Sunday, October 10, 2010

The joy of seeing the bright side

Pernahkah kamu berpikir untuk mencari sisi terang dari setiap kesialan yang menimpa? Buat apa?

Semua orang pasti pernah bangun di pagi yang begitu cerah dan hangat, setelah tidur nyenyak dan mimpi indah semalaman. Bahkan ketika masih di kasur sudah terasa semangat menghadapi hari, yang meletup-letup seperti jagung dalam panggangan. Dalam hati kecil kita pun merapal janji dan harapan, “Hari ini tidak akan ada yang bisa merusak moodku”.

Begitulah aku memulai pagi hari ini.

Namun, tak lama kemudian, sebuah sms meluncur masuk. Sebuah kabar busuk isinya. Jam tangan yang aku beli sebulan lalu, belum juga bisa dikirim. Padahal permintaanku sangat sederhana, yaitu menukar warna coklat menjadi hitam. Tapi sudah lebih dari lima kali aku dibohongi.

Membaca sms itu aku seperti ditampar. Darah langsung merangkak naik sampai ke ubun-ubun. Isi perut terombang-ambing seperti perahu dalam badai. Dalam seketika, pagi yang cerah menjadi pagi berdarah.

Hanya saja, aku tidak akan membiarkan sebuah kabar buruk menghancurkan hari yang indah ini. Jadi, aku tetap berusaha menimang-nimang mood agar jangan sampai “menangis”.

Begitu aku sudah berada di atas motor menuju kantor, sinar matahari yang menyengat kejam bagai kesetanan, membuat aku terpanggang. Ditambah sebuah motor yang menyalip memaksa aku untuk rem mendadak. “Kampret!”, makiku, walau hanya diri sendiri yang mendengar.

Perlahan aku mengambil nafas dalam-dalam untuk kembali meninabobokan murka yang sudah setengah bangun.

Baru sedikit merasa tenang, jalan di depan disesaki beribu mobil. Ada kecelakaan yang melahirkan macet bukan kepalang. Spontan aku melirik jam tangan, “Akkh telaat!”, hati memekik stress.

Setelah itu, berbagai masalah lain hadir di sepanjang jalan, seperti, mata kelilipan debu, kehujanan, bensin tiris, kebelet buang air kecil, dan mendapat teror telepon dari kantor karena terlambat.

Begitu akhirnya aku sampai kantor, seseorang langsung bertanya kenapa mukaku kusut. Langsung semua kesialan yang aku alami tumpah ruah dari mulut, seperti waduk yang jebol.

Lelah, kesal, tegang, punggung pegal, mata sakit, dan pakaian lembab, telah membunuh semangat pagi yang tadi begitu panas membara. Setelah itu sisa hari aku habiskan dengan mood sejelek aye-aye, sejenis tikus yang konon katanya nomor 2 dalam daftar 10 binatang paling jelek di dunia. (Bagaimana rupanya? Yaa… yang pasti jelek banget.)

Hari ini hari yang indah dilanjuti dengan kekesalan sepanjang hari.

Aku pun berpikir, apa karena memang sedang sial, atau aku saja yang hanya melihat semua dari sisi negatif? Kenapa tidak berpikir, "Masih untung sampai kantor dengan selamat".

Padahal aku pernah mengalami hari yang berkali-kali lipat lebih naas dari hari ini, tapi moodku tidak sejelek hari ini. Yaitu ketika aku nyaris mati dikejar polisi.

Malam itu, kira-kira hampir dua tahun yang lalu, hujan baru saja berkunjung. Jejaknya masih tertinggal di pinggir-pinggir jalan dalam bentuk pulau-pulau air. Udara dingin menusuk-nusuk kulitku yang sedang duduk tanpa jaket di atas motor dibonceng temanku, seorang cowok yang bermimpi menjadi pembalap motor.

Malam sudah terlalu larut bagi bemo untuk berkeliaran, sehingga aku terpaksa menumpang sampai ke tempat yang masih ramai bus umum.

Ketika motor sedang santai melaju ke arah grogol lewat jalan Borobudur-Jelambar, tiba-tiba dari kanan seorang polisi bersepeda motor mengayunkan tangan ke arah kami. Pastinya bukan lambaian selamat jalan, tapi ia meminta kami untuk menepi. Temanku tidak memasang plat nomor belakang.

Apa yang temanku lakukan malah sebaliknya. Insting pembalapnya langsung terbakar seperti kompor yang diputar tuasnya. Tanpa ba bi bu, ia langsung tancap gas, kabur.
Spontan aku meremas keras besi pegangan di belakang. Motor melesat bak anak panah yang terlontar dari busur, lalu mengambil tikungan dan berputar arah.

Tidak perlu pintar menebak, si polisi sudah pasti mengejar. Melalui gang-gang sempit dengan selokannya yang menganga lebar seperti mulut buaya lapar, dan polisi-tidur setinggi gunung, aku dibonceng temanku ngebut seolah jalanan di depan kita lebar dan mulus seperti sirkuit sepang.

Berkali-kali perempatan dilaluinya tanpa tedeng aling-aling. Berkali-kali juga aku membayangkan sebuah truk besar melindas kami.

“Gua pasti mati nih. haduh, tapi gua gak mau mati!” hatiku bergejolak cemas. Temanku melepas helm dan menyerahkan kepadaku. Andai muat, sudah kudobel helmku dengan helm temanku itu.

Beberapa kali aku menengok ke belakang, dan si polisi masih saja membuntuti seperti seekor Macan mengejar dua ekor kelinci. Tidak begitu dekat, tapi cukup untuk menerkam begitu kita lengah.

Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa selain merapal doa, semoga, entah bagaimana, aku bisa selamat. Karena temanku semakin menggila, diburu rasa takut dan dipacu adrenalin pembalap wannabe.

Hingga akhirnya doaku terkabul dalam bentuk jalan buntu dan basah. “Aduh. Jatoh nih”, tiba-tiba temanku berkata. Dan… BRUG! Jatuh lah kita berdua ke atas aspal basah. Motor menghantam tiang listrik, temanku menghantam motor. Sedangkan aku, entah oleh keajaiban apa, hanya jatuh di pantat dan merosot di atas aspal basah seperti di perosotan. Tanpa luka sedikit pun. Satu-satunya memar hanya ketika nanti tanganku dipukul tongkat hitam pak polisi.

Setelah itu kejadian berlangsung cepat, temanku dipukuli pak polisi, kami berulang-ulang diancam ancaman beraroma rasis, hingga akhirnya orang tua temanku datang menyelesaikan semuanya dan kami pun bisa pulang ke rumah masing-masing membawa cerita dan trauma.

Sulit digambarkan kengerian malam itu, ketika maksud menumpang, menjadi momen mengancam nyawa.

Tapi aku mencoba melihat sisi terang dari drama tikus dan kucing malam itu; untung aku tidak terjatuh ke dalam selokan di gang-gang sempit Jelambar, untung tidak ada orang yang tertabrak, untuk tak ada mobil yang menabrak kami, untung ketemu jalan buntu yang aspalnya basah (kalau kering mungkin kita babak belur), untung kami tidak dihakimi massa, untung aku masih hidup, untung aku mengalami hal itu jadi sekarang punya bahan untuk tulisan.

Dengan menerima apa yang terjadi, perasaan menjadi lebih enteng. Hidup itu keras bung, jangan kita bikin jadi tambah keras.

Cukup momen saat itu saja yang hancur, tapi di sisa hari sampai sekarang, kejadian malam mengancam nyawa itu, malah menjadi sebuah cerita lucu yang tidak terlupakan. Bahkan diam-diam aku beterimakasih telah mengalaminya.

Aku rasa memang itulah, the joy of seeing the bright side, membuat hidup yang keras ini, menjadi sedikit lebih ringan.

Friday, September 3, 2010

Playing hero with zero intention

Kadang gua suka berpikir, apa jadinya hidup tanpa musik. Pasti penuh depresi dan kebosanan total. Gua memang pecinta musik, walau gak bisa main musik, tapi musik seperti sahabat yang gak perlu dikuasai namun selalu siap untuk membuat elo merasa lebih baik. Setiap kali putus asa, kecewa, bahagia, atau gagal segagalnya, melody is my remedy. Hanya saja, dalam cinta selalu saja ada duri dalam daging. Dan duri itu bagi gua adalah, musik metal.

Semenjak gua bekerja di kantor ini gak pernah dalam satu haripun, musik metal absent mengguncang kejiwaan gua. Rasanya gua bisa jadi gila setiap saat. Heran, apa sih enaknya musik yang begitu offensive dan brutal. Isinya cuma maki-maki kadang diiringi dengan melody yang flat. Rasanya seperti mendengarkan omelan orang tua atau teriakan orang demo. Bikin migran.

Tapi tiga hari yang lalu, gua melakukan sebuah kompromi besar. Long story short, beberapa minggu belakangan ini karena dibebani kerjaan yang berat, computer tempat lagu metal berkoar-koar jadi bisu. Langkah melegahkan itu karena memutar playlist memberatkan gerak computer. Jadi lemot lah bahasa gampangnya.

Keadaan ini merupakan kemenangan kaum minoritas (secara gua Cuma seorang) melawan kaum FundaMetalist! Semangat gua langsung membumbung ringan dan tinggi seperti asap dari segelas kopi hangat. Mood gua berbunga warna-warni karena gua bisa memutar lagu dari playlist gua. Tapi sayangnya hal itu berbanding terbalik dengan para FundaMetalist. mood hancur berantakan.

“Kehilangan mood = semangat kerja kurang = gampang ngantuk = tidak produktif = kerja jadi lebih lambat = pulang lebih malam.”

Kira-kira begitu runutan imbas dari sebuah mood yang rusak.

So, in order to save the day, gua berpikir untuk memutar lagu-lagu metal via komputer gua. Jadi dengan lagak seorang yang besar hati, gua minta file dan beberapa menit kemudian, berkumandanglah makian-makian itu.

Ketika lagu pertama sedang diputar, dalam hati gua berpikir, “ akh selama hati sedang bahagia, keinjek tokai pun bisa buat kita tertawa”. Optimis mentok atau naif pol? Di lagu ke empat gua tahu jawabannya.

Seperti ada vacuum cleaner yang penyedot kebahagiaan, di lagu keempat, tiba-tiba gua merasa depresi. sedikit demi sedikit tapi terasa penat di kepala. Rasanya pengen banting computer, injek-injek, siram bensin, bakar, just so I can have my solitude back.

Akhirnya di lagu ke enam, gua nyerah. Sumpah jantung gua rasanya mau meledak dan kepala gua rasanya sumpek. Dalam beberapa klik langsung gua kembali ke lagu-lagu yang lebih tenang dan groovy.

Gua sadar, ternyata kerelaan memutar lagi metal bukan sekedar untuk menghibur teman-teman gua, tapi lebih karena supaya gua bisa pulang lebih cepat.

Pelajaran dari kejadian ini adalah, “kadang kita memang harus berkorban untuk kebaikan orang lain, tapi, entah bagaimana, kita harus bisa senang menjalankannya. Kalau gak bisa, itu namanya, sok jadi pahlawan.”

Darn! I’m so done with metal music… and playing hero!

Saturday, August 14, 2010

mencari jalan

Seekor serangga kecil terjebak di kamarku.


Berterbangan ia ke sana ke mari. Sekali menabrak lemari, sekali menabrak pintu, sekali jatuh ke lantai, dan sekali hinggap di kakiku.


Sayapnya putih dan bentuknya pipih. Ia seperti peri kecil bandel yang begitu penasaran ada apa di luar dunianya, hingga ia nekat pergi hingga lupa diri dan tersesat.


“Akhh… serangga itu seperti kebanyakan dari kita, sedang mencari jalan untuk bisa bebas dan terbang lepas”, dalam hati aku berujar. “Habis ini akan kubukakan pintu untuknya agar ia bisa miliki kembali kebebasannya. Betapa beruntungnya serangga itu”, syukurku, “ia tersesat di kamarku”.

Friday, August 6, 2010

Kisah hujan

aku jatuh cinta pada hujan
sejak pertama kali bulir-bulir airnya memelukku
semenjak itu pori-poriku mencandu sejuknya
Merindu harum tanahnya

Siang itu terik, tapi hujan runtuh dari langit
Orang-orang panik berhamburan
Begitu juga kamu yang langsung mengernyit
Lalu lari seperti dikejar setan

Sampai di tempat teduh kamu mengaduh
Kesal melihatku malah termangu
Menengadah ke langit yang semakin gaduh
Menyambut tetes demi tetes dengan syahdu

Kamu pun mulai memanggil sambil terus mengigil
Kata-katamu berselancar di atas angin yang bertiup resah
Dari bibir mungil yang selalu membuatku salah tingkah

Aku tersenyum melihat kamu khawatir
Berusaha merekam setiap detik raut wajahmu
Karena aku tahu kamu tak akan selamanya hadir
Seperti hujan

Waktu berlalu seperti kereta yang melaju
Tapi aku seperti menanti di stasiun yang sama
Hujan turun, walau siang terik
Kata orang, hujan di kala terik berarti hujan orang mati

Aku berdiri termangu menatap langit yang semakin gaduh
Menikmati setiap tetes dengan syahdu
karena pori-poriku mencandu sejuknya
Merindu harum tanahnya

walau tak ada lagi kamu yang memanggil

Monday, June 28, 2010

Don’t be someone that spends the rest of life
regretting what hasn’t and what hadn’t.

Sunday, June 20, 2010

suara bising yang gak bikin pusing

Tiada yang lebih menyenangkan daripada menikmati hari libur dengan santai bersama keluarga, walau tidur harus terganggu.

Hari minggu dua minggu yang lalu rasanya adalah hari paling santai dalam beberapa bulan ini. Walau di kepala berbagai masalah berdesingan seperti rentetan peluru dan pecahan martir, tapi gua merasa berada di dalam ruang dengan kaca anti peluru. It gives me some sort of feeling that, somehow everything is gonna be alright. Begitulah efek sebuah hari yang begitu hangat.

Tadi pagi gongongan Leo menampar-nampar kesadaran sampai gua terpaksa sadar dari tidur, ditambah suara obrolan orang-orang rumah yang menguap dari bawah lalu menyelinap masuk ke kamar lewat sela-sela jendela dan mendengung di telinga gua. (Selalu seperti ini setiap libur.)

Walau tidur nyenyak jadi terganggu, gua gak kepikiran untuk turun ke bawah sambil marah menyuruh mereka untuk diam. Mungkin gua emang sedikit masokis, karena gua justru menikmati kebisingan itu.

Suara-suara itu seperti punya daya magis untuk menarik gua bangun dari kasur yang nyaman, walau masih super ngantuk, untuk ke bawah dan ikut sumbang suara dalam obrolan renyah minggu pagi.

Bobot pembicaraannya juga gak pernah terlalu penting, seperti membahas ketololan Leo atau hal-hal sepele lain, tapi suara-suara itu seolah mengingatkan gua kalau masih ada orang-orang yang sedang menunggu gua bangun dan akan menerima gua apa adanya walau tampang masih jelek beler dan rambut masih awut-wutan.

Apa yang masih bisa gua berikan untuk keluarga, akan gua berikan sepenuh hati. Itu termasuk jam tidur gua yang cuma bisa sedikit lebih panjang waktu libur.

Wednesday, June 2, 2010

Kepada malam



Kepada malam yang begitu angkuh
Beri aku gemintangmu
Atau sepotong bulan yang tersenyum
Buat aku yakin, dalam gelap masih ada harapan