Friday, September 19, 2008

love is abnormal

It's strange how love can make us do some crazy shitty things. Some people may say we are weird, but for some others, they might call it sincerity. But who are they to judge? it's our feeling, our spark of emotion. We cannot tolerate any prejudice to spoil what make days seems so warm and colorful. Were they in love before? Have they ever wanted, so desperately to become an important story in somebody's life? or they just blinded by this thing call normality? Where as, life has never been that simple. Life would be boring if everything just falls in to the right place.

Love never mean to hurt if it just only a stare, if it only just a hello, or a smile, or a simple walk to to the door. It just love, for god sake! aren't we suppose to fight the opposite of it? so why do they isolate people for loving someone? Is it because how we show it? if it is, I'm sorry for i will never be you.

And now i said to all of you, I'm a strange person when I'm in love. True love would make me do some silly things but never to push that someone into agony.

Dedicated to all of you that feels love is a normal thing, and to some people that feels they are not good enough to love and be loved just because they are different.

Thursday, September 18, 2008

Renovated



Ketika banyak orang berbondong-bondong pindah ke rumah baru, aku memilih untuk merenovasi saja. Aku lukiskan rasa di dinding-dinding rumahku, ku hiasi dengan sewarna yang ikut membentuk aku menjadi aku, dan ku sematkan juga harapan-harapan baru di kusen di atas pintu, untuk menolak bala.

Inilah rumah lamaku yang menjadi baru. Silahkan berkunjung, mohon maaf bila suguhannya hanya sederhana, tapi itu tulus tak ternyana.

Selamat datang! ;)

Sunday, September 7, 2008

Sombong apa, sombong apa, sombong apa sekarang?

Sombong, semua orang pasti punya sifat ini. Yang membedakan hanya berat kandungannya dalam sifat kita. Bersama dengan perjalanan hidup, mengenal banyak orang dan menjadi intim dengan diri sendiri, gua sadar kalau kesombongan itu memiliki berbagai rupa.

Kesombongan pertama gua beri nama, hm… “sombong nyaring”. Kenapa? Karena biasanya orang yang dipengaruhi sifat ini, sadar atau tidak, vocal –nya lebih keras daripada aksi, semata-mata hanya untuk menutupi kelemahan diri, yang mereka sendiri gak punya nyali untuk menghadapinya. Biasanya orang seperti ini selalu ingin menang, senang jadi perhatian, dan bahagia bila ada teman atau orang yang menderita atau bisa diinjak-injak. O iya, satu lagi, semisal suatu hari si “sombong nyaring” ini berhasil berprestasi, walau hanya menang lomba kerupuk sekalipun, dia akan langsung mendongakkan kepala tinggi-tinggi memperlihatkan jenjang lehernya sambil melirik orang lain dengan kebanggaan kosong dari balik hidungnya. Seakan-akan dia baru saja memenangkan emas di olimpiade (kayaknya yang menang di olimpiade gak segitunya juga deh). Lalu jalan petantang-petenteng layaknya centeng.

Kesombongan kedua gua sebut “sombong ciut”. Kesombongan yang satu ini biasanya berjangkit pada orang-orang yang kurang optimis dalam menghadapi hidup, merasa hidup mereka selalu lebih malang daripada orang lain. Lebih takut menjadi orang tolol daripada keliatan tolol, merupakan ciri-ciri lainnya. Selain itu, kalau dikasih tanggung jawab mereka akan selalu bilang, sambil malu-malu, “akhh… jangan gua deh, gua kan bego, lo aja deh.” Sambil menunjukan ekspresi sok iklas yang berharap untuk dipaksa-paksa. Dan nanti ketika tanggung jawabnya diambil orang lain, si “sombong ciut” yang menyesal setengah mati di dalam hati, akan menusuk dari belakang dengan bermacam kritik tajam yang mengada-ada.

Kesombongan ketiga adalah “sombong inspiratif”. Sombong tipe ini adalah kesombongan yang biasanya hanya dimiliki para aristocrat, guru besar, dan orang-orang dengan prestasi nyata. Kesombongan ini biasanya gak akan membuat orang lain jengah dan tidak nyaman. Justru “sombong inspiratif” ini akan menimbulkan kekaguman seperti medan magnet yang membuat banyak orang jadi mau dekat-dekat. Biasanya mereka yang memiliki kesombongan ini terlihat angkuh dan dingin dari luar, padahal mereka adalah tipe orang-orang berjiwa besar yang selalu mengulurkan tangan dan menulari ilmunya pada kita-kita yang sungguh-sungguh mau belajar.


Yang manakah kesombongan Anda? Anda bebas memilih satu, dua atau bahkan tiga-tiganya sekaligus.
Tapi itu kalau Anda masih sempat dan punya niat untuk memilih.

Monday, September 1, 2008

Menjadi optimis di kandang buaya

Satu orang lagi melangkah pergi, walau tak pasti apakah menuju ke keberhasilan atau malah terjebak siksaan lainnya. Kadang gua berpikir kapan ya giliran gua melangkah keluar dari pintu putih kusam itu dan tak kembali. meninggalkan segala resah dan kesal dengan hati yang senang. tanpa ada pertikaian atau dendam. melupakan yang sudah, menjemput apa yang akan.

Tapi gua gak mau lari dan menjadi buta karena terburu-buru. Karena gua tahu gua pasti akan tersandung dan jatuh ke dalam lubang yang sama bahkan lebih dalam dan gelap. Gua mau keluar dengan kepastian. kalau pun gua harus pindah dari kandang buaya ke kandang harimau, gua mau melakukannya dengan keyakinan dan mata yang terbuka lebar. Bukan pakai nafsu lantas membutakan nurani. Walau jujur aja, kadang gua sering putus asa dan merasa satu-satunya jalan adalah menjadi seperti perjaka tua yang kebelet kawin, asal ada yang mau langsung disikat. Untungnya gua cepet sadar dan kembali ke prinsip, "kalau bukan agency (tanpa melihat ukuran) yang bisa buat gua menjadi lebih tajam, gua gak akan lompat.

Gua juga gak bisa asal angkat jari dan nuding-nuding menyalahkan Bos atau orang-orang disekitar, gak juga sistem apalagi nasib atas keadaan yang ada. Karena ini hidup gua, I'm the captain of my destiny (there's sumthin gay bout this phrase, isn't it? :)). Sekarang pilihannya tinggal terus berjuang dan optimis walau sekarang gua berada di kandang buaya. Seperti kata Bapak Abraham Lincoln,I will study and get ready, and perhaps my chance will come atau seperti kata Om geoge Gribbin, "A writer should be joyous, an optimist... Anything that implies rejection of life is wrong for a writer".

Wednesday, August 20, 2008

Fiuuuuh...

Akhirnya selesai juga. Ucapan ini bukanlah suatu kelegahan dari beban yang menyekik leher, tapi lebih sebagai ekspresi kepuasan, bukan juga karena hasil yang tertoreh dengan lintang keberhasilan sempurna, tapi justru ekspresi kelegahan karena masih bisa melihat dimana letak kekurangannya.


Proyek pertunjukan Morinaga ini adalah yang kedua sekaligus pertama yang pernah gua tulis. Kedua setelah teater pemilihan gadsam (gadis sampul) dan pertama yang gua dan faye tulis tanpa terlalu ada supervise dari penulis senior. Jadi rasanya ya… lumayan gak PD di awal, tertantang untuk lebih memacu diri, excited, puas karena gua merasa sudah menguji batas gua, gak puas karena gua yakin bisa bikin yang lebih baik lagi.

“Teruslah menulis” merupakan kenang-kenangan motivasi dari sang asisten sutradara yang ramah dengan lelucon-leluconnya yang muncul mendadak seperti kotak sulap badut yang tiba-tiba melontarkan isinya. “yes, I will” jawab gua dalam hati.

Dari pertunjukan ini gua belajar banyak hal, pertama; no matter in what industry you are, most of the client is a bitch, kedua, kurangnya kemampuan bikin plot yang smooth dan kurang jeli menentukan ending cerita, ketiga, belajar lebih yakin sama diri sendiri (seperti kata penulis senior gua, “selon aja lagi”). Keempat, betapa gua tersentuh untuk belajar arti kesungguhan dan ketulusan yang polos dari melihat anak-anak.

Tuesday, August 12, 2008

sebuah debu, udara sejuk, dan hati yang senang

Pagi ini seperti sore yang sibuk dengan udara sejuk yang ramah. Awan mendung menyembunyikan langit cerah dan hangat mentari. Aroma wangi euforia tanah mulai tercium harum, dan angin bertiup resah berkejar-kejaran dengan daun-daun kering di jalanan. Semua terasa begitu menyenangkan. "I'm only happy when it rain" lagu garbage satu ini kayaknya bisa mewakili perasaan gua, hanya saja i'm not only, but always happy when it rain. (Rain i said, not flood! hehehe.)

Everything look and feel perfect. Sampai... Ketika motor sedang melaju deras di jalan yang kebetulan tidak terlalu padat, gua mencoba membuka kaca helm, dengan maksud menikmati belaian sejuk udara pagi yang ramah. Begitu gua buka kaca helm, langsung saja kesejukan yang subtil membuai diri gua. rasanya damai banget, seperti bukan Jakarta. ternyata bukan hanya kenangan, lagu, bebauan, atau imajinasi yang bisa membawa kita berkelana, tapi juga cuaca. seperti sekarang ini gua merasa seperti ada di bandung atau bogor. tapi tiba-tiba... sruuug... sebuah debu menyelinap menusuk mata gua. Sial! untung mata gua rada sipit jadi interval jarak untuk mata menutup lebih singkat, hingga debu itu keburu ditangkap oleh bibir kelopak mata sebelum benar-benar masuk dalam ke mata. Langsung aja semua perasaan surgawi yang tadi sedang asyik gua nikmati berubah menjadi kepanikan sesaat. Pandangan kabur, ruang menyempit, adrenalin mengalir deras karena gua harus extra konsentrasi mengendarai motor hanya dengan tangan kanan sedangkan yang kiri sedang sibuk berjibaku berusaha mengeluarkan debu dari mata.

Setelah itu, langsung gua tutup lagi tuh kaca helm. Sial! gara-gara debu biadab. Gak tahu apa, orang lagi menikmati hidup. secara di jakarta it is once in the blue moon suasana bisa sesejuk seperti ini. Bahkan saat musim hujan, saat diadakannya konfrensi awan-awan mendung di seluruh Indonesia untuk membicarakan rencana membalas kelakuan manusia yang selama musim panas, seenaknya mengotori langit dengan asap-asapnya.

sebetulnya untuk apa gua menggerutu, karena memang seperti inilah kotaku, negeriku. Debu sudah selazim salju di negeri barat, macet sudah menjadi seperti rasa sakit yang kebal, cacian atau makian di jalanan layaknya omelan orang tua yang diulang-ulang. semua itu ada hanya untuk di jalani, dinikmati. Karena niscaya berawal dari kemauan untuk menerima keadaan yang ada, akan muncul kekuatan dan keberanian untuk berubah dan merubah. Setidaknya, setitik debu yang merasuk mata dibawa oleh angin sejuk yang melipur lara.