Tuesday, January 27, 2009
Kenyatan itu apa sih?
Ia bisa merobek-robek isi dadamu
tanpa harus membelahmu
lalu meninggalkanmu sekarat
di antara mau mati dan tidak mau mati
agar kita merasakan perih sedikit-sedikit
sebelum selamanya tidak merasa lagi
Kenyataan itu hujan badai
yang anginnya memporakporandakan impianmu
yang memadamkan kobaran semangat
yang gelegar gunturnya menyiutkan nyali
yang airnya menghanyutkan keyakinan
Kenyataan itu kadang maling, kadang rampok
ia bisa datang tanpa suara, tanpa peringatan
membobol beranda hatimu
tahu-tahu semua amblas
tinggal harapan kosong
yang terus berharap semua cuma mimpi
Namun ia juga bisa menyeruak muncul
terang-terangan di hadapan mu
membuat seluruh tubuhmu kelu
membuat jantungmu berdetak ngilu
lalu di antara ketidakberdayaanmu
ia akan mulai merampok
semua yang kamu punya
Sooo...
Pertanyaannya, kenyataan itu apaaaaaan sih sebenarnya?
Bikin pusing aja deeeh... :p
Sunday, January 18, 2009
Lullaby of a bad day
Until she came to me with the truth
Sharp and short like a stiletto
Suddenly the sun is dead
It was the cool breeze at my face
When I walked out of the door
The mood for optimism raised, a beautiful day at it best
I put my first step and laid it on a feces
Someone forgot to teaches the dog some manners
Suddenly frustration at my face
A little bit faith
A candle in the dark
That's all I need
To keep me awake
To take me away
From lullaby of a bad day
Because life's never been so easy
You have to find the rainbow
Hidden after a raging storm and thunder
It was felt like Sunday everyday
Every time I remembered, the way you say your name
Yesterday. The first time we met
Just then, I saw you with a guy
Holding hands, kissing lips
Suddenly Sunday is Monday
It was a beautiful life
My job is everyone dream job
I traveled to the most exotic places on earth
But one day I got bit by a deathly snake
Suddenly life is sucks
A little bit faith
A candle in the dark
That’s all I need
To keep me awake
To take me away
From lullaby of a bad day
Because life's never been so easy
You have to find the rainbow
Hidden after a raging storm and thunder
Pain on the surface
You have to face it
You have to fight it
You have to dare it
So you know
Sometimes hurt kills
Sometimes hurt heals
Pain under the skin
You have to feel it
You have to hear it
So you know
Sometimes heart trues
Sometimes heart lies
Friday, December 26, 2008
Harga turun, buku-bukunya pun turun sampai jadi alas kaki
Malam itu, di sebuah toko buku kenamaan tanah air, yang katanya terbesar se-asia tenggara sampai-sampai peresmiannya dilakukan langsung oleh bapak presiden kita, orang-orang rela berjubelan untuk berburu buku. Iming-iming diskon sebesar 30% cukup untuk membuat warga jakarta jadi khilaf, seperti ketika ada lelang besar-besaran di zara, mango, dan butik-butik sekelasnya.
Melihat hal ini, dalam hati gua berucap syukur, ternyata sekarang sudah banyak orang yang tak lagi malas membaca. Tapi di sisi lain, melihat buku-buku bertebaran di lantai, diinjak-injak seperti karpet, ditambah lagi bagaimana orang mengambil sebuah buku, lalu melemparkannya kembali seperti seonggok sampah ketika ia menemukan buku itu tidak sesuai seleranya, membuat gua terenyuh, apa mereka sungguh-sungguh suka membaca? karena dalam kesungguhan menyukai sesuatu, seharusnya ada perasaan sayang dan menghargai. Atau jangan-jangan, karena membaca sudah menjadi life style yang dikejar-kejar banyak orang. dengan membaca kita seakan-akan exist banget. "kita membaca, maka kita exist". Jadi orang-orang yang tadinya gak suka membaca jadi memaksakan diri untuk membaca demi alasan gak mau ketinggalan trend, bukan karena ia suka membaca.
Jujur saja, beberapa kali gua sendiri juga sempat menginjak buku-buku yang berserakkan mengarpeti lantai. Bagaimana tidak, wong di beberapa area, kemana pun gua meletakkan langkah, selalu ada buku-buku bertebaran. Kecuali gua bisa melayang, rasanya sulit untuk tidak menginjak. Setiap kali gua menapakkan kaki di sebuah buku, seakan gua bisa mendengar rintihan pilunya. Sekilas gua berpikir, apa rasanya jadi sang penulis yang telah bersusah payah menulis buku, tapi malam itu jerih payahnya, buah pikirannya, keringatnya, dinjak-injak begitu saja.
Masih terngiang di kepala gua, bagaimana orang tua kita dulu memperingatkan untuk menghargai buku. Buku jangan diinjak! Buku jangan diduduki, atau kamu bisa bisulan (egh... bukannya bantal tuh? :p). Terlepas dari bagaimana salahnya mereka mengajar dengan berbohong, intinya mereka berusaha mengajarkan kita untuk menghargai buku.
Sesekali gua berusaha memungut buku-buku yang berserakkan di lantai. Andai malam itu gua memakai kemeja putih atau biru muda, mungkin gua akan disangka pegawai toko buku itu. Tapi gua gak peduli dan tetap memungut beberapa buku di bawah gua. Tapi setiap kali gua menyelamatkan sebuah buku, gua melihat jalur di depan gua, masih ada ratusan buku yang berserakkan. dan setiap beberapa langkah, ada saja orang yang menjatuhkan buku lain ke lantai. sigh...
Perubahan memang gak bisa dilakukin sendiri, tapi bisa dimulai dari diri sendiri.
PS: Akhirnya, setelah berkelana beberapa saat menyelamatkan buku-buku di lantai, gua berhasil membeli lima buah novel baru... huahahahha... senangnya...
Wednesday, December 24, 2008
Belajar dari cinta lama
Pernah gak lo merasa dikhianati jauh setelah hubungan lo dengan seseorang berakhir, padahal di saat ini sama sekali sudah nggak ada lagi perasaan yang dulu pernah begitu bergelora. Beberapa hari yang lalu, di suatu malam yang lembab oleh hujan, gua baru saja merasakan perasaan itu.
Karena suatu urusan penting yang mendadak, gua harus datang ke vihara malam itu. Padahal gua ada janji mengambil celana jeans di mall (kalau gak sekarang mungkin besok sudah gak sempat dan pramuniaganya beberapa kali menekankan kalau harus diambil segera). Tapi atas nama kepentingan yang jauh lebih besar daripada sepotong celana jeans, gua memilih untuk bertemu teman gua itu.
Ketika gua sedang berdiskusi di mulut sebuah lorong, dia datang, si ex yang di tengah-tengah masa pacaran kami dulu, tiba-tiba gua merasa kalau dia gak pernah sungguh-sungguh mencintai. Sanny, sebut saja namanya begitu. Ia datang berdampingan bersama cowok barunya, salah satu teman gua juga, yang tidak terlalu dekat.
Dari ekspresinya, terbaca kalau mereka tak menyangka akan bertemu dengan gua di sana, malam itu. Sekilas terlihat mereka tersentak dan salah tingkah. Langkah mereka sekikit melambat, tapi beberapa detik kemudian mereka berhasil menguasai diri dan terus berjalan tanpa ragu melewati gua yang dengan ringan tersenyum ke arah mereka.
Ketika melihat mereka berjalan sambil dengan mesra bergandengan tangan, tiba-tiba gua seakan melayang kembali ke beberapa tahun lalu, ke masa-masa pacaran dengan Sany. Gua masih inget, kala pertamanya kita, gua dan Sany kencan ke mall. Saat itu, seperti halnya pasangan normal yang memiliki hasrat bersentuhan fisik, walau hanya berpegangan tangan, gua mencoba untuk meraih tangannya. Tapi tanpa diduga, ia menarik lepas tangannya dari genggaman gua. Lantas bingung, gua mencoba sekali lagi, lagi, lagi, dan lagi. Tapi Sany terus, terus, dan terus menarik tangannya. Pernah disekali usaha, gua menangkap tangannya dan menggenggamnya keras-keras, alhasil tangannya malah kesakitan dan terpaksa gua yang melepaskan genggaman.
Akhirnya karena kesal dan juga bingung, gua bertanya, kenapa dia gak mau pegangan tangan. Dan surprise surprise, sambil tersipu dan ragu-ragu, ia menjelaskan sambil menatap ke bawah kalau ia malu bila dilihat orang sedang berpegangan tangan di mall, walau dengan pacarnya sekalipun. Hah? Gak salah tuh? Menurut dari sejarah pacarannya dulu, keknya gak mungkin deh... Dan ternyata punya ternyata, Sany juga gak mau berpegangan tangan di bioskop. Kali ini alasannya karena ia ingin konsentrasi menonton.
Awalnya gua sempet bingung. Sudah gua coba memahami sekuat tenaga, tapi kok alesannya gak bisa masuk logika. Satu-satunya logika yang pas, hanya si Sany ternyata nggak benar-benar mencintai gua dan dia malu punya cowok kayak gua. Namun, karena rasa cinta (ini dulu loh) yang begitu dalam, akhirnya gua berhenti berusaha untuk memahami alasan dan mulai berusaha untuk memahami perasaan.
Sampai malam itu, ketika gua melihat Sany bergandengan tangan dengan cowoknya yang sekarang di depan umum, akhirnya gua ngerti. Bukan berpegangan tangan yang bikin dia malu, tapi tangan siapa yang dipegangnya.
Tapi apakah gua menyesal? Marah? Benci?
Monday, December 22, 2008
Trying
I’m trying to overcome my darkness
That has been undermining inside
Creating holes where hopes and happiness slip away
I’ll fighting it, like I’ve never fight before
But I know is not going to be easy
I know it’s not gonna just let me go
It will fight back, stronger than I’ve could ever imagined
It will appear through the people I love
Sometimes it will take them away forever
Leave me with nothing…
Nothing but pain and despair
And regret
It will slip into my hopes
And it will let me watch it all
While it shattered them like crystal ball
It will shows before me
With a wolf grin on it face
In the darkest day of my life
To convince me to lay down my arms
That I’m not strong enough
Not brave enough
Not good enough
No enough to beat myself
But I have to be belief
Even I don’t know how
I have to be able to walk through this long and harrowing road
Even I don’t know where to find the strength
I have to try
That is all I know
I have to try
That is all I can do
need to refresh... i guess
Apa ini sebuah pertanda kalau gua harus pensiun dini dari dunia yang selama ini menjadi warna hidup gua. Tapi gua kan masih muda, masih bergairah, masih kuat begadang, masih kuat ngerjain tiga kerjaan sekaligus, dan yang paling penting… masih banyak impian yang belom kesampean. Iiihhh seyeeemmm…
Atau mungkin… salah satu kemungkinan mengerikan lainnya adalah, gua harus putar haluan, mencari sesuatu yang baru. Gimana kalau ternyata semua hal yang selama ini gua geluti, bukan gua banget. Gimana kalau ternyata gua gak cocok sama dunia kreatif, sama dunia iklan, gimana kalau hasrat menjadi penulis hanya sebuah ejakulasi dini. Gimana kialau ternyata gua lebih cocok jualan ekektronik di glodok sambil memakai kemeja putih norak bercorak naga dan celana gantung semata kaki, dan setiap orang lewat gua harus bilang... boleh ko... boleh ci... dvd player-nya... Akkkggghhh! Makin dipikir gua makin merasa buntu dan putus asa. Kalau gak dipikir, diem-diem gua tetep mikirin juga. Bener apa kata orang tua, kalau melakukan sesuatu jangan kebanyakan dipikir, jalanin aja sesuai hati. Dan untuk urusan hati, gua tahu harus kemana, tapi kadang suka gak PD aja.
Kalau gua berusaha mencari alasan secara ilmiah, mungkin semua karena belakangan ini gua terlalu stress dan kebanyakan begadang. Banyak proyek, tapi tabungan gak nambah-nambah... hihihi... Bercanda deh... (sambil mengetuk meja tiga kali). Jadinya otak protes, mogok berputar. Kayaknya gua butuh liburan, pergi jauh dari semua hal yang ada di sekitar gua sekedar untuk melihat seperti apa kehidupan lain di luar sana. Kehidupan di luar diri gua. Keliling dunia mungkin… atau mungkin keliling Indonesia, mengingat keuangan yang tak memadai. Wakakkakak…
Mungkin gua sekedar jenuh, jadi gak merasa utuh. Aduuuh… kemana gua harus mengaduh? Sepotong syair yang syaduh pun tak akan menenangkan hati yang rusuh. Mungkin selama ini gua gak mengunduh pelajaran dari kesalahan, sehingga menjadi angkuh. Padahal sudah kusuruh hati sunguh-sungguh membasuh diri, tapi ya kok tetap misuh-misuh. Haaaaa... asu-h! (hueheuhehe maksa)
Gua harus melakukan sesuatu yang baru nih, yang agak radikal dan shocking, menantang maut dan kewajaran. memalukan sekaligus menegangkan. di luar akhlak. some crazy things even maybe somethings that go against my belief. tapi apa ya... hm... Bugil, naik sepeda melompati lingkaran api membara dan di bawahnya kandang macan. hm... sounds like a perfect idea. huehuehue...
PS: i got nothing against electronic salesman. i suer. Bahkan gua sangat berterima kasih, karena mereka gua bisa menikmati dvd bajakan yang keren-keren. peace... :)
Wednesday, November 19, 2008
What makes man a man?
Rain has pouring all night long as I sat here pondering,
suddenly one question sprang restlessly
What makes man a man?
Is it his courage toward his worry?
Is it his willingness to let go what he can’t truly posses?
Is it the faith in his heart instead of his head?
Is it the choices he takes?
Is it the pain that he keeps for himself for not wanting others to worried?
Is it for all the disappointments that one could not know what to do, but too let them bite him bit by bit?
Is it through eagerness to stand again in the face of failure?
Is it by keeping the promises one pledge deep in his heart?
Is it by daring not to remorse at the mistakes he made?
Is it for the dreams his is chasing?
Is it the guts to face the truths, no matter how mean they are?
As the soft rain falling quietly on the rooftop, I finally get my answer,
What makes man a man…
It is his heart.