutin setiap bulan. Acara dua jam ini juga menepiskan prasangka saya tentang ibu rumah tangga yang hanya tahu mengurus keluarga dan bergosip. Ternyata tidak. Ternyata mereka pintar, kritis, dan bergairah.

Mungkin, kalau Matahari bisa berada di sini sekarang, mungkin ia akan bangga kepada wanita-wanita eve ini, seperti mereka bangga kepadanya.

Monday, November 1, 2010

love is in between

“Ken, kan udah sejuta kali gua bilang, jangan percaya sama yang namanya laki-laki! Mereka semua ibarat air yang tak beriak.” Ujar Tata lembut mengayomi Niken, sahabatnya yang sedang menangis.

“Walau laki-laki kelihatannya bisa dipercaya, tapi mereka akan menenggelamkan elo ken. Jadi perempuan jangan tolol! Jangan bisanya nerimo. Kalau diinjak lelaki, tendang burungnya. Biar hancur lebur prasasti nafsu binatang pria yang besar-kecilnya selalu menjadi lebih penting daripada ukuran otak mereka.”

Niken masih terus menangis.

“Nangisin apa sih? Laki-laki gak pantes dapat air mata kita. Air mata perempuan itu murni dari hati, suci. Ngerti gak sih loe? Mereka cuma pantas dapat yang murahan. Jangan pernah kasih air mata.”

“tapi Ray beda Ta. Gua percaya sama dia” Sambil terisak Niken menyakinkan Tata.

“Kalau dia emang bisa dipercaya, kenapa dia tidur sama “pelacur” itu? serbu Tata gregetan.

“Ray Cuma khilaf Ta.”

“Niken, orang khilaf tuh sekali. Tapi kalau berkali-kali sama orang yang beda-beda, itu namanya sengaja.”

“Dia bilang cewek itu ngejebak dia. Ray dibikin mabok Ta.”

“Terus loe percaya begitu aja sama Ray? terus semua wanita itu ngejebak Ray untuk tidur sama mereka. Emang Ray siapa ken? Ganteng aja pas-pasan. Kenapa sih elo selalu telan bulat-bulat semua yang keluar dari mulut busuknya?” ledak Tata heran.

“Dia bilang, dia sayang banget sama aku Ta… dan…”

“So what?!” Tata memotong gak tak percaya.

“...dan gua juga sayang banget sama dia.” Niken melanjutkan.

“Loe tuh emang bego Ken! Bego karena terlalu gampang percaya cinta.”

Dan mereka berdua pun terdiam. Ada keheningan ganjil yang mengambang di antara mereka.

“kalau gitu buat apa loe duduk di depan gua nangisin Ray?” Tata melanjutkan kini dengan nada yang sedikit mengalah.

Niken hanya menunduk memainkan es di dalam gelasnya seakan-akan mencari jawaban di sana.

“Ken, jatuh cinta itu boleh, tapi please pakai otak.”

“Itu kenapa Danny ninggalin elo Ta.” Jawab Niken masih menunduk.

“hah? Kok loe bawa-bawa Danny? Gak ada hubungannya.” Sergah tata bingung dan marah.

“Ada Ta. Ada banget hubungannya.” Jawab Niken.

“Apa? Huh? coba kasih tahu gua!”

“Ta loe selalu bilang kalau Danny ninggalin elo karena dia nyeleweng sama perempuan yang loe panggil pelacur itu. Tapi kenyataanya gak sesimpel itu Ta.”

“maksud loe? Gak ngerti gua?”

“Loe gak akan bisa ngerti Ta. Sampai suatu saat loe bisa mencintai seseorang gak cuma dengan otak tapi juga hati loe.”

Tata tampak semakin marah dan bingung atas penghakiman Niken, “apasih ken maksud loe? Ngomong gak usah muter-muter.”

“Ta, Danny jatuh cinta sama perempuan lain karena perempuan itu bisa mencintai dia gak cuma pakai logika. Perempuan itu bisa ngerti Danny apa adanya. Perempuan itu bisa menyemangati Danny dengan lembut, bukan dengan bentak-bentak seperti loe Ta. Masalah loe Cuma satu, loe selalu mencoba merasionalkan cinta. Gak bisa Ta. Cinta bukan matematika, dia gak bisa dihitung dan gak ada rumusnya.”

“PRANG!” Tata membanting gelas ke lantai.

“eh jangan sok tahu ya.” Lalu tata berdiri menyambar tasnya dan pergi keluar dari apartment Niken.

Sejak malam itu persahabatan mereka tak lagi sehangat dulu, walau dalam hati, mereka sadar ucapan masing-masing ada benarnya.

Friday, October 22, 2010

Mari berjoget

Malam seakan berdendang ketika earphone-ku mulai bernyanyi. Irama dansa. Ranting-ranting pohon pun ikut berjoget bersama angin. "Kiri-kanan. Mengangguk-menggeleng."

Ayo hentakan tanganmu, bebaskan jiwamu! Ikuti ketukannya.

Jangan pedulikan orang-orang mengira kita gila. Tirulah sebuah pelastik hitam yang tak bisa berhenti berputar dan melompat riang di tengah jalan. Ia begitu bahagia, pantas hidupnya sampai ratusan tahun.

Lampu jalanan pun ikut bagian, berkedap-kedip bagai lampu disco. "Remang-terang. Remang-terang." Mendramatisir suasana malam hura-hura ini.

Jalanan panjang tak mau kalah, ia goyangkan pinggulnya dengan genit, kelok ke kanan, kelok ke kiri. Menggoda diriku agar mau membelai tubuhnya sampai ke ujung.

Lihatlah orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan, lelah tanpa ekspresi. Mungkin keceriaan mereka telah lebam dihajar kerasnya hidup. Ingin rasanya aku pinjamkan earphone agar mereka bisa ikut bergoyang. Tapi sayang, aku belum siap kehilangan irama. Aku juga sedang diliput lara. Tapi aku sedang tidak ingin bicara. Lebih baik aku berjoget. Biar pinggulku yang bicara, dan hatiku akan tertawa.


Sunday, October 10, 2010

The joy of seeing the bright side

Pernahkah kamu berpikir untuk mencari sisi terang dari setiap kesialan yang menimpa? Buat apa?

Semua orang pasti pernah bangun di pagi yang begitu cerah dan hangat, setelah tidur nyenyak dan mimpi indah semalaman. Bahkan ketika masih di kasur sudah terasa semangat menghadapi hari, yang meletup-letup seperti jagung dalam panggangan. Dalam hati kecil kita pun merapal janji dan harapan, “Hari ini tidak akan ada yang bisa merusak moodku”.

Begitulah aku memulai pagi hari ini.

Namun, tak lama kemudian, sebuah sms meluncur masuk. Sebuah kabar busuk isinya. Jam tangan yang aku beli sebulan lalu, belum juga bisa dikirim. Padahal permintaanku sangat sederhana, yaitu menukar warna coklat menjadi hitam. Tapi sudah lebih dari lima kali aku dibohongi.

Membaca sms itu aku seperti ditampar. Darah langsung merangkak naik sampai ke ubun-ubun. Isi perut terombang-ambing seperti perahu dalam badai. Dalam seketika, pagi yang cerah menjadi pagi berdarah.

Hanya saja, aku tidak akan membiarkan sebuah kabar buruk menghancurkan hari yang indah ini. Jadi, aku tetap berusaha menimang-nimang mood agar jangan sampai “menangis”.

Begitu aku sudah berada di atas motor menuju kantor, sinar matahari yang menyengat kejam bagai kesetanan, membuat aku terpanggang. Ditambah sebuah motor yang menyalip memaksa aku untuk rem mendadak. “Kampret!”, makiku, walau hanya diri sendiri yang mendengar.

Perlahan aku mengambil nafas dalam-dalam untuk kembali meninabobokan murka yang sudah setengah bangun.

Baru sedikit merasa tenang, jalan di depan disesaki beribu mobil. Ada kecelakaan yang melahirkan macet bukan kepalang. Spontan aku melirik jam tangan, “Akkh telaat!”, hati memekik stress.

Setelah itu, berbagai masalah lain hadir di sepanjang jalan, seperti, mata kelilipan debu, kehujanan, bensin tiris, kebelet buang air kecil, dan mendapat teror telepon dari kantor karena terlambat.

Begitu akhirnya aku sampai kantor, seseorang langsung bertanya kenapa mukaku kusut. Langsung semua kesialan yang aku alami tumpah ruah dari mulut, seperti waduk yang jebol.

Lelah, kesal, tegang, punggung pegal, mata sakit, dan pakaian lembab, telah membunuh semangat pagi yang tadi begitu panas membara. Setelah itu sisa hari aku habiskan dengan mood sejelek aye-aye, sejenis tikus yang konon katanya nomor 2 dalam daftar 10 binatang paling jelek di dunia. (Bagaimana rupanya? Yaa… yang pasti jelek banget.)

Hari ini hari yang indah dilanjuti dengan kekesalan sepanjang hari.

Aku pun berpikir, apa karena memang sedang sial, atau aku saja yang hanya melihat semua dari sisi negatif? Kenapa tidak berpikir, "Masih untung sampai kantor dengan selamat".

Padahal aku pernah mengalami hari yang berkali-kali lipat lebih naas dari hari ini, tapi moodku tidak sejelek hari ini. Yaitu ketika aku nyaris mati dikejar polisi.

Malam itu, kira-kira hampir dua tahun yang lalu, hujan baru saja berkunjung. Jejaknya masih tertinggal di pinggir-pinggir jalan dalam bentuk pulau-pulau air. Udara dingin menusuk-nusuk kulitku yang sedang duduk tanpa jaket di atas motor dibonceng temanku, seorang cowok yang bermimpi menjadi pembalap motor.

Malam sudah terlalu larut bagi bemo untuk berkeliaran, sehingga aku terpaksa menumpang sampai ke tempat yang masih ramai bus umum.

Ketika motor sedang santai melaju ke arah grogol lewat jalan Borobudur-Jelambar, tiba-tiba dari kanan seorang polisi bersepeda motor mengayunkan tangan ke arah kami. Pastinya bukan lambaian selamat jalan, tapi ia meminta kami untuk menepi. Temanku tidak memasang plat nomor belakang.

Apa yang temanku lakukan malah sebaliknya. Insting pembalapnya langsung terbakar seperti kompor yang diputar tuasnya. Tanpa ba bi bu, ia langsung tancap gas, kabur.
Spontan aku meremas keras besi pegangan di belakang. Motor melesat bak anak panah yang terlontar dari busur, lalu mengambil tikungan dan berputar arah.

Tidak perlu pintar menebak, si polisi sudah pasti mengejar. Melalui gang-gang sempit dengan selokannya yang menganga lebar seperti mulut buaya lapar, dan polisi-tidur setinggi gunung, aku dibonceng temanku ngebut seolah jalanan di depan kita lebar dan mulus seperti sirkuit sepang.

Berkali-kali perempatan dilaluinya tanpa tedeng aling-aling. Berkali-kali juga aku membayangkan sebuah truk besar melindas kami.

“Gua pasti mati nih. haduh, tapi gua gak mau mati!” hatiku bergejolak cemas. Temanku melepas helm dan menyerahkan kepadaku. Andai muat, sudah kudobel helmku dengan helm temanku itu.

Beberapa kali aku menengok ke belakang, dan si polisi masih saja membuntuti seperti seekor Macan mengejar dua ekor kelinci. Tidak begitu dekat, tapi cukup untuk menerkam begitu kita lengah.

Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa selain merapal doa, semoga, entah bagaimana, aku bisa selamat. Karena temanku semakin menggila, diburu rasa takut dan dipacu adrenalin pembalap wannabe.

Hingga akhirnya doaku terkabul dalam bentuk jalan buntu dan basah. “Aduh. Jatoh nih”, tiba-tiba temanku berkata. Dan… BRUG! Jatuh lah kita berdua ke atas aspal basah. Motor menghantam tiang listrik, temanku menghantam motor. Sedangkan aku, entah oleh keajaiban apa, hanya jatuh di pantat dan merosot di atas aspal basah seperti di perosotan. Tanpa luka sedikit pun. Satu-satunya memar hanya ketika nanti tanganku dipukul tongkat hitam pak polisi.

Setelah itu kejadian berlangsung cepat, temanku dipukuli pak polisi, kami berulang-ulang diancam ancaman beraroma rasis, hingga akhirnya orang tua temanku datang menyelesaikan semuanya dan kami pun bisa pulang ke rumah masing-masing membawa cerita dan trauma.

Sulit digambarkan kengerian malam itu, ketika maksud menumpang, menjadi momen mengancam nyawa.

Tapi aku mencoba melihat sisi terang dari drama tikus dan kucing malam itu; untung aku tidak terjatuh ke dalam selokan di gang-gang sempit Jelambar, untung tidak ada orang yang tertabrak, untuk tak ada mobil yang menabrak kami, untung ketemu jalan buntu yang aspalnya basah (kalau kering mungkin kita babak belur), untung kami tidak dihakimi massa, untung aku masih hidup, untung aku mengalami hal itu jadi sekarang punya bahan untuk tulisan.

Dengan menerima apa yang terjadi, perasaan menjadi lebih enteng. Hidup itu keras bung, jangan kita bikin jadi tambah keras.

Cukup momen saat itu saja yang hancur, tapi di sisa hari sampai sekarang, kejadian malam mengancam nyawa itu, malah menjadi sebuah cerita lucu yang tidak terlupakan. Bahkan diam-diam aku beterimakasih telah mengalaminya.

Aku rasa memang itulah, the joy of seeing the bright side, membuat hidup yang keras ini, menjadi sedikit lebih ringan.

Friday, September 3, 2010

Playing hero with zero intention

Kadang gua suka berpikir, apa jadinya hidup tanpa musik. Pasti penuh depresi dan kebosanan total. Gua memang pecinta musik, walau gak bisa main musik, tapi musik seperti sahabat yang gak perlu dikuasai namun selalu siap untuk membuat elo merasa lebih baik. Setiap kali putus asa, kecewa, bahagia, atau gagal segagalnya, melody is my remedy. Hanya saja, dalam cinta selalu saja ada duri dalam daging. Dan duri itu bagi gua adalah, musik metal.

Semenjak gua bekerja di kantor ini gak pernah dalam satu haripun, musik metal absent mengguncang kejiwaan gua. Rasanya gua bisa jadi gila setiap saat. Heran, apa sih enaknya musik yang begitu offensive dan brutal. Isinya cuma maki-maki kadang diiringi dengan melody yang flat. Rasanya seperti mendengarkan omelan orang tua atau teriakan orang demo. Bikin migran.

Tapi tiga hari yang lalu, gua melakukan sebuah kompromi besar. Long story short, beberapa minggu belakangan ini karena dibebani kerjaan yang berat, computer tempat lagu metal berkoar-koar jadi bisu. Langkah melegahkan itu karena memutar playlist memberatkan gerak computer. Jadi lemot lah bahasa gampangnya.

Keadaan ini merupakan kemenangan kaum minoritas (secara gua Cuma seorang) melawan kaum FundaMetalist! Semangat gua langsung membumbung ringan dan tinggi seperti asap dari segelas kopi hangat. Mood gua berbunga warna-warni karena gua bisa memutar lagu dari playlist gua. Tapi sayangnya hal itu berbanding terbalik dengan para FundaMetalist. mood hancur berantakan.

“Kehilangan mood = semangat kerja kurang = gampang ngantuk = tidak produktif = kerja jadi lebih lambat = pulang lebih malam.”

Kira-kira begitu runutan imbas dari sebuah mood yang rusak.

So, in order to save the day, gua berpikir untuk memutar lagu-lagu metal via komputer gua. Jadi dengan lagak seorang yang besar hati, gua minta file dan beberapa menit kemudian, berkumandanglah makian-makian itu.

Ketika lagu pertama sedang diputar, dalam hati gua berpikir, “ akh selama hati sedang bahagia, keinjek tokai pun bisa buat kita tertawa”. Optimis mentok atau naif pol? Di lagu ke empat gua tahu jawabannya.

Seperti ada vacuum cleaner yang penyedot kebahagiaan, di lagu keempat, tiba-tiba gua merasa depresi. sedikit demi sedikit tapi terasa penat di kepala. Rasanya pengen banting computer, injek-injek, siram bensin, bakar, just so I can have my solitude back.

Akhirnya di lagu ke enam, gua nyerah. Sumpah jantung gua rasanya mau meledak dan kepala gua rasanya sumpek. Dalam beberapa klik langsung gua kembali ke lagu-lagu yang lebih tenang dan groovy.

Gua sadar, ternyata kerelaan memutar lagi metal bukan sekedar untuk menghibur teman-teman gua, tapi lebih karena supaya gua bisa pulang lebih cepat.

Pelajaran dari kejadian ini adalah, “kadang kita memang harus berkorban untuk kebaikan orang lain, tapi, entah bagaimana, kita harus bisa senang menjalankannya. Kalau gak bisa, itu namanya, sok jadi pahlawan.”

Darn! I’m so done with metal music… and playing hero!