It may be the biggest, most important question in our life. It’s the riddle each of us longing to solve. The answer is so essential it divine the future and strengthen our existence in today’s world where everyone looks almost the same. Some people might find it easy to discover, but for some others, like me, we can stuck in everlasting confusion. And no others have the answer but oneself.
It’s easier for us to claim others qualities than to seek for our own. We tend to become what people want us to be, instead of something we are happy to be. Because it’s the shortcut, the “Ponari Water” to reach too, what it seems, the best of us. And we think we might be able to make everybody happy, where as it is impossible.
How one can make everybody happy if one is not.
You may take my writing as bullshit. A desperate man searching for a life sensation through a cheap publication. If you do think this note that way, you should stop wasting your time reading this piece of crap. But for you who willing to listen; this is my true story, my unfinished journey to find who I really am. The scary thing about this whole episode of self-discovery is, I don’t know when and how will I end the story. But maybe this writing is the start.
I’m not someone you used to think I am.
I’m the boy who sits alone in the corner, shy; feel inferior, not brave enough to speak out his mind. The geek, the loner, not good in making friends because I’m worry too much to make mistakes, instead I made even a lot more. I always try to be the best; I forget no one is perfect. I guess that’s how sometimes people get the bad vibe from me.
Honestly, sometimes it hurts so much, when loneliness visit me. I try to hush it away by pretending everything is okay. But I can’t. I'm too weary to fool myself. Yesterday afternoon, when I was sitting alone, a line of questions sprang suddenly; “what would I become in the next 10 years? Would I be myself? Would I be happy for what I have become? Since then, these questions kept echoing over and over inside my head. Like a broken cassette. Like the sound of thousand bats flying out of darkest cave.
Please don’t spare me your pity, for I already have enough from myself. I didn't write to beg, I did it to tell you the unspoken side of me. The dark side. The one that I keep running away from. Above all I did it because...
I really want to be your friend.
People say friend got nothing to hide from each other. A friend always tells his friend the truth. And this is my truth; I can’t find my way alone. I need friends to share my dreams. I need friends to slap me on the head if I do it wrongly. I need friends whom I can tell about my fears and doubt. I need friends that will stay with me no matter what happen.
So then maybe I’ll find the answer, Who am I? And maybe... you'll find yours as well.
---Lovers and friends are alike, they come and go. The only difference is friends take you wherever they go (they keep you in their heart, just as if you wonder. ;p).---
PS: I deliberately wrote in English, because I never really have the courage to do it and to listen to critics. But now I’m not scare (okay. Maybe a little bit. OKAY! OKAY! I'm scare. I'm so scare. okay. Fiuuuuh... :p). People say making mistakes is the best also the bitterest way to find ourselves. …
Tuesday, March 3, 2009
Thursday, February 26, 2009
Where do I go from here?
Sitting here thinking about tomorrow
In the place where future is dull
To where my heart should follow
I could not perceive
I try to listens the subtlest voice inside
Direction out of sight
But all I can hear is just the sound of emptiness
Simply nothing, slowly impaled
I’ve tried, I crushed my bones
Tears my heart out
Somehow, nothing seems to come my way
Should I stop and pretend everything’s okay
Or I should wait for another ray of hope
Ooh Hope!
How I hate that word
The dope of life
Making me unwilling to stop
From trying and trying and trying
And what do I get from that?
Nothing but pain and a rude awakening
That every failure becomes the moment of probability
For I might forever be
Just another stranger in the crowd
Where do I go from here?
What should I do to stay alive?
There are thousand paths ahead
But one path I’ll never take
I’ll never run away
In the place where future is dull
To where my heart should follow
I could not perceive
I try to listens the subtlest voice inside
Direction out of sight
But all I can hear is just the sound of emptiness
Simply nothing, slowly impaled
I’ve tried, I crushed my bones
Tears my heart out
Somehow, nothing seems to come my way
Should I stop and pretend everything’s okay
Or I should wait for another ray of hope
Ooh Hope!
How I hate that word
The dope of life
Making me unwilling to stop
From trying and trying and trying
And what do I get from that?
Nothing but pain and a rude awakening
That every failure becomes the moment of probability
For I might forever be
Just another stranger in the crowd
Where do I go from here?
What should I do to stay alive?
There are thousand paths ahead
But one path I’ll never take
I’ll never run away
Wednesday, February 18, 2009
Ramalan bijak yang menjitak
Malam tadi, di sebuah kafe Buddha di Jakarta, aku melihat sebuah fish bowl yang tiga minggu lalu masih terisi penuh oleh ramalan bijak dalam gulungan kecil warna-warni yang disematkan di dalam potongan sedotan. Tapi sekarang isinya tinggal seperempat. Apakah begitu banyak orang bingung dan kehilangan arah, lalu berharap tulisan bijak di dalam gulungan-gulungan kertas kecil mirip permen warna-warni itu bisa memberikan jawaban?
Aku mengambil satu lagi tadi malam dan memilih yang biru. Karena biru adalah warna hatiku. Namun gulungan itu tak kubuka sampai beberapa menit lalu, sebelum aku memulai tulisan ini. Kubuka perlahan gulungannya, dari kiri ke kanan, sedikit-sedikit kata-kata di dalamnya mulai muncul, dan berkata;
“Cinta kasih yang sejati adalah menjaga kondisi batin sebaik-baiknya.”
Hanya satu yang kupercaya dalam hidup, yaitu keyakinanku. Tidak pernah ramalan bintang, kartu tarot, apalagi sebuah gulungan kertas kecil berisi kata-kata bijak dari sebuah Fish bowl.
Tapi aku percaya, keyakinanku selalu berusaha berbicara kepadaku melalui semua yang ada di sekitarku, termasuk gulungan kertas biru itu.
Karena beberapa hari belakangan ini aku memang sedang menyiksa batin dengan takut yang pekat. Mungkin aku harus berhenti menyiksa diri. Belajar menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya,
sebelum aku jadi sinting.
Aku tidak pernah bermaksud mencari jawaban dengan gampang. Namun lewat segulung kertas kecil berwarna biru, dengan kalimat yang terkesan omong kosong bila dibaca orang seperti aku, pertanyaan yang selama ini aku cari terjawab. Atau sebenarnya aku memang sudah mengetahui jawaban dari keresahanku, hanya saja butuh sebuah gulungan kertas biru berisi kata-kata bijak - nyaris omong kosong, untuk mengingatkan.
Because once in the while people do get lost.
Aku mengambil satu lagi tadi malam dan memilih yang biru. Karena biru adalah warna hatiku. Namun gulungan itu tak kubuka sampai beberapa menit lalu, sebelum aku memulai tulisan ini. Kubuka perlahan gulungannya, dari kiri ke kanan, sedikit-sedikit kata-kata di dalamnya mulai muncul, dan berkata;
“Cinta kasih yang sejati adalah menjaga kondisi batin sebaik-baiknya.”
Hanya satu yang kupercaya dalam hidup, yaitu keyakinanku. Tidak pernah ramalan bintang, kartu tarot, apalagi sebuah gulungan kertas kecil berisi kata-kata bijak dari sebuah Fish bowl.
Tapi aku percaya, keyakinanku selalu berusaha berbicara kepadaku melalui semua yang ada di sekitarku, termasuk gulungan kertas biru itu.
Karena beberapa hari belakangan ini aku memang sedang menyiksa batin dengan takut yang pekat. Mungkin aku harus berhenti menyiksa diri. Belajar menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya,
sebelum aku jadi sinting.
Aku tidak pernah bermaksud mencari jawaban dengan gampang. Namun lewat segulung kertas kecil berwarna biru, dengan kalimat yang terkesan omong kosong bila dibaca orang seperti aku, pertanyaan yang selama ini aku cari terjawab. Atau sebenarnya aku memang sudah mengetahui jawaban dari keresahanku, hanya saja butuh sebuah gulungan kertas biru berisi kata-kata bijak - nyaris omong kosong, untuk mengingatkan.
Because once in the while people do get lost.
Friday, February 13, 2009
Serendipity
Apa betul hidup hanya terbentuk dari satu ketidaksengajaan ke ketidaksengajaan lainnya? kalau begitu buat apa kita mati-matian berusaha? buat apa juga pusing-pusing kita merencanakan hidup, kalau ke mana kita mau menuju sampainya ke sana nasib membawa kita?
They said life is like a river, just go with the flow.
Tapi gimana kalau arus membawa kita ke telaga penuh limbah? Apakah kita tetap akan menunggu ketidaksengajaan menyelamatkan kita?
Ketidaksengajaan adalah nasib. Nasib adalah cocoknya sedangkan hidup adalah hidung kerbau. begitulah kira-kira menurut gua.
Andai hidup bisa begitu mudah, mengandalkan hanya nasib sebagai lintang arah hidup. kalau suatu saat kita tersesat atau jatuh ke jurang lantas siapa yang salah? ya nasib dooonk... kan ia yang menuntun jalan. Kalau kita miskin siapa yang salah? ya nasib lah, kan ia yang melahirkan kita dalam kemelaratan. Kalau kita gagal, siapa lagi yang salah? Nasib gila! kenapa juga ia tidak mau membuat kita lebih pandai?
Seakan-akan kalau nasib sudah bicara maka tak ada yang boleh menyanggah, semua harus menerima dengan gagah. Padahal kita bisa berubah tapi lebih memilih menyerah, pasrah.
Bagi gua, mereka yang tinggal di pinggir jalan, punya pilihan. Mereka yang kesepian tanpa teman, punya pilihan. Mereka yang lelah dengan kegagalan, juga punya pilihan.
tapi sayangnya sebagian orang, memilih untuk tidak memilih atau memilih menunggu ketidaksengajaan datang menghampiri dengan senyumnya yang paling hangat dan genggamannya yang paling bersahabat untuk menjelaskan apa tujuan hidup kita.
Padahal ketidaksengajaan hanya hadir ketika kita tidak mengharapkannya. Ketika hidup tahu kalau kita sudah berusaha setengah mati, tapi tak jua menemukan langit cerah.
Ketidaksengajaan juga tak selalu membuka jalan lurus ke depan seperti yang kita harapkan, kadang ia sedikit berbelok, menyibak jalan lain sebelum mengantarkan kita sampai ke depan. Namun itu juga tak selalu tepat di depan, kadang denpan geser kanan dikit, kadang depan miring utara, kadang depan selatan. Tapi ia juga bisa membawa kita ke jalan berputar dan meninggalkan kita terus melingkar-lingkar di dalam sana.
Ketidaksengajaan berada di sekeliling kita? Tapi bukan ia yang akan menemukan kita, tapi kita yang harus mencarinya. Bagaimana? Pertama, dan yang tersulit adalah percaya nasib bukanlah baja, tapi batu besar dan sangat keras yang bisa dipahat menjadi berbagai bentuk sesuai keinginan hati kita.
They said life is like a river, just go with the flow.
Tapi gimana kalau arus membawa kita ke telaga penuh limbah? Apakah kita tetap akan menunggu ketidaksengajaan menyelamatkan kita?
Ketidaksengajaan adalah nasib. Nasib adalah cocoknya sedangkan hidup adalah hidung kerbau. begitulah kira-kira menurut gua.
Andai hidup bisa begitu mudah, mengandalkan hanya nasib sebagai lintang arah hidup. kalau suatu saat kita tersesat atau jatuh ke jurang lantas siapa yang salah? ya nasib dooonk... kan ia yang menuntun jalan. Kalau kita miskin siapa yang salah? ya nasib lah, kan ia yang melahirkan kita dalam kemelaratan. Kalau kita gagal, siapa lagi yang salah? Nasib gila! kenapa juga ia tidak mau membuat kita lebih pandai?
Seakan-akan kalau nasib sudah bicara maka tak ada yang boleh menyanggah, semua harus menerima dengan gagah. Padahal kita bisa berubah tapi lebih memilih menyerah, pasrah.
Bagi gua, mereka yang tinggal di pinggir jalan, punya pilihan. Mereka yang kesepian tanpa teman, punya pilihan. Mereka yang lelah dengan kegagalan, juga punya pilihan.
tapi sayangnya sebagian orang, memilih untuk tidak memilih atau memilih menunggu ketidaksengajaan datang menghampiri dengan senyumnya yang paling hangat dan genggamannya yang paling bersahabat untuk menjelaskan apa tujuan hidup kita.
Padahal ketidaksengajaan hanya hadir ketika kita tidak mengharapkannya. Ketika hidup tahu kalau kita sudah berusaha setengah mati, tapi tak jua menemukan langit cerah.
Ketidaksengajaan juga tak selalu membuka jalan lurus ke depan seperti yang kita harapkan, kadang ia sedikit berbelok, menyibak jalan lain sebelum mengantarkan kita sampai ke depan. Namun itu juga tak selalu tepat di depan, kadang denpan geser kanan dikit, kadang depan miring utara, kadang depan selatan. Tapi ia juga bisa membawa kita ke jalan berputar dan meninggalkan kita terus melingkar-lingkar di dalam sana.
Ketidaksengajaan berada di sekeliling kita? Tapi bukan ia yang akan menemukan kita, tapi kita yang harus mencarinya. Bagaimana? Pertama, dan yang tersulit adalah percaya nasib bukanlah baja, tapi batu besar dan sangat keras yang bisa dipahat menjadi berbagai bentuk sesuai keinginan hati kita.
Thursday, February 12, 2009
Chocolate

I saw you yesterday
It felt like three years ago
When the first time I fell in love with you
Suddenly butterflies burst inside
Suddenly I forgot how to breathe
When you smile
The world stops
Watching dimples on your cheek
As they sip all the happiness in the world
To made your lips curled in the sweetest way
Sometimes bitterness comes
When you worry too much
Honestly baby you hurt me badly
Love is like Life
It’s a mystery
So stop guessing
Just do our things
And let faith do the dancing
Your love is euphoria
When life gets tough
And things get rough
Still I found the strength to stand
The reason to smiles
You’re sweet
Fairly bitter
But baby you made me very happy
Because you’re my chocolate
My lifetime passion
All of this time you wonder
Why do I like chocolate so much?
The answer is easy
Because it reminds me of you
Yeah. It reminds me of you
You’re sweet
Fairly bitter
But baby you made me very happy
Because you’re my chocolate
My lifetime passion
Happy Fayelentine ya doetz
13th of February
ehm... ehm... Yes. I remember. ;p
Hihihihi
Monday, February 9, 2009
minus rasa menghargai
Kalau orang hebat berhasil melakukan sesuatu orang-orang akan bilang, "Ya pantes. Namanya juga orang hebat."
Tapi bila orang hebat itu gagal, orang-orang akan bilang, "Gitu aja kok gak becus. Katanya hebat. katanya ahli."
---
Seandainya wajah orang tuanya standard, tapi anaknya cakep, orang-orang akan bilang, "anak pungut tuh."
tapi seandainya anaknya juga standard orang-orang akan bilang, "pantes. kautanam jengkol, kaudapat jengkol.
---
Bila sehari dapat penghasilan 30.000, kita akan bilang, "buat makan aja pas-pasan."
tapi kalau besok dapat 100.000 kita akan bilang, "naik sih naik, tapi tetep aja harga kebutuhan lebih mahal".
---
Kalau pergi kencan naik bus atau bajaj, cewek pasti akan bilang, "Beli motor donk say, kakiku pegel kebanyakan jalan".
tapi begitu sudah beli motor, cewek akan bilang, "ganti mobil donk honey, aku kepanasan nih".
dan kalau akhirnya mobil terbeli juga, cewek akan bilang, "Mobilnya ganti yang bagusan donk cinta, malu kan kalau ke kondangan".
---
* List mungkin akan bertambah tergantung bagaimana gua menghargai semua yang minus rasa menghargai (termasuk diri sendiri :p).
Tapi bila orang hebat itu gagal, orang-orang akan bilang, "Gitu aja kok gak becus. Katanya hebat. katanya ahli."
---
Seandainya wajah orang tuanya standard, tapi anaknya cakep, orang-orang akan bilang, "anak pungut tuh."
tapi seandainya anaknya juga standard orang-orang akan bilang, "pantes. kautanam jengkol, kaudapat jengkol.
---
Bila sehari dapat penghasilan 30.000, kita akan bilang, "buat makan aja pas-pasan."
tapi kalau besok dapat 100.000 kita akan bilang, "naik sih naik, tapi tetep aja harga kebutuhan lebih mahal".
---
Kalau pergi kencan naik bus atau bajaj, cewek pasti akan bilang, "Beli motor donk say, kakiku pegel kebanyakan jalan".
tapi begitu sudah beli motor, cewek akan bilang, "ganti mobil donk honey, aku kepanasan nih".
dan kalau akhirnya mobil terbeli juga, cewek akan bilang, "Mobilnya ganti yang bagusan donk cinta, malu kan kalau ke kondangan".
---
* List mungkin akan bertambah tergantung bagaimana gua menghargai semua yang minus rasa menghargai (termasuk diri sendiri :p).
Turun ring

Aku mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Mundur dari gelanggang
Turun ring
Tanpa melemparkan handuk putih
Dengan kepala tertunduk syahdu
Karena ini bukan soal kalah menang
Bukan sekedar siapa paling senang
ini soal semua senang, semua menang
Para penonton yang berjejal
Mempertaruhkan uang mereka
Boleh gigit jari
Kecewa setengah mati
Karena aku lelah jadi tontonan
Muak dibandingkan
Gerah menjadi ayam jantan
Yang diadu demi sebuah kehormatan
Tapi mengalah itu susah
Walau bukan berarti kalah
Biakan aku sendiri
Temukan mozaik diri
Yang tercecer
Tak berani kupungut
Di sepanjang lajur hidupku
Dulu dan akan
Bagi diriku sendiri
Si penakut dan si jiwa sempit
Aku mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Berubah aku teguh
Menyerah Aku runtuh
Untuk kalian
Para spektator dan promotor
Aku mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Aku mundur pantang maju
Aku mundur tiga langkah untuk melompat seribu langkah
Aku ingin jati diri sendiri
Yang tak lahir dari ilusi hati
Juga bisikan sana sini
Kan kumasuki gelanggang baru
Kunaiki ring-ring lain di luar sana
Dan kan kupijakan kaki dengan bangga
Untuk kuhadapi setiap tantangan tanpa ragu
Untuk kurayakan setiap kemenangan dengan haru
Untuk kuresapi setiap kekalahan tanpa malu
Dan semua perjuanganku untuk kubagi
Selalu seperti itu
Karena masturbasi adalah tuak yang diteguk sendirian
Sepi, sepi sendiri
Tertawa, tertawa sendiri
Nikmat, nikmat sendiri
Mabuk, mabuk sendiri
Kini,
Aku bersama diamku
Nya dengan cerianya
karena aku percaya
Berbeda itu kaya
Berbeda itu gairah
Berbeda itu BERani BErbuat Dari hAti
Jadi ijinkan aku
Restui aku
Mendeklarasikan
Mengeraskan hati
Turun ring
Subscribe to:
Posts (Atom)